Posts

Mengembangkan Bakat Anak : Matinya Seorang Seniman

Hari itu cuacanya indah, Andi memasuki ruang kelas dengan penuh antusias. Sejenak kemudian masuklah guru ke kelasnya dan mengumumkan bahwa hari ini semua siswa akan mendapatkan pelajaran kesenian yang pertama.

Andi senang sekali, karena benaknya dipenuhi dengan gambar-gambar yang indah, dan Andi tidak sabar menunggu untuk menuangkannya di atas kertas. Andi mempunyai banyak kertas dan pencil serta krayon berwarna-warni, peralatan untuk membuat karya besar pertamanya.
Gurunya berkata dengan antusias: “Baik anak-anak, semua sudah siap? Saya ingin kalian menggambar pesawat terbang.” Didalam benak Andi dapat melihat pesawat terbang dengan jelas, tetapi teknik untuk mengeluarkannya dari otak ke atas kertas ternyata agak sulit. Jadi, tahap ini, sebagai anak berusia empat tahun, yang dikelilingi teman-teman sebaya yang masing-masing memiliki kertas dan krayonnya sendiri, apa yang secara alami akan Andi lakukan? Tentu saja, Andi akan memandang ke sekeliling untuk melihat apa yang dilakukan oleh teman-temannya.
Namun, tiba-tiba gurunya telah menegurnya, ”Andi…Jangan melihat pekerjaan anak lain! Itu menyontek!”
Dalam keadaan frustasi, Andi berjuang dengan jengkel dan sia-sia, sampai waktunya habis. Ketika ia sudah menyelesaian pekerjaannya, ia diperbolehkan untuk melihat ke sekeliling. Dan apa yang ia lihat?
Pesawat-pesawat terbang yang lebih bagus!
Ironisnya, ia melihat pesawat-pesawat temannya jauh lebih bagus daripada miliknya, karena ia melihat bagian terburuk dari gambarnya sendiri, dan bagian terbaik pada gambar anak lain.
Kemudian teman kelas Andi mendatangi mejanya dan dengan kata yang paling menyebalkan ia berkata, ”Gambar apa ini? Gambarmu jelek! Pesawat terbang kok tidak ada sayapnya”. Perasaan sakit hati dan terhina mulai terkumpul di benaknya, dan tunas kreativitas itupun mulai layu.
Selanjuntya, datang lebih banyak penderitaan baginya. Karena selama dua minggu berikutnya, yang terpajang di dinding kelas bukanlah pesawat terbang kecil miliknya dan ia merasa dipersalahkan karena keadaan ini. Setiap hari, kehadirannya di kelas mengingatkan pada ketidakmampuan, kegagalan dan mimpi indah yang tidak pernah terwujud.
Beberapa hari sesudahnya, guru Andi datang ke kelas dan mengumumkan: ”Anak-anak, hari ini kita akan belajar kesenian lagi!
Dan apa yang dikatakan oleh otak Andi? Ooooooooooooo,,,, tidaaaaaaaak, menggambar!
Mulai saat itu, seniman kreatif yang istimewa dan alami di dalam dirinya telah bersembunyi, dan terus mengalami mimpi buruk.
Wahai orang tua, jangan pernah ada kesempatan di rumah-rumah kita tumbuh Andi-Andi yang baru, anak kita adalah seniman yang sangat kreatif. Hargai hasil karya mereka, karena anak-anak itu sangat kaya perspektif bagi karya-karya agungnya.

(Disadur dari buku buku karya Tony Buzan)