Informasi kegiatan Griya Parenting Indonesia dan artikel yang terkait

Catatlah!!!

Anak kedua kami duduk di kelas lima Sekolah Dasar. Ia selalu mendapatkan uang jajan harian, walaupun kami tidak memberikannya setiap hari. Setiap pekan atau dua pekan sekali kami memberikannya. Iapun tidak sering meminta tambahan bagi uang jajannya. Namun ada satu masalah yang sering mengganggu benak kami, Ia seringkali menghabiskan uang jajannya hanya dalam satu pekan, dan hampir tidak mempunyai sisa uang jajan pada pekan kedua. Dengan demikian Ia menggunakan uang berlebihan pada pekan pertama dan sangat kekurangan pada pekan kedua. Sebenarnya kami sudah menjelaskan kepadanya dan menegurnya tentang jatah uang jajannya setiap hari. Namun kondisi di atas masih selalu terulang kembali.

Tentu ini bukanlah kondisi yang ideal bagi perkembangan karakter dan kebiasaan yang baik bagi anak kami. Seperti seseorang yang mendapatkan gaji dari perusahaannya, di awal bulan ia begitu borosnya menggunakan uang, sementara ia harus hidup dalam kekurangan dengan sisa gajinya di akhir bulan. Akhirnya untuk mengurangi tingkat kebutuhan pada pekan kedua, seringkali kami membawakan berbagai makanan dari Rumah. Fenomena ini bermula dari masalah kemampuan anak di dalam mengontrol diri dan merencanakan keuangan.

Pada beberapa kesempatan kami merasa jengkel dan memberikan jatah uang jajan setiap hari. Tetapi tentu ini bukanlah sikap yang bijaksana, karena tidak pernah mendidik anak untuk mengelola sendiri uangnya. Hingga di malam itu kami mendapatkan sebuah inspirasi qur’ani untuk mengajari anak untuk mencatat setiap apa yang ia keluarkan dari uangnya.

Kami tetap memberi uang kepadanya setiap dua pekan, kami membuat kesepakatan baru tentang jumlah uang jajannya setiap hari, dan memintanya untuk menuliskan uang yang telah ia pergunakan. Setiap akhir pekan kami dan anak melihat kembali hasil catatan dan sisa uangnya. Subhanallah cara ini sangat membantu anak untuk lebih mampu mengontrol dirinya di dalam menggunakan uangnya.

Setelah beberapa bulan berjalan kami bahkan menambah tanggung jawabnya untuk memanage uang jajan adiknya dan kebutuhan-kebutuhan lain selain uang jajan sekolah, seperti kebutuhan untuk membeli peralatan sekolah dan membeli makanan-makanan kecil.

Ada beberapa nilai yang telah didapatkan oleh anak kami saat ia menjalankan program mencatat, di antaranya :

  1. Anak mempunyai self discipline saat ia harus menulis setiap pengeluaran uang untuk kebutuhannya
  2. Kontrol diri anak meningkat tajam, di depannya terdapat banyak uang, namun ia harus mampu menahan diri untuk tidak menggunakannya dengan berlebihan
  3. Anak mengalami peningkatan tanggung jawab karena mulai diberi amanah untuk mengurus uang jajan dirinya dan uang jajan adiknya
  4. Keterampilan di dalam menghitung uang dan mengelolanya berkembang optimal, ia tidak lagi memandang uang sebagai hal yang harus dihabiskan dan dibelanjakan, tetapi memandang uang sebagai hal yang harus dipertanggung jawabkan

Bahasa Kalbu

Kalau kita sedang mengikuti upacara  bendera maka kita akan sering mendengarkan beberapa kalimat berikut ini, “siap gerak, lencang depan gerak dan lain-lain”. Reaksi kita mendengar kata-kata tersebut adalah segera bergerak sesuai dengan instruksinya. Mengapa hal itu kita lakukan? Maka jawaban sederhananya adalah karena aturannya ya demikian. Tetapi ada satu hal yang luput dari perhatian kita, yaitu cara memberi instruksi memang mendorong seseorang untuk segera bergerak. Dengan suara lantang dan kecepatan instruksi yang tinggi, maka ia dapat merangsang siapapun untuk segera bergerak.

Kalau kita mencoba untuk memberikan instruksi yang sama tetapi suara dan kecepatan kita rendahkan maka reaksi untuk bergerak bagi yang mendengar akan sangat berbeda. Dapat kita sederhanakan bahwa bahasa yang digunakan dalam instruksi di atas adalah bahasa fisik. Kondisi berbeda saat kita masuk kelas dan mendengar penjelasan Guru, maka kita akan merasakan intonasi dan suara yang berbeda, lebih lembut dengan kecepatan sedang. Dan siswapun dapat fokus pada penjelasan guru. Penjelasan guru dengan karakteristik demikian telah merangsang anak-anak secara fokus dalam fikiran.

Sederhananya guru tersebut menggunakan bahasa fikiran. Saat kita menjalankan Shalat atau memanjatkan doa, kita akan menggunakan suara yang lebih pelan dari dua bahasa di atas. Suara ini mendorong seseorang untuk tenang, tidak bergerak dan merangsang perasaan untuk bekerja. Bahasa yang digunakan adalah bahasa kalbu. Yaitu bahasa yang dapat menembus hati seseorang. Kita jarang menggunakan bahasa yang ketiga. Karena kita melihat sedikitnya kesempatan yang dapat digunakan dengan bahasa kalbu. Padahal setiap perilaku yang harapkan pada anak-anak kita harus bermuara dalam hati. Dan ini akan sangat mudah jika kita menggunakan dengan bahasa kalbu

Teguran Hati Nurani

 

Sebagai orang tua atau guru kita tentu akan menjumpai beberapa perilaku anak yang kurang baik. Tentunya menghadapi perilaku tersebut terpaksa kita harus menegurnya. Ada banyak jenis teguran yang sering dilakukan oleh orang tua, seperti dengan memukul atau membentak anak, menjelaskan dan mempertanyakan kepada anak tentang perilakunya dan lain sebagainya.

Ada satu jenis teguran yang dapat kita lakukan yang mampu menyentuh hari nurani anak-anak kita. Tentunya inilah cara yang paling ideal bagi kita di dalam menegur perilaku anak yang kurang baik. Saat anak meletakkan sampah di dalam kelas tidak pada tempatnya, kita dapat mengambil sampah tersebut tanpa bicara apapun kepada anak dan meletakkannya pada tempatnya. Anak yang melihat aktifitas kita merasa kurang enak hati melihat sampahnya justru diletakkan oleh gurunya.

Saat anak sedang bermain di rumah, kemudian adzan tanda waktu shalat terdengar, orang tua menunjukkan persiapan dirinya untuk segera pergi ke masjid. Anak yang melihat orang tuanya mempersiapkan diri ke masjid tidak nyaman jika tidak mengikuti orang tuanya.

Mungkin di antara kita akan membayangkan ini terlalu sulit untuk dilakukan oleh kita para orang tua dan guru. Apalagi anak ditegur menggunakan ucapan saja seringkali tidak melaksanakannya. Apalagi jika kita tegur dengan tanpa ucapan.

Kalau dapat saya sedikit menjelaskan tentang teguran hati nurani ini, memang cukup sulit untuk sampai tahapan teguran seperti ini, karena ini adalah teguran yang paling ideal yang dapat kita lakukan. Tetapi minimal kita mempunyai tujuan jauh, di suatu hari akan dapat mencapainya dengan baik.

Ada beberapa pra syarat yang harus kita lewati sehingga tahapan teguran paling ideal ini dapat kita laksanakan terhadap anak-anak kita, yaitu :

  1. Orang tua dan guru harus membangun sebuah lingkungan yang mempermudah anak untuk melakukan aktifitas positif. Seperti lingkungan yang membiasakan untuk mematikan televisi setiap kali terdengar adzan. Maka akan sangat mudah bagi anak untuk ditegur nuraninya, dibandingkan sebuah lingkungan yang tetap menyalakan televisi walaupun adzan berkumandang
  2. Orang tua dan guru membangun aktifitas positif dengan diskusi dan komunikasi yang baik antara orang tia dan anak. Bukan aktifitas yang dibangun dengan paksaan dan kekerasan. Sehingga anak-anak melakukan aktifitas tersebut dengan penuh kesadaran dan pemahaman yang baik
  3. Aktifitas positif yang disempurnakan dengan contoh yang kuat dari orang tua, bukan aktifitas yang sulit bagi anak untuk mendapatkan contoh
  4. Saat orang tua dan guru memberikan teguran hati nurani, muncul dari rasa cinta akan kebaikan perilaku anaknya. Bukan diliputi oleh kebencian akan perilaku anaknya yang kurang baik.

 

 

 

Menikmati Keheningan

Banyak aktifitas sehari-hari yang menuntut kita dan anak-anak untuk bersikap hening. Seperti saat kita menjalankan shalat, berdoa seusai shalat, mendengarkan pembicaraan orang lain dan lain-lain. Namun dengan banyaknya aktifitas hening tersebut, kita harus mengakui bahwa kita belum bnyak mengajarkan kepada anak-anak sesuatu tentang keheningan. Kecuali hanya menegur anak-anak tersebut saat ramai ketika belajar di kelas atau gaduh ketika menjalankan shalat jamaah di masjid.

Akhirnya keheningan sering dipandang oleh anak-anak sebagai sesuatu yang tidak dapat dinikmati, tetapi hanyalah sebagai sebuah kewajiban untuk mematuhi permintaan orang dewasa untuk tidak gaduh saat belajar dan beribadah. Fokus kita lebih banyak pada ungkapan “tidak gaduh” daripada ungkapan “keheningan”.

Padahal dengan mengajarkan kepada anak tentang keheningan secara benar maka sebenarnya banyak manfaat yang akan mereka peroleh di kemudian hari, di antaranya ;

  1. Mendidik anak untuk menikmati keheningan sebenarnya membantu anak untuk meningkatkan konsentrasinya saat menyimak dan mendengarkan penjelasan guru maupun orang tua. Kita sering mendengar keluhan para guru tentang betapa ramainya kelas dengan suara bising anak. Kita melupakan hal yang lebih penting, mereka melakukan kegaduhan tersebut, karena mereka belum dilatih untuk menikmati keheningan
  2. Melatih anak untuk menikmati keheningan sama dengan mengajarkan mereka untuk menjadi pendengar yang baik. Seorang pendengar yang baik adalah mereka yang telah terlatih dengan baik bagaimana menikmati keheningan. Cukuplah bagi mereka satu suara dari lawan bicaranya yang terdengar, sementara dirinya focus pada isi pembicaraannya. Sebaliknya anak yang belum terlatih, tetap merasa nyaman walaupun semua mulut secara bersama-sama mengeluarkan kata-kata.
  3. Saat kita sudah terbiasa untuk hening, maka akan mudah bagi kita untuk bersikap khusyuk’ saat menjalankan Shalat atau saat memanjatkan doa. Sebaliknya saat kita terbiasa merasakan kegaduhan, maka alangkah tidak nikmatnya menjalani kekshusyuan saat beribadah
  4. Di saat seseorang tengah menikmati keheningan, maka akan lebih mudah baginya untuk melakukan introspeksi dan evaluasi ke dalam diri. Di sinilah Ia akan terbiasa untuk melakukan olah rasa dan bukan hanya olah fikir dan olah raga saja. Saya yakin kitapun juga menghendaki anak-anak yang juga punya rasa yang lebih tinggi.

 

LABEL BARANG

 

Sebagai orang tua pastinya kita selalu menjaga. Proteksi yang dilakukan wali murid bagi anak-anak yang duduk di Playgroup, TK atau SD kelas 1, 2, dan 3, bermacam model. Salah satunya melakukan ritual memberi label pada semua peralatan sekolah mereka. Nama anak-anak kita tertempel jelas di pensil, tas, buku, tempat minum, topi, dan lain-lain.

Pertanyaannya adalah untuk apa ritual di atas selalu kita lakukan? Mungkin kita akan menjawab, supaya barang anak kita tidak tertukar dengan barang milik temannya. Boleh juga bila tertinggal di sekolah, akan mudah dikenali dan kembali kepada pemiliknya.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah ritual labeling dilatarbelakangi pertimbangan ekonomis belaka? Supaya orang tua berhemat. Karena jika barang anak sering hilang, maka pengeluaran membengkak. Jika direnungkan lebih dalam, adakah manfaat lebih dari sekadar prinsip ekonomi? Bisakah kita mencoba berorientasi pada pribadi anak yang sedang menjalani proses pendidikan?

Sebenarnya banyak nilai yang dapat diperoleh ketika program labelisasi peralatan sekolah kita lakukan. Bahkan ada beberapa karakter yang dapat dibangun pada diri anak. Di antara nilai dan karakter tersebut adalah:

  1. Membangun tanggung jawab kepemilikin barang. Seringkali kita membelikan peralatan sekolah anak atau beberapa mainan yang mereka minta. Tetapi dengan cepatnya barang-barang tersebut hilang karena tertinggal atau tertukar dengan milik temannya. Selanjutnya saat memerlukan peralatan itu, dengan entengnya anak-anak minta dibelikan lagi. Anak-anak memang berhak meminta peralatan yang ia butuhkan. Tetapi ia juga harus bertanggungjawab menjaganya. Program labelisasi barang dapat membantu anak mengidentifikasi bahwa barang ini miliknya. Memintanya agar membiasakan menyimpan barangnya dengan baik. Jika tercecer tidak pada tempatnya segera meletakkan di tempatnya. Dan dengan labelisasi seperti ini insya Allah lebih mudah mengembalikan barang jika ditemukan oleh orang lain.
  2. Menghormati barang milik orang lain. Beberapa anak menggunakan pulpen milik kakaknya tanpa izin. Dan kakak pun tidak marah atas perilaku adiknya. Apa yang akan terbangun pada diri anak jika peristiwa ini berulangkali terjadi? Anak dapat berpendapat bahwa menggunakan barang orang lain tanpa izin boleh asalkan tidak sedang digunakan oleh pemiliknya. Bagaimana jika pendapat ini dipraktekkan oleh anak di sekolah? Suatu ketika ia menemukan pulpen yang tergeletak di atas meja. Lalu ia memakainya untuk menulis. Lantas, tiba-tiba pemiliknya menegur bahwa ia telah mengambil tanpa izin. Kejadian seperti ini mengharuskan kita memerhatikan bagaimana anak-anak menghormati barang milik orang lain dengan cara meminta izin untuk menggunakannya. Memberi label pada barang anak akan membantu membantu proses menghormati barang milik orang lain. Tentunya orang tua harus menjadi contoh untuk selalu meminta izin saat menggunakan barang milik anaknya.
  3. Membangun disiplin anak. Saat anak terbiasa untuk menjaga, merawat barangnya serta mengembalikan pada tempatnya maka akan terbangun juga karakter disiplin. Orang tua patut mengingatkan anak dengan baik jika barang-barangya tercecer atau tidak pada tempatnya.

Jika ada dua orang membeli masing-masing smartphone yang sama merknya. Satu orang menggunakan smartphone tersebut hanya untuk sms dan telpon, sementara satunya dapat menggunakannya untuk berbagai kepentingan seperti telpon, sms, internet, game dan lain-lain. Apa yang membedakan antara keduanya? Pengetahuan dan keterampilan dari keduanya akan fitur pada smartphone tersebut yang membedakan.

Dengan tulisan ini semoga pengetahuan dan keterampilan kita akan fitur label barang anak semakin beragam dan manfaatpun semakin banyak.

 

SENGAJA “NEMU”

Oleh: Miftahul Jinan

Ada satu pengalaman semasa kecil yang saya dan teman-teman senangi yaitu “nemu”. Nemu adalah menemukan benda untuk kami miliki. Tentunya bukan barang berharga atau uang. Kami hidup di pelosok desa. Kami sering ‘nemu’ buah-buahan yang jatuh dari pohonnya. Kami memungutnya saat pagi hari. Buah-buah yang sudah masak itu jatuh begitu saja. Sebagian lainnya jatuh berhias gigitan kelelawar pada malam harinya.

Karena seringnya ‘nemu’ buah-buahan itu, maka kami menjadi tahu kebiasaannya. Pagi buta kami sengaja bangun tidur bergegas berangkat ke masjid untuk shalat shubuh. Sepanjang perjalanan kami biasa mengamati tiap pohon yang berbuah. Harapannya adalah ‘nemu’ buah-buahan. Tanpa komando kami pun berlomba saling mendahului. Berpacu. Para pemilik pohon nampaknya sudah rela dengan apa yang kami lakukan. Karena kami dibiarkan ‘nemu’ buah-buahan dari pohon-pohon mereka.

Apakah anak-anak sekarang juga mengalami peristiwa ‘nemu’ seperti kami dahulu? Jawaban saya, “Ya”. Mereka temukan sesuatu yang lain. Bukan buah-buahan seperti kami dahulu. Naudzubillah, pengalaman ‘nemu’ itu terjadi pada tayangan, gambar, dan adegan dengan konten porno. Ibu Elly Risman berkata, “Delapan puluh persen anak-anak sekarang mengetahui perihal pornografi tanpa sengaja (nemu)”.

Dahulu kami begitu mudah ‘nemu’ buah-buahan, karena begitu banyak tetangga kami yang memiliki pohon buah-buahan. Astaghfirullah, kini anak-anak kita begitu mudah menjumpai tayangan, gambar, dan adegan dengan materi porno. Mereka dengan gampangnya mendapat informasi lewat televisi, radio, HP, internet, video CD, film, dan lain-lain.

Saya masih ingat, seorang ibu mendatangi meja kami seusai seminar dengan mata berkaca-kaca. Ia mengisahkan putri kecilnya beberapa hari yang lalu tanpa sengaja melihat adegan yang tidak layak ditonton. Handphone milik pamannya itu tak disangka tersimpan materi asusila. Ada pula seorang guru SD yang menjumpai sekelompok siswanya tertawa cekikikan. Ternayata usut punya usut mereka sedang melihat gambar wanita tanpa busana. Na’udzubillah.

Kami dahulu ‘nemu’ buah-buahan halal, lalu kami makan bersama-sama dan menyehatkan tubuh kami. Tapi, hari ini anak-anak kami ‘nemu’ dan melahap konten porno yang berakibat buruk dan menghancurkan mereka. Kita kenali beberapa bahaya akibat mengkonsumsi materi porno. Berikut catatannya:

  1. Kerusakan otak secara permanen terutama pada fungsi otak untuk merencanakan, mengendalikan emosi, mengambil keputusan, dan berpikir kritis.
  2. Pornografi juga mendorong anak mengalami kecanduan, sehingga orientasi hidup anak hanyalah kepada aspek seksual dan pornografi. Kita dapat melihat bagaimana pola pacaran anak-anak sekarang yang sangat mengerikan.
  3. Ponografi telah mengubah paradigma di masyarakat bahwa hubungan seksual sebelum menikah boleh. Padahal syariatnya sudah jelas bahwa hubungan seperti itu adalah zina.

Akhir-akhir ini kita sering mendengar dan membaca dari mass media perilaku seks yang menyimpang pada masyarakat. Dilakukan tidak selalu dari orang dewasa yang masih aktif secara fisik, tetapi dari seorang kakek atau bahkan dari seorang anak yang belum masuk masa akil baligh. Tidak ada wilayah yang aman bagi anak-anak kita bahkan bagi putra-putri kecil kita dari serangan perilaku seks yang menyimpang tersebut. Mungkin anak-anak kita jadi korbannya atau sebaliknya mereka menjadi pelakunya. Naudzubillah.

Pornografi saat ini telah menjadi tsunami besar yang mampu menenggelamkan setiap tonggak-tonggak generasi muda kita. Tanpa kita mampu berbuat banyak untuk menyelamatkan mereka dari terjangannya. Ya Allah, di wilayah mana di bumi-Mu ini kami dapat menyembunyikan generasi-generasi kami untuk kami didik tentang agama-Mu. Hingga suatu saat mereka telah siap untuk menghadapi terjangan tsunami pornografi ini. Mampukan kami membekali mereka dengan benih Iman dan Islam. Hanya Engkau tempat kami berserah.

 

BERKATA “TIDAK” UNTUK KEMUNGKARAN

Ayah bunda, suatu hari anak kita yang masih SMP diajak tiga teman karibnya untuk menonton tayangan film yang kurang baik. Dapatkah kita memastikan bahwa ia akan menolak ajakan tersebut? Bersyukurlah jika ayah bunda yakin bahwa anak kita akan menolaknya. Tetapi bagi mereka yang masih ragu menjawabnya, tampaknya perlu kerja keras dalam mendidiknya. Setahap demi setahap ananda menjadi lebih baik. Dan pada akhirnya ia berani menolak ajakan ‘miring’ tersebut.

Karakteristik kemunkaran yang dihadapi putra-putri kita sangatlah berbeda dibanding model kemaksiatan masa lalu. Dahulu istilah pornografi, minuman keras, apalagi narkoba adalah hal-hal yang sangat abstrak ditelinga. Sehingga sangat jaranglah kita mendekati hal-hal tersebut apalagi terjerumus ke dalamnya. Kenakalan yang sering dilakukan adalah mencuri buah tetangga atau mengambil beberapa batang tebu milik perkebunan.

Tetapi hari ini kata pornografi, minuman keras, atau bahkan narkoba terasa amat dekat dengan dunia anak-anak kita. Mereka begitu mudah mengakses atau secara tidak sengaja menjumpai pornografi, minuman keras dan bahkan narkoba di sekitar mereka. Kenyataan ini adalah ‘tantangan berat’ bagi orang tua di dalam mendidik anak-anak.

Idealnya anak-anak kita tegas menolak kemunkaran seperti di atas. Dan ini adalah buah pendidikan ayah bunda sesuai dengan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Abu Said al-Khudri, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah bresabda, “Siapa diantara kalian melihat kemungkaran, hendaklah dia mengubahnya (mencegahnya) dengan tangannya (kekuasannya), jika dia tidak sanggup, maka dengan lisannya (menasihatinya), dan jika tidak sanggup juga, maka dengan hatinya (merasa tidak senang dan tidak setuju), dan demikian itu adalah selemah-lemah iman”. (HR Muslim)

Beberapa langkah berikut ini insya Allah dapat membantu anak-anak kita yakin menolak ajakan temannya melakukan kemunkaran.

  1. Untuk menolak kemunkaran, anak-anak mesti punya bekal pengetahuan yang cukup tentang perilaku yang baik dan buruk. Pengetahuan tersebut sebagai perangkat lunak yang mampu membedakan mana yang seharusnya dilakukan atau ditinggalkan.
  2. Pengetahuan yang memadai tidak serta-merta menjadikan seseorang mempunyai kekuatan menolak kemunkaran. Ia perlu terlatih di kehidupan nyata bagaimana menolak kemunkaran. Disinilah peran keluarga dengan memberi contoh di dalam menolak kemunkaran-kemunkaran kecil di rumah tangga. Misalnya tegas mengalihkan channel televisi jika muncul tayangan yang kurang baik.
  3. Memberi dukungan bagi anak untuk berani menolak kemunkaran dengan penghargaan dan motivasi bahwa ia telah membuat keputusan yang benar. Dukungan ini dapat mendorong tumbuh suburnya kekuatan cinta kebaikan karena mengikuti bimbingan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
  4. Beberapa anak merasa berat saat ia harus menolak kemunkaran karena tidak mempunyai keterampilan membuat keputusan. Orang tua dapat melatihnya ketika anak dihadapkan sejumlah pilihan. Berikan kesempatan untuk menentukan sikap dengan keputusan-keputusan kecil di dalam aktivitasnya.
  5. Menolak ajakan teman bagi seorang remaja adalah peristiwa besar yang sering bertentangan dengan keinginan hatinya. Orang tua perlu membantu putranya di dalam memilih kata-kata bijak saat menolak ajakan kemunkaran dari temannya.

 

Seminar Pendidikan Manajemen Kelas Siswa Nakal di SMP Yadika Bangil

 

Mengembangkan Bakat Anak : Matinya Seorang Seniman

Hari itu cuacanya indah, Andi memasuki ruang kelas dengan penuh antusias. Sejenak kemudian masuklah guru ke kelasnya dan mengumumkan bahwa hari ini semua siswa akan mendapatkan pelajaran kesenian yang pertama.

Andi senang sekali, karena benaknya dipenuhi dengan gambar-gambar yang indah, dan Andi tidak sabar menunggu untuk menuangkannya di atas kertas. Andi mempunyai banyak kertas dan pencil serta krayon berwarna-warni, peralatan untuk membuat karya besar pertamanya.
Gurunya berkata dengan antusias: “Baik anak-anak, semua sudah siap? Saya ingin kalian menggambar pesawat terbang.” Didalam benak Andi dapat melihat pesawat terbang dengan jelas, tetapi teknik untuk mengeluarkannya dari otak ke atas kertas ternyata agak sulit. Jadi, tahap ini, sebagai anak berusia empat tahun, yang dikelilingi teman-teman sebaya yang masing-masing memiliki kertas dan krayonnya sendiri, apa yang secara alami akan Andi lakukan? Tentu saja, Andi akan memandang ke sekeliling untuk melihat apa yang dilakukan oleh teman-temannya.
Namun, tiba-tiba gurunya telah menegurnya, ”Andi…Jangan melihat pekerjaan anak lain! Itu menyontek!”
Dalam keadaan frustasi, Andi berjuang dengan jengkel dan sia-sia, sampai waktunya habis. Ketika ia sudah menyelesaian pekerjaannya, ia diperbolehkan untuk melihat ke sekeliling. Dan apa yang ia lihat?
Pesawat-pesawat terbang yang lebih bagus!
Ironisnya, ia melihat pesawat-pesawat temannya jauh lebih bagus daripada miliknya, karena ia melihat bagian terburuk dari gambarnya sendiri, dan bagian terbaik pada gambar anak lain.
Kemudian teman kelas Andi mendatangi mejanya dan dengan kata yang paling menyebalkan ia berkata, ”Gambar apa ini? Gambarmu jelek! Pesawat terbang kok tidak ada sayapnya”. Perasaan sakit hati dan terhina mulai terkumpul di benaknya, dan tunas kreativitas itupun mulai layu.
Selanjuntya, datang lebih banyak penderitaan baginya. Karena selama dua minggu berikutnya, yang terpajang di dinding kelas bukanlah pesawat terbang kecil miliknya dan ia merasa dipersalahkan karena keadaan ini. Setiap hari, kehadirannya di kelas mengingatkan pada ketidakmampuan, kegagalan dan mimpi indah yang tidak pernah terwujud.
Beberapa hari sesudahnya, guru Andi datang ke kelas dan mengumumkan: ”Anak-anak, hari ini kita akan belajar kesenian lagi!
Dan apa yang dikatakan oleh otak Andi? Ooooooooooooo,,,, tidaaaaaaaak, menggambar!
Mulai saat itu, seniman kreatif yang istimewa dan alami di dalam dirinya telah bersembunyi, dan terus mengalami mimpi buruk.
Wahai orang tua, jangan pernah ada kesempatan di rumah-rumah kita tumbuh Andi-Andi yang baru, anak kita adalah seniman yang sangat kreatif. Hargai hasil karya mereka, karena anak-anak itu sangat kaya perspektif bagi karya-karya agungnya.

(Disadur dari buku buku karya Tony Buzan)

 

Manajemen Konflik Anak : Cara Bijak Menyikapi Anak

Semua orang tua pernah mengalami situasi di mana anak tidak selalu sesuai tingkah lakunya dengan harapan mereka. Situasi semacam ini tidak dapat dielakkan dalam hubungan antara orang tua dengan anak, karena anak mempunyai “kebutuhan” untuk bertingkah laku demikian, sekalipun ia telah menyadari bahwa tingkah lakunya mengganggu orang lain.

  • Faqih masih saja menonton televisi, padahal ibunya sudah seringkali memperingatkan untuk segera mandi.
  • Fadli terus merengek untuk dibelikan ice cream, walaupun ia baru saja sembuh dari sakit radang tenggorokan
  • Fahd naik di atas meja sambil menari-nari, sementara ibunya khawatir jika ia terjatuh

Banyak orang tua enggan terlibat dalam situasi konflik dengan anak-anaknya, mereka terlihat sangat risau jika terjadi konflik dan bingung bagaimana mengatasinya. Bu Ahmad terlihat stress menghadapi putrinya yang menggunakan pakaian ketat, padahal tingkah putrinya sangat tidak baik. Namun, ia lebih memilih mendiamkan putri daripada putrinya ngambek dan marah-marah kepada dirinya, walaupun semakin hari ia semakin tertekan dengan omongan tetangganya.
Melihat kedua putranya berebut mainan, dengan membentak Pak Fahmi berkata, “Diam semua, maianan ini saya sita karena kalian selalu bertengkar”.
Situasi konflik tidak selalu jelek, bahkan dapat menjadi sarana bagi orang tua untuk mendidik anak di dalam menyelesaikan konflik-konflik mereka pada masa-masa yang akan datang. Di sinilah hal yang paling penting adalah bagaimana cara sebuah konflik diselesaikan.

Ibu : Faruk, saya pusing dan bosan menegurmu karena tas dan sepatumu selalu berserakan sepulang dari sekolah, saya yakin kamu juga bosan mendengar teguran saya. Sekali-kali kamu memang menaruh ditempatnya, tetapi lebih sering ibu yang melakukan. Bagaimana caranya supaya ibu tidak marah dan kamu juga nyaman karena tidak selalu dimarahi ibu.
Faruk : Yah… saya harus mengembalikan tas dan sepatuku ke tempatnya, tapi saya pulang sekolah capek bu..
Ibu : Terus bagaimana tas dan sepatumu siapa yang akan menempatkannya pada tempatnya?
Faruk : Ibu saja…
Ibu : Oke.. ibu yang akan menempatkan pada tempatnya, tetapi kamu harus membantu ibu menunggu adik selama ibu mengerjakan itu semua
Faruk : Setuju bu
Ibu : Apakah kamu dapat berjanji untuk melaksanakan kesepakatan ini?
Faruk : Ya bu.. saya berjanji
Ibu : Terima kasih atas kesepakatan kita ini (sambil menepuk pundak putranya)

Dengan teknik seperti contoh di atas kita sebagai orang tua dapat mengambil beberapa manfaat:

  1. Anak tergerak untuk melaksanakan penyelesaian, metode ini menghasilkan derajat motivasi lebih tinggi pada anak untuk melaksanakan keputusan, karena ia menggunakan metode partisipaasi. Seseorang lebih terdorong untuk melaksanakan suatu keputusan kalau keputusan itu dapat dibuat dengan mengikutsertakan dirinya daripada kalau keputusan itu dipaksakan oleh orang lain. Akan lebih indah jika keputusan berangkat dari ide anak.
  2. Lebih memungkinkan untuk menemukan penyelesaian masalah yang bermutu, metode ini lebih kreatif, lebih efektif dalam menyelesaikan konflik. Sebuah penyelesaian yang mampu memenuhi kebutuhan orang tua maupun anak secara bersamaan
  3. Mengembangkan keterampilan berpikir anak, metode ini meminta anak untuk berpikir lebih dalam, ia hampir seperti teka-teki yang menggugah dan memerlukan pemikiran tuntas
  4. Rasa bermusuhan berkurang dan cinta bertambah, alangkah indah jika metode ini sering dilakukan antara anak dan orang tua sehingga akan menambah kedekatan karena kesepakatan-kesepakatan yang selalu mereka lakukan

Konflik orang tua-anak adalah peristiwa yang sangat wajar, dengan keterbukan semua pihak dan penerimaan orang tua terhadap ide-ide anaknya akan membangun mental yang sehat bagi anak-anak. Di dalam keluarga yang demikian, anak paling sedikit mempunyai kesempatan untuk mengalami suatu konflik yang berlarut-larut, belajar mengatasinya, dan mereka akan tumbuh menjadi anak-anak yang lebih siap mengatasi setiap konflik pada masa-masa yang akan datang.

Bukanlah konflik yang membahayakan hubungan orang tua-anak, namun konflik yang tidak termanage dengan baik akan jauh membahayakan