Cara Bijak Mendidik Anak : Saat Sanksi Menjadi Penghargaan

Pernahkah kita melihat seorang anak yang menceritakan sanksi yang baru ia terima dari orang tua atau gurunya dengan perasaan bangga?

Ibu Fatma merasa putus asa menghadapi putranya yang tidak ada jeranya dengan sanksi yang ia berikan. Suatu hari ia memberikan sanksi putranya dengan memasukkannya ke dalam kamar mandi, namun justru putranya bermain air di dalam bak kamar mandi

Dalam proses pendidikan kita mengenal apa yang disebut alat pendidikan. Alat tersebut digunakan agar proses pendidikan dapat berjalan dengan baik. Alat-alat pendidikan yang kita kenal di antaranya adalah contoh dan teladan, ancaman dan ganjaran, perintah dan larangan, serta sanksi/hukuman.

Sanksi kadang-kadang memang terpaksa harus digunakan. Dalam kaitan ini, ada beberapa teori tentang sanksi yang dianut oleh beberapa ahli pendidikan. Rosseau memperkenalkan sanksi alam. Artinya, anak diberi sanksi berdasarkan perbuatannya. Seorang anak yang bermain pisau dia terluka, memanjat pohon dia terjatuh, dan mungkin patah tangannya.

Ada lagi teori yang menjelaskan bahwa sanksi/hukuman diberikan kepada anak untuk membuat efek jera, yaitu anak dihukum agar ia tidak mengulangi perbuatan. Contohnya, bila terlambat datang ke rumah ia tidak diperkenankan melihat acara televisi yang disenanginya.

Terakhir muncul teori  bahwa  sanksi/hukuman adalah kegiatan yang dapat mengurangi kenyamanan anak dalam waktu pendek, seperti seorang anak yang bermain bola di lapangan melebihi waktu yang disepakati dengan orang tuanya, maka hukumannya adalah tidak memperbolehkan anak tersebut untuk bermain bola esok hari.

Pada kasus seorang anak yang justru ia menceritakan sanksi yang ia terima dari orang tuanya dengan perasaan bangga, justru telah menjadikan hukuman tersebut sebagai alat untuk meningkatkan gengsinya. Dengan sanksi tersebut ia ingin menunjukkan bahwa  dialah anak pemberani, kuat dan bertanggung jawab.  Atau  karena anak tersebut merasa kurang mendapatkan perhatian, sehingga hukuman yang diberikan kepadanya dianggapnya sebagai wujud perhatian orang tua kepadanya dan ia menikmatinya

Sementara pada kasus ibu Fatma saat anak justru menikmati sanksi masuk kamar mandi, maka ada dua kemungkinan, pertama anak belum merasa bahwa memasukkannya ke kamar mandi adalah sebagai bentuk sanksi/hukuman dari perbuatan salahnya, dan kedua kegagalam di dalam memperhitungkan bahwa memasukkan kamar mandi adalah hal yang mengurangi kenyamanan anak dan membuat efek jera.

Apabila kita terpaksa untuk memberikan sanksi/hukuman kepada anak-anak kita, ada beberapa syarat yang harus kita penuhi

  1. Memberi sanksi tidak boleh dalam keadaan marah. Seorang anak tidak akan dapat menyadari kesalahan dari dalam hati jika orang tua dengan penuh emosi memberikan sanksi/hukuman
  2. Sanksi/hukuman tidak boleh bersifat membalas dendam, umpamanya anak kita memukul adiknya maka kita tidak dapat memberikan hukuman kepadanya dengan meminta adiknya untuk memukulnya atau kita sendiri memukulnya
  3. Sanksi/hukuman harus ada hubungannya dengan kesalahan, umpamanya seorang anak yang mengotori lantai dia harus membersihkan lantai tersebut
  4. Sanksi/hukuman tidak boleh memalukan anak dengan menghukum mereka di hadapan saudaranya yang lain atau bahkan di hadapan teman-temannya
  5. Sanksi/hukuman dapat menjelaskan perlunya ketertiban, bukan melukiskan rendahnya kedudukan seseorang. Orang tua harus memisahkan antara sikap yang menyimpang anak dan kepribadiannya. Sering terjadi orang tua hendak memperbaiki kesalahan anak dengan menjustifikasi seluruh kepribadiannya. Membuat garis pemisah antara tindakan dan pelakunya. Membuat si anak tetap mendapatkan pengakuan walaupun sikapnya itu tidak dapat diterima
  6. Sanksi yang diberikan bukanlah reaksi dari perilaku menyimpang anak, namun merupakan respons terhadap penyimpangan tersebut. Reaksi menanggapi perilaku anak dari pikiran pertama yang muncul. Respons adalah menanggapi perilaku anak setelah beberap saat berpikir dengan mempertimbangkan sebab dan akibatnya.
  7. Ajari anak untuk mengidentifikasi hal-hal yang mereka belum memahami bahwa hal tersebut  merupakan perilaku yang menyimpang

Sanksi adalah senjata terakhir di dalam mendidik saat dalam kondisi darurat

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *