Ortuku Bertengkar, Aku Mendapatkan Hukuman

Miftahul Jinan

Pada beberapa keluarga sering terjadi konflik antara suami dan istri. Sang suami dengan kekuatan dan kekuasaannya sering bertindak kasar terhadap istrinya, memukul, membentak, dan memaksanya untuk melakukan pekerjaan yang sangat memberatkan bagi istrinya. Sementara sang istri hanya dapat pasrah dan menangis walaupun sesekali menjawab dengan perkataan terhadap tindakan suaminya.

Bahkan perilaku anak yang sebenarnya tidak salah, direspon dengan bentakan dari ibunya karena hal itu dapat melegakan emosi orangtuanya. Anak mendapatkan hukuman setelah terjadinya konflik antara kedua orangtuanya.

Tetapi sebenarnya fenomena di atas tidak berhenti sampai disitu, karena selepas kepergian suami ke kantor muncul fenomena yang lebih menyedihkan. Sang istri yang selalu mendapatkan intimidasi dari suaminya mendapatkan kesempatan untuk melampiaskan emosinya terhadap anaknya. Kesalahan kecil yang dilakukan anak seringkali berujung pada hukuman yang terasa terlalu berat. Bahkan perilaku anak yang sebenarnya tidak salah, direspon dengan bentakan dari ibunya karena hal itu dapat melegakan emosi orangtuanya.

Anak mendapatkan hukuman setelah terjadinya konflik antara kedua orangtuanya. Beberapa anak yang cerdas dapat memahami kondisi tersebut, maka setiap kali ibunya bertikai dengan bapaknya, maka lebih selamat jika ia menghindar dari keduanya.

Inilah fenomena yang sering terjadi pada beberapa keluarga yang mengalami konflik, seringkali anak mendapatkan perlakuan yang kurang baik. Memang tidak selalu dalam bentuk hukuman, bentakan, atau pukulan. Tetapi minimal perlakuan orangtua mereka sudah jauh berbeda dibandingkan dengan sebelum terjadinya konflik di antara mereka.

Sebenarnya terjadinya konflik antar keduanya itu sendiri telah memberikan dampak yang menyedihkan bahkan menyakitkan bagi anak. Diantara beberapa efek negatif tersebut adalah:

  1. Ibu dan bapak lebih mudah marah terhadap anak. Kondisi ini otomatis meningkatkan
    kemungkinan anak untuk mendapatkan hukuman dari mereka.
  2. Anak mengalami depresi dan bingung karena orangtuanya mengalami konflik. Mereka sering bingung untuk memihak kepada salah satu di antara keduanya.

Kini saatnya orangtua bertindak lebih bijak. Apapun konflik yang terjadi diantara mereka, anak harus tetap menjadi prioritas perhatian. Berikut ini beberapa hal yang harus dilakukan orangtua jika mereka mengalami konflik:

Hindari konflik terbuka

Hindari konflik terbuka di depan anak-anak. Lebih baik anak hanya mengetahui bahwa kita sedang baik-baik saja.

Tidak mengubah sikap pada anak

Saat kesal dan emosi terhadap pasangan tidak mengubah sikap kita kepada anak-anak. Kita harus tetap tenang dan penuh dengan kasih sayang terhadap mereka.

Sadari efek samping

Anak adalah pribadi yang lugu dan masih sangat bergantung kepada orangtuanya. Setiap kejadian terhadap kedua orangtuanya akan sangat berpengaruh kepadanya. “Konflik suami-isteri bukanlah sebuah dosa, tetapi melampiaskan konflik dengan bijaksana jauh lebih berpahala”

 

 

 

 

 

Sumber tulisan: Buku “Orangtuaku Hobi Mengukum

Informasi layanan training dan pemesanan buku: 081272709919

Sumber gambar: pixabay.com

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.