SENGAJA “NEMU”

Oleh: Miftahul Jinan

Ada satu pengalaman semasa kecil yang saya dan teman-teman senangi yaitu “nemu”. Nemu adalah menemukan benda untuk kami miliki. Tentunya bukan barang berharga atau uang. Kami hidup di pelosok desa. Kami sering ‘nemu’ buah-buahan yang jatuh dari pohonnya. Kami memungutnya saat pagi hari. Buah-buah yang sudah masak itu jatuh begitu saja. Sebagian lainnya jatuh berhias gigitan kelelawar pada malam harinya.

Karena seringnya ‘nemu’ buah-buahan itu, maka kami menjadi tahu kebiasaannya. Pagi buta kami sengaja bangun tidur bergegas berangkat ke masjid untuk shalat shubuh. Sepanjang perjalanan kami biasa mengamati tiap pohon yang berbuah. Harapannya adalah ‘nemu’ buah-buahan. Tanpa komando kami pun berlomba saling mendahului. Berpacu. Para pemilik pohon nampaknya sudah rela dengan apa yang kami lakukan. Karena kami dibiarkan ‘nemu’ buah-buahan dari pohon-pohon mereka.

Apakah anak-anak sekarang juga mengalami peristiwa ‘nemu’ seperti kami dahulu? Jawaban saya, “Ya”. Mereka temukan sesuatu yang lain. Bukan buah-buahan seperti kami dahulu. Naudzubillah, pengalaman ‘nemu’ itu terjadi pada tayangan, gambar, dan adegan dengan konten porno. Ibu Elly Risman berkata, “Delapan puluh persen anak-anak sekarang mengetahui perihal pornografi tanpa sengaja (nemu)”.

Dahulu kami begitu mudah ‘nemu’ buah-buahan, karena begitu banyak tetangga kami yang memiliki pohon buah-buahan. Astaghfirullah, kini anak-anak kita begitu mudah menjumpai tayangan, gambar, dan adegan dengan materi porno. Mereka dengan gampangnya mendapat informasi lewat televisi, radio, HP, internet, video CD, film, dan lain-lain.

Saya masih ingat, seorang ibu mendatangi meja kami seusai seminar dengan mata berkaca-kaca. Ia mengisahkan putri kecilnya beberapa hari yang lalu tanpa sengaja melihat adegan yang tidak layak ditonton. Handphone milik pamannya itu tak disangka tersimpan materi asusila. Ada pula seorang guru SD yang menjumpai sekelompok siswanya tertawa cekikikan. Ternayata usut punya usut mereka sedang melihat gambar wanita tanpa busana. Na’udzubillah.

Kami dahulu ‘nemu’ buah-buahan halal, lalu kami makan bersama-sama dan menyehatkan tubuh kami. Tapi, hari ini anak-anak kami ‘nemu’ dan melahap konten porno yang berakibat buruk dan menghancurkan mereka. Kita kenali beberapa bahaya akibat mengkonsumsi materi porno. Berikut catatannya:

  1. Kerusakan otak secara permanen terutama pada fungsi otak untuk merencanakan, mengendalikan emosi, mengambil keputusan, dan berpikir kritis.
  2. Pornografi juga mendorong anak mengalami kecanduan, sehingga orientasi hidup anak hanyalah kepada aspek seksual dan pornografi. Kita dapat melihat bagaimana pola pacaran anak-anak sekarang yang sangat mengerikan.
  3. Ponografi telah mengubah paradigma di masyarakat bahwa hubungan seksual sebelum menikah boleh. Padahal syariatnya sudah jelas bahwa hubungan seperti itu adalah zina.

Akhir-akhir ini kita sering mendengar dan membaca dari mass media perilaku seks yang menyimpang pada masyarakat. Dilakukan tidak selalu dari orang dewasa yang masih aktif secara fisik, tetapi dari seorang kakek atau bahkan dari seorang anak yang belum masuk masa akil baligh. Tidak ada wilayah yang aman bagi anak-anak kita bahkan bagi putra-putri kecil kita dari serangan perilaku seks yang menyimpang tersebut. Mungkin anak-anak kita jadi korbannya atau sebaliknya mereka menjadi pelakunya. Naudzubillah.

Pornografi saat ini telah menjadi tsunami besar yang mampu menenggelamkan setiap tonggak-tonggak generasi muda kita. Tanpa kita mampu berbuat banyak untuk menyelamatkan mereka dari terjangannya. Ya Allah, di wilayah mana di bumi-Mu ini kami dapat menyembunyikan generasi-generasi kami untuk kami didik tentang agama-Mu. Hingga suatu saat mereka telah siap untuk menghadapi terjangan tsunami pornografi ini. Mampukan kami membekali mereka dengan benih Iman dan Islam. Hanya Engkau tempat kami berserah.

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *