artikel tip dan trik dari team GP

Artikel tentang Parenting : Ada yang Telah Berubah dan Ada Pula yang Harus Dipertahankan

Kemaren sore, ada proyek besar yang sedang dikerjakan oleh kedua anak kami (Faqih dan Faruq) yaitu proyek layang-layang. Waktu pulang yang lebih cepat dari biasanya,  mereka gunakan untuk menyiapkan proyek layang-layang dengan berbagai peralatannya. Menggulung benang dari gulungan kecil pabrik menuju gulungan yang lebih besar, memberi pada layang-layang benang sebelum diikat pada benang utama. Semua mereka lakukan sendiri-diri dengan biaya yang mereka keluarkan dari dompet mereka.

Seusai shalat Ashar mereka telah siap pergi ke daerah persawahan dekat rumah untuk menerbangkannya. Maklum rumah kami memang “mewah” (mepet sawah). Sejenak mereka meninggalkan rumah, saya merenung bahwa seumuran mereka saya juga melakukan kegiatan yang sama, menerbangkan layang-layang di pematang sawah dekat rumah.

Setelah beberapa lama mereka pergi, saya terangsang untuk menjumpai mereka di sawah. Alih-alih dapat membantu mereka jika memang mereka membutuhkan bantuan. Alhamdulillah, dari jauh saya melihat keduanya tengah asyik memainkan layang-layang mereka bersama dengan teman-teman yang lain. Saya tetap mendekati mereka, untuk sekedar memberi sedikit perhatian kepada keduanya.

Hempasan angin yang semilir, mendorong saya untuk meminjam layang-layang putra pertama kami. Saya memegang benang layang-layang tersebut dan mencoba untuk menikmatinya dengan mengulur benang lebih panjang dan mengusahakannya lebih tenang. Tetapi tampaknya saya gagal melakukannya, layang-layang tersebut tetap bergerak hebat, karena kelihatannya ia didesain lebih dinamis dan selalu bergerak kekanan dan kekiri.

Di sisi lain saya melirik anak kedua kami justru menikmati gerakan layang-layang yang mampu bermanufer ke kanan dan ke kiri serta ke atas dan ke bawah. Saya baru menyadari betapa berbedanya filosofi menikmati layang-layang versi saya dahulu dan versi anak-anak sekarang.

  1. Dahulu anak-anak menikmati layang-layang karena ketinggiannya, ketenangannya, besarnya, atau suaranya yang merdu. Untuk setiap jenis kenikmatan tersebut mereka menyiapkan benang yang super panjang, menciptakan layang-layang yang sangat seimbang, bahkan menambahnya dengan ekor super panjang, membuat layang-layang yang amat besar dengan tali yang sangat besar, atau mencari jenis-jenis bahan baru untuk menjadi pita suara yang lebih merdu.
  2. Saat ini anak-anak menikmati layang-layang justru pada kemampuannya untuk bermanufer ke kanan-ke kiri dan ke atas-ke bawah. Tujuan kemampuan manufer tersebut untuk mendukung supaya dapat memutus benang layang-layang disekitarnya. Untuk kenikmatan ini mereka akan memilih bentuk layang-layang yang tentunya mudah bermanufer dan membeli benang-benang pilihan yang kuat dan tajam

Ada yang berubah, tetapi ada yang masih layak untuk kita pertahankan pada permainan layang-layang dahulu dan sekarang. Di antaranya yang dapat kita pertimbangkan untuk tetap bertahan pada layang-layang tersebut adalah:

  1. Layang-layang dapat menjadi sarana bagi anak untuk membangun kemandirian mereka. Dengan memberi dukungan yang tepat saat anak mengerjakan sebuah proyek layang-layang tanpa melibatkan diri yang terlalu dalam dapat merangsang munculnya kemandirian mereka
  2. Layang-layang dapat menjadi saranan anak di dalam mengekspresikan kesenangan mereka. Anak membutuhkan pengalaman dalam berusaha dan dalam menikmati hasil usahanya sendiri. Hal ini dapat mengembangkan pemahaman mereka tentang hukum kausalitas dan rasa percaya diri yang tinggi
  3. Layang-layang beserta seluruh aktifitas yang menyertainya sangat merangsang sensor motorik anak. Rangsangan ini sangat penting terjadi karena dapat meningkatkan potensi-potensi anak yang hanya terjadi jika sensor motorik anak terangsang dengan baik

Ada yang telah berubah memang, tetapi ada yang tetap harus kita pertahankan pada layang-layang kita. [Miftahul Jinan]

Minat Anak untuk Berpuasa

Berbahagialah bagi bapak/ibu yang hari-hari ini  putra-putrinya berminat tinggi untuk melaksanakan seluruh rangkaian ibadah Ramadhan. Mereka terlihat sangat menikmati melaksanakan ibadah puasa tersebut  tanpa paksaan bahkan dorongan dari orang tuanya.

Sementara bagi bapak/ibu yang mempunyai putra-putri yang mungkin masih ogah-ogahan untuk melaksanakan rangkaian ibadah ramadhan, bersabarlah.  Karena perilaku  terse but masih sangat wajar bagi mereka. Bagi seorang anak,  masih sangat sulit untuk memahami makna-makna ramadhan yang sifatnya abstrak. Sehingga kita sebagai orang tua akan sulit pula untuk membuat mereka merasakan nikmatnya berpuasa.

Pertanyaan sebenarnya  adalah, “Apa yang membuat seorang anak berminat untuk berpuasa?”. Mungkin kita akan kesulitan untuk menemukan jawabannya.

Saya masih ingat  cerita seorang ibu yang ingin menanamkan habit kebersihan kepada anaknya untuk selalu membasuh tangan setiap kali memegang kue. Beberapa kali ia meminta anaknya untuk membasuh, namun Ibu ini merasa kesulitan untuk membiasakan anaknya. Suatu hari ia menemukan cara dengan mengajak anaknya untuk bermain air sambil membasuh tangan setiap kali akan mengambil kue. Anak ini rela membasuh tangannya dengan minat awal untuk bermain air. Dengan minat tersebut maka setelah sekian lama ia mempunyai habit yang baik untuk selalu membersihkan tangannya setiap kali akan mengambil kue.

Hurlock menyebutkan dalam bukunya perkembangan anak, bahwa minat akan muncul dengan tiga cara. Pertama, jika anak menemukan kesenangan dan menarik perhatian dari perilaku atau kegiatan yang ia lakukan. Kedua, anak belajar lewat identifikasi dengan orang-orang yang dicintai dan dikaguminya. Dan ketiga, minat muncul lewat bimbingan dan pengarahan langsung dari seorang ahli.

Berangkat cerita dan teori Hurlock di atas, orang dapat memulai untuk membangun minat anak berpuasa dengan beberapa teknik berikut ini:

  1. Ramadhan yang bernuansa, menghadirkan nuansa yang berbeda selama bulan Ramadhan akan mendorong anak untuk mengikuti aktifitas-aktifitas di dalamnya. Acara menyambut Ramadhan dengan pawai anak-anak, pukul bedug di masjid menjelang puasa dan membuat jadual bersama selama ramadhan jelas merupakan bentuk menghadirkan nuansa yang berbeda pada bulan suci Ramadhan
  2. Sahur dan berbuka bersama seluruh keluarga. Melihat bapak, ibu, kakak dan saudara lainnya melaksanakan sahur dan buka puasa bersama dengan menu khusus jelas merupakan pengalaman yang luar biasa dan mampu memotivasi anak untuk ikut bersama dengan mereka
  3. Tarawih berjamaah, pada hari-hari biasa mungkin anak telah terbiasa untuk shalat berjamaah di masjid. Tetapi shalat tarawih di masjid dengan rakaat yang lebih banyak dan jumlah jamaah yang membeludak adalah peristiwa yang sangat berkesan bagi mereka
  4. Pondok Ramadhan Ceria, saat ini telah berkembang kegiatan pondok ramadhan yang tidak hanya berisi ceramah-ceramah agama, tetapi dengan adanya game pendidikan yang cukup membangun minat anak untuk mengikutinya
  5. Teman-teman berpuasa, di sekeliling anak kita terdapat sahabat dan teman yang menceritakan peristiwa puasanya. Situasi ini merupakan motivasi yang sangat kuat baginya untuk melanjutkan puasanya atau memulai puasa. Orang tua sangat berperan di dalam melanjutkan motivasi tersebut menjadi tindakan nyata
  6. Rekreasi spiritual, bagi orang tua I’tikaf di masjid pada sepuluh hari terakhir merupakan ibadah. Tetapi bagi anak kegiatan tersebut merupakan rekreasi yang mendorong mereka untuk menghadapi suasana dan situasi yang baru. Orang tua harus mempertimbangkan paradigm anak terhadap I’tikaf ini.

Selamat untuk memulai membangun minat anak-anak kita untuk berpuasa, semoga mereka tumbuh menjadi anak-anak yang bertakwa. (Miftahul Jinan)

 

 

Memuji Spontanitas dan Menghukum Pikir dahulu

Sore itu saya baru saja menyelesaikan sebuah kegiatan yang cukup menguras tenaga dan pikiran. Dengan kondisi fisik yang agak lemah dan emosi yang kurang stabil saya diuji kesabaran oleh anak pertama saya. Ia sedang berbuat usil terhadap adiknya yang dari tadi memintanya untuk melepaskan pegangan tangan atas celana kolornya.

Melihat kejadian itu saya mencoba untuk mengingatkan anak pertama tersebut dengan ucapan, “Mas, adikmu tidak senang terhadap perbuatan usilmu itu”. Beberapa kali saya mengulang ucapan tersebut, tetapi tidak ada respon yang signifikan dari anak saya, ia masih melakukan keusilan tersebut sambil menikmati rengekan adiknya yang semakin keras. Sejenak kemudian saya mendatangi anak dan dengan suara agak lantang meminta untuk datang ke pojok time out untuk saya time out kemudian memintanya untuk mengepel lantai ruang tamu seusai time out.

Betapa berbedanya reaksi anak saya terhadap keputusan tersebut, terlihat di wajahnya kemarahan, rasa tidak terima dan rasa takut yang sangat luar biasa. Astaghfirullah, beberapa menit kemudian saya menyadari betapa  buruknya keputusan saya tersebut. Secara materi dan cara memberikannya sama sekali tidak sesuai dengan kaidah-kaidah yang pernah saya pelajari. Akibatnya  paling kecilnya adalah, saya lalui dua hari berikutnya dengan hubungan yang sangat jauh dari kata harmonis dengannya.

Ada beberapa fakta yang dapat saya identifikasi  dari peristiwa yang kurang baik di atas :

  1. Keputusan memberikan sanksi  saya lakukan dalam situasi sangat spontan tanpa berfikir dahulu tentang berat dan ringannya bagi anak dan tentang nilai pendidikannya
  2. Keputusan tersebut keluar dalam kondisi emosi saya yang tinggi, sehingga otak reptile saya (otak darurat)  paling dominan di dalam melakukannya. Sementara otak berfikir dan otak mamalia (perasaan) kurang berperan
  3. Tidak ada jeda antara emosi yang tinggi dengan keputusan sanksi yang keluar, sehingga sanksi tersebut masih sarat dengan nuansa-nuansa emosional tanpa mempertimbangkan aspek-aspek psikologis anak

Mungkin kondisi di atas juga pernah kita alami,  memberikan sanksi kepada anak saat emosi sedang tinggi dengan cara sangat spontan. Kita bahkan tidak berfikir dahulu apakah sanksi tersebut sangat memberatkan anak, ataukah sanksi tersebut tidak ada hubungannya dengan kesalahan yang mereka perbuat.  Akhirnya produk dari keputusan tersebut justru tidak membuat anak memahami arti kedisiplinan, tetapi mereka menghindarinya karena mereka takut untuk melakukannya. Di kemudian hari saat ketakutan tersebut hilang, dan mereka lepas dari pengawasan orang tua, mereka akan cenderung melakukannya kembali.

Memang seringkali tingkah pola anak yang  tidak sesuai dengan harapan kita cenderung mendorong emosi kita meningkat tensinya. Dan fenomena ini sangatlah wajar adanya. Apalagi jika aktifitas yang kurang sesuai itu menjadi prioritas hidup kita. Namun jika kita ingin memperbaiki tingkah pola anak dengan memberi sanksi secara spontan dan tanpa memikirkannya terlebih dahulu, justru hal itu tidak akan memperbaikinya bahkan dapat merusaknya

Jika kita emosi melihat tingkah pola anak dan terpaks harus memberikan sanksi kepadanya, ambillah waktu jeda dan pastikan emosi kita mulai stabil. Kemudian kita dapat memulai untuk memikirkan jenis sanksi yang bijak dengan hati yang lebih tenang dan fikiran yang sadar.

Sebaliknya saat kita mendapati anak melakukan kebaikan, dan kita akan memberi pujian atau penghargaan kepadanya, pastikan kita melakukannya dengan spontan dan janganlah menunda untuk segera memberi pujian. Spontanitas adalah salah satu tanda ketulusan, sehingga orang tua yang memberi pujian dengan spontan berarti ia memberikan pujian tersebut dengan penuh ketulusan.

Jika  saat ini kita lebih sering memberikan sanksi kepada anak dengan spontan dan sebaliknya memikirkan terlebih dahulu saat memberi pujian kepada mereka, maka saatnya kita mengubah kebiasaan tersebut. Kita memikirkan dahulu saat hendak memberi sanksi dan melakukannya secara spontan saat memberi pujian. Kebiasaan baru ini akan lebih mempermudah kita untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan anak dan meneguhkan kebaikan-kebaikan yang mulai muncul pada diri anak.

Kata kuncinya adalah memuji  spontanitas dan menghukum  pikir dahulu…..

Semua Bermula dari Keluarga

Ada satu kue yang paling sering di pesan kepada ibu saya untuk membuatnya. Kue tersebut sering orang menamakannya dengan sebutan mendut. Suatu kue basah yang berbahan dasar ketan hitam dengan adonan kelapa muda di dalamnya dan dibungkus dengan daun pisang. Orang-orang senang memesan kue tersebut kepada ibu, karena mendut yang dibuat oleh ibu mempunyai citra rasa yang khas dan sangat enak. Saya pernah bertanya kepada ibu tentang rahasia kue mendutnya. Beliau menjelaskan bahwa ada satu bahan kue yang selalu ia perhatikan kualitasnya dan tidak pernah meremehkannya, yaitu ketan hitam. Untuk bahan ini beliau selalu ambil dari ketan hitam terbaik hasil sawah sendiri dan tidak pernah membelinya di pasar. Jika suatu ketika kehabisan bahan dasar ini beliau hanya mau membelinya dari family terdekat.

Saya pernah bertanya, apakah kenikmatan kue mendut tidak dari cara ibu memprosesnya yang baik terhadap bahan-bahan yang ada? Beliau segera menjawab memang proses pembuatan mendut adalah bagian yang sangat penting, tetapi tanpa bahan dasar ketan hitam yang baik dan baru maka tidak akan pernah di dapat mendut dengan citra rasa yang kita harapkan.

Bahan dasar atau row input adalah modal dasar bagi keberhasilan setiap proses selanjutnya. Sebagaimana jika kita berbicara tentang proses pembangunan generasi dari sebuah bangsa maka kita tidak pernah melupakan tentang proses pendidikan. Dan pendidikan keluarga adalah bahan dasar dari keberhasilan proses pendidikan pada jenjang-jenjang selanjutnya.

Sebaik apapun kualitas proses pendidikan anak pada jenjang-jenjang pendidikan formal selanjutnya, tanpa kualitas yang memadai pada pendidikan keluarga sebagai bahan dasar untuk pendidikan lanjutan tersebut, maka tidak akan pernah dapat menghasilkan generasi yang berkualitas tinggi.

Perhatian Keluarga

Kita patut bersyukur bahwa pemerintah saat ini sangat concern terhadap proses pendidikan. Pendidikan pada jenjang Paud digalakkan bahkan hingga pelosok RT dan RW. Beberapa pelatihan untuk guru-guru Paud dilaksanakan dengan gencar. Beberapa dana operasional Paud dan insentif gurunya dikucurkan demi keberhasilan program pendidikan jenjang Paud.

Pada tingkat selanjutnya SD, SMP dan SMU, pemerintah menggulirkan program yang cukup strategis yaitu pembentukan sekolah bertaraf internasional dari sekolah-sekolah negeri atau swasta yang  telah memiliki kualitas baik. Untuk keberhasilan program ini pemerintah juga telah melengkapi sekolah-sekolah tersebut dengan sarana yang memadai seperti LCD, Laptop, AC ruang kelas dan buku-buku pelajaran yang berbahasa Inggris.

Namun dengan segala upaya pemerintah di dalam membangun kualitas pendidikan formal di atas, kita masih kecewa terhadap perhatiannya atas pendidikan keluarga yang justru sebenarnya pondasi bagi proses pendidikan anak selanjutnya. Kegiatan-kegiatan di posyandu, ibu-ibu PKK, atau dinas pemberdayaan perempuan dan keluarga (dulu BKKBN) masih terlalu sederhana dan kecil dibandingkan dengan perhatian pemerintah terhadap pendidikan formal.

Akhir-akhir ini kita bersyukur telah muncul banyak undang-undang  tentang keluarga seperti undang-undang tentang KDRT atau perlindungan anak. Tetapi undang-undang tersebut banyak menyentuh aspek pengobatan bagi keluarga setelah terjadi masalah dalam keluarga tersebut. Belum ada upaya yang terorganisir dengan panduan yang jelas untuk membantu  para pemimpin keluarga untuk membangun keluarganya dengan baik.

TKW Versus Keluarga

Saya pernah berkunjung dan memberi training guru di daerah yang banyak mengirimkan TKW ke negara-negara Malaysia, Singapura, dan Arab Saudi. Banyak guru yang mengeluh tentang siswa-siswi mereka yang orang tuanya menjadi TKW dengan menitipkan putra-putri mereka kepada kakek dan nenek atau famili yang lainya. Mayoritas anak-anak ini mempunyai masalah yang sangat komplek, dari masalah gangguan perhatian, emosi yang kurang stabil,  sulit bersosialisasi dan kecerdasan yang rendah. Jika kita meneliti semua masalah anak ini, maka semua bermula dari proses pendidikan awal anak yang bermasalah.

Program pengiriman tenaga kerja wanita keluar negeri memang memberikan dampak yang signifikan bagi pengembangan perekonomian dan kesejahteraan rakyat pada daerah-daerah tersebut. Tetapi dampaknya juga tidak kalah mengerikan, diantaranya lembaga keluarga yang sering berjalan tidak normal karena ketiadaan salah seorang anggota keluarga, anak-anak yang masih bayi yang sudah ditinggal oleh ibunya untuk bekerja di luar negeri, dan anak-anak balita yang diasuh oleh kakek nenek dengan penerapan pendidikan yang permisif atau sebaliknya terlalu keras dengan hukuman-hukuman yang kurang mendidik.

Tampaknya pemerintah di dalam program pengiriman tenaga kerja ke luar negeri tidak mempertimbangkan sama sekali aspek langgengnya lembaga keluarga. Sehingga tidak ada prasyarat sama sekali bagi calon tenaga kerja untuk mendaftarkan dirinya untuk bekerja. Maka tidaklah mengherankan jika ada seorang ibu yang baru saja melahirkan anak 1 bulan yang telah berangkat kembali ke luar negeri. Sementara bayinya yang masih merah dititipkan kepada neneknya atau familinya.

Training Calon Orang Tua

Untuk mengajar di kelas, seseorang harus menempuh jalur pendidikan yang khusus untuk mengajar. Bahkan akhir-akhir ini pemerintah menggulirkan program sertifikasi untuk guru-guru dengan imbalan yang baik. Apakah sudah ada program pemerintah yang mengharuskan setiap calon orang tua untuk mendapatkan pembinaan dan pelatihan menjadi orang tua yang efektif.

Banyak orang tua yang melakukan kesalahan-kesalahan di dalam mendidik putra-putri mereka. Orang tua yang terlalu keras di dalam merespon setiap tingkah pola anak, orang tua yang selalu memberikan segala apa yang diminta oleh anak, orang tua yang tidak dapat berkomunikasi baik dengan anaknya, atau orang tua yang kurang konsisten di dalam memberikan aturan kepada anak. Mereka sangat wajar untuk melakukan kesalahan-kesalahan tersebut karena mereka belum mendapatkan pendidikan yang memadai untuk menjadi orang tua yang baik kecuali warisan dari cara orang tua mereka dahulu mendidik.

Tidak semua orang akan menjadi guru pada lembaga-lembaga pendidikan formal, tetapi mayoritas orang adalah pendidik bagi keluarganya. Sehingga program pelatihan dan pendidikan para orang tua sebenarnya adalah proyek strategis bagi bangsa ini untuk memastikan bahwa proses pendidikan keluarga berjalan dengan baik, dapat mengoptimalkan seluruh potensi anak (kognitif, afektif, dan psikomotorik), dan tidak sebaliknya justru mengubur potensi-potensi yang ada pada diri anak.

Keluarga dan Pendidikan Karakter

Ratna Megawangi dalam bukunnya Pendidikan Karakter menyebutkan bahwa tahapan pendidikan karakter yang paling dasar adalah pada usia 0-2 tahun tahapan Attachment. Tahapan attachment adalah tahapan di mana anak harus mempunyai kelekatan terhadap orang tuanya. Seorang anak yang mempunyai kelekatan psikologis dengan ibunya mempunyai sifat lebih baik, yaitu mudah bergaul, mudah diatur, mempunyai motivasi belajar tinggi, antusias dengan aktifitas di sekolah dibandingkan dengan anak-anak yang ketika bayi kurang lekat hubungan dengan ibunya.

Erikson seorang ahli pendidikan mengatakan bahwa usia bayi adalah masa pembentukan trust versus mistrust (percaya lawan tidak percaya). Apabila kualitas pengasuhan anak berjalan dengan baik, maka rasa percaya pada anak terhadap orang lain akan tumbuh dengan baik. Rasa percaya ini adalah modal bagi seseorang di dalam mengembangkan hubungan interpersonal yang baik.

Saat ini sebenarnya kita telah menyakini bahwa pendidikan keluarga adalah pondasi yang sangat penting bagi perjalanan pendidikan anak pada masa-masa yang akan datang. Tetapi tampaknya keyakinan kita tersebut belum mampu menggerakkan kita untuk lebih fokus di dalam membangun lembaga keluarga dengan sungguh-sungguh. Sudah terlalu banyak kita menemukan contoh anak-anak yang bermasalah karena pondasi pendidikan keluarganya yang kurang baik. Mereka terlalu mudah untuk dipengaruhi oleh narkoba, pornografi, dan kekerasan. Saatnya bagi kita untuk bergerak membangun lembaga keluarga, atau kita akan semakin banyak menemukan anak-anak yang bermasalah.

Mendidik Anak Menjadi Pemimpin

Saya yakin setiap orang tua menginginkan putra-putrinya kelak  menjadi seorang pemimpin. Seorang yang dihormati dan diikuti oleh orang lain karena kebijaksanaan dan keteladanannya. Tetapi tidak semua mereka yakin bahwa anaknya kelak tumbuh dan berkembang menjadi pemimpin seperti keinginan mereka. Ada keraguan, karena sebagian mereka meyakini bahwa seorang pemimpin itu tidak dibuat tetapi tetapi dilahirkan. Sehingga bagi orang tua hanya bisa berharap dan berdo’a semoga sosok yang lahir dari mereka adalah sosok pemimpin tersebut.

 

Tetapi nampaknya kita perlu melihat sebuah hadist Rasulullah SAW, “Setiap dari kamu adalah pemimpin. Dan setiap pemimpin bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya.” Hadist ini dengan gamblang menjelaskan bahwa setiap orang adalah pemimpin yang nantinya akan dimintai pertanggungjawabannya. Dan anak-anak yang kita lahirkan juga mempunyai kesempatan untuk memimpin dan mempertanggung jawabkan apa yang dipimpinnya.

 

Permasalahan yang sesungguhnya adalah seberapa besar tanggung jawab yang dapat dipikul dan dipertanggung jawabkan oleh seseorang akan menentukan seberapa besar ia tumbuh menjadi seorang pemimpin. Beberapa orang dengan karakter tertentu mempunyai kemampuan untuk memikul tanggung jawab yang sangat besar. Sementara orang lain dengan tiadanya karakter tersebut tidak mempunyai kekuatan untuk memikul tanggung jawab kecuali hal-hal yang sederhana.

Pada banyak buku dan artikel menyebutkan beberapa karakter seorang pemimpin adalah; mempunyai visi yang kuat, mandiri, dapat bekerja sama, matang secara emosi, pembicara yang fasih, dapat memberi tauladan, berdisiplin, pembelajar, dan lain-lain.

Dengan beberapa karakter di atas, sebenarnya orang tua dapat mulai membimbing anaknya di dalam memunculkan karakter-karakter tersebut. Di bawah ini terdapat beberapa tips yang dapat dilakukan oleh orang tua agar beberapa karakter tersebut dapat dimunculkan.

  1. Mendidik anak untuk mempunyai visi. Visi adalah impian besar yang akan dicapai pada masa yang akan datang. Kebesaran kepemimpinan seseorang seringkali ditentukan oleh seberapa besar impian dirinya yang akan dicapai pada masa depannya. Seorang anak yang sering berimajinasi tentang bayangan-bayangan besar keinginannya biasanya akan tumbuh menjadi anak yang mempunyai keinginan yang besar. Anak seperti inilah yang mempunyai potensi untuk tumbuh menjadi seorang pemimpin. Disinilah peran orang tua untuk memberi rangsangan anak-anaknya untuk berimajinasi tentang kehidupan-kehidupan yang kadangkala mungkin kurang masuk akal bagi orang tua. Menghormati imajinasi dan mau mendengar khayalan mereka adalah sikap yang baik bagi tumbuhnya sosok yang bervisi. Tidak semua orang tua yang mempunyai kesabaran untuk mendengarkan bualan (imajinasi) yang tidak ada hubungannya dengan realitas sekitarnya.
  2. Mendidik anak untuk mandiri. Seorang pemimpin adalah pribadi yang berani dan mandiri di dalam membuat setiap keputusan. Pribadi yang mandiri hanya dapat berkembang  pada keluarga yang memberi kesempatan bagi putranya untuk berlatih di dalam memutuskan secara mandiri hal-hal kecil. Saat keluarga kita mendatangi sebuah swalayan untuk berbelanja, kita dapat memberi kesempatan satu macam makanan yang dapat mereka pilih secara mandiri.
  3. Mendidik anak mempunyai emosi yang matang. Pemimpin yang matang emosinya memiliki kemampuan mengelola perasaannya dengan sangat baik. Sikapnya cenderung tenang, stabil, berjiwa besar, rendah hati, dan mampu membina hubungan baik dengan orang lain. Sebaliknya pemimpin yang kurang matang selalu mengedepankan emosinya manakala menghadapi masalah. Pribadi yang matang emosi  akan tumbuh dari orang tua yang juga mempunyai kematangan emosi. Mereka tidak selalu bersikap reaktif terhadap perilaku putranya yang kadangkala menjengkelkan mereka. Tetapi justru perilaku-perilaku tersebut dijadikannya sebagai sarana membangun karakter positif bagi putranya. Seperti orang tua yang menjumpai putranya menutup pintunya dengan keras. Ia panggil putranya dengan lemah lembut dan ia memberi contoh menutup pintu dengan pelan dan meminta putranya untuk merasakan perbedaan menutup pintu dengan keras dan lembut.
  4. Mendidik anak untuk bekerja sama. Kemampuan bekerja sama adalah syarat mutlak bagi seorang pemimpin besar. Ia mempunyai penghormatan yang tinggi terhadap setiap ide dan kontribusi bawahannya, sehingga ide dan kontribusinya  juga mudah diterima oleh para bawahannya. Keluarga yang mampu membangun iklim saling menghormati di antara para anggotanya cenderung akan mudah membangun karakter kerja sama bagi para anggotanya. Pada keluarga ini tercipta iklim untuk berkontribusi dan menghormati satu dengan lainnya.
  5. Mendidik anak untuk menjadi tauladan. Seorang pemimpin harus layak untuk ditauladani, baik perilaku dan ucapannya. Dan sosok yang layak ditauladani hanya tumbuh dan berkembang dari orang tua yang juga layak untuk diteladani pula. Sangat sulit bagi seorang anak untuk menjadi sosok tauladan  bagi orang-orang sekelilingnya, jika ia sendiri belum menemukan pribadi yang ditauladaninya. Disinilah peran orang tua untuk selalu menjadikan diri mereka dan segala perilakunya sangat layak untuk ditiru.

Masih banyak karakter pemimpin yang sebenarnya dapat kita bangun, tinggal bagaimana kita memilih prioritas dari karakter-karakter`tersebut kemudian kita mencoba untuk mengembangkan kebiasaan apa yang dapat mulai kita jalankan dalam keluarga kita.

Siap Lulus dan Tidak Lulus

Bagi bapak dan ibu yang mempunyai putra/putri duduk di kelas VI, IX, dan XII, mungkin hari-hari ini dapat lebih santai dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Karena putra-putrinya telah menjalani ujian nasional. Sebuah parameter utama yang ditetapkan oleh pemerintah untuk menentukan apakah seorang anak lulus atau tidak lulus. Pada setiap malam bapak dan ibu mungkin masih mendampingi mereka di dalam mengulangi pelajaran, atau selalu memotivasi mereka untuk tetap fokus pada belajar dan ujian. Bahkan beberapa orang tua ada yang rela mengambil cuti kerja hanya ingin mengantarkan sendiri putra-putrinya memasuki ruang-ruang ujian.

Hari ini apakah  tidak ada lagi yang masih perlu dilakukan oleh bapak dan ibu terkait dengan ujian nasional putra-putrinya? Ibarat masa persiapan ujian dan masa ujian adalah masa persiapan produksi dan masa produksi, maka masa selanjutnya adalah masa finishing touch. Yaitu memberikan sentuhan terakhir untuk lebih memperindah dan memperteguh proses produksi.

Finishing touch untuk seluruh rangkai ujian nasional di atas ada dalam sebuah pertanyaan apakah putra-putri kita telah siap untuk lulus dan siap untuk tidak lulus? Mungkin diantara kita justru bertanya apakah maksudnya dengan mempersiapkan anak untuk lulus dan untuk tidak lulus? Padahal bulan-bulan yang lalu kita telah mendorong mereka untuk lulus.

 

Siap Lulus

Apakah pentingnya mempersiapkan anak untuk lulus, karena setiap anak yang lulus toh mereka akan gembira dan sudah barang tentu mereka telah siap untuk menghadapinya. Marilah kita mengingat kembali fenomena beberapa anak SMU dan SMP seusai melihat pengumuman kelulusan mereka. Beberapa kelompok remaja tersebut ada bersorak-sorak sambil memberikan coretan-coretan pada baju seragam mereka. Sebagian yang lain melakukan konvoi sepeda motor pada jalan-jalan protokol tanpa menggunakan helm yang layak. Bahkan beberapa yang lain melakukan pesta minuman keras atau pesta seks tanda mereka telah lepas dari ikatan sebagai pelajar.

Apakah fenomena di atas adalah cara-cara yang baik di dalam merespon pengumuman kelulusan mereka. Mereka memang telah lulus di dalam ujian kognitif, tetapi sebenarnya belum siap secara mental dan perilaku di dalam menghadapi kelulusan mereka. Pada titik inilah sebenarnya orang tua dapat berkontribusi untuk mempersiapkan secara mental dan perilaku jika putra-putri mereka melihat pengumuman kelulusannya.

Saya yakin setiap orang tua telah memiliki suatu bentuk aktifitas yang baik di dalam menghadapi setiap keberhasilan. Kita dapat mendorong mereka untuk melakukan sujud syukur sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah, atau melakukan aktifitas perayaan yang sederhana dengan tetap menghormati beberapa teman yang tidak lulus, bahkan diantara kita ada yang memberikan shadaqah kepada fakir miskin di hari ia mendapatkan keberhasilan tersebut.

Semua bentuk perayaan sebenarnya dapat kita dialogkan pada hari-hari ini dengan putra-putri kita, sehingga di hari pengumuman tersebut mereka telah siap dengan bentuk-bentuk perayaan versi hasil dialog dengan kita orang tua, dan pada akhirnya mereka relatif tidak mudah ikut-ikutan dalam bentuk perayaan teman-teman yang lain.

 

Siap Tidak Lulus

Sekarang apa yang dapat kita lakukan untuk mempersiapkan putra-putri untuk siap tidak lulus, apalagi bagi anak-anak kita yang selalu mendapatkan nilai yang baik. Pertama kita harus menyakini terlebih dahulu beberapa hal berikut ini:

  1. Tidak lulus adalah peristiwa yang wajar
  2. Tidak berdosa bagi seorang siswa untuk tidak lulus
  3. Pada setiap pelaksanaan ujian terdapat fenomena lulus dan fenomena tidak lulus

Dengan menyakini beberapa hal di atas, maka lebih mudah bagi orang tua untuk mempersiapkan putra-putrinya untuk menghadapi ketidak lulusan mereka. Diantara beberapa aspek yang perlu diberikan kepada anak-anak tentang siap tidak lulus adalah; Pertama, membangun keyakinan yang pada diri anak tentang ketiga hal di atas, bahwa berhasil dan tidak berhasil adalah peristiwa yang wajar dan tidak ada dosa apapun bagi seseorang yang kurang berhasil asal ia telah bekerja dengan sungguh-sungguh.

Kedua, membantu anak untuk merasakan sensasi jika benar-benar mereka tidak lulus, dan ketiga adalah membuat rencana nyata jika memang mereka benar-benar tidak lulus. Dengan ketiga aspek persiapan di atas maka sebenarnya banyak manfaat yang diperoleh anak-anak kita, di antaranya:

  1. Anak lebih siap mental jika mereka memang benar-benar tidak lulus, karena mereka yakin bahwa lulus dan tidak lulus adalah sebuah keniscayaan hidup
  2. Menghindari tindakan-tindakan yang di luar perhitungan nalar sebagai akibat dari ketidak lulusan mereka
  3. Membangun rasa empati pada putra-putri kita bahwa sebagian teman mereka ada yang mengalami nasib yang kurang baik seperti mereka