Siap Lulus dan Tidak Lulus

Bagi bapak dan ibu yang mempunyai putra/putri duduk di kelas VI, IX, dan XII, mungkin hari-hari ini dapat lebih santai dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Karena putra-putrinya telah menjalani ujian nasional. Sebuah parameter utama yang ditetapkan oleh pemerintah untuk menentukan apakah seorang anak lulus atau tidak lulus. Pada setiap malam bapak dan ibu mungkin masih mendampingi mereka di dalam mengulangi pelajaran, atau selalu memotivasi mereka untuk tetap fokus pada belajar dan ujian. Bahkan beberapa orang tua ada yang rela mengambil cuti kerja hanya ingin mengantarkan sendiri putra-putrinya memasuki ruang-ruang ujian.

Hari ini apakah  tidak ada lagi yang masih perlu dilakukan oleh bapak dan ibu terkait dengan ujian nasional putra-putrinya? Ibarat masa persiapan ujian dan masa ujian adalah masa persiapan produksi dan masa produksi, maka masa selanjutnya adalah masa finishing touch. Yaitu memberikan sentuhan terakhir untuk lebih memperindah dan memperteguh proses produksi.

Finishing touch untuk seluruh rangkai ujian nasional di atas ada dalam sebuah pertanyaan apakah putra-putri kita telah siap untuk lulus dan siap untuk tidak lulus? Mungkin diantara kita justru bertanya apakah maksudnya dengan mempersiapkan anak untuk lulus dan untuk tidak lulus? Padahal bulan-bulan yang lalu kita telah mendorong mereka untuk lulus.

 

Siap Lulus

Apakah pentingnya mempersiapkan anak untuk lulus, karena setiap anak yang lulus toh mereka akan gembira dan sudah barang tentu mereka telah siap untuk menghadapinya. Marilah kita mengingat kembali fenomena beberapa anak SMU dan SMP seusai melihat pengumuman kelulusan mereka. Beberapa kelompok remaja tersebut ada bersorak-sorak sambil memberikan coretan-coretan pada baju seragam mereka. Sebagian yang lain melakukan konvoi sepeda motor pada jalan-jalan protokol tanpa menggunakan helm yang layak. Bahkan beberapa yang lain melakukan pesta minuman keras atau pesta seks tanda mereka telah lepas dari ikatan sebagai pelajar.

Apakah fenomena di atas adalah cara-cara yang baik di dalam merespon pengumuman kelulusan mereka. Mereka memang telah lulus di dalam ujian kognitif, tetapi sebenarnya belum siap secara mental dan perilaku di dalam menghadapi kelulusan mereka. Pada titik inilah sebenarnya orang tua dapat berkontribusi untuk mempersiapkan secara mental dan perilaku jika putra-putri mereka melihat pengumuman kelulusannya.

Saya yakin setiap orang tua telah memiliki suatu bentuk aktifitas yang baik di dalam menghadapi setiap keberhasilan. Kita dapat mendorong mereka untuk melakukan sujud syukur sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah, atau melakukan aktifitas perayaan yang sederhana dengan tetap menghormati beberapa teman yang tidak lulus, bahkan diantara kita ada yang memberikan shadaqah kepada fakir miskin di hari ia mendapatkan keberhasilan tersebut.

Semua bentuk perayaan sebenarnya dapat kita dialogkan pada hari-hari ini dengan putra-putri kita, sehingga di hari pengumuman tersebut mereka telah siap dengan bentuk-bentuk perayaan versi hasil dialog dengan kita orang tua, dan pada akhirnya mereka relatif tidak mudah ikut-ikutan dalam bentuk perayaan teman-teman yang lain.

 

Siap Tidak Lulus

Sekarang apa yang dapat kita lakukan untuk mempersiapkan putra-putri untuk siap tidak lulus, apalagi bagi anak-anak kita yang selalu mendapatkan nilai yang baik. Pertama kita harus menyakini terlebih dahulu beberapa hal berikut ini:

  1. Tidak lulus adalah peristiwa yang wajar
  2. Tidak berdosa bagi seorang siswa untuk tidak lulus
  3. Pada setiap pelaksanaan ujian terdapat fenomena lulus dan fenomena tidak lulus

Dengan menyakini beberapa hal di atas, maka lebih mudah bagi orang tua untuk mempersiapkan putra-putrinya untuk menghadapi ketidak lulusan mereka. Diantara beberapa aspek yang perlu diberikan kepada anak-anak tentang siap tidak lulus adalah; Pertama, membangun keyakinan yang pada diri anak tentang ketiga hal di atas, bahwa berhasil dan tidak berhasil adalah peristiwa yang wajar dan tidak ada dosa apapun bagi seseorang yang kurang berhasil asal ia telah bekerja dengan sungguh-sungguh.

Kedua, membantu anak untuk merasakan sensasi jika benar-benar mereka tidak lulus, dan ketiga adalah membuat rencana nyata jika memang mereka benar-benar tidak lulus. Dengan ketiga aspek persiapan di atas maka sebenarnya banyak manfaat yang diperoleh anak-anak kita, di antaranya:

  1. Anak lebih siap mental jika mereka memang benar-benar tidak lulus, karena mereka yakin bahwa lulus dan tidak lulus adalah sebuah keniscayaan hidup
  2. Menghindari tindakan-tindakan yang di luar perhitungan nalar sebagai akibat dari ketidak lulusan mereka
  3. Membangun rasa empati pada putra-putri kita bahwa sebagian teman mereka ada yang mengalami nasib yang kurang baik seperti mereka