Dialog Ayah dan Anak dalam Al Quran | Mencontoh Ibrahim dan Ismail

Dialog Ayah dan Anak dalam Al Quran | Al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad saw merupakan sumber utama Parenting Islam. Umat Islam harus punya komitmen kuat untuk terus menggali sumber utama parenting Islam. Salah satunya prinsip parenting Islam adalah metode dialog ayah dan anak.

Dialog ayah dan anak dalam Al-Quran bisa mencontoh Ibrahim dan Ismail. Mari kita coba petik satu contoh dari Ibrahim dan Ismail. Kisah bapak dan anak ini merupakan salah satu teladan bagaimana ayah dialog dan anak dalam Al-Quran. Mari kita simak firman Allah di bawah ini.

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur baligh) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab, ‘Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’” (QS. As Shaffat 102).

Ibrah dari Dialog Ayah dan Anak

Kita lihat betapa mesra dialog ayah dan anak di Alquran ini. Walaupun Ibrahim adalah seorang nabi, ia tidak selalu menggunakan kalimat perintah kepada sang anak. Dia tidak lantas memberi perintah begitu saja meski itu perintah dari  Allah sekalipun.  Para ayah patut  mencontoh Ibrahim dan Ismail dalam membangun dialog yang sehat dan hangat.

Karena, mimpi para nabi itu acapkali merupakan wahyu dari Allah. Nabi Muhammad saw pernah menjelaskan bagaimana hati para nabi itu tidak tidur meskipun matanya terpejam. DAlam Hadits Shahih Bukhari (nomor 3305), Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kedua matanya tidur tetapi hatinya tidak. Ini beliau ceritakan pada peristiwa malam Isra Miraj.

Demikian pula Nabi Ibrahim as. Mimpi itu terjadi beberapa kali. Dalam mimpinya, Ibrahim melihat ia menyembelih Ismail. Bagi seorang nabi, ini adalah isyarat dari Allah. Ini adalah ujian kesabaran. Dan ini adalah ujian ketaatan ayah dan anak terhadap perintah Allah. Ketika Ibrahim sudah membaringkan Ismail dan siap menyembelihnya, lalu Allah mengganti tubuh Ismail dengan domba yang besar.

Allah berfirman, “Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia, ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata” (QS. 103-106).

Nyatalah mimpi yang berulang itu pada seorang nabi itu merupakan wahyu ilahi dan itu adalah perintah Allah. Namun, meskipun itu perintah Allah, Ibrahim tidak gegabah untuk mengerjakan perintah itu. Perintah Tuhan yang secara logika manusia tak masuk akal.

Justru karena itu, Ibrahim mengajak dialog putranya itu sebelum melaksanakannya. Inilah salah satu dialog ayah dan anak dalam Al-Quran. Dan para ayah sangat penting untuk mencontoh Ibrahim dan Ismail ini. Di antara hikmah dialog ayah dan anak dalam Al-Quran di atas ialah:

Perbanyaklah dialog dengan anak

Anak-anak zaman milenial ini sudah banyak mendapat informasi dari media online. Ketika anak itu sudah bicara dan bertanya, sejatinya di benaknya sudah banyak pertanyaan. Sering kali mereka menanyakan hal-hal di sekelilingnya.

Saya pernah ditanya putra saya yang masih taman kanak-kanak. Dia bertanya begini, “Mengapa harus ada manten?” Sebenarnya, dia bertanya dalam konteks lain. Yaitu, dia bertanya mengapa jalan utama yang biasa kami lalui kok ditutup karena ada pesta pernikahan. Sehingga kami harus memutar. Dan terlontarlah pertanyaan seperti itu tadi.

Sebagai orangtua, kita harus bijak memberi jawaban anak seusia dia. Baik jawaban teknis maupun jawaban filosofis. Jawaban yang positif dan mudah dipahami akan membantu dia berpikir lebih konstruktif bagi tumbuh kembangnya.

dialog ayah dan anak dalam Al Quran

Ayah harus lebih banyak berdialog dengan anak

Dan dalam parenting Islam, ada 17 dialog orangtua dengan anak di Al Quran. Dan 14 di antaranya dialog ayah dengan anak. Sedang 2 dialog tercatat antara ibu dan anak. Sedangkan satu percakapan tidak teridentifikasi.

Salah satu hikmahnya adalah hendaknya ayah harus lebih sering berdiskusi yang sehat dengan anak. Tidak asal perintah saja. Tidak hanya menyuruh saja. Bangunlah diskusi yang sehat dan hangat.

Menurut Elly Risman, pemerhati anak dan keluarga, di Indonesia banyak anak menjadi yatim meskipun sang ayah masih hidup. Maksudnya antara lain anak jarang mendapat kehangatan diskusi seperti Ibrahim dan Ismail. Kebanyakan ayah hanya sebagai mesin ATM, tempat anak minta uang saja. Tak ada dialog dan bahkan tak ada pendampingan.

Ayah sibuk kemana, anak main kemana. Tak pernah ketemu. Bu Elly Risman sering menangani kasus narkoba pada remaja, krimimalitas remaja dan kerusakan moral lainnya. Dan semuanya bersumber dari ayah yang tidak hadir di tengah jiwa dan raga anak. Pantas saja, Bu Elly Risman menjuluki Indonesia sebagai fatherless country.

Hargailah pendapat Anak

Setiap anak pasti punya cara pandangnya sendiri. Ayah bunda harus menghargai pendapat sang anak meskipun belum tentu tepat. Tugas kita selanjutnya adalah memberi penjelasan secara bertahap. Tidak seketika itu kita luruskan jika pendapat dia kurang tepat.

Jangan matikan rasa ingin tahunya

Anak usia balita atau usia SD kelas bawah (kelas 1 hingga 3) sering bertanya. Atau dalam bahasa lain, anak-anak usia ini sering mengajak dialog. Dan sayangnya, sejumlah orang tua tak sabar dengan banyaknya pertanyaan mereka. Karena hal receh menurut pandangan orang dewasa pun ditanyakan oleh ananda.

Ayah bunda yang kurang sabar biasanya mematikan rasa ingin tahunya dengan ucapan begini, “Sudah, jangan banyak tanya.” Atau, “Ah kamu ini, tanya terus aja. Mama capek.”

Sikapilah dengan penuh lemah lembut berbagai pertanyaan ananda. Sepele bagi kita namun itu sangat penting bagi mereka. Bagi tumbuh kembangnya. Dalam parenting Islam, kelemahlembutan ayah bunda ini bisa meneladani  ayah Ismail di atas.

Misalnya jika kita sedang sibuk atau lelah sedangkan ananda terus saja bertanya, maka kita bisa meminta dia untuk menunggu dengan kalimat yang lembut. “Tunggu Nak, ini Bunda masih terima telepon.” Atau, “Oo itu ya, bentar ya. Nanti Mama jelaskan ya. Adik main dulu ya.”

Jangan sampai rasa ingin tahunya terbunuh oleh ucapan kasar kita. Karena rasa ingin tahu itulah bekal tumbuh kembangnya. Keingintahuannya merupakan bibit kecerdasan ananda. Sehingga ayah bunda dan guru justru harus memupuk dan mengembangkannya. Inilah ibrah yang bisa diambil dari dialog ayah dan anak dalam Al Quran. Griyaparenting.com

Foto: pixabay.com

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.