Konsekuensi Logis Yang Terkait

Miftahul Jinan

Griya Parenting Indonesia

 

Anton terlambat pulangĀ  dari bermain sepak bola. Ia seharusnya telah tiba di rumah pukul 17.00 WIB sehingga mempunyai waktu yang cukup untuk mandi sore dan bersiap-siap shalat maghrib di masjid. Tetapi sore itu ia baru tiba jam 17.25 WIB. Ia tidak mempunyai waktu yang cukup lagi untuk mandi dan bersiap pergi ke masjid. Orang tuanya memberi hukuman di esok harinya dengan mengurangi waktu bermain sepak bola selama 25 menit. Ia menerima sanksi tersebut, karena memang ia telah terlambat selama 25 menit.

 

Fatimah bermain di halaman rumah. Orang tuanya telah mengingatkannya untuk selalu menjaga kebersihan halaman selama ia bermain. Setelah 1 jam bermain, ia tidak menyadari bahwa halaman sekarang telah menjadi kotor dan berantakan. Tiba-tiba Annisa temannya memanggil dan mengajaknya bermain di rumah Annisa. Fatimah meminta ijin ibunya. Tetapi ibu tidak memberi ijin kepadanya sampai ia selesai membersihkan dan merapikan halaman seperti sediakala. Ia terima sanksi tersebut, karena ia merasa telah membuat halaman kotor dan berantakan.

 

Setiap anak akan belajar tentang sanksi yang diberikan oleh orang dewasa kepadanya. Pelajaran tersebut dapat berupa:

 

  1. Anak akan membuat pola dalam pikirannya bahwa perilaku seperti ini akan berakibat pada sanksi seperti ini dan perilaku seperti itu akan berakibat pada sanksi seperti itu.
  2. Anak akan belajar untuk memperkirakan bahwa suatu perilaku berujung pada sanksi atau penghargaan tertentu.

 

Proses belajar akan berlangsung optimal jika orangtua memberikan sanksi yang sesuai dengan perbuatannya. Seperti dua contoh cerita di atas, Anton dan Fatimah. Anton mendapatkan sanksi pengurangan waktu bermain selama 25 menit, karena kemaren ia telah menambah waktu bermainnya selama 25 menit. Fatimah harus membersihkan dan merapikan halaman sebelum dapat bermain ke rumah Annisa, karena ia telah membuat halaman tersebut kotor dan berantakan.

 

Salah satu karakteristik konsekwensi logis yang baik adalah adanya keterkaitan antara perbuatan anak dan sanksi yang ia dapatkan sebagai akibat dari perilakunya tersebut.

 

Sebaliknya sanksi yang berubah-ubah dari perilaku yang sama akan menjadikan anak sulit mengambil pelajaran dari sanksi tersebut. Doni menggunakan pulpen milik kakaknya. Ia menghilangkan pulpen tersebut. Kemudian mama memintanya untuk mengepel lantai sebagai konsekwensi logis dari sikap tidak hati-hatinya. Sanksi seperti ini akan membuat Doni merasa bingung dan sulit memahami bagaimana ia harus mengepel lantai padahal ia menghilangkan pulpen milik kakaknya.

 

Seorang anak yang sering mendapatkan konsekuensi logis berkaitan dengan perbuatan yang telah dilakukannya akan cenderung lebih mudah menerima konsekuensi logis tersebut dan ia tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab

 

Seorang anak yang sering mendapatkan konsekuensi logis berkaitan dengan perbuatan yang telah dilakukannya akan cenderung lebih mudah menerima konsekuensi logis tersebut dan ia tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab terhadap apa yang telah ia lakukan. Keterkaitan konsekuensi logis tersebut juga akan membuat anak mudah mengambil sikap tanggung jawab atas kesalahannya sesuai dengan kesalahan tersebut.

 

Sebaliknya anak yang sering mendapatkan konsekuensi logis yang tidak sesuai dengan perbuatannya akan mengakibatkan hal-hal berikut ini:

 

  1. Anak tidak terbiasa untuk menghubungkan antara sebuah kesalahan dan sanksi yang ia dapatkan. Mengapa saya harus mengepel lantai padahal kesalahan saya adalah menghilangkan pulpen milik kakak?
  2. Beberapa anak akan menolak konsekuensi logis, karena ia merasa tidak layak menerima sanksi tersebut untuk kesalahan yang ini. Penolakan dapat berupa tindakan menolak sanksi secara ekplisit atau tidak menerima dalam hati apa yang ditimpakan pada diri mereka.
  3. Anak sering melanggar aturan, karena ia tidak mempunyai alarm diri untuk menghindari suatu kesalahan. Alarm itu dapat berupa konsekuensi logis yang konsisten dan sesuai pada masa lalu dari sebuah kesalahan yang ia perbuat.

 

Tidak mudah, bahkan tidak selalu dapat ditemukan sebuah konsekuensi logis yang terkait dengan kesalahan anak. Pada anak yang terlambat waktu, mengotori ruangan, dan menghilangkan pulpen memang dengan mudah akan kita temukan konsekuensi logis yang terkait. Tetapi pada anak yang berkelahi, berbohong, atau berbuat usil kepada saudaranya mungkin akan sulit bagi kita untuk menemukan konsekuensi logis yang terkait.

 

Berikut ini beberapa rambu yang perlu dilakukan orang tua ketika mengharapkan adanya konsekuensi logis yang selalu terkait dengan kesalahan anak, di antaranya:

Tidak tergesa-gesa

Tidak tergesa-gesa di dalam memutuskan konsekuensi logis.

Identifikasi akibat

Mengidentifikasi akibat dari kesalahannya, jika memungkinkan anak dapat mengambil sebagian dari akibat perbuatannya sebagai wujud tanggung jawabnya.

Berdasarkan kesepakatan

Jika terpaksa tidak menemukan konsekuensi logis yang terkait, orangtua dapat membuat kesepakatan dengan anak tentang tindakan apa yang akan diberikan kepada anak jika ia mengulangi kembali perbuatannya.

 

Sumber tulisan: Orangtuaku Hobi Menghukum

Sumber gambar: pixabay.com

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.