Oleh: Ani Ch, Penulis Buku & Pemerhati Pendidikan Keluarga

Daffa kecanduan game. Sudah sejak umur dua tahun ia mengenal game, sekarang usianya menginjak empat tahun, Daffa bisa berjam-jam main tab nya, jika tab diambil maka Ia akan menangis sambil histeris, istilah psikologinya tantrum. Tidak ada yang kuat melihat tantrumnya, bukan hanya merusak barang, tapi juga ‘merusak’ dirinya sendiri, memukulkan tangan dan kaki ke lantai, juga ke meja, sampai membenturkan kepalanya ke tembok, maka demi keselamatan nyawa anak, tab selalu diberikan.

Pada umur tiga tahun Daffa telah diperiksakan ke dokter, Positif Autistic Syndrom Disorder (ASD)

Kecanduannya terhadap game adalah bagian dari keterpakuan yang biasa terjadi pada anak autis. Kasus anak yang lain, ada yang mengalami keterpakuan pada televisi, pada berada berputar seperti kipas angin, pada mobil-mobilan, dan masih banyak lagi.

Inilah contoh kecanduan gadget yg tidak bisa disodori dengan tata aturan gadget biasa, karena anak yang bersangkutan berkategoria kebutuhan khusus. ya kebutuhan khusus inilah yg perlu ditangani. Kecanduan hanya efeknya saja, bagaimana? Ikuti petunjuk profesional, terapi.

***

Ramli, 14 th, menangis pilu di pojok kamarnya, mamanya barusan menyita tabnya. Si mama begitu heraan anaknya selama ini jarang menangis, anak laki-laki pula, selalu jadi anak cuek, bandel, membantah orang tua dan guru setiap hari. Sekarang begitu tidak berdaya menangis terpekur hanya karena tabnya diambil. Setelah merayu dan merajuk tapi si mama kekeh tak kasih.

Si Ramli ternyata kecanduan anime. Hidupnya hanya untuk anime, kabur dari kelas buat lihat anime. Tidur larut malam karena nonton anime. Facebook twitter, bbm, youtube, semua isinya jaringan grup anime, Si Mama tak tahu, hari dimana tab itu diambil adalah hari releasenya episode terbaru dari season lanjutan seri anime favoritnya. Makanya Ramli menangis pilu, bak orang sakau gak dikasih narkoba.

Si Ramli akhirnya ditangani dalam beberapa sesi konseling, dan ternyata bukanlah anime persoalannya, anime hanyalah pelarian dari ketidakpuasan dia akan hidupnya. Hanya anime yang menghibur dia, hanya anime yang bikin dia semangat. mengikuti treatmen dengan terapis pun tak ada semangat, begitu terpaksa. Berkali-kali konseling, kata-kata yang keluar dari bibirnya tak pernah lebih dari sepulih kata, akhirnya saya bercerita dan dia yang mendengar. pada saat sesi penutup, ketika terapis diberi kesempatan masuk dalam hatinya, barulah dia angkat bicara. Saat diminta menuliskan harapannya pada selembar kertas, tak ada satupun ada kata anime, semua tentang keluarga, tak ingin adiknya nakal, tak ingin bunda ngomel, tak ingin ayah kerja jauh, juga hal-hal tentang masa depannya. “Anime kan hidupmu..kenapa gak ditulis” “Nggak penting kok”

Ramli kecanduan gadget dan menikmati anime karena ingin lari dari ketidakpuasan hidupnya dalam keluarga, keluarga yang otoriter, jadi Ia merasa kurang dipahami, kurang perhatian, kurang kasih sayang, maka solusinya bukan kecanduang anime yang diterapi, tapi masalah keluarganya lah yang harus diselesaikan.

Sumber: Pshyco Coffe Morning

 

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *