LABEL BARANG

 

Sebagai orang tua pastinya kita selalu menjaga. Proteksi yang dilakukan wali murid bagi anak-anak yang duduk di Playgroup, TK atau SD kelas 1, 2, dan 3, bermacam model. Salah satunya melakukan ritual memberi label pada semua peralatan sekolah mereka. Nama anak-anak kita tertempel jelas di pensil, tas, buku, tempat minum, topi, dan lain-lain.

Pertanyaannya adalah untuk apa ritual di atas selalu kita lakukan? Mungkin kita akan menjawab, supaya barang anak kita tidak tertukar dengan barang milik temannya. Boleh juga bila tertinggal di sekolah, akan mudah dikenali dan kembali kepada pemiliknya.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah ritual labeling dilatarbelakangi pertimbangan ekonomis belaka? Supaya orang tua berhemat. Karena jika barang anak sering hilang, maka pengeluaran membengkak. Jika direnungkan lebih dalam, adakah manfaat lebih dari sekadar prinsip ekonomi? Bisakah kita mencoba berorientasi pada pribadi anak yang sedang menjalani proses pendidikan?

Sebenarnya banyak nilai yang dapat diperoleh ketika program labelisasi peralatan sekolah kita lakukan. Bahkan ada beberapa karakter yang dapat dibangun pada diri anak. Di antara nilai dan karakter tersebut adalah:

  1. Membangun tanggung jawab kepemilikin barang. Seringkali kita membelikan peralatan sekolah anak atau beberapa mainan yang mereka minta. Tetapi dengan cepatnya barang-barang tersebut hilang karena tertinggal atau tertukar dengan milik temannya. Selanjutnya saat memerlukan peralatan itu, dengan entengnya anak-anak minta dibelikan lagi. Anak-anak memang berhak meminta peralatan yang ia butuhkan. Tetapi ia juga harus bertanggungjawab menjaganya. Program labelisasi barang dapat membantu anak mengidentifikasi bahwa barang ini miliknya. Memintanya agar membiasakan menyimpan barangnya dengan baik. Jika tercecer tidak pada tempatnya segera meletakkan di tempatnya. Dan dengan labelisasi seperti ini insya Allah lebih mudah mengembalikan barang jika ditemukan oleh orang lain.
  2. Menghormati barang milik orang lain. Beberapa anak menggunakan pulpen milik kakaknya tanpa izin. Dan kakak pun tidak marah atas perilaku adiknya. Apa yang akan terbangun pada diri anak jika peristiwa ini berulangkali terjadi? Anak dapat berpendapat bahwa menggunakan barang orang lain tanpa izin boleh asalkan tidak sedang digunakan oleh pemiliknya. Bagaimana jika pendapat ini dipraktekkan oleh anak di sekolah? Suatu ketika ia menemukan pulpen yang tergeletak di atas meja. Lalu ia memakainya untuk menulis. Lantas, tiba-tiba pemiliknya menegur bahwa ia telah mengambil tanpa izin. Kejadian seperti ini mengharuskan kita memerhatikan bagaimana anak-anak menghormati barang milik orang lain dengan cara meminta izin untuk menggunakannya. Memberi label pada barang anak akan membantu membantu proses menghormati barang milik orang lain. Tentunya orang tua harus menjadi contoh untuk selalu meminta izin saat menggunakan barang milik anaknya.
  3. Membangun disiplin anak. Saat anak terbiasa untuk menjaga, merawat barangnya serta mengembalikan pada tempatnya maka akan terbangun juga karakter disiplin. Orang tua patut mengingatkan anak dengan baik jika barang-barangya tercecer atau tidak pada tempatnya.

Jika ada dua orang membeli masing-masing smartphone yang sama merknya. Satu orang menggunakan smartphone tersebut hanya untuk sms dan telpon, sementara satunya dapat menggunakannya untuk berbagai kepentingan seperti telpon, sms, internet, game dan lain-lain. Apa yang membedakan antara keduanya? Pengetahuan dan keterampilan dari keduanya akan fitur pada smartphone tersebut yang membedakan.

Dengan tulisan ini semoga pengetahuan dan keterampilan kita akan fitur label barang anak semakin beragam dan manfaatpun semakin banyak.

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *