Kecerdasan Spiritual Anak

Saya seorang ibu dengan tiga anak. Anak saya yang pertama perempuan umur 10 tahun, cerdas, lincah, aktif, berprestasi, dan mudah bergaul. Anak saya yang ketiga berumur 3 tahun, laki-laki. Orang bilang dia jenius, speed bicaranya cepat sekali, aktif bergerak, pemberani, tapi emosinya tinggi sekali. Sedangkan anak saya yang kedua, laki-laki 7 tahun, pemalu, pendiam, lambat bicaranya, tidak percaya diri dan sulit bergaul.

Kisah anak saya yang kedua inilah yang ingin saya ceritakan. Dia selalu bilang, ”Mbak Bela pintar, saya ndak bisa, piala Mbak bela banyak, saya ndak punya piala”. Sebagai orang tua, kami tidak pernah membeda-bedakan perhatian pada anak, juga tidak pernah membanding-bandingkan kemampuan anak. Tetapi pujian dan penghargaan kakek nenek, om, tante, guru-guru dan lingkungan yang besar kepada kakaknya membuat anak kedua kami merasa tidak mampu bersaing dengan kakaknya.
Usaha yang kami lakukan adalah memberi dukungan dan motivasi agar anak kedua kami percaya diri. Kakaknya ikut karate, sementara anak kedua kami ingin ikut bulu tangkis. Dia kami fasilitasi kami ikutkan ke sebuah club dan senantiasa kami pantau, kami evaluasi dan kami dorong untuk maju. Begitu juga dengan sekolahnya. Suatu hari, seusai anak kami shalat subuh, secara iseng saya bertanya, saya tahu dia ingin sepeda seperti temannya. ”Wah tadi Fikri berdo’a apa? Minta uang yang banyak ya supaya bisa beli sepeda?” Dia menggeleng, dengan lirih dia menjawab, ”Saya hanya bilang terima kasih sama Allah, karena Mama dan Bapak masih hidup dan sayang sama aku”. Saya terperengah, sesaat saya dan suami hanya bisa berpandangan, tanpa mampu berkata-kata. Tak terasa air mata saya menetes, subhanallah, apa yang menggerakkan hati anak kami, hingga dia dapat mensyukuri kehadiran orang tuanya? Saya dekap dia, saya ciumi dia, ”Maafkan mam ya, mama belum bisa nyenengi Fikri”.
Anak-anak ternyata lebih jernih dalam melihat. Fikri ternyata mensyukuri proses, sementara kami biasanya hanya melihat pada hasil terakhir. Dia tahu belum berprestasi seperti kakaknya, tapi dia merasa orang tuanya telah berusaha, dan itu dia ungkapkan dalam doanya. Dia berterima kasih pada Tuhannya, meskipun dia tidak punya piala. Sebagai orang tua kami sadar, bahwa tiap anak dilahirkan dengan membawa talenta dan kemampuan yang berbeda. Dan setiap prestasi tidak harus dihargai dengan piala. Saya merasa Fikri ternyata juga punya kehebatan. Bukan kecerdasan IQ seperti kakaknya, tetapi kecerdasan spiritual, yang membuatnya lebih arif dalam menyikapi hidup.
Seorang anak 7 tahun, yang sulit bicara dengan orang lain, ternyata mampu berdialog dengan Allah. Doanya selalu pendek dan lirih, tapi dia selalu merasa bahwa Allah mendengarnya. Itu adalah kebahagian terbesar kami sebagai orang tua, bahwa anak kami merasa dekat dengan Tuhannya. Dan dia merasa yakin Tuhannya mendengar doanya.
Kami malu menyebutnya sebagai prestasi. Itu bukan semata-mata hasil didikan dan bimbangan kami, tetapi lebih dari itu, ini adalah karunia dan nikmat maha besar dari Sang Maha Rahman. Sebuah titipan yang luar biasa berharga dari Allah. Mudah-mudahan kami tidak mengkhianati amanah besar ini. Sebuah tanggung jawab berat yang harus kami pikul, agar kelak anak-anak kami dapat kami kembalikan pada pencipta-Nya dalam keadaan mereka ridlo dan Allah pun ridlo kepada mereka.

Oleh :
Ibu Lailil Qomariyah
Lawang

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *