Begal ABG dan Pola Asuh Kita

Oleh: Miftahul Jinan M.Pd.I

Akhir-akhir ini kita cukup prihatin dengan munculnya fenomena begal di sekitar kita. Beberapa tindakan sadis mereka di dalam melancarkan aksinya cukup membuat kita miris. Dari sekedar mengambil barang incaran dengan kasar, melukai anggota tubuh korban dengan senjata tajam, hingga pembunuhan secara sadis dengan menusuk korban atau menembaknya. Reaksi dari masyarakat terhadap pelaku kejahatan tersebut yang tertangkap tidak kalah sadis yaitu menghajarnya hingga babak belur bahkan membakarnya.

Sebenarnya ada yang lebih membuat prihatin kita saat ini sebagi orang tua adalah munculnya fenomena begal ABG. Mereka adalah kelompok pemuda yang belum berumur 20 tahun dan telah melakukan aksi begal. Beberapa begal ABG yang tertangkap ditanya untuk apa hasil kejahatan mereka? Dengan tenangnya mereka menjawab hanya untuk bersenang-senang seperti membeli minuman keras hingga membeli barang-barang mewah kesukaan mereka. Kita mungkin cukup terbelalak dengan jawaban ini bahwa hanya untuk keinginan-keinginan yang tidak terlalu prinsip mereka rela membegal dengan mencederai korban hingga membunuhnya. Ada beberapa analisa yang dapat kita ambil dari fenomena begal ABG ini, yaitu :

  1. Para begal ABG ini adalah sekelompok orang yang tidak mampu mengontrol keinginan mereka. Jika mereka menginginkan sesuatu, mereka harus mendapatkannya. Bahkan mereka tidak mampu membedakan antara sebuah kebutuhan prinsip yang harus diperjuangkan atau hanya keinginan jangka pendek yang sebenarnya tidak perlu sampai membegal
  2. Para ABG tersebut untuk memenuhi keinginan, mereka rela untuk melakukan pelanggaran aturan hingga syariat agama
  3. Untuk mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan mereka menggunakan cara-cara Instant. Mereka tidak sabar untuk mendapatkannya dengan proses yang alami setahap demi setahap. Bekerja keras dan mendapatkan hasil dari pekerjaan kerasnya untuk memenuhi keinginan mereka

Dari analisa fenomena begal ABG di tas marilah kita mencoba untuk mengkritisi beberapa pola asuh kita di rumah yang kadang justru mendorong munculnya beberapa perilaku yang mirip dengan begal ABG di atas pada anak-anak kita.

  1. Demi rasa cinta dan sayang kepada anak kita kadang berani untuk melanggar aturan atau syariat agama. Kita sering mendapatkan orang tua yang membelikan anak-anaknya yang masih usia sekolah menengah pertama sepeda motor untuk mereka gunakan ke sekolah. Padahal mereka belum mempunyai SIM dan kondisi emosional mereka yang masih labil. Jika kita berani melanggar satu kali aturan dan syariat agama, maka ini akan mendorong anak untuk juga mudah melanggar aturan dan syariat agama di kemudian hari
  2. Kita sering sulit untuk menolak permintaan anak dan selalu menuruti apa yang mereka minta. Sikap ini mendorong munculnya perilaku anak bahwa apa yang mereka inginkan harus mereka dapatkan. Pola asuh ini dapat memunculkan kebiasaan untuk berbuat nekat jika mereka mengalami penolakan.
  3. Banyak dari kita orang tua selalu memberi apa yang diminta anak dengan cepat dan tanpa syarat apapun. Sikap ini tentu akan mendorong anak untuk berfikir serba instant. Seperti begal ABG yang berfikir instant untuk mendapatkan yang mereka inginkan, maka anak-anak kita juga bersikap demikian. Apa yang yang mereka inginkan hari ini harus mereka dapatkan hari ini juga.

Berangkat dari pembahasan di atas, sebenarnya orang tua dapat melakukan hal-hal yang lebih bijak dan mendorong anaknya untuk lebih bersikap dewasa dan mandiri. Beberapa sikap yang harus dimunculkan orang tua terkait dengan hal di atas adalah :

  1. Kita orang tua kadang perlu menerima keinginan anak atau menolaknya. Pengalaman diterima dan ditolak mendorong anak untuk lebih siap menghadapi kesuksesan dan kegagalan mereka dengan santun. Mereka cenderung lebih mampu mengontrol keinginannya dan tidak akan pernah melakukan hal-hal nekat untuk mendapatkan yang dia inginkan.
  2. Satu prinsip yang harus dicermati orang tua saat anak mereka meminta adalah apakah permintaan mereka melanggar aturan atau syariat yang berlaku. Sikap ini juga akan mendidik anak bahwa sebuah keinginan mereka tidak boleh melanggar aturan yang ada apalagi syariat agama. Seorang yang dibiasakan untuk selalu mentaati aturan dan syariat agama pada hal-hal yang diinginkan, maka secara otomatis ia akan mengurangi keinginan-keinginan yang diluar aturan dan syariat.
  3. Di dalam menerima keinginan anak orang tua perlu menghindari untuk memberinya secara “gratisan”.  Langsung diberi dan tanpa syarat apapun. Anak perlu dibiasakan untuk menunggu beberapa saat atau memberinya syarat dari setiap permintaan yang mereka ajukan kepada orang tuanya. Seperti saat mereka meminta sepatu futsal, kita menangguhkan keinginannya satu minggu ke depan atau dengan syarat mereka melakukan kebaikan tertentu dalam rentang waktu tertentu. Sikap ini akan mendorong anak untuk berfikir proses dan tidak berfikir serba instant.

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *