Membagi Kasih Sayang atau Mengalikannya

Oleh: Miftahul Jinan, Direktur Griya Parenting Indonesia

Seorang remaja putri memperhatikan seorang ibu yang sedang mendampingi kelima anaknya untuk bermain di taman. Ia sangat takjub melihat keakraban mereka, kemudian ia mendatangi ibu tersebut seraya berkata, “Bagaimana mungkin ibu dapat membagi kasih sayang ibu kepada kelima putra-putri ibu? Ibu tersebut menjawab, “Saya tidak sedang membagi kasih sayang saya kepada mereka, tetapi saya selalu mengalikannya.”

Jawaban ibu di atas memang terasa begitu klise, tetapi dalam kehidupan nyata kita justru lebih mudah mendapatkannya. Seorang ibu dengan kelima, keenam, bahkan kedelapan anaknya, tulus memberikan perhatian yang penuh kepada mereka. Memberi kesempatan kepada mereka untuk mengeksplorasi lingkungan sekelilingnya, dan menerima setiap kegagalan putra-putrinya dengan berempati kepada mereka.

Sang ibu dipenuhi kelembutan saat memberi tanggung jawab sesuai dengan umur dan kapasitas anak-anak. Ia pun tegas dalam menegakkan aturan yang jelas. Ia pun setia membimbing mereka dalam suka dan duka. Ia persiapkan kader terdidik dengan sentuhan reward dan punishment yang tepat saat mereka menaati atau melanggarnya.

Sosok ibu yang kurma – kesukaan – miliknya rela ia berikan kepada anak-anaknya yang masih terlihat sangat menginginkannya. Ia adalah ibu yang saat sujud malamnya selalu mengalir do’a bagi kebaikan anak-anaknya. Dan beliaulah sang ibunda yang menjadi kebanggaan bagi setiap anaknya karena teladan terbaiknya.

Maka lihatlah anak-anak yang terbimbing dari ibu dengan perwajahan seperti ini. Mereka adalah anak-anak yang berkembang kepribadiannya, mempunyai rasa cinta kepada diri dan ibunya. Kemudian ia menyebarkan cintanya kepada saudara-saudara yang lain. Dengan penuh ketulusan membimbing adik-adiknya untuk belajar. Kehidupan mereka saling memberi perhatian dan rela menopang kegagalan di antara saudaranya. Bukankah fenomena ini wujud mengalikan kasih sayang?.

Ibarat kasih sayang ibu ada 10 kemudian ia bagi untuk lima anaknya, masing-masih anak kemudian memberikan kasih sayang kepada saudara-saudaranya yang lain. Subhanallah berapa kasih sayang yang diterima oleh seorang anak dari ibunya dan dari saudara-saudaranya.

Sebaliknya seorang ibu yang hanya punya satu atau dua anak, ia memberikan kasih sayang dengan penuh kepada anaknya. Membantu setiap kebutuhan mereka. Tidak rela jika anaknya mencoba-coba untuk membantunya. Mungkin ia merasa kehadirannya malah mengganggu. Biarlah ia fokus saja pada belajar. Toh mama bisa melakukannya sendiri. Dalam benakya membatin, “Bagaimana nanti kalau jatuh atau rusak?”. Yang diinginkan adalah anaknya selalu berhasil. Sayang, tidak dibarengi dengan kesiapan menerima kegagalan putranya. Selalu menerima permintaan anak daripada menolaknya.

Mungkin kasih sayang ibu ini hanya dibagi kepada satu atau dua anaknya, tetapi kasih sayang tersebut habis diserap oleh mereka. Itu terjadi karena kurangnya kemandirian dan rasa empati kepada ibunya. Ingatlah!. Kasih sayang yang tidak pada tempatnya, perhatian yang berlebihan, tidak memberi tanggung jawab pada anak justru akan membangun anak yang kurang mandiri, minder, egois, dan kurang empati.

Tidak heran ada seorang ibu yang pernah berkata di depan saya, “Mengapa anak saya hanya satu, tetapi waktu saya habis bahkan kurang untuk mengurus satu anak ini saja. Sementara ibu saya dahulu mempunyai 9 anak, tetapi beliau mempunyai banyak waktu untuk mengikuti kegiatan-kegiatan dakwah dan sosial.”

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *