Posts

Membangun Pikiran Positif, Kebiasaan Baik pada Anak : Seimbang

Pernahkah kita mencoba untuk menghitung berapa jumlah afirmasi positif (pujian) yang diterima oleh putra-putri kita dalam satu hari, dan berapa jumlah afirmasi negatif (cemoohan) yang diterimanya. Dengan perkataan lain, berapa kali dalam sehari anak melakukan kebaikan kemudian orang sekitarnya memberi pujian dan dukungan. Dan berapa kali saat ia melakukan hal yang kurang baik menurut masyarakat kemudian orang sekitarnya memberikan cemoohan kepadanya.

Boby De Porter dalam bukungnya Quantum Learning menulis tentang penelitian bahwa seorang bayi masih mendapatkan afirmasi positif yang banyak, namun seiring dengan bertambah umur seorang anak justru mendapatkan afirmasi negatif jauh lebih banyak daripada afirmasi positif.

Sebenarnya apa pengaruh perbandingan jumlah afirmasi, baik negatif maupun positif, bagi perkembangan seorang anak? Mari kita cermati kata-kata berikut ini; Djarum, Bentoel, Gudang Garam…. Respon spontan kita saat membacanya adalah nama-nama produsen rokok terkenal di tanah air. Bahkan, di antara kita telah mengembangkan bayangan dalam pikirannya Djarum Super, Bentoel Biru dan Gudang Garam Merah. Pertanyaan selanjutnya adalah ke manakah makna asli dari kata-kata di atas, bahwa Djarum adalah alat untuk menjahit, Bentoel adalah salah satu umbi-umbian dan Gudang Garam adalah tempat menyimpan garam dalam jumlah besar? Dan saat kita ditanya makna asli dari kata-kata tersebut kita seakan-akan tersadar dari mimpi kita bahwa telah terbangun dalam pikiran kita dua makna yang sangat berbeda dari sebuah kata

Peristiwa mental ini terjadi sangat evolusioner dalam waktu relatif lama dan pasti seiring dengan program iklan yang semakin gencar dilakukan oleh perusahan tersebut. Pertama kali informasi tentang sebuah produk ditayangkan dalam media televisi atau terpampang dalam spanduk dengan nama yang asing, pikiran kita akan menyerapnya sejenak dan kemudian mungkin menolaknya, penasaran atau menerimanya. Namun semakin seringnya pikiran kita mengkonsumsinya akan semakin berkurang penolakan dan rasa penasaran hingga sampai pada suatu tahap meyakini bahwa informasi tersebut telah diterima secara pikiran bawah sadar. Bahkan, dengan semakin canggih proses marketing sebuah produk, kita dipaksa secara tidak sadar untuk memiliki produk tersebut, walaupun sebenarnya kita tidak membutuhkannya.

Bayangkan jika proses di atas juga terjadi pada putra-putri kita dengan afirmasi negatif yang mereka terima, baik karena kesalahan yang mereka lakukan atau kurangnya pemahaman masyarakat sekitar terhadap perilaku mereka. Pada saat pertama kali ia menerima afirmasi negatif tersebut mungkin ia akan menolaknya atau menerima hanya pada konteks kesalahan yang ia lakukan. Namun, dengan semakin seringnya ia menerima afirmasi yang sama pada momen yang berbeda, ia akan mulai menyakininya dan menyadari bahwa kesalahan adalah bagian integral dari dirinya. Dan ini sungguh merupakan peristiwa yang tragis jika betul-betul terjadi.
Sebaliknya jika afirmasi yang diterima oleh putra-putri kita lebih banyak afirmasi positif tentang dirinya dan mereka mendengarnya setiap hari, maka pikiran mereka telah dipenuhi dengan afirmasi-afirmasi positif sehingga akan timbul keyakinan yang kuat bahwa ia adalah seorang anak yang baik dan berhasil.

Sebenarnya bukanlah sebuah kesalahan jika seorang anak melakukan kesalahan kemudian kita menegurnya, karena sikap tersebut adalah bagian penyadaran bahwa anak juga dapat berbuat salah. Namun, hendaknya kita lebih bersifat proposional bahwa kepekaan perhatian kita terhadap kesalahan-kesalahan anak tidak boleh lebih besar dari kepekaan perhatian kita terhadap kebaikan dan keberhasilah anak. Minimal seimbang untuk menegur saat anak bersalah dan memuji saat ia berbuat baik.

Saat kita membiasakan mereka untuk mendengarkan kebaikan, saat itulah mereka akan memperbaiki kebiasaan mereka sendiri