Posts

Membangun Karakter Anak : Semua Bermula dari Karakter

Silakan kita bertanya kepada beberapa wali murid yang awal tahun ini sering bergerombol di depan sekolah kita, tentang satu hal yang paling menjamin anak-anak mereka untuk sukses pada masa yang akan datang. Atau, meminta beberapa guru untuk mengidentifikasi hal yang paling menentukan keberhasilan siswa-siswinya saat mereka dewasa. Saya dapat menjamin bahwa mayoritas jawaban mereka adalah hal-hal yang berkaitan dengan sifat, perilaku, kepribadian atau karakter. Seperti kejujuran, kerja keras, ketekunan, percaya diri, tanggung jawab, kerja sama, dll.

Lalu di mana letak hal-hal di atas dalam konstelasi kurikulum kita? Atau dengan pertanyaan yang lain, sudah proporsionalkah perhatian kita terhadap hal-hal di atas sebagaimana perhatian kita kepada hal-hal yang bersentuhan dengan kognitif. Kita perlu memberikan apresiasi yang tinggi kepada orang tua yang secara intens membantu putra-putri mereka memilih sekolah-sekolah terbaik. Namun, apakah mereka telah menjadikan moral, sikap, atau karakter sebagai sebuah kriteria yang menentukan bagi pemilihan sekolah tersebut. Yang kita rasakan adalah berbondong-bondongnya mereka untuk mendaftarkan putra-putrinya kepada sekolah-sekolah yang favorit secara hasil Unas (kognitif), walaupun lingkungan sekolah tersebut seringkali tidak mendukung bagi perkembangan karakternya.
Di sinilah kita merasakan adanya pola berpikir yang parsial, di satu sisi mereka menyakini akan posisi karakter bagi keberhasilan masa depan anak-anak, namun pada posisi lain mereka lebih memilih aksi-aksi yang jangka pendek dengan memilih sekolah-sekolah yang mengangungkan kognitif.
Ada pemahaman yang berkembang di dalam masyarakat bahwa pendidikan karakter sama dengan penyampaian informasi tentang moral, sifat-sifat baik, dan cerita-cerita tingkah laku yang baik. Pada seseorang dapat mengatakah ”ya” berulangkali, tetapi bukan berarti ia telah benar-benar memahami apa yang ia dengar. Seringkali itu hanya berarti ”I hear you talking”. Sementara ia melakukan apa yang menjadi kebalikan apa yang ia dengar.
Dengan statement yang lain, banyak orang tua yang beranggapan bahwa kalau anak sudah bisa mengaji atau belajar agama, dengan sendirinya anak akan mempunyai moral yang baik. Banyak kejadian yang kita lihat bahwa pengetahuan agama yang baik ternyata belum tentu menjamin perilakunya juga baik.
Ratna Megawangi dalam bukunya Pendidikan Karakter menyebutkan ada 3 komponen di dalam pendidikan karakter, yaitu moral knowing atau pengetahuan tentang moral, moral feeling atau perasaan tentang moral dan moral action atau perbuatan bermoral. Seseorang perlu mengetahui tentang nilai-nilai moral dan etika, namun perlu juga dibangun perasaan untuk menyenangi hal-hal yang berkaitan dengan nilai moral, kemudian memastikan anak untuk mencoba dan memulai melaksanakan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan ketiga komponen di atas maka pendidikan karakter tidak cukup dengan kata-kata, ia perlu contoh riil dari orang tua, pendalaman terhadap contoh-contoh tersebut dengan penjelasan-penjelasan dan refleksi tindakan anak, dan membangun sebuah lingkungan yang memastikan anak mudah untuk melakukannya dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Beberapa yang harus diperhatikan oleh orang tua di dalam membangun karakter bagi putra-putrinya, pertama, anak yang mendapatkan cinta dan perhatian hangat dari orang tuanya akan merasa bahwa dirinya berharga, yang selanjutnya akan membuatnya percaya diri. Anak yang percaya diri akan mudah berteman dan tidak mudah terpengaruh kepada hal-hal yang negatif. Kedua, orang tua yang hangat dan penuh perhatian akan menjadi model bagi anak bagaimana seharusnya memperlakukan orang lain. Seorang ayah yang bangun tengah malam untuk memberikan vicks di dada anaknya yang sakit, sambil mengelus kepalanya, secara tidak langsung akan mengajarkan bagaimana memperlakukan orang yang sakit.
Ketiga, anak yang mempunyai hubungan emosianal yang erat dengan orang tuanya akan berusaha berperilaku sesuai dengan harapan orang tuanya menurut standar etika yang berlaku. Keempat, orang tua yang hangat dan penuh perhatian akan memacu perkembangan moral anak kepada tahapan yang lebih tinggi. Kelima, orang tua yang memberikan cinta dan perhatian kepada anaknya akan membuat komunikasi antara orang tua dan anak menjadi lancar dan terbuka.

Mungkin anak kita gagal di dalam mengikuti nasihat-nasihat kita, tetapi yakinlah mereka tidak akan pernah gagal di dalam meniru perilaku kita.

 

Team Griya Parenting

PEMBINA

RoemRowi221-150x150

Prof. Dr. H.M. Roem Rowi, MA
Lahir: Ponorogo, 3 Oktober 1947
Guru Besar Ilmu Al-Quran Program Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel, Surabaya
Drs. Masruri, MPd
Lahir: Purwodadi, 30 Desember 1965
Direktur Ummi Foundation

PENANGGUNG JAWAB

 

Miftahul Jinan

 

 

 

Drs. Miftahul Jinan, M.Pdi
Lahir: Ponorogo, 13 September 1969.

SUPERVISOR


Ani-Chistina-150x150

Ani Christina, S.Psi
Lahir: Malang, 30 Maret 1982.

TIM AHLI

  Drs. Margono, MM
   
  Arif Santoso
   
  Choirus Syafruddin, S.Psi
   
  Miseri, S.Pd
   
  Widji Lestari, S.Psi
   

TRAINER

   
 

Drs.Miftahul Jinan, M.Pdi
(Direktur Griya Parenting Indonesia, Master Trainer, Penulis serial buku parenting best seller)

Lahir di Ponorogo, 13 September 1969. Suami dari Vanda Amiratie ini sekarang fokus pada penulisan buku-buku parenting dan pendidikan. Ayah dari kelima putranya yakni, M.Fahmi Al-Faqih, Irv Rey H., A.Fadli Al Faruqi, M.Fahd Al-Fauzani dan Ervin Vey H. ini juga merupakan master trainer dari Kualita Pendidikan Indonesia (KPI) dan dosen program Ma’had Aly Al-Akbar Education Centre.

   
 

aris

Aries Setiawan
(Trainer Senior KPI, penulis buku Ice Breaker For Teacher)Lahir di Surabaya, 4 Pebruari 1972, Ayah dari 4 putri ini merupakan jebolan fakultas Universitas Brawijaya. Pengalaman kerja dimulai dari pengajar di SMP-SMA Ar-Rohmah Pesantren Hidayatullah Malang (1998-2003), menjadi pengajar di STIE Ilmu Syari’ah Sentra Bisnis Islami (STIS SBI) Surabaya 2004 – sekarang. Ribuan guru telah mendapatkan training beliau.
   

 Ani-Chistina-150x150 

Ani Christina
(Praktisi Pendidikan, Konselor Pendidikan anak, Penulis buku Sekolah Menjadi Orangtua) Lahir di Malang, 30 Maret 1982.
   
  kak ucon 2  Kak Ucon
(Pendongeng Nasional, Tales To Build Your Child’s Character, Penulis serial buku dongeng karakter)Yusron Muchsin yang lebih akrab dipanggil Kak Ucon — karena banyak anak-anak kesulitan mengeja Yusron, lahir di Ponorogo pada 17 Juli 1970. Pendidikan terakhir adalah sarjana ekonomi manajemen di Universitas Islam Darul Ulum-Lamongan (1998), dan alumni Pondok Modern Gontor Ponorogo (1992).