Penguatan Pendidikan Karakter | Bukan Menjadi Pesuruh

Miftahul Jinan

Griya Parenting Indonesia

Beberapa pekan lalu saya memberi workshop dua hari untuk sebuah sekolah menengah kejuruan di wilayah Sukoharjo, Jawa Tengah. Ada yang menarik dari sekolah ini yaitu dengan jumlah siswa lebih dari seribu, mereka hanya mempunyai dua tenaga kebersihan. Penguatan pendidikan karakter seperti apa yang selama ini diterapkan di sekolah ini? Ini membuat saya penasaran.

Dengan jumlah tenaga kebersihan yang sangat minim bukan berarti sekolah ini terlihat kumuh apalagi jorok. Justru sebaliknya, saya merasakan sebuah sekolah yang bersih dan rapi walaupun tetap terlihat sederhana. Apa rahasia dari ini semuanya? Penguatan pendidikan karakter model seperti apa yang diaplikasikan di sekolah luar biasa ini? Begitu pikir saya.

Ternyata, sekolah ini telah membangun rasa memiliki yang kuat pada siswanya akan sekolahnya dan melibatkan mereka untuk membersihkan serta merapikan semua sudut sekolah. Sehingga petugas kebersihan hanya membersihkan beberapa bagian khusus seperti closet toilet dan membuang sampai ke TPA. Inilah proses penguatan pendidikan karakter yang dimaksud.

Pilar Utama Penguatan Pendidikan Karakter

Saya sempat bertanya kepada salah seorang guru apakah ini tidak menjadikan mereka mempunyai mental pesuruh? Dengan tegasnya guru tersebut berkata justru dengan program ini kami sedang membangun pemimpin-pemimpin yang mempunyai empati tinggi, pekerja keras dan tangguh dalam bekerja. Dan survei membuktikan lulusan dari SMK ini selalu diminati oleh beberapa perusahaan karena karakter mereka yang jelas.

Sebagai orangtua, kita sering gamang memberikan tanggung jawab kepada anak khususnya terkait dengan tugas-tugas rumah tangga seperti menyapu atau mengepel lantai. Padahal tugas-tugas rumah tangga tersebut pasti akan mereka temui saat telah dewasa dan berumah tangga.

Ada kekhawatiran anak kita akan terganggu belajarnya dengan tugas-tugas yang tidak ada hubungannya dengan belajar atau muncul anggapan dari benak kita itu semua kan pekerjaan pesuruh.

Yakinlah Ayah Bunda, bahwa dengan pemberian tugas-tugas rumah secara baik dan bertahap serta adanya contoh dari orang tua untuk melakukan tugas-tugas tersebut sangat baik bagi penguatan pendidikan karakter. Anak akan lebih banyak mendapatkan manfaatnya di masa yang akan datang dengan tugas-tugas itu.

Empati terhadap orang lain, tanggung jawab terhadap lingkungan terdekatnya, tekun dalam bekerja dan tangguh di dalam menghadapi hidup. Inilah beberapa pilar yang harus mendapat penguatan pendidikan karakter. Ini semua selalu terkait dengan karakter dan karakter yang baik akan selalu mereka gunakan hingga akhir usia mereka.

Karakter adalah Kunci Sukses

Dengan karakter yang baik, maka seseorang mampu menjalani kehidupan dengan penuh tanggung jawab dan penuh keyakinan. Para motivator menjelaskan bahwa karakter itu lebih tinggi daripada kadar intelektualitas. Karakter inilah yang kemudian menjadi kunci-kunci kesuksesan.

Ada 10 hingga 15 kunci-kunci kesuksesan seseorang menurut para pakar. Dan urutan teratas dari kunci kesuksesan itu adalah kejujuran, disiplin dan kreativitas. Maka melatih disiplin kepada anak didik –baik di sekolah maupun di rumah- merupakan bekal utama.

Di sekolah maupun di rumah, anak-anak harus diberi tanggung jawab dan dibiasakan disiplin. Ada disiplin waktu, ada disiplin barang pribadi, disiplin menggunakan fasilitas bersama, disiplin piket, disiplin sampah dan disiplin tugas-tugas pribadi lainnya.

Ciri Negara Maju Secara Iptek

Perbedaan mencolok negara maju secara iptek dan negara yang tidak maju secara iptek adalah sikap atau karakter positif ini. Kemajuan iptek dalam sebuah negara tidak ditentukan oleh banyaknya sumber daya alam. Buktinya, sumber daya alam Jepang dan Korea Selatan sangatlah minim. Namun kedua negara Asia Timur itu sangat pesat kemajuan ipteknya pada abad ini.

Kemajuan iptek suatu negeri juga bukan ditentukan karena kecerdasan atau keterampilan warga negaranya. Buktinya BJ. Habibie pun sangat cerdas dan diakui dunia. Selain itu, banyak orang asal Benua Afrika yang sangat hebat secara keilmuan ketika mereka merantau ke Eropa. Artinya, secara intelektual tidak terpengaruh ras atau suku. Meskipun negara asal imigran Afrika itu juga belum bisa mencapai kemajuan iptek seperti negeri-negeri Eropa.

Maka kesimpulannya adalah karakter mayoritas di suatu negeri itulah yang menentukan kemajuan iptek. Ya mayoritas. Bukan segelintir saja. Sehingga karakter seperti rasa tanggung jawab dan disiplin menjadi karakter utama dalam kehidupan berbangsa agar lebih maju.

==

Sumber gambar: timesindonesia.co.id

Informasi layanan training dan pemesanan buku: 081272709919

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.