Terima Kasih Guru : Kita Harus Berterima Kasih

Malam itu anak saya tertidur tanpa shalat isya dan tanpa membaca Al Qur’an terlebih dahulu. Kegiatan di sekolah hari itu tampaknya membuat ia lebih lelah dari biasanya, sehingga himbauan kami untuk melaksanakan shalat dan membaca Al Qur’an sudah tidak mampu lagi mengalahkan rasa kantuknya. Akhirnya kami hanya bisa merapikan posisi tidurnya dan memaklumi apa yang ia kerjakan, ia baru berumur 7 tahun.

Namun tengah malam sekitar pukul 01.00 WIB kami dikejutkan gemericik air dari wastafel tempat cuci dengan suara khas seseorang berwudlu. Sejenak kemudian kami mendengar suara anak bertakbir tanda ia memulai shalat. Kami tetap menunggu siapa yang melakukan hal itu dan apa yang dilakukannya setelah itu. Tiba-tiba suara ketukan pada pintu kamar membangunkan kami untuk beranjak dari ranjang. Kami buka pintu tersebut dan alangkah terkejutnya ketika anak pertama kami telah membawa buku ngajinya untuk minta disemak. Berarti semua suara tadi dilakukan putra kami dengan akhirnya ia meminta untuk menyimaknya mengaji.
Keesokan harinya usai shalat shubuh isteri mulai mengisi buku penghubung tentang kegiatan anak di rumah selama 1 hari kemarin. Tidak ketinggalan mengisikan kegiatan mengaji dan shalat isya anak yang dilakukan tengah malam.
Dengan semua peristiwa tersebut muncul beberapa pertanyaan di dalam benak, apa yang menggerakkan anak untuk bangun tengah malam melakukan shalat isya’ kemudian membaca Alqur’an? Bagaimana memasukkan sifat tanggung jawab pada benak anak sekecil ini? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang terus muncul di dalam benak. Namun kami sepakat ini semua yang melakukan adalah gurunya di sekolah. Karena kami orang tua hanya bisa menghimbau dan memintanya untuk melakukan hal-hal tersebut.
Keesokan harinya kami berdua mendiskusikan peristiwa semalam dan menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan kepada putra kami. Tetapi, apa yang dapat kami lakukan bagi gurunya sebagai tanda terima kasih kami?
Terima kasih ibu guru semoga mutiara yang ibu tanam dalam hati putra kami selalu menjadi penerang bagi perjalanan hidup putra kami.

Engkau busur tempat anakmu, anak panah hidup, melesat pergi

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *