Memuji Spontanitas dan Menghukum Pikir dahulu

Sore itu saya baru saja menyelesaikan sebuah kegiatan yang cukup menguras tenaga dan pikiran. Dengan kondisi fisik yang agak lemah dan emosi yang kurang stabil saya diuji kesabaran oleh anak pertama saya. Ia sedang berbuat usil terhadap adiknya yang dari tadi memintanya untuk melepaskan pegangan tangan atas celana kolornya.

Melihat kejadian itu saya mencoba untuk mengingatkan anak pertama tersebut dengan ucapan, “Mas, adikmu tidak senang terhadap perbuatan usilmu itu”. Beberapa kali saya mengulang ucapan tersebut, tetapi tidak ada respon yang signifikan dari anak saya, ia masih melakukan keusilan tersebut sambil menikmati rengekan adiknya yang semakin keras. Sejenak kemudian saya mendatangi anak dan dengan suara agak lantang meminta untuk datang ke pojok time out untuk saya time out kemudian memintanya untuk mengepel lantai ruang tamu seusai time out.

Betapa berbedanya reaksi anak saya terhadap keputusan tersebut, terlihat di wajahnya kemarahan, rasa tidak terima dan rasa takut yang sangat luar biasa. Astaghfirullah, beberapa menit kemudian saya menyadari betapa  buruknya keputusan saya tersebut. Secara materi dan cara memberikannya sama sekali tidak sesuai dengan kaidah-kaidah yang pernah saya pelajari. Akibatnya  paling kecilnya adalah, saya lalui dua hari berikutnya dengan hubungan yang sangat jauh dari kata harmonis dengannya.

Ada beberapa fakta yang dapat saya identifikasi  dari peristiwa yang kurang baik di atas :

  1. Keputusan memberikan sanksi  saya lakukan dalam situasi sangat spontan tanpa berfikir dahulu tentang berat dan ringannya bagi anak dan tentang nilai pendidikannya
  2. Keputusan tersebut keluar dalam kondisi emosi saya yang tinggi, sehingga otak reptile saya (otak darurat)  paling dominan di dalam melakukannya. Sementara otak berfikir dan otak mamalia (perasaan) kurang berperan
  3. Tidak ada jeda antara emosi yang tinggi dengan keputusan sanksi yang keluar, sehingga sanksi tersebut masih sarat dengan nuansa-nuansa emosional tanpa mempertimbangkan aspek-aspek psikologis anak

Mungkin kondisi di atas juga pernah kita alami,  memberikan sanksi kepada anak saat emosi sedang tinggi dengan cara sangat spontan. Kita bahkan tidak berfikir dahulu apakah sanksi tersebut sangat memberatkan anak, ataukah sanksi tersebut tidak ada hubungannya dengan kesalahan yang mereka perbuat.  Akhirnya produk dari keputusan tersebut justru tidak membuat anak memahami arti kedisiplinan, tetapi mereka menghindarinya karena mereka takut untuk melakukannya. Di kemudian hari saat ketakutan tersebut hilang, dan mereka lepas dari pengawasan orang tua, mereka akan cenderung melakukannya kembali.

Memang seringkali tingkah pola anak yang  tidak sesuai dengan harapan kita cenderung mendorong emosi kita meningkat tensinya. Dan fenomena ini sangatlah wajar adanya. Apalagi jika aktifitas yang kurang sesuai itu menjadi prioritas hidup kita. Namun jika kita ingin memperbaiki tingkah pola anak dengan memberi sanksi secara spontan dan tanpa memikirkannya terlebih dahulu, justru hal itu tidak akan memperbaikinya bahkan dapat merusaknya

Jika kita emosi melihat tingkah pola anak dan terpaks harus memberikan sanksi kepadanya, ambillah waktu jeda dan pastikan emosi kita mulai stabil. Kemudian kita dapat memulai untuk memikirkan jenis sanksi yang bijak dengan hati yang lebih tenang dan fikiran yang sadar.

Sebaliknya saat kita mendapati anak melakukan kebaikan, dan kita akan memberi pujian atau penghargaan kepadanya, pastikan kita melakukannya dengan spontan dan janganlah menunda untuk segera memberi pujian. Spontanitas adalah salah satu tanda ketulusan, sehingga orang tua yang memberi pujian dengan spontan berarti ia memberikan pujian tersebut dengan penuh ketulusan.

Jika  saat ini kita lebih sering memberikan sanksi kepada anak dengan spontan dan sebaliknya memikirkan terlebih dahulu saat memberi pujian kepada mereka, maka saatnya kita mengubah kebiasaan tersebut. Kita memikirkan dahulu saat hendak memberi sanksi dan melakukannya secara spontan saat memberi pujian. Kebiasaan baru ini akan lebih mempermudah kita untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan anak dan meneguhkan kebaikan-kebaikan yang mulai muncul pada diri anak.

Kata kuncinya adalah memuji  spontanitas dan menghukum  pikir dahulu…..

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *