Semua Bermula dari Keluarga

Ada satu kue yang paling sering di pesan kepada ibu saya untuk membuatnya. Kue tersebut sering orang menamakannya dengan sebutan mendut. Suatu kue basah yang berbahan dasar ketan hitam dengan adonan kelapa muda di dalamnya dan dibungkus dengan daun pisang. Orang-orang senang memesan kue tersebut kepada ibu, karena mendut yang dibuat oleh ibu mempunyai citra rasa yang khas dan sangat enak. Saya pernah bertanya kepada ibu tentang rahasia kue mendutnya. Beliau menjelaskan bahwa ada satu bahan kue yang selalu ia perhatikan kualitasnya dan tidak pernah meremehkannya, yaitu ketan hitam. Untuk bahan ini beliau selalu ambil dari ketan hitam terbaik hasil sawah sendiri dan tidak pernah membelinya di pasar. Jika suatu ketika kehabisan bahan dasar ini beliau hanya mau membelinya dari family terdekat.

Saya pernah bertanya, apakah kenikmatan kue mendut tidak dari cara ibu memprosesnya yang baik terhadap bahan-bahan yang ada? Beliau segera menjawab memang proses pembuatan mendut adalah bagian yang sangat penting, tetapi tanpa bahan dasar ketan hitam yang baik dan baru maka tidak akan pernah di dapat mendut dengan citra rasa yang kita harapkan.

Bahan dasar atau row input adalah modal dasar bagi keberhasilan setiap proses selanjutnya. Sebagaimana jika kita berbicara tentang proses pembangunan generasi dari sebuah bangsa maka kita tidak pernah melupakan tentang proses pendidikan. Dan pendidikan keluarga adalah bahan dasar dari keberhasilan proses pendidikan pada jenjang-jenjang selanjutnya.

Sebaik apapun kualitas proses pendidikan anak pada jenjang-jenjang pendidikan formal selanjutnya, tanpa kualitas yang memadai pada pendidikan keluarga sebagai bahan dasar untuk pendidikan lanjutan tersebut, maka tidak akan pernah dapat menghasilkan generasi yang berkualitas tinggi.

Perhatian Keluarga

Kita patut bersyukur bahwa pemerintah saat ini sangat concern terhadap proses pendidikan. Pendidikan pada jenjang Paud digalakkan bahkan hingga pelosok RT dan RW. Beberapa pelatihan untuk guru-guru Paud dilaksanakan dengan gencar. Beberapa dana operasional Paud dan insentif gurunya dikucurkan demi keberhasilan program pendidikan jenjang Paud.

Pada tingkat selanjutnya SD, SMP dan SMU, pemerintah menggulirkan program yang cukup strategis yaitu pembentukan sekolah bertaraf internasional dari sekolah-sekolah negeri atau swasta yang  telah memiliki kualitas baik. Untuk keberhasilan program ini pemerintah juga telah melengkapi sekolah-sekolah tersebut dengan sarana yang memadai seperti LCD, Laptop, AC ruang kelas dan buku-buku pelajaran yang berbahasa Inggris.

Namun dengan segala upaya pemerintah di dalam membangun kualitas pendidikan formal di atas, kita masih kecewa terhadap perhatiannya atas pendidikan keluarga yang justru sebenarnya pondasi bagi proses pendidikan anak selanjutnya. Kegiatan-kegiatan di posyandu, ibu-ibu PKK, atau dinas pemberdayaan perempuan dan keluarga (dulu BKKBN) masih terlalu sederhana dan kecil dibandingkan dengan perhatian pemerintah terhadap pendidikan formal.

Akhir-akhir ini kita bersyukur telah muncul banyak undang-undang  tentang keluarga seperti undang-undang tentang KDRT atau perlindungan anak. Tetapi undang-undang tersebut banyak menyentuh aspek pengobatan bagi keluarga setelah terjadi masalah dalam keluarga tersebut. Belum ada upaya yang terorganisir dengan panduan yang jelas untuk membantu  para pemimpin keluarga untuk membangun keluarganya dengan baik.

TKW Versus Keluarga

Saya pernah berkunjung dan memberi training guru di daerah yang banyak mengirimkan TKW ke negara-negara Malaysia, Singapura, dan Arab Saudi. Banyak guru yang mengeluh tentang siswa-siswi mereka yang orang tuanya menjadi TKW dengan menitipkan putra-putri mereka kepada kakek dan nenek atau famili yang lainya. Mayoritas anak-anak ini mempunyai masalah yang sangat komplek, dari masalah gangguan perhatian, emosi yang kurang stabil,  sulit bersosialisasi dan kecerdasan yang rendah. Jika kita meneliti semua masalah anak ini, maka semua bermula dari proses pendidikan awal anak yang bermasalah.

Program pengiriman tenaga kerja wanita keluar negeri memang memberikan dampak yang signifikan bagi pengembangan perekonomian dan kesejahteraan rakyat pada daerah-daerah tersebut. Tetapi dampaknya juga tidak kalah mengerikan, diantaranya lembaga keluarga yang sering berjalan tidak normal karena ketiadaan salah seorang anggota keluarga, anak-anak yang masih bayi yang sudah ditinggal oleh ibunya untuk bekerja di luar negeri, dan anak-anak balita yang diasuh oleh kakek nenek dengan penerapan pendidikan yang permisif atau sebaliknya terlalu keras dengan hukuman-hukuman yang kurang mendidik.

Tampaknya pemerintah di dalam program pengiriman tenaga kerja ke luar negeri tidak mempertimbangkan sama sekali aspek langgengnya lembaga keluarga. Sehingga tidak ada prasyarat sama sekali bagi calon tenaga kerja untuk mendaftarkan dirinya untuk bekerja. Maka tidaklah mengherankan jika ada seorang ibu yang baru saja melahirkan anak 1 bulan yang telah berangkat kembali ke luar negeri. Sementara bayinya yang masih merah dititipkan kepada neneknya atau familinya.

Training Calon Orang Tua

Untuk mengajar di kelas, seseorang harus menempuh jalur pendidikan yang khusus untuk mengajar. Bahkan akhir-akhir ini pemerintah menggulirkan program sertifikasi untuk guru-guru dengan imbalan yang baik. Apakah sudah ada program pemerintah yang mengharuskan setiap calon orang tua untuk mendapatkan pembinaan dan pelatihan menjadi orang tua yang efektif.

Banyak orang tua yang melakukan kesalahan-kesalahan di dalam mendidik putra-putri mereka. Orang tua yang terlalu keras di dalam merespon setiap tingkah pola anak, orang tua yang selalu memberikan segala apa yang diminta oleh anak, orang tua yang tidak dapat berkomunikasi baik dengan anaknya, atau orang tua yang kurang konsisten di dalam memberikan aturan kepada anak. Mereka sangat wajar untuk melakukan kesalahan-kesalahan tersebut karena mereka belum mendapatkan pendidikan yang memadai untuk menjadi orang tua yang baik kecuali warisan dari cara orang tua mereka dahulu mendidik.

Tidak semua orang akan menjadi guru pada lembaga-lembaga pendidikan formal, tetapi mayoritas orang adalah pendidik bagi keluarganya. Sehingga program pelatihan dan pendidikan para orang tua sebenarnya adalah proyek strategis bagi bangsa ini untuk memastikan bahwa proses pendidikan keluarga berjalan dengan baik, dapat mengoptimalkan seluruh potensi anak (kognitif, afektif, dan psikomotorik), dan tidak sebaliknya justru mengubur potensi-potensi yang ada pada diri anak.

Keluarga dan Pendidikan Karakter

Ratna Megawangi dalam bukunnya Pendidikan Karakter menyebutkan bahwa tahapan pendidikan karakter yang paling dasar adalah pada usia 0-2 tahun tahapan Attachment. Tahapan attachment adalah tahapan di mana anak harus mempunyai kelekatan terhadap orang tuanya. Seorang anak yang mempunyai kelekatan psikologis dengan ibunya mempunyai sifat lebih baik, yaitu mudah bergaul, mudah diatur, mempunyai motivasi belajar tinggi, antusias dengan aktifitas di sekolah dibandingkan dengan anak-anak yang ketika bayi kurang lekat hubungan dengan ibunya.

Erikson seorang ahli pendidikan mengatakan bahwa usia bayi adalah masa pembentukan trust versus mistrust (percaya lawan tidak percaya). Apabila kualitas pengasuhan anak berjalan dengan baik, maka rasa percaya pada anak terhadap orang lain akan tumbuh dengan baik. Rasa percaya ini adalah modal bagi seseorang di dalam mengembangkan hubungan interpersonal yang baik.

Saat ini sebenarnya kita telah menyakini bahwa pendidikan keluarga adalah pondasi yang sangat penting bagi perjalanan pendidikan anak pada masa-masa yang akan datang. Tetapi tampaknya keyakinan kita tersebut belum mampu menggerakkan kita untuk lebih fokus di dalam membangun lembaga keluarga dengan sungguh-sungguh. Sudah terlalu banyak kita menemukan contoh anak-anak yang bermasalah karena pondasi pendidikan keluarganya yang kurang baik. Mereka terlalu mudah untuk dipengaruhi oleh narkoba, pornografi, dan kekerasan. Saatnya bagi kita untuk bergerak membangun lembaga keluarga, atau kita akan semakin banyak menemukan anak-anak yang bermasalah.