Memperhatikan Postur

Miftahul Jinan

 

Rasulullah SAW. memberi tuntunan untuk berganti posisi saat kita emosi.  Jika kita marah dalam posisi berdiri, maka dianjurkan untuk mengambil posisi duduk. Begitu pula saat kita duduk, maka dianjurkan untuk mengambil posisi berbaring. Diharapkan dengan bergantinya posisi kita, emosi dan amarah kita lebih mudah untuk dikendalikan.

 

Pertanyaan selanjutnya, apakah tuntunan Rasulullah SAW. ini mudah untuk kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari? Kita harus mengakui bahwa banyak diantara kita telah mengetahui tuntunan ini. Namun, di satu sisi sangat sedikit diantara kita yang telah mempraktikkannya saat emosi atau amarah benar-benar menghinggapi diri kita. Minimal terdapat dua hal yang menjadi alasan kita agak sulit mempraktikkan tuntunan ini:

 

Kondisi pikiran keruh

Tuntunan Rasulullah SAW. tentang amarah ini seringkali disampaikan hanya secara verbal dengan hanya melibatkan aspek berpikir anak. Sementara seseorang tidak akan mampu berpikir dengan jernih saat amarah dan emosinya datang sehingga saat kemarahan seorang anak betul-betul datang justru tidak ingat sama sekali tentang tuntunan ini. Setelah emosi reda, seorang anak baru menyadari dengan pikiran jernih bahwa dirinya telah melakukan hal-hal yang tidak terkendali sebelumnya. Secara sederhana, tuntunan ini hanya bisa diingat dalam kondisi pikiran jernih. Sebaliknya, tuntunan ini akan terlupa ketika marah karena pikiran dalam kondisi keruh.

 

 

Tidak mampu mengidentifikasi emosi

Kita tidak pernah dididik untuk mengidentifikasi tanda-tanda datangnya emosi pada tubuh kita. Ketika emosi muncul pada diri seseorang, biasanya menunjukkan tanda-tanda perubahan pada tubuhnya, seperti telinga yang terasa lebih hangat daripada biasanya, mata berkunang-kunang, jantung berdegup lebih kencang, dan lain-lain. Dengan dididik untuk dapat mengidentifikasi tanda-tanda datangnya emosi, maka kita dapat melakukan beberapa hal untuk mengurangi dampak amarah lebih hebat lagi.

 

Bagi orang tua, apa yang dapat diambil dari tuntunan Rasulullah SAW. tentang emosi saat mendidik anak-anak di rumah? Suatu hari saya meminta anak kedua saya yang telah menyelesaikan permainan pertamanya agar merapikan peralatan bermain sebelum mengambil peralatan bermain kedua. Permintaan saya pertama, kedua, bahkan ketiga tidak diresponnya dengan baik. Bahkan bahasa tubuhnya menunjukkan bahwa ia tidak senang dengan permintaan tersebut.

 

Melihat kondisi ini, saya mengangkat anak saya dengan lembut kemudian saya mendudukkannya di atas kursi dan saya mengambil kursi yang lain untuk duduk di depannya. Posisi kami berhadap-hadapan dengan tinggi postur yang hampir sama dan pandangan mata saya langsung ke matanya. Kemudian saya berkata dengan lembut dan tegas, “Adik boleh bermain dengan permainan baru, jika permainan yang lama telah dikembalikan pada tempatnya. Abi akan membantu adik untuk merapikannya.” Masyaallah, anak tersebut dengan penuh kesadaran langsung memulai merapikan permainannya, tentunya dengan pertolongan orang tua tanpa bantahan dan bahasa tubuh yang lebih menerima.

 

Apa rahasia di balik cerita di atas sehingga anak saya lebih menerima omongan saya tanpa bantahan? Rahasia itu diantaranya adalah:

 

Mengganti posisi

Berpindahnya posisi anak yang semula berdiri saat bermain menjadi duduk sangat mengurangi tingkat bantahan anak terhadap permintaan kita. Sebagaimana seseorang yang sedang emosi dalam posisi berdiri, peluang emosinya turun lebih besar jika berganti posisi menjadi duduk.

 

Membuat badan sejajar

Posisi badan yang sejajar antara orang tua dan anak akan membuat anak lebih mudah menerima apa yang disampaikan oleh orang tuanya. Ia merasa bahwa orang tuanya sangat menghargainya.

 

Menatap mata anak dengan lembut

Pandangan yang lembut langsung ke arah mata anak menunjukkan bahwa orang tua sedang bersungguh-sungguh terhadap apa yang sedang ia sampaikan.

 

Menggunakan suara rendah dan tenang

Suara orangtua yang rendah dan tenang kepada anak akan mendorongnya untuk tidak melakukan bantahan terhadap perkataan orang tua.

 

 

Berikut ini beberapa tips tambahan yang terkait dengan memperhatikan postur saat berbicara dengan anak.

 

🗝1.         Menurunkan tubuh setinggi anak.

 

🗝2.         Menatap mata anak dengan lembut.

 

🗝3.         Mengusap punggung atau perut (hanya saat anak terlihat kurang tenang).

 

🗝4.         Mengubah nada suara. Berkata dengan suara tegas tetapi tetap lembut.

 

🗝5.         Mengulangi apa yang dikatakan oleh anak.

 

🗝6.         Memberi kesempatan kepada anak untuk menyampaikan isi hatinya hingga selesai tanpa sela.

 

🗝7.         Mempertahankan ketenangan saat menyampaikan isi pembicaraan.

 

 

 

Griya Parenting Indonesia

Disadur dari buku Tips Instan Mendidik Anak

Sumber gambar: pixabay.com

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.