Perintah dan Delegasi

Miftahul Jinan

Griya Parenting Indonesia

Perintah dan Delegasi | Sebagai guru kita pasti sering meminta anak-anak melakukan aktivitas untuk membantu kita di sekolah atau di pesantren. Namun ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk meminta mereka. Seperti guru yang satu ini, “Mas tolong buang sampah di tempat sampah ini ke tempat sampah depan kelas yang besar”. Guru yang lain bisa mengatakan, “Tempat sampah ini setiap kali penuh belum ada yang bertugas membuangnya ke tempat sampah depan, bisakah mas membantu bu guru untuk membuangnya ke tempat sampah depan setiap kali penuh?”

Melihat dua pola guru di atas dalam meminta siswanya untuk membuang sampah dari aspek tujuan yang dicapai sebenarnya sama yaitu sampah terbuang ke tempat sampai yang lebih besar yaitu tempat sampah depan kelas. Namun bagi anak yang melaksanakan masing-masing permintaan di atas sesungguhnya ada perbedaan yang signifikan.

Permintaan yang pertama hasilnya adalah ketaatan anak terhadap perintah kita, sementara pada permintaan yang kedua hasilnya adalah perasaan tanggung jawab terhadap tempat sampah yang penuh. Permintaan yang pertama adalah perintah, sementara permintaan yang kedua adalah pendelegasian tugas.

Permintaan yang pertama adalah perintah, sementara permintaan yang kedua adalah pendelegasian tugas.

Di dalam interaksi kita sehari-hari bersama siswa tentu kita akan sering memintanya untuk membantu kita. Namun kita lebih sering memerintah siswa dari pada mendelegasikan tugas kepada mereka. Akhirnya kita terkesan sering memerintah, cerewet dan selalu menuntut.

Sebaliknya sebuah permintaan yang kita sampaikan dalam bentuk delegasi, maka permintaan tersebut bagi siswa dianggap sebagai tanggung jawab baru yang harus mereka lakukan sehari-hari. Pada hari pertama kita memang harus menjelaskan tugas tersebut dan alasan pendelegasiannya kepadanya, namun pada hari-hari berikutnya kita hanya mengingatkan tugas tersebut dan tidak memerintah kembali. Tentu mengingatkan anak akan tugasnya lebih ringan daripada memerintahkan untuk melakukannya.

Sebenarnya dari proses delegasi seorang anak belajar lebih banyak daripada perintah, diantaranya:

Rasa tanggung jawab dan pride

Dari pendelegasian seorang anak mendapatkan tanggung jawab baru yang harus rutin ia lakukan. Kondisi ini akan membangun rasa bangga pada dirinya bahwa keberadaannya di sekolah memberi manfaat bagi yang lainnya. Sementara pada pola perintah lebih terkesan sebagai beban baru.

Memiliki otoritas penuh

Anak lebih mempunyai otoritas untuk melakukan, karena ia melakukannya bukan atas dasar perintah tetapi lebih pada sebuah prinsip tanggung jawab tersebut. Sementara pada pola perintah anak baru bergerak kalau ada perintah dan dorongan orang tua untuk melakukannya

Komunikasi lebih sederhana

Guru tidak terlalu banyak berbicara tentang tugasnya yang harus dilakukan oleh anak, tinggal mengingatkan akan tanggung jawabnya. Berbeda dengan pola perintah orangtua akan selalu dituntut memerintah anak jika ia membutuhkan bantuan

Menjadi pribadi mandiri dan penuh inisiatif

Jangka panjang anak-anak yang sering didelegasi tugas akan tumbuh menjadi anak yang mandiri dan mempunyai inisiatif untuk melakukan tugasnya berdasarkan prinsip dan keyakinan. Sebaliknya anak yang selalu diperintah maka pada jangka panjang tumbuh menjadi anak yang selalu menunggu perintah dan kurang pro aktif.

 

===

Informasi layanan training dan pemesanan buku: 081272709919

Sumber gambar: pixabay.com

2 thoughts on “Perintah dan Delegasi

  1. Alhamdulillah…dapat ilmu baru, smoga diiberi kekuatan untuk mempraktekkan dan menyebarkan…
    Jazakumulloh Ust..

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.