Cara Mendidik Anak Cerdas : Bahaya Buku Penghubung ( Sebuah Wacana )

Terima kasih atas ketersentakan Bapak/Ibu wali murid terhadap judul di atas. Tidak mungkin buku penghubung yang didesain awal dengan kemaslahatan-kemaslahatan di dalamnya justru menimbulkan bahaya bagi anak. Niat awal menerapkan program buku penghubung adalah terjalinnya komunikasi efektif antara orang tua dan sekolah, asal semua pihak mempunyai niat yang sama pasti buku penghubung itu akan banyak manfaatnya.
Pernyataan di atas mengingatkan pada cerita tentang seekor kera yang siang itu berayun di atas pohon besar yang daunnya mulai meranggas karena kemarau panjang. Sejurus kemudian ia melihat beberapa ekor ikan yang tidak tenang berenang pada sebuah kolam kecil di bawahnya. Muncul perasaan iba dari kera tersebut, kemudian ia berniat hendak menolong ikan-ikan tersebut dengan memindahkannya ke bawah daun-daun yang tidak terkena terik matahari. Beberapa saat kemudian ikan-ikan tersebut tidak bergerak lagi dan mati, karena tempat baru yang rindang tadi tidak ada airnya.
Kera mempunyai niat yang baik untuk menolong ikan dari panas terik matahari, namun ia tidak mengetahui satu prasyarat dasar bahwa ikan tidak mungkin hidup tanpa air. Ia telah menolong, tetapi pertolongannya justru mempercepat proses kematian saudaranya.
Program buku penghubung dibangun dalam sebuah kerangka niat untuk membangun komunikasi yang efektif antara wali murid dan sekolah. Kesibukan orang tua yang semakin tinggi merupakan kendala bagi pihak sekolah untuk menyampaikan informasi tentang perkembangan siswa-siswinya di sekolah. Sementara orang tua muncul perasaan tidak nyaman untuk menelepon guru putra-putrinya, karena takut mengganggu tugas mereka. Akan tetapi niat yang baik ini dapat menjadi bahaya jika tidak dilaksanakan dengan penuh kesungguhan dan tanggung jawab.
Minimal ada tiga manfaat yang dapat diambil oleh orang tua dan sekolah dari implementasi buku penghubung. Pertama, buku penghubung menjadi sarana untuk pemantauan kegiatan siswa di sekolah dan di rumah. Kedua, buku penghubung menjadi parameter dasar beberapa sikap dan karakter yang harus dilatihkan kepada anak setiap hari. Ketiga, orang tua dan guru dapat menulis pesan dan kondisi terkini siswa agar masing-masing pihak dapat memberikan follow up terhadap pesan tersebut
Namun, dari banyak manfaat yang terdapat pada buku penghubung tidak berarti ia tidak mengandung beberapa bahaya bagi anak. Seperti sebilah pisau yang sangat tajam, pada tangan seorang koki pisau tersebut sangat berguna. Sebaliknya pada tangan seorang penjahat pisau tersebut menjadi benda yang sangat membahayakan.
Beberapa bahaya tersebut mayoritas muncul dari proses implementasi program, diantaranya;

  1. Buku penghubung sebagai sarana untuk menakut-nakuti anak agar mau melakukan tugasnya. Seringkali orang tua yang mulai jengkel terhadap perilaku anaknya yang tidak segera mengerjakan tugas, membawa buku penghubung untuk dibaca di depan putra-putri dengan nada ancaman. Terdapat beberapa pengaruh negatif dari sikap orang tua yang selalu melakukannya. Pertama, muncul ketergantungan anak terhadap ancaman sehingga ia tidak akan melakukan tugasnya jika belum mendapat ancaman tersebut. Kedua, beberapa materi checlist yang ada dalam buku penghubung hanya menjadi sarana untuk mengancam anak, seperti petani yang selalu membawa cambuk untuk memastikan sapinya berjalan lurus ke depan. Sementara karakter yang sebenarnya ingin ditanamkan dalam buku penghubung tersebut dengan membangun motivasi internal anak justru terlewatkan
  2. Buku penghubung ditulis tidak sesuai dengan kondisi riil anak karena munculnya rasa kasihan kepada anak dan ingin melindunginya. Perilaku ini akan memunculkan sifat tidak jujur pada diri anak. Ia mendapatkan pujian di depan guru-gurunya walaupun sebenarnya ia tidak pernah melakukannya. Sifat tidak jujur ini lebih kuat menancap pada diri anak karena ia merasa didukung oleh orang tuanya
  3. Buku penghubungan ditulis sesuai dengan permintaan anak. Beberapa anak merengek kepada orang tuanya untuk menuliskan hal yang baik saja, atau meminta orang tuanya untuk menunggu ia melakukan shalat isya’ walaupun waktu itu sudah masuk shalat shubuh. Pada beberapa kali kondisi ini tidak terlalu berbahaya karena menunjukkan fleksibilitas orang tua dan memberi kesempatan bagi anak untuk memperbaiki diri. Namun akan sangat berbahaya jika selalu dilakukan oleh orang tua, karena menumbuhkan perilaku tidak komitmen pada diri anak. Ia terbiasa untuk mengubah peraturan dengan kecenderungan selalu boleh orang tuanya.
  4. Tidak ada tindak lanjut terhadap informasi dan hasil yang ada pada buku penghubung. Kondisi ini akan menjadikan anak terbiasa untuk meremehkan. Akan muncul anggapan bahwa mengisi buku penghubung hanyalah rutinitas antara orang tua dan guru mereka di sekolah. Baik maupun buruk yang diisi mereka pada buku penghubung tidak ada pengaruh bagi dirinya
  5. Orang tua atau guru tidak mempunyai kepedulian untuk mengisi buku penghubung. Sebuah program yang dicanangkan untuk diberlakukan kemudian karena alasan kesibukan dilaksanakan dengan setengah-setengah atau tidak sama sekali akan menjadi contoh buruk bagi pihak yang dikenai program tersebut. Seorang anak diawal tahun sudah dijelaskan tentang mekanisme buku penghubung serta kewajiban-kewajiban yang harus mereka lakukan sehubungan dengan buku tersebut, namun karena alasan kesibukan atau ketidakpedulian pihak-pihak terkait akan menumbukan sifat-sifat tidak konsisten, tidak bertanggung jawab, dan acuh tak acuh pada diri anak.

Dengan beberapa bahaya pada buku penghubung di atas tidak berarti kita harus surut untuk meninggalkan program tersebut, namun yang perlu ditumbuhkan adalah komitmen semua pihak, khususnya orang tua dan guru untuk menjadikan program ini sebagai program yang baik dan perlu dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.

Saat satu gigi kita sakit tidak semua gigi harus ditanggalkan

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *