Menakar Kejelasan Kata-Kata Kita

 

Beberapa orang tua kecewa dengan respon anak-anaknya terhadap informasi orang tuanya. Kita meminta mereka untuk membersihkan dan merapikan kamarnya sebelum berangkat ke sekolah. Dan kita mendapatkan kamar-kamar tersebut ketika mereka telah berangkat masih dalam keadaan berantakan. Jika ada sedikit hal yang telah disentuh anak untuk dirapikan adalah sprey ranjang yang dirapikan ala kadarnya. Kemudian dengan sedikit dongkol kita akhirnya yang membersihkan dan merapikan semuanya.

Mungkin kita perlu mengevaluasi diri barangkali ada masalah pada kata-kata kita pada mereka. Kita meminta mereka untuk membersihkan dan merapikan kamarnya, pada tataran konten kata-kata kita yakin bahwa mereka telah memahaminya. Tetapi pada tataran konteks pelaksanaan mungkin ada masalah banyak yang belum mereka pahami:

  1. Beberapa anak memang tidak mengetahui apa yang harus ia lakukan saat diminta untuk membersihkan kamar, ini terjadi karena anak tidak pernah melihat orang dewasa di rumah membersihkan kamarnya. Kamar itu selalu ditinggal berangkat ke sekolah dalam keadaan kotor dan berantakan. Dan saat ia datang sore hari sudah dalam keadaan kamarnya bersih dan rapi. Apa dan bagaimana kamar itu dibersihkan tidak pernah diketahui oleh anak. Tiba-tiba saat dia kelas satu SMP ia diminta orang tuanya untuk membersihkan kamarnya. Jadi ia telah memahami perintah orang tuana, tetapi ia sama sekali tidak mengetahui bagaimana cara mengerjakannya. Untuk konteks ini orang tua perlu sesekali melibatkan anak di dalam membersihkan kamarnya sesuai dengan umurnya. Seorang anak yang masih kelas satu SD tentu dilibatkan pada aspek yang sesuai dengan kemampuan tangan dan tubuhnya. Misalnya dengan merapikan meja belajarnya dan menata peralatan bermainnya sebelum diminta untuk mengepel lantai kamarnya
  2. Anak belum sempurna melaksanakan tugas karena tidak pernah kita libatkan sebelumnya untuk menata satu atau dua bagian kecil dari kamarnya. Saat tanggung jawab merapikan kamar mulai kita berikan semua kepadanya, ia merasa tugas tersebut terlalu berat baginya dan ia melaksanakan sekedarnya saja, jauh dari standar rapi dan bersih orang tuanya. Tugas kita sebagai orang tua dalam konteks ini menbimbing anak untuk menata satu aspek dalam kamar seperti merapikan saprei dan melatih beberapa kali hingga mempunyai standar kebersihan dan kerapian tidak jauh dari standar kita.
  3. Ada beberapa bagian kamar yang memang anak tidak bisa membersihkannya sendiri karena faltor kesulitan dan badan anak yang masih kecil, seperti membersihkan srawang dibawah asbes kamar atau membersihan debu di atas lemari yang tinggi. Maka orang tua harus tetap membersihkan hal-hal yang sulit tersebut. Dan waktu yang paling baik untuk melaksanakan kegiatan sulit tersebut adalah bersamaan dengan anak melakukan bersih-bersih dan rapi-rapi kamarnya. Dari kegiatan ini maka anak merasa aktifitas anak di dalam merapikan dan membersihkan kamarnya mendapat dukungan dari orang tuanya.

 

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.