Artikel tentang Parenting : Ada yang Telah Berubah dan Ada Pula yang Harus Dipertahankan

Kemaren sore, ada proyek besar yang sedang dikerjakan oleh kedua anak kami (Faqih dan Faruq) yaitu proyek layang-layang. Waktu pulang yang lebih cepat dari biasanya,  mereka gunakan untuk menyiapkan proyek layang-layang dengan berbagai peralatannya. Menggulung benang dari gulungan kecil pabrik menuju gulungan yang lebih besar, memberi pada layang-layang benang sebelum diikat pada benang utama. Semua mereka lakukan sendiri-diri dengan biaya yang mereka keluarkan dari dompet mereka.

Seusai shalat Ashar mereka telah siap pergi ke daerah persawahan dekat rumah untuk menerbangkannya. Maklum rumah kami memang “mewah” (mepet sawah). Sejenak mereka meninggalkan rumah, saya merenung bahwa seumuran mereka saya juga melakukan kegiatan yang sama, menerbangkan layang-layang di pematang sawah dekat rumah.

Setelah beberapa lama mereka pergi, saya terangsang untuk menjumpai mereka di sawah. Alih-alih dapat membantu mereka jika memang mereka membutuhkan bantuan. Alhamdulillah, dari jauh saya melihat keduanya tengah asyik memainkan layang-layang mereka bersama dengan teman-teman yang lain. Saya tetap mendekati mereka, untuk sekedar memberi sedikit perhatian kepada keduanya.

Hempasan angin yang semilir, mendorong saya untuk meminjam layang-layang putra pertama kami. Saya memegang benang layang-layang tersebut dan mencoba untuk menikmatinya dengan mengulur benang lebih panjang dan mengusahakannya lebih tenang. Tetapi tampaknya saya gagal melakukannya, layang-layang tersebut tetap bergerak hebat, karena kelihatannya ia didesain lebih dinamis dan selalu bergerak kekanan dan kekiri.

Di sisi lain saya melirik anak kedua kami justru menikmati gerakan layang-layang yang mampu bermanufer ke kanan dan ke kiri serta ke atas dan ke bawah. Saya baru menyadari betapa berbedanya filosofi menikmati layang-layang versi saya dahulu dan versi anak-anak sekarang.

  1. Dahulu anak-anak menikmati layang-layang karena ketinggiannya, ketenangannya, besarnya, atau suaranya yang merdu. Untuk setiap jenis kenikmatan tersebut mereka menyiapkan benang yang super panjang, menciptakan layang-layang yang sangat seimbang, bahkan menambahnya dengan ekor super panjang, membuat layang-layang yang amat besar dengan tali yang sangat besar, atau mencari jenis-jenis bahan baru untuk menjadi pita suara yang lebih merdu.
  2. Saat ini anak-anak menikmati layang-layang justru pada kemampuannya untuk bermanufer ke kanan-ke kiri dan ke atas-ke bawah. Tujuan kemampuan manufer tersebut untuk mendukung supaya dapat memutus benang layang-layang disekitarnya. Untuk kenikmatan ini mereka akan memilih bentuk layang-layang yang tentunya mudah bermanufer dan membeli benang-benang pilihan yang kuat dan tajam

Ada yang berubah, tetapi ada yang masih layak untuk kita pertahankan pada permainan layang-layang dahulu dan sekarang. Di antaranya yang dapat kita pertimbangkan untuk tetap bertahan pada layang-layang tersebut adalah:

  1. Layang-layang dapat menjadi sarana bagi anak untuk membangun kemandirian mereka. Dengan memberi dukungan yang tepat saat anak mengerjakan sebuah proyek layang-layang tanpa melibatkan diri yang terlalu dalam dapat merangsang munculnya kemandirian mereka
  2. Layang-layang dapat menjadi saranan anak di dalam mengekspresikan kesenangan mereka. Anak membutuhkan pengalaman dalam berusaha dan dalam menikmati hasil usahanya sendiri. Hal ini dapat mengembangkan pemahaman mereka tentang hukum kausalitas dan rasa percaya diri yang tinggi
  3. Layang-layang beserta seluruh aktifitas yang menyertainya sangat merangsang sensor motorik anak. Rangsangan ini sangat penting terjadi karena dapat meningkatkan potensi-potensi anak yang hanya terjadi jika sensor motorik anak terangsang dengan baik

Ada yang telah berubah memang, tetapi ada yang tetap harus kita pertahankan pada layang-layang kita. [Miftahul Jinan]

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *