Hukuman Dan Konsekuensi Logis

Miftahul Jinan

Griya Parenting Indonesia

 

Hari itu Romi sedang bereksplorasi dengan krayon barunya. Beberapa lembar kertas putih telah penuh dengan coretan-coretan abstraknya. Sejenak ia menatap ke arah dinding rumah yang putih bersih. Ia mendekati dinding yang menggodanya tersebut, menempelkan krayonnya dan mulai berselancar dengan krayon tersebut pada setiap sisi dinding. Tiba-tiba datanglah mamanya dengan mata mendelik tidak percaya terhadap apa yang dilihatnya berteriak keras, “Romi, nakal sekali kamu ini!” Kemudian ia meraih tangan mungil tersebut, memukulinya, dan memintanya untuk berdiri di bawah dinding yang sekarang telah penuh dengan coretannya. Sementara itu Romi hanya dapat menangis dengan penuh ketakutan.

 

Pada keluarga lain, Rino hari itu mendapatkan sebuah tantangan bermain cat air. Ibunya telah menyediakan beberapa lembar kertas putih untuk media cat air tersebut. Ia mulai menggoreskan pada kertas-kertas tersebut coretan-coretan abstraknya. Satu lembar, dua lembar, tiga lembar, ia mulai mendapatkan kesenangan dengan kertas-kertas tersebut. Tiba-tiba matanya menatap pada dinding rumah, sejenak kemudian ia telah mendaratkan alat tulisnya pada dinding tersebut. Ia mendapatkan sensasi yang berbeda dibandingkan dengan coretannya pada kertas. Tiba-tiba datanglah ibunya dan berkata, “Mas Rino, tempat mengecat pada kertas-kertas yang ibu telah sediakan, bukan pada dinding. Sekarang mari kita bersihkan dinding bersama ibu.” Ibunya memberi contoh Rino untuk membersihkan dinding walaupun hasilnya kurang begitu sempurna. Kemudian ibunya berkata, “Mas Rino, dinding itu baru saja dicat oleh papamu, sekarang masih ada sisa kotoran dari coretanmu, ayo minta maaf kepada papamu.”

 

Fenomena Romi dan Rino adalah fenomena yang sering terjadi di masyarakat kita, begitu pula cara merespon kedua orang tua mereka berdua. Pada respon ibu Romi yang membentak, memukul tangan, dan meminta Romi untuk berdiri di bawah coretan-coretan yang telah dibuatnya ada beberapa analisa yang perlu kita cermati, yaitu:

 

  1. Apakah Romi memang bermaksud untuk merusak cat tembok baru sehingga ia layak untuk menerima pukulan dan berdiri di depan tembok?
  2. Apa yang akan dipelajari oleh Romi dari cara ibunya yang penuh emosional saat memberi tindakan kepadanya?
  3. Bagaimana harga diri Romi ketika ia diminta berdiri di bawah coretan-coretannya sendiri?

 

Dengan mencoba untuk menjawab setiap pertanyaan analisis di atas, maka sebenarnya kita akan merasakan apakah tindakan seperti orang tua Romi memang layak kita berikan kepada anak-anak kita, seandainya mereka juga melakukan seperti apa yang telah dilakukan oleh Romi.

 

Sedangkan pada respon ibu Rino terhadap perilaku putranya yang mengecat dinding dengan mengungkapkan kekecewaannya, memintanya untuk membersihkan coretan, dan memohon maaf kepada orang yang telah mengecat, ada beberapa analisa:

  1. Anak perlu mengetahui bahwa perilaku mencoret-coret dinding adalah tindakan yang salah.
  2. Anak diajari untuk bertanggung jawab terhadap akibat dari perilakunya dengan memintanya untuk membantu membersihkan sebagian dari coretan.
  3. Anak telah melakukan kesalahan terhadap orang, maka ia perlu meminta maaf atas kesalahannya tersebut.

 

Beberapa ahli pendidikan menyebutkan bahwa respon orang tua yang diberikan kepada Romi sebagai tindakan penghukuman, sedangkan respon orang tua yang diberikan kepada Rino adalah tindakan konsekuensi logis. Diharapkan kita sebagai orang tua sudah mulai meninggalkan tindakan penghukuman dan menggantinya dengan konsekuensi logis.

 

Ada beberapa ciri konsekuensi logis yang dapat dijadikan acuan bagi orangtua saat anak-anak melakukan perilaku yang kurang baik, di antaranya:

 

Konsekuensi logis adalah proses belajar

Setiap tindakan yang diberikan orang tua sebagai respon atas perilaku anak harus mengandung proses belajar. Dengan adanya proses belajar tersebut, maka anak akan mengalami perubahan pada masa mendatang. Ada seorang anak yang merebut mainan milik teman bermainnya. Perilakunya diketahui oleh orang tuanya, kemudian orang tua tersebut mendatanginya dan meminta dengan kasar mainan tersebut untuk dikembalikan kepada pemiliknya. Sejenak kemudian tanpa berkata apa-apa ia menggandeng anak untuk diajak pulang, padahal anak tersebut masih sangat ingin bermain dengan temannya. Anak ini mendapat tindakan dari orang tuanya karena telah merebut mainan milik temannya. Akan tetapi ia tidak pernah belajar mengapa ia diajak pulang dengan paksa dan bagaimana cara meminjam yang baik kepada temannya.

 

Orangtua berperan sebagai pendidik

Di dalam konsekuensi logis orangtua berperan sebagai pendidik. Saya pernah melihat seorang guru yang menjumpai kedua siswanya berkelahi. Melihat peristiwa tersebut ia berteriak dan berkata kepada kedua siswa tersebut, “Ayo anak-anak lanjutkan berkelahi kalian, mumpung pak guru di sini.” Walaupun keduanya berhenti dari perkelahian tersebut dan saling meminta maaf, guru ini berperilaku tidak sebagai seorang pendidik. Perkataannya yang tidak serius telah mengajarkan anak untuk bermain-main dalam kondisi genting.

 

Orang tua bersikap obyektif

Orang tua bersikap obyektif tanpa dirinya dikendalikan oleh emosi dan amarah yang terlalu tinggi. Kadang konsekuensi logis dan hukuman hanya berbeda pada cara menyampaikannya. Seorang anak membuat berantakan susunan kursi di ruang tamu, kemudian ia mendapatkan tindakan dengan memintanya untuk merapikan kembali, tetapi ketika permintaan tersebut diberikan dalam bentuk bentakan dan cemoohan, maka konsekuensi logis tersebut telah berubah menjadi hukuman.

 

Konsekuensi logis tumbuh dari hati kecil

Konsekuensi logis tumbuh dari hubungan antara hati kecil dan sikap serta kelakukan yang menyimpang. Bukan tumbuh karena adanya rasa balas dendam terhadap sikap anak kepada kita orang tuanya.

 

Jadi sebenarnya yang perlu kita kenalkan pada anak adalah Hukum Alam, yaitu hukum sebab akibat.

 

Jadi sebenarnya yang perlu kita kenalkan pada anak adalah Hukum Alam, yaitu hukum sebab akibat. Jika benda dilempar ke atas akan jatuh ke bawah. Jika tidak berhati-hati akan jatuh. Jika berbuat baik akan diberi hadiah. Jika berbuat salah akan diberi hukuman. Karena istilah hukuman sudah terlanjur negatif, maka istilah Konsekuensi jadi sebuah pilihan. Jika kamu melakukan A maka konsekuensinya B. Jika kamu melakukan D maka konsekuensinya E. Jadilah ganti judul, dengan bentuk pendidikan yang sama, menghukum menjadi memberi konsekuensi logis.

 

Proses memberikan konsekuensi, tentunya akan menjadi indah dengan komunikasi yang indah. Contoh sederhana, sabda Rasulullah, “Pukullah mereka bila meninggalkan shalat pada saat mereka telah berusia sepuluh tahun.” Nah, andaikan kita menemukan anak tersebut tidak sholat, maka kita perlu duduk dengannya, berkomunikasi, “Mas kan tahu, kalau kita tidak boleh meninggalkan sholat? kenapa kok tadi nggak sholat?” (dengarkan alasannya) “Sholat itu ibadah bla… bla… bla… Nah, Mas percaya sama Allah? Ayah minta maaf ya, hari ini Ayah harus memukul Mas, karena Rasul perintahkan seperti itu,” barulah kita memberikan penjelasannya. Kemudian baca bismillah, pukul anak sesuai dengan standard syariah, selesai memukul, peluk anak dan katakan: “Jangan diulangi lagi ya Nak.” Tetap menghukum kan? tetapi menghukum dengan sentuhan, semoga dengan cara itu, hati anak lebih tergugah untuk melaksanakan kewajibannya.

 

Sumber tulisan:  “Orangtuaku Hobi Menghukum”

Sumber gambar: pixabay.com

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.