Sikap Belajar Positif

Orang tua mana yang tidak senang melihat putranya mendapatkan nilai rata-rata sembilan untuk ujian akhir semesternya. Apalagi nilai sembilan tersebut merupakan hasil dari sikap belajar yang positif. Ia dapat memanage waktu bermain dan waktu belajar, ia mempunyai reading habit yang tinggi, ia telah mampu mandiri mencari sumber/referensi bagi belajarnya, dan ia mempunyai perilaku yang baik sesuai dengan materi yang ia kuasai.
Apakah ada seorang anak yang berhasil mendapatkan nilai yang baik tetapi tidak mempunyai sikap belajar yang positif? Mari kita melihat sekeliling kita, adakah anak yang selalu mendapatkan nilai tinggi, namun belajar baginya menjadi beban yang sangat berat, ia selalu menunggu orang lain untuk memotivasi belajarnya, ia juga tidak mampu memilih sumber belajar yang sesuai, dan seusai ujian seluruh rumus yang dihafalkan dilupakannya tanpa mampu mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Inilah sebenarnya masalah kita sekarang ini, sering anak-anak kita mendapatkan nilai bagus tersebut karena drilling soal-soal ujian dan menghafalkan rumus rumus rumit tanpa mereka memahami dari mana rumus tersebut muncul. Akhirnya, kita sebagai orang tua hanya bisa meminta dan memaksa mereka untuk mengikuti les-les pada LBB yang memang sering menjamin nilai akan baik.
Lalu dimanakah posisi sikap belajar yang positif di dalam proses pendidikan anak-anak kita ? Apakah sudah ada program di rumah atau sekolah yang akan membimbing mereka untuk pandai memanage waktu, mempunyai reading habit yang tinggi, memiliki kemandirian untuk mengakses sumber belajar, dan mengaplikasikan beberapa materi ajar dalam kehidupan sehari-hari mereka?
Jika sikap positif dalam belajar kita asumsikan dapat dicapai oleh anak yang lulus SMP, apa yang dapat kita dan guru lakukan saat ini untuk membangun pondasi bagi timbulnya sikap tersebut? Saya sangat menghargai sebuah sekolah yang telah membangun sebuah sistem, sehingga setiap siswa pada tahun-tahun pertama belajar telah dipaksa secara natural untuk memiliki reading habit dan menyukai bacaan. Ia mempunyai ruang perpustakaan yang setiap anak akan nyaman untuk duduk berlama-lama di dalamnya di tengah-tengah berbagai macam buku bacaan anak yang mereka akan terpikat kepadanya dalam pandangan pertama.
Saya juga sangat bangga mendapati seorang guru yang memberikan selembar kertas kepada siswanya untuk PR mengarang. Di dalam kertas tertulis, “Anak-anak carilah sebuah gambar tentang sebuah desa, gunting dan tempelkan di tengah kertas ini. Kemudian berilah komentar sebanyak-banyaknya tentang gambar desa yang telah kalian tempelkan di pinggir luar gambar tersebut”. Pada hari selanjutnya guru tersebut membimbing anak-anak untuk mengurutkan komentar-komentar mereka dan menjadikannya sebuah paragraf karangan tentang desa. Saya ingat kembali guru saya di kelas IV sekolah dasar yang memberi PR untuk menulis karangan dengan kata-kata berikut ini, “Anak-anak buka buku kalian dan tulislah karangan yang berjudul desaku”. Kemudian saya hanya memikirkan kata-kata yang sulit muncul tentang desaku, tanpa membayangkan kondisi riil sebuah desa.
Saya kira kita orang tua dapat mulai membangun sikap belajar yang positif bagi putra-putri kita dengan gemar melakukan percobaan-percobaan sederhana bersama-sama mereka. Membungkus buah belimbing bersama anak kemudian membuka bungkusan tersebut setelah beberapa bulan lalu membandingkan antara buah yang dibungkus dan buah yang tidak dibungkus. Atau membuat mobil-mobilan dari kardus-kardus bekas bungkus peralatan elektronik yang hendak kita buang di tempat sampah. Kata kuncinya adalah berikan kesempatan mereka untuk bereksplorasi dengan alat-alat sederhana di sekeliling mereka, dan bimbing mereka untuk menemukan nilai-nilai yang berharga di dalam eksplorasi tersebut.
Ada seorang ibu menyampaikan pengalamannya, suatu hari putra pertamanya bercerita tentang buku yang telah ia baca di perpustakaan. Dalam buku tentang rahasia semut itu disebutkan cara mengembangbiakkan semut dengan menyiapkan sebuah toples yang diisi dengan pasir lalu disiapkan makanan. Kemudian menempatkan beberapa ekor semut yang sejenis di dalamnya. Mendengar cerita putranya ini, ia lalu mengajak putranya untuk mencoba mengembangbiakkan semut dan mereka berhasil. Kita dapat membayangkan sikap apa yang muncul pada diri anak saat ia mampu melakukan percobaan kemudian berhasil di dalam percobaan tersebut.
Seringkali kita mendengarkan celotehan anak-anak kita yang merupakan buah imajinasi mereka. Sebagian dari imajinasi tersebut dapat kita jadikan sarana untuk membimbing anak untuk melakukan percobaan-percobaan sederhana buah fikiran mereka.

Otak anak bukanlah wadah untuk diisi, tetapi api yang siap dipijarkan

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *