Mengajari Anak : Bertanya Sebagai Ganti Perintah

Siapa yang lebih dahulu, orang tua memahami anak atau anak memahami orang tua? Pertanyaan ini sebenarnya tidak rumit untuk menjawabnya dibandingkan pertanyaan, apa yang lebih dahulu, ayam atau telur? Pertanyaan pertama lebih mudah disepakati bersama bahwa orang tua seharusnya terlebih dahulu memahami anaknya dan tidaklah anak dituntut untuk memahami orang tuanya. Sementara pertanyaan kedua akan lebih sulit untuk dicapai kesepakatan berdasarkan perspektif masing-masing orang.
Namun hal yang lebih mudah untuk disepakati tidak serta merta mudah untuk dilaksanakan. “Sudahlah nak, kamu itu ikut orang tua saja, Insya Allah orang tuamu ini hanya berniat untuk kebaikanmu”. Statement ini terdengar begitu bijak bagi orang tua, namun ia sangat menafikan adanya dialog antara orang tua dan putranya. Anak tidak mempunyai kesempatan untuk menyampaikan isi hatinya dan orang tua gagal mengetahui kemauan anak
Bu Ani akhir-akhir ini merasa jengkel melihat respons putrinya saat diminta membersihkan ruang keluarga, “Ayo Nita, tolong mama membersihkan ruang keluarga!”. Perasaan jengkel semakin besar saat melihat Nita sedang santai menonton televisi di ruang keluarga.
Kita dapat mencermati ungkapan Bu Ani saat meminta Nita untuk membersihkan ruang keluarga. Kita merasakan betapa posisi Nita sebagai obyek penderita dari permintaan tolong ibunya. Adakah ruang bagi Nita untuk menyampaikan pendapatnya terhadap kondisi ruang keluarganya? Apakah membersihkan ruang keluarga telah menjadi bagian kebutuhan Nita? Jawaban dari kedua pertanyaan ini adalah tidak ada. Nita tidak diberi kesempatan untuk menyampaikan komentar terhadap kondisi ruang keluarga, sehingga kebersihan ruang tersebut belum menjadi bagian dari kebutuhannya.
Nabi Ibrahim telah memberi pelajaran bagi kita tentang hal ini, sebagaimana termaktub dalam firman Allah Surat As Shoffat ayat100-103
Ya Tuhanku, anugerahkan kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ”Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu”. Ia menjawab, ”Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah kamu mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”
Luar biasa, terhadap perintah Allah yang sudah diyakininya melalui mimpi, Ibrahim tidak langsung memerintahkan putranya bersiap-siap untuk disembelih. ”Anakku aku telah diperintah Allah melalui mimpi untuk menyembelihmu, maka bersiaplah untuk disembelih segera”. Tetapi, justru beliau bertanya kepada putranya bagaimana pendapatmu tentang perintah tersebut. Dengan menggunakan bertanya sebagai ganti perintah maka Nabi Ibrahim telah menempatkan putranya sebagai subyek dari pelaksanaan perintah Allah tersebut.
Ada beberapa manfaat yang dapat dirasakan orang tua dengan menggunakan teknik bertanya sebagai ganti perintah, diantaranya:

  1. Teknik ini dapat meningkatkan kebanggaan seorang anak dan merasakan dirinya bagian yang penting dari peristiwa tersebut. ”Andi bagaimana menurutmu taman keluarga kita saat ini?” Dengan pertanyaan seperti ini telah membuka ruang bagi anak untuk menyampaikan idenya dan ia merasa bahwa idenya diperhitungkan di dalam proses perbaikan taman keluarganya
  2. Teknik ini membuat anak mudah untuk memperbaiki kesalahan yang telah dibuatnya. ”Sepeda siapa yang menghalangi jalan?” Dan kemudian memberi saran tentang kemungkinan yang terjadi jika sepeda diparkir di tempatnya. Pertanyaan ini tidak menempatkan sama sekali anak sebagai pihak yang tertuduh dan bersalah. Bandingkan dengan pernyataan berikut ini, ”Tono parkir sepedamu di tempat yang benar, kalau tidak saya tabrak”. Pernyataan ini sungguh membuat anak tersebut membenci kita bahkan anak-anak yang mendengarnya. Kita tidak sedang menyalahkan anaknya tetapi kita sedang memperbaiki perilakunya.
  3. Teknik ini mendorong kerja sama anak dan menghindari penentangan. ”Anita menurutmu apa yang baik untuk dimasak dengan hawa dingin seperti ini?”. Pertanyaan ini akan memudahkan seorang ibu untuk meminta bantuan dari putrinya. Karena jenis masakan yang akan dibuat telah menjadi bagian dari ide putrinya
  4. Teknik ini mendorong munculnya kreativitas dari putra-putri. Putra-putri kita sebenarnya mempunyai potensi kreativitas yang tinggi, dan sikap kita untuk memberikan kesempatan mereka akan memunculkan potensi tersebut sebagai suatu kenyataan
  5. Seorang anak akan lebih mudah mematuhi suatu perintah, jika ia ikut ambil bagian dalam membuat keputusan yang menyebabkan perintah itu dikeluarkan.

Dengan teknik ini maka orang tua tidak selalu memberi perintah kepada putra-putrinya untuk belajar, namun ia hanya menanyakan tentang bagaimana kondisi nilaianya, pemahaman mereka terhadap materi, atau tentang hal-hal yang menghambat mereka di dalam belajar sehingga belajar anak tidak menjadi tanggung jawab orang tua, tetapi ia menjadi tanggung jawab anak.

Orang tua yang efektif akan sering menggunakan teknik bertanya sebagai ganti perintah. Selamat mencoba!!!!

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *