Anak Antara Barokah dan Ujian

 

BAROKAH ANAK

Ada firman Allah dalam surat At Taghobun : Sesungguhnya harta-hartamu dan anak-anakmu cobaan bagimu. Dan sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar.

Mungkin diantara kita hari ini mempunyai anak yang Sholeh dan pintar, maka ingatlah kita sedang diuji oleh Allah dengan sedikit kenikmatan. Sebaliknya mungkin di antara kita hari ini mempunyai anak yang agak nakal dan tidak pintar, maka ingatlah pula kita sedang diuji oleh Allah dengan sedikit kesusahan.

Artinya mempunyai anak dengan kedua karakteristik di atas adalah sama, yaitu kita sedang diuji oleh Allah. Hanya saja jika ujiannya adalah  anak yang sholeh dan pintar maka kita biasanya lebih tenang dan bangga. Sementara pada ujian yang kedua dengan anak yang nakal dan tidak terlalu pintar maka kita biasanya pusing dan sedih.

Saya pernah ditanya oleh seorang ibu, apakah ada orang yang diberi ujian pertama yaitu kebaikan dan kesuksesan anak gagal dalam memghadapi ujian tersebut. Saya jawab, “Banyak”. Orang tua yang mempunyai anak yang pintar, baik hati dan sukses di masyarakat tetapi Ia sering pergi ke tetangga dan saudaranya dengan penuh kesombongan akan kesuksesan dan keberhasilan anaknya, mungkin dihadapkan masyarakat Ia dipandang sebagai orang tua yang sukses, tetapi yakinlah bahwa dihadapkan ujian Allah justru Ia justru gagal dengan kesombongannya.

Sementara orang tua yang diuji dengan kenakalan dan kebodohan anaknya. Ia bersabar, terus belajar, berikhtiar dan berdo’a kepada Allah untuk kebaikan anaknya. Mungkin dihadapan masyarakat  Ia telah gagal, tetapi saya yakin dihadapan ujian Allah Ia telah sukses dengan kesabaran, ikhtiar dan doanya.

Akhirnya saya ingat sebuah hadist Rasulullah : Dari sahabat Abdurrahman bin Abi Ya’la dari sahabat Shuhaib r.hu, dia berkata telah bersabda Rasulullah saw, ”Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin; yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.”

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *