6 Karakter Pengasuhan Pesantren Unggul

Miftahul Jinan

Griya Parenting Indonesia

Pagi ini saya mendapatkan kisah sedih dari seorang sahabat tentang kematian seorang santri di Sumatra yang diakibatkan penganiayaan santri lainnya. Ini sungguh memprihatinkan kita sebagai pengasuh asrama sekaligus cambuk bagi kita untuk memperbaiki pola pengasuhan kita.

Mendapatkan kisah di atas maka fikiran ini langsung menuju satu kesimpulan penyebabnya yaitu pengasuhan yang lemah. Mari kita lihat pada pesantren kita apa sudah mulai muncul tanda-tanda seperti sering kehilangan barang bahkan pembobolan lemari santri yang kebetulan izin pulang kerumah, verbal bullying yang dibiarkan berkembang, sering terjadinya kekerasan terutama pada santri-santri yunior oleh santri senior, tingkat kerusakan fasilitas pesantren yang tinggi, dan kepengurusan santri yang terlalu dominan tanpa adanya kontrol yang baik dari pengasuh pesantren.

Beberapa ciri pengasuhan yang kuat dalam sebuah pesantren yang dapat menghindarkan kejadian di atas adalah:

Relasi yang Harmonis

Kedekatan anak dengan para pengasuh asrama menentukan kualitas hubungan dan komunikasi di antara mereka. Dan akan lebih baik jika pengasuh asrama menggunakan pendekatan individual daripada pendekatan komunitas.

Peka terhadap Kondisi Santri

Pengasuh asarama cepat tanggap terhadap perubahan apapun pada anak, keceriaan yang berubah menjadi kemurungan, kebiasaan duduk di shaf depan berubah menjadi duduk di shaf belakang, bahkan tempat sampah yang bergeser tempatnya dia mengetahuinya.

Egalitarianisme Aturan

Dijalankan aturan yang sama antara santri senior dan santri yunior, tidak menggunakan hukum rimba yang kuat menguasai yang lemah. Hal ini untuk menghindari kecemburuan sosial dan dominasi terhadap santri lain.

Tingginya Kesadaran Diri

Santri cenderung lebih mentaati aturan pesantren karena kesadaran bukan karena ketakutan pada personal apalagi seniornya.

Mengedepankan Keteladanan

Aturan dan prosedur pesantren tidak dijalankan berdasarkan pada reward dan punishment tetapi pada tauladan dan kesadaran diri.

Tindakan Tegas

Keberanian pesantren untuk menindak hingga mengeluarkan santri yang memang sudah sangat melanggar aturan yang mereka sudah sangat memahami dan menyadarinya (kalau nggak ditindak mendorong temannya melakukan hal serupa)

Sebaliknya, ada beberapa hal yang justru mendorong terjadinya pengasuhan yang lemah pada beberapa pesantren, di antaranya:

  1. Paradigma yang salah. Dari beberapa pengurus yayasan maupun pengasuh pesantren tentang kurang pentingnya mushrif/mushrifah. Ini terlihat dari sistem perekrutan, pembinaan mushrif/mushrifah dan bisyaroh yang semua lebih rendah dari guru akademis. Beberapa pesantren terlihat memiliki ruang kelas dengan fasilitas yang sangat baik, tetapi kondisi asrama santri sangat sederhana dengan fasilitas yang tidak memadai.
  2. Overload. Jumlah mushrif/mushrifah yang tidak seimbang dengan jumlah santri yang terlalu banyak.
  3. Manajemen minimalis. Manajemen pengasuhan yang tidak dikembangkan dengan baik, sehingga mushrif/mushrifah hanya difungsikan sebagai pengawas santri dan bukan pengasuh.
  4. Mushrif/ah jarang mendaparkan sentuhan dan pelatihan. Mushrif/mushrifah sering tidak didampingi dan dibina di dalam mengasuh santri karena pengasuh tidak bermukim di dalam pesantren atau pengasuh bermukim di pesantren tetapi tidak pernah bersentuhan dengan santri dan tugas mushrif.
  5. Dibebani tugas ganda. Beberapa mushrif dan mushrifah mempunyai tugas ganda yaitu mengasuh dan mengajar dengan jam mengajar yang terlalu banyak, sehingga tugas kepengasuhan hanyalah sisa waktu dan tenaganya.

Lantas, bagaimana dengan sistem dan karakter pesantren kita? Ke arah mana pesantren kita menuju? Apa saja yang telah kita lakukan untuk pengembangan pesantren kita? Sejauh mana usaha dan komitmen kita melakukan ini semua? Tentu tidak ada yang bisa menjawabnya dengan sangat baik kecuali diri kita masing-masing.

Fenomena buruknya manajemen dan sistem pesantren menjadi keprihatinan dan tanggung jawab kita bersama. Oleh sebab itu, Griya Parenting Indonesia melalui program Diklat Pengasuhan Asrama Santri Intermediate (PAS) Online, berkomitmen untuk membantu pesantren menjadi lembaga yang berkualitas dan berdaya saing tinggi (unduh flyernya di sini). Semoga tulisan ini memberi manfaat dan inspirasi. Amin

==

Informasi layanan training dan pemesanan buku: 081272709919

Sumber gambar: medcom.id

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.