Kontroversi Berkata Tidak, Jangan, dalam Mengasuh Anak

Oleh: Miftahul Jinan, Penulis dan Master Trainer pada  Griya Parenting Indonesia

Kontroversi Berkata Tidak, Jangan, dalam Mengasuh Anak. Saya kurang mengerti mengapa beberapa ahli tidak menyarankan untuk sering menggunakan kata “jangan, tidak boleh, dilarang” dan kata-kata negatif lainnya. Mereka mempunyai banyak alasan pada penggunaan kata-kata tersebut, di antara yang menarik saya adalah bahwa otak manusia selalu menerima kata-kata negatif tersebut sebagai kata-kata positif. Seperti seseorang yang berkata kepada kita, “Jangan memikirkan gajah yang berwarna kuning”. Maka otak kita secara otomatis justru terdorong untuk memikirkan gajah yang berwarna kuning. Berarti jika kita seorang guru atau orang tua, kemudian kita berkata kepada anak didik kita, “Jangan terlambat ke sekolah”, maka otak anak justru memikirkan terlambat ke sekolah.

Namun apakah hanya dengan alasan di atas lalu kita didorong untuk selalu menghindarkan diri dari perkataan “tidak”. Suatu hari saya memotong kuku jari tangan saya. Secara tidak sengaja (habit jelek saya) saya membuangnya di bawah meja. Toh potongan kuku-kuku tersebut terlalu kecil dibandingkan luas lantai rumah saya. Tiba-tiba istri saya berkata,”Bi… jangan membuang kotoran di sembarang tempat”. Saya terkejut dan kurang nyaman dengan perkataan tersebut, walaupun perbuatan saya memang layak untuk dikomentari dengan kata-kata tersebut. Mengapa istri saya tidak menggunakan kata-kata yang lebih baik seperti, “Bi, disana tempat sampahnya” atau “Bi, di mana tempat sampahnya”. Saya tersadar bahwa setiap orang termasuk anak-anak kita lebih nyaman jika diberi alasan atau pertanyaan atas perilakunya daripada diberi kata “jangan, tidak, atau dilarang” tanpa alasan yang menyertainya.

Ada pertanyaan yang masih mengganjal pada benak saya, lalu untuk apa keberadaan kata-kata “tidak boleh, dilarang, jangan” di dalam bahasa kita jika pada akhirnya kita tidak diperkenankan untuk menggunakannya? Astaghfirullah, saya telah salah memahami bahwa menghindari kata-kata “jangan, tidak boleh, dilarang” tidak berarti meniadakannya dalam kehidupan kita. Justru dengan bersikap hati-hati dan menempatkannya hanya pada peristiwa-peristiwa yang darurat dan sangat urgen, maka kita telah mengajari anak untuk membedakan   mana yang sangat penting, penting dan tidak penting. Saat anak kita sedang bermain stop contact listrik, maka inilah saatnya kita berkata tidak. Saat anak melakukan hal yang jelas-jelas melanggar syariat, maka inilah waktunya mengatakan dilarang.

Tampaknya kita harus menyadari betapa seringnya kita mengatakan “jangan, tidak, dilarang” pada peristiwa-peristiwa yang sebenarnya tidak terlalu darurat dan urgen untuk mengatakannya. Sehingga anak-anak kita merasa bingung manakah hal-hal yang penting yang wajib aku tinggalkan, manakah hal-hal yang perlu aku jauhi, dan manakah hal-hal yang bisa aku hindari. semoga penjelasan diatas menyudahi Kontroversi Berkata Tidak, Jangan, dalam Mengasuh Anak.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *