Seni Meningkatkan Motivasi Internal Santri melalui Pendekatan Coaching

Miftahul Jinan

Griya Parenting Indonesia

Hampir setiap bulan saya mendapatkan kesempatan untuk melalukan training kepengasuhan, pendampingan, dan supervisi tenaga pendidik pondok pesantren maupun boarding school di seluruh Indonesia. Di sela-sela itu, kadang saya juga diminta untuk mengisi parenting di hadapan para walisantri tentang manfaat dan nilai plus me-mondokkan anak di pesantren, serta bagaimana strategi orangtua saat mendampingi buah hati mereka ketika musim liburan tiba.

Ada salah satu statement yang nyaris selalu disampaikan oleh orangtua pada sesi tanya jawab seminar, yaitu “Ustadz, saat anak saya liburan di rumah, kadang ia menunda untuk melakukan shalat. Bahkan lebih sering main games daripada murajaah pelajaran atau membaca amalan-amalan sebagaimana di pondoknya.”

Fenemona tersebut memang jamak dijumpai. Tidak sedikit anak-anak yang sudah lama di pesantren ketika pulang ke rumah nyaris tidak menjalankan ibadah dan amaliyah sebagaimana di pondoknya, seperti menunaikan salat dluha, qiyamul lail, dizikir pagi-sore, membaca al-Quran, dan sebagainya. Dengan kata lain, santri gagal menginternalisasi nilai dan amaliyah ke dalam dirinya, atau –mungkin– juga bisa dikatakan bahwa pengurus pesantren belum berhasil optimal dalam proses penanaman nilai dan kebiasaan pondok pesantren. Maka pertanyaannya adalah “Kenapa hal itu bisa terjadi dan bagaimana cara mengatasinya?”

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kiranya kita perlu melakukan refleksi terhadap proses penanaman nilai dan amaliyah yang selama ini kita lakukan di pondok pesantren: apakah kita cenderung memaksakan nilai pada santri dengan cara-cara represif, membangun disiplin dan lingkungan yang terpaksa santri melakukan semuanya tanpa memahami makna bagi dirinya? Atau sebaliknya, apakah kita sudah menggunakan cara-cara yang persuasif reflektif pada setiap aktifitas mereka di pesantren?

Dalam kajian psikologis, cara pertama identik dengan pendekatan behavioristik, yaitu pembentukan manusia dengan menciptakan lingkungan secara fisik.[1] Praktiknya memang relatif mudah dan sederhana, para musyrif atau musyrifah cukup melakukan pengkondisian lingkungan, seperti membunyikan bel, memampang papan jadwal, menggunakan reward and punishment, atau dengan mimik dan nada suara tinggi sehingga santri takut, takluk dan manut terhadap apa yang dikatakan musyrif tersebut.

Tergolong pendekatan behavioristik adalah menghardik santri untuk cepat berangkat ke mesjid, memarahi mereka jika terlambat, dan memberikan ta’zir (denda) atau ‘iqab (hukuman) saat mereka tidak mengerjakan amaliyah pesantren. Dampaknya, para santri menjalankan amaliyah pesantren lebih karena takut kepada omelan musyrif/ah daripada atas kesadaran urgensi amaliyah itu sendiri. Pendekatan ini mengakibatkan santri hanya taat secara biologis namun tidak secara psikologis.

Sementara cara yang kedua lebih dekat pada pendekatan humanistik, yaitu kegiatan membimbing, mengembangkan, dan mengarahkan potensi dasar manusia baik jasmani maupun rohani.[2] Pendekatan ini tidak semudah pendekatan yang pertama tetapi dampaknya sangat luar biasa. Pendekatan ini memerlukan seni berkomunikasi yang baik dan kesabaran ekstra. Untuk menjalankan model yang kedua ini seorang musyrif/ah perlu menguasai pelbagai pendekatan yang mampu “memanusiakan manusia,” salah satunya adalah coaching.

Pendekatan Coaching

Menurut Natalie Ashdown, coaching is a powerful technique of listening and questioning that enables a person to gain awareness and identify where they want to be, where they are now, what options they have to move forward and what they will actually do to move forward.[3]Coaching adalah teknik yang sangat kuat dalam mendengarkan dan bertanya yang memungkinkan seseorang mendapatkan kesadaran dan mengidentifikasi diri mereka ingin menjadi seperti apa, di mana mereka sekarang, apa pilihan yang mereka miliki untuk membuat mereka bergerak maju dan apa tindakan yang benar-benar akan lakukan untuk bergerak maju.

Dari definisi yang dikemukakan oleh Ashdown, kita memahami bahwa coaching adalah sebuah teknik yang berusaha mengeksplor potensi atau nilai-nilai dari internal seseorang dengan menggunakan keterampilan mendengar dan bertanya sehingga coachee (klien) sadar akan makna seluruh aktivitas yang ia kerjakan dan/ atau menyadari langkah-langkah yang harus ditempuh. Dan dalam banyak penelitian, coaching terbukti ampuh dalam membantu seseorang (baca: coachee) menemukan solusi dan jawaban atas permasalahannya sendiri.[4]

Sebagai sebuah pendekatan atau teknik, coaching di dunia pesantren mungkin masih terbilang asing dan sangat jarang digunakan. Namun apabila kita telaah lebih dalam, kita akan menyadari bahwa coaching bukanlah hal yang sama sekali baru. Pasalnya, ada cukup banyak ayat al-Quran dan hadits nabi yang mendorong manusia untuk berperilaku reflektif dan memberdayakan dirinya sendiri sebagaimana dalam pendekatan coaching. Misal, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri.” (QS. Ar Ra’d: 11). Atau dialog Nabi Ibrahim dengan Nabi Ismail, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.” (QS. As-Saffat: 102).

Hemat penulis, ayat pertama menyiratkan bahwa manusia memiliki kendali besar terhadap dirinya sendiri, sedangkan ayat kedua mengisyaratkan bahwa komitmen yang keluar dari orang yang bersangkutan (internal) akan jauh lebih dahsyat dibanding komitmen dari luar (eksternal) yaitu dari Nabi Ibrahim. Dan secara umum, al Quran seringkali mengajak umat manusia untuk melakuakn refleksi dalam menghadapi kenyataan dan permasalah hidup, seperti afalā yatadabbarūn, afalā ta’qilūn, afalā yandurūn, dan seterusnya.

Sementara itu, dalam hadits nabi juga tidak sedikit yang memposisikan manusia sebagai pemegang kendali atas hidupnya yang siap dieksplorasi untuk melahirkan solusi maupun jawaban atas masalah-masalah serta proses pengambilan langkah-langkah strategis, seperti “Kamu lebih mengetahui urusan duniamu.” (HR. Muslim, no. 2363), atau hadits riwayat Ahmad, “Wahai Wabishah, mintalah fatwa pada hatimu (3x).

Beberapa ayat dan hadits di atas memberikan gambaran bagi kita semua bahwa sebenarnya manusia sudah memiliki alternatif jawaban atas permasalahan dirinya. Manusia telah dibekali seperangkat sistem yang canggih untuk melihat tujuannya, memformulasi sikap dan tingkah laku menuju tujuan, serta aspek-aspek lain yang dapat memperkuat dirinya agar sampai pada tujuan dan nilai-nilai yang dikehendaki. Kadang manusia hanya butuh seseorang yang terampil mendengar secara aktif dan mampu bertanya secara eksploratif untuk mengungkap isi individu tersebut, itulah keterampilan yang dimiliki seorang coach.

Dengan demikian, maka akan sangat menarik jika musyrif/ah bisa menjadi seorang coach yang mampu membimbing para santri melalui pendekatan coaching. Dengan pendekatan ini, musyrif/ah akan terampil dalam menginternalisasi nilai-nilai atau amaliyah pesantren kepada segenap santri sehingga mereka sadar akan makna dan urgensi segala aktivitas yang dibiasakan di pesantren. Dan pada akhirnya, santri akan senantiasa mejalankan kebiasan-kebiasan pondok baik ketika mereka di pesantren, di rumah, maupun di tempat kerja. Insyā Allāh.

===

Peserta Loop Certified Professional Coach Program, Loop Institute of Coaching

Informasi layanan training dan pemesanan buku: 0812-7270-2219

Sumber gambar: pixabay.com

===

[1] Gerald Corey, Teori Dan Praktek Konseling Dan Psikoterapi (Bandung: PT Refika Aditama, 2013), 195.

[2] Syamsu Yusuf LN and A. Juntika Nurihsan, Teori Kepribadian, 3rd ed. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011), 142.

[3] PRE READING LOOP CERTIFIED PROFESSIONAL COACH PROGRAM (MODUL 1 Konsep Dasar Coaching Dan Kompetensi Inti Dalam Coaching) (Loop Institute of Coaching, 2020).

[4] Lihat: Nadya Arninditha, “Pemberian Coaching Dan Konseling Untuk Meningkatkan Perilaku Proaktif Dan Menurunkan Intensi Untuk Keluar Pada Executive Trainee Batch 4 (Studi Pada PT. XYZ)” (Universitas Indonesia, 2012); Teddi Prasetya Yuliawan, “Coaching Psychologisy: Sebuah Pengantar” 19 (2011); Maria Fatima Koa, “Pengaruh Indiviual Coaching Terhadap Efikasi Diri, Perilaku Pencegahan Penularan Dan Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien TB” (Universitas Airlangga, 2019).

 

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.