Ini Bukan Ketetapan Orangtua, Tetapi Pilihan Anak

Miftahul Jinan

Griya Parenting Indonesia

 

Saya mempunyai anak yang duduk di kelas tiga sekolah dasar. Salah satu ibadah yang ditekankan oleh sekolah pada semua anak kelas tiga adalah ketertiban siswa di dalam menjalankan shalat lima waktu. Shalat yang paling berat untuk dilakukan oleh anak saya adalah shalat isya’, karena ia baru pulang ke rumah pukul 17.00 WIB setelah seharian belajar di sekolah. Biasaya kami selalu mengingatkan sebelum ia berangkat tidur.

 

Akhir-akhir ini anak saya sering ketiduran dan melaksanakan shalat Isya’-nya tengah malam. Tidak tertutup kemungkinan sesekali ia meninggalkan shalatnya karena bangun saat adzan shubuh berkumandang. Jika ia meninggalkan shalatnya saya meminta untuk mengqodho’nya. Tetapi beberapa hari kemudian ia kembali terlambat bangun. Saya mengajaknya untuk berbicara tentang shalatnya. “Mas, Abi tidak suka Mas tadi malam tidak shalat isya’ lagi.” Ia menjawab, “Ketiduran Bi, dan tidak bangun malam.” Lalu saya melanjutkan, “Apa yang Mas Faqih akan lakukan jika meninggalkan shalat lagi?” Ia menjawab, “Saya akan mengqodho’ lagi.” Saya mulai menangkap bahwa qodho shalat bagi anak saya telah menggugurkan kewajiban. Saya berbicara lagi, “Apa yang akan Mas Faqih lakukan jika meninggalkan shalat selain mengqodhonya?” Ia menjawab, “Nggak tahu… terserah Abi saja.” Kemudian saya memberikan ide, “Bagaimana jika Mas Faqih mengqodho shalat yang ditinggalkan dan waktu bermain Sabtu sore ditiadakan?” Ia menjawab, “Terserah Abi, saya setuju.”

 

Satu bulan kemudian anak saya memang tidak shalat Isya’ lagi dan saya hanya mengatakan, “Mas, tadi malam Mas Faqih tidak shalat Isya’ lagi. Abi dan Umi kecewa. Apa yang harus Mas lakukan?” Ia mengatakan, “Saya harus mengqodho shalat dan hari Sabtu sore depan saya tidak boleh bermain.” Lalu saya mengatakan, “Terima kasih Mas masih ingat kesepakatan kita dahulu, abi sedih karena Mas tidak dapat bermain pada hari Sabtu sore depan.”

 

Salah satu karakteristik konsekuensi logis yang baik adalah bukan ketetapan utuh dari orangtua, tetapi merupakan hasil diskusi bersama dan pilihan yang diambil oleh anak

 

Salah satu karakteristik konsekuensi logis yang baik adalah bukan ketetapan utuh dari orangtua, tetapi merupakan hasil diskusi bersama dan pilihan yang diambil oleh anak. Pada kasus di atas diterangkan bahwa konsekuensi logis yang berupa waktu bermain yang ditiadakan karena tidak shalat Isya’ adalah hasil dialog antara orang tua dan anak. Kemudian saat anak benar-benar melupakan tanggung jawabnya maka orang tua hanya mengingatkan kesepakatan yang telah lalu.

 

Mengqodho shalat dan tiadanya waktu bermain adalah pilihan bagi anak. Jika ia melakukan shalat dengan tertib dan tidak melupakan, maka sebenarnya ia telah memilih opsi pertama yaitu tidak mengqodho shalat dan tetap mendapatkan waktu bermain pada hari Sabtu sore. Sebaliknya ketika ia meninggalkan shalat maka sebenarnya ia juga telah memilih opsi kedua bahwa ia harus mengqodho’ shalat dan tidak dapat waktu bermain.

 

Peran orang tua hanya mengingatkan kesepakatan apa yang telah dilanggar oleh anak, dan apa yang menjadi konsekuensi logisnya. Bahkan orangtua perlu menunjukkan rasa empati atas hilangnya waktu bermain anak. Dengan membangun pilihan-pilihan anak sebagai konsekuensi logis, maka banyak manfaatnya, diantaranya:

 

  1. Mendidik anak untuk secara mandiri menentukan pilihan apa yang baik dan apa yang kurang baik bagi dirinya.
  2. Anak yang terbiasa memilih apa yang harus dia lakukan dan apa yang akan ia terima sebagai hasil dari pilihannya akan menjadi anak yang mempunyai motivasi internal yang kuat. Ia tidak mudah terpengaruh terhadap godaan-godaan dari luar dirinya.
  3. Dengan adanya pilihan yang jelas atas perilaku dan konsekuensi logisnya, orang tua dapat menghindari debat kusir dengan anak saat orang tua memutuskan suatu konsekuensi logis.

 

Manfaat-manfaat di atas dapat kita peroleh secara optimal jika kita dapat melakukan beberapa hal berikut ini:

  1. Orang tua memposisikan sebagai pihak luar saat anak melanggar sebuah aturan. Saat pelanggaran aturan terjadi maka ini masalah antara anak dan peraturan, bukan antara orang tua dan anak.
  2. Pada saat anak melanggar sebuah aturan, orang tua hanya mengingatkan kesepakatan yang lalu sekaligus konsekuensi logisnya. Orang tua bahkan dapat berempati atas pelanggaran tersebut. Walaupun orang tua tetap menjaga agar anak tetap melaksanakan konsekuensi logis yang telah disepakati.
  3. Orang tua harus bersikap konsisten dalam menjalankan konsekuensi logis yang telah disepakati bersama.

 

Sumber tulisan: Orangtuanku Hobi Menghukum

Sumber gambar: pixabay.com

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.