Memergoki Anak Saat Anak Melakukan Kebaikan

Miftahul Jinan

 

“Memergoki” selalu identik dengan menjumpai tanpa sengaja suatu kejadian yang tidak diinginkan. Memergoki anak adalah menjumpai anak tanpa sengaja sedang melakukan perbuatan yang tidak semestinya ia lakukan, seperti saat orang tua melihatnya membuang sampah di sembarang tempat.

 

Sikap yang paling bijak sebagai orangtua saat memergokinya adalah tidak reaktif dan langsung menyalahkan perbuatan si anak. Orang tua dapat menanyakan alasan ia membuang sampah tidak pada tempatnya. Dengan cara bertanya orang tua akan lebih bijak dalam merespon, disamping dapat memilih respon berdasarkan fakta sesungguhnya yang dikemukakan oleh anak.

 

Ada beberapa pertanyaan yang menjadi alasan seorang anak membuang sampah sembarangan. Pertama, apakah di tempat tersebut mudah dijumpai tempat sampah sehingga anak mudah membuang sampah pada tempatnya? Kedua, apakah kita telah membangun kebiasaan kepada anak tersebut untuk membuang sampah pada tempatnya? Ketiga, apakah anak kita memang malas untuk membuang di tempatnya? Setiap jawaban pertanyaan di atas akan memunculkan respon yang tepat terhadap anak.

 

Masalahnya sekarang banyak orang tua yang senang mencari kesempatan untuk dapat memergoki anaknya. Mereka beralasan ingin mengetahui si anak selalu taat kepada perintah orang tua atau tidak. Dengan sikap orangtua tersebut, masalah tidak akan muncul jika kebetulan si anak selalu menaati perintah orang tuanya, karena orang tua cenderung merespon ketaatan anaknya dengan baik dan benar.

 

Karena niat semula adalah memergoki anak,  yang sering terjadi orang tua justru menjumpai fakta sebaliknya, yaitu anak tidak menaati perintah mereka. Reaksi berlebihan dari orang tua yang merasa selama ini dibohongi oleh anaknya justru menimbulkan masalah yang cukup rumit.

 

Ada beberapa dampak negatif apabila orang tua sering berniat memergoki anak melakukan kesalahan. Pertama, anak merasa tidak dipercayai oleh orang tua sehingga perlu selalu diawasi oleh mereka. Kedua, perasaan diawasi memunculkan tantangan bagi anak untuk mencari kesempatan  melakukan perbuatan tersebut tanpa diketahui oleh orang tua. Ketiga,   perbuatan tersebut menjadi semakin melekat pada diri anak. Mulanya anak sekedar melakukan kesalahan tanpa perasaan menjadi melakukannya sebagai tantangan yang harus dia kalahkan.

 

Mengapa orang tua tidak berpikir untuk memergoki anak saat melakukan kebaikan? Bagi orang tua yang sering merasa jengkel terhadap perilaku kedua putranya yang sering bertengkar dan berantem, mereka dapat mencari waktu dan kesempatan untuk memergoki kedua putranya itu saat melakukan kegiatan bersama, kemudian meresponnya dengan pujian dan penghargaan atas kerjasama tersebut.

 

Memergoki anak saat melakukan perbuatan baik sebenarnya telah mendatangkan banyak manfaat bagi orang tua. Pertama, perilaku yang kita inginkan semakin kuat menancap pada benak anak. Ibarat kertas putih yang bernoda, jika kita selalu fokus pada sisi putih kertas tersebut, maka nodanya akan semakin samar. Kedua, meningkatkan harga diri dan kepercayaan diri anak, karena secara spontan mereka dijumpai oleh orang tuanya ketika berbuat baik. Ketiga, muncul psikologi salah tingkah, bingung, dan kaget dalam diri anak yang tak sengaja dipergoki. Saat seperti ini adalah saat yang baik untuk membangun kepercayaan diri dan memasukkan nilai pada diri anak.

 

Semakin sering kita memergoki anak tengah berbuat baik, kemudian memberinya pujian dan penghargaan yang tulus, semakin tinggi harga diri anak dan semakin menancap perbuatan-perbuatan baik tersebut dalam dirinya.

 

*Griya Parenting Indonesia

*Disadur dari buku Tips Instan Mendidik Anak

*Sumber gambar:

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.