Hindari Berdebat Kusir Dengan Anak

Memang tidak semua hal telah jelas aturannya dan telah dipahami bersama oleh kita. Termasuk dalam konteks interaksi kita dengan anak, masih   menyisakan banyak hal yang kadang mendorong kita untuk berdebat.

Seperti permintaan Anak untuk memiliki sepeda motor, kalau kita orang tua aturannya sudah jelas kalau ia sudah memiliki KTP atau SIM. Tetapi anak memiliki aturannya sendiri, semua teman disekolah SMAnya telah memiliki sepeda motor dan seharusnya ia juga telah memilikinya.

Perdebatan sebenarnya tidak masalah jika masih dalam tahap debat yang konstruktif di mana masing-masing pihak mengutarakan idenya dengan baik dan sopan. Tetapi masalah akan timbul jika perdebatan tersebut menjurus pada debat kusir di mana masing-masing pihak saling memotong ide yang lainnya untuk memenangkan pendapatnya.

Akhirnya yang muncul adalah emosi yang tidak terkendali, keinginan untuk mengalahkan dan tidak mencoba untuk mendengarkan pendapat pihak lain. Bukanlah Nabi Sulaiman ‘alaihis sallam berkata kepada anaknya,

‎يَا بُنَيَّ، إِيَّاكَ وَالْمِرَاءَ، فَإِنَّ نَفْعَهُ قَلِيلٌ، وَهُوَ يُهِيجُ الْعَدَاوَةَ بَيْنَ الْإِخْوَانِ

“Wahai anakku, tinggalkanlah mira’ (jidal, mendebat karena ragu-ragu dan menentang) itu, karena manfaatnya sedikit. Dan ia membangkitkan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara.”

Beberapa madharat orang tua yang sering berdebat kusir dengan anak, di antaranya :

  1. Hilangnya rasa hormat anak terhadap orang tuanya, Karena tidak ada lagi perasaan sungkan untuk memotong pembicaraan orang tua
  2. Munculnya kata-kata yang tidak pantas diucapkan baik oleh orang tua maupun anak
  3. Seringnya terjadi permusuhan orang tua dengan anak pada hal-hal yang tidak terlalu fundamental

 

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua di dalam menghindari perdebatan kusir dengan anaknya, yaitu :

  1. Saat berbicara dengan anak dan mulai ada perbedaan yang semakin tajam maka lebih baik ambil jeda sejenak untuk masing-masing pihak menenangkan diri. Waktu jeda ini dapat mengurangi tingkat emosi masing-masing pihak, disamping dapat membuka perspektif baru terhadap permasalahan yang diperdebatkan.
  2. Untuk mengajari anak mau mengalah saat mulai terjadi perdebatan maka orang tua dahulu harus memberikan contoh bagaimana mengalah kepada anak saat berdebat
  3. Pihak ketiga baik itu bapak atau ibu dapat membantu melerai debat kusir yang mulai menaik tensinya. Pihak ketiga ini dapat manghindarkan masing-masing pihak yang berdebat untuk tidak merasa dikalahkan

 

 

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.