Mencium Anak : Makna Ciuman Bagi Anak

Seorang anak yang diberangkatkan ke sekolah dengan kecupan sayang orang tua memberikan dampak yang luar biasa bagi prestasinya (penelitian)

Dalam berbagai forum parenting skill, kami banyak mendengarkan keluhan tentang putra-putri peserta training yang dahulu begitu penurut dan taat kepada orang tua pada saat mereka bayi atau batita, namun kondisinya berbalik 180 derajat seiring dengan bertambah besar mereka. Putra-putri terasa lebih menjengkelkan dan mengesalkan dari sebelumnya. Bahkan, banyak kasus anak lebih sering tidak menurut lagi omongan orang tua.
Mari kita melihat sebuah perilaku seperti memukul piring, kemudian membayangkan respon kita jika perilaku tersebut dilakukan oleh seorang bayi dan seorang anak usia 7 tahun. Seringkali respon kita sangat berbeda antara keduanya. Pada perilaku bayi yang memukul-mukul kita cenderung mendekatinya dan memberikan dorongan untuk melakukannya terus. Sudah wajarlah bagi seorang bayi untuk melakukannya. Namun bagi anak usia tujuh tahun yang melakukan hal tersebut, apakah respon kita sama, kita cenderung mengatakan usil, kurang pekerjaan, menjengkelkan dan lain-lain. Seringkali sikap kita juga berubah, jangankan memeluk atau mendorong, justru kita lebih sering menghardik karena menimbulkan kegaduhan.
Pertanyaannya yang perlu kita jawab dengan tulus adalah apakah kita memberikan ciuman atau pelukan kepada putra-putri saat mereka masih bayi karena wajahnya yang lucu dan menggemaskan , tubuhnya juga begitu mungil tanpa daya. Sehingga, di saat kelucuan dan keluguan tersebut hilang, kitapun melakukan perubahan sikap?
Saya sangat iri terhadap teman saya yang selalu memberikan ciuman bagi putra-putri yang sudah usia SMA dan SMP pada setiap kegiatan di luar rumah yang mereka akan lakukan. Saya dapat merasakan betapa hubungan orang tua dan putra-putri begitu dekat, walaupun mereka telah beranjak dewasa dengan pergaulan yang semakin luas dan pengaruh luar yang semakin beragam. Saya dapat mengestimasi jika putra-putrinya menghadapi kejadian yang dilematis di luar, mereka tidak pernah melupakan orang tua sebagai pembimbing dan tempat bertanya. Dan jika terjadi perbedaan pendapat antara orang tua dan putra-putri dengan kualitas hubungan seperti itu pasti akan begitu mudah dapat diselesaikan.
Bukan rahasia umum bahwa sentuhan fisik atau skin contact pada masa bayi memberi dampak yang amat menguntungkan bagi kecerdasan emosi dan kognitif individu. Itulah mengapa, sesaat setelah dilahirkan seorang bayi amat disarankan untuk langsung meletakkan bayi di dada ibunya sebelum dibersihkan. Kontak fisik ini diharapkan akan membentuk ikatan emosional dan kelekatan yang kuat antara ibu dan bayinya. Kelekatan inilah yang kelak akan menjadi landasan penting bagi perkembangan emosionalnya. Anak akan tumbuh menjadi individu dengan basic trust yang kuat. Basic trust inilah yang memungkinkannya menumbuhkan rasa aman dan nyaman sekaligus citra diri yang positif.
Jika orang tua tidak menjalin keakraban dan kehangatan lewat rangsang sentuhan, dapat dikhawatirkan struktur dasar yang ada dalam otak anak pun akan membentuknya menjadi pribadi yang dingin, kaku, canggung dan sulit bergaul dengan orang lain. Kondisi seperti ini dapat berlanjut hingga anak memasuki masa dewasanya.
Pertanyaannya, masihkan pelukan atau ciuman dibutuhkan oleh anak usia lebih dari 5 tahun? Jawabannya adalah masih sangat perlu, karena basic trust yang terbentuk perlu terus menerus mendapat pupuk berupa kedekatan atau interaksi akrab antara anak dengan orang tuanya. Kebiasan baik memberi skin to skin contact berdasarkan penelitian akan membuat anak merasa lebih aman dan nyaman. Secara emosi dapat membuat kondisi jiwanya tetap terpelihara dan sehat. Anak pun merasakan langsung bahwa kehadirannya diharapkan, disayangi, sekaligus diperhatikan oleh orang tuanya. Akhirnya ia akan tumbuh menjadi pribadi yang stabil, mantap, dan penuh percaya diri.
Tidak hanya itu, sentuhan penuh kasih sayang yang diberikan orang tua juga dapat berdampak secara kognitif pada anak. Sambil memeluk dan membelai kepala anak, orang tua dapat memberi masukan mengenai hal-hal baik yang perlu dilakukan olehnya. Masukan-masukan dalam situasi positif semacam itu akan lebih mudah diproses dalam pikirannya.
Dalam sebuah riwayat disebutkan Rasulullah berhadapan dengan salah seorang sahabat beliau yang membawa putranya, kemudian beliau menciumnya dan alangkah tercengangnya sahabat tersebut kemudian ia berkata, “Wahai baginda Rasulullah saya mempunyai 10 anak dan belum pernah seorangpun yang saya cium”. Rasulullah bersabda “Barangsiapa yang tidak memberi kasih sayang maka tidak berhak baginya mendapatkan kasih sayang”

Kasih sayang kepada anak tidak selalu dengan pelukan dan ciuman, tetapi dengan memeluk dan mencium mereka kita telah memastikan kasih sayang itu.

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *