Tidak Membuat Jera Dan Merendahkan Anak, Tetapi Anak Menyadari Pentingnya Ketertiban

Miftahul Jinan

Griya Parenting Indonesia

 

Pada jalur antara kota Nganjuk dan Madiun, Jawa Timur, tepatnya di daerah Saradan terdapat banyak perlintasan kereta api yang sering membuat macet lalu lintas. Jalan yang agak sempit menjadikan kemacetan kendaraan semakin panjang. Kondisi ini sering membuat para pengendara terutama angkutan umum kehilangan kesabaran untuk menunggu antrian. Jika sebuah perlintasan kereta api ditutup karena akan dilintasi oleh kereta api, maka kendaraan dari arah barat sebelah kiri atau timur sebelah kiri berhenti. Otomatis lajur kanan dari arah barat dan timur akan kosong dari kendaraan.

 

Kekosongan ini akan mendorong para pengendara nakal untuk melintasinya dan mendahului kendaraan pada lajur kiri di depannya. Kekacauan akan terjadi sesaat pintu perlintasan kereta api dibuka. Karena kendaraan pada lajur kanan dari arah barat akan bertemu dengan kendaraan pada lajur kiri dari arah timur ataupun sebaliknya. Kekacauan ini akan berlangsung semakin lama jika masing-masing kendaraan tidak ada yang mau mengalah dan memberi peluang bagi kendaraan di depannya untuk berjalan. Akhirnya maksud hati mempercepat perjalanan dengan menyelonong pada lajur kanan untuk mendahului, tapi justru kendaraan-kendaraan tersebut terjebak pada kemacetan yang diciptakannya sendiri.

 

Melihat sikap dari beberapa pengendara nakal, polisi akhirnya memberikan teguran bahkan menilang mereka dengan memberikan surat panggilan untuk mengikuti sidang di kantor polisi setempat sebagai bentuk pertanggungjawaban atas perilaku mereka yang kurang baik. Kita ibaratkan para pengendara nakal sudah jatuh dari ketinggian tertimpa tangga pula.

 

Dari peristiwa tersebut saya merenung dan mendapatkan beberapa hikmah, diantaranya adalah:

  1. Banyak kendaraan yang nyelonong justru mengalami kemacetan yang lebih panjang, ia mendapatkan konsekwensi logis yang membuatnya berpikir ulang untuk mengulangi kembali.
  2. Beberapa pengendara dipaksa untuk mempertanggungjawabkan segala kesalahan yang telah mereka perbuat.
  3. Konsekuensi logis tersebut memaksa mereka untuk merasakan bahwa lebih tertib adalah lebih cepat dan nikmat.

 

Saya pernah melihat salah seorang teman trainer yang bertanya kepada seluruh anak dalam satu ruang kelas di sebuah SMP tentang perbuatan kurang baik yang pernah mereka lakukan terhadap orangtua dalam satu minggu terakhir. Mayoritas siswa tidak mengangkat tangan mereka, tetapi ada beberapa siswa yang berani mengangkat tangannya, tanda bahwa ia pernah melakukannya. Trainer tersebut kemudian menanyakan mengapa mereka berani untuk mengatakannya di depan teman-temannya. Diantara mereka menjawab bahwa dirinya lebih nyaman dan tenang jika ia berkata jujur dan apa adanya.

 

Beberapa siswa di atas bersikap baik (jujur) dan menghindarkan dirinya dari sikap kurang baik (bohong) bukan karena takut dengan orang tetapi ia merasakan bahwa dengan berkata jujur ia jauh lebih merasakan ketenangan dan kenyamanan.

 

Suatu hari anak menutup pintu rumah dengan keras. Kita yang sedang konsentrasi dengan pekerjaan sangat terkejut dan sulit konsentrasi kembali karena dada kita berdegup dengan kencang. Respon kita adalah membentaknya dan bahkan memukulnya. Apa yang terjadi pada anak kita dengan respon tersebut? Mungkin ia akan menangis dan ketakutan serta selanjutnya ia jera untuk melakukannya kembali jika ada diri kita.

 

Jika kita meresponnya dengan teriakan dan perkataan, “Apakah kupingmu sudah tidak dapat mendengar pintu yang kamu banting?” apa yang dipelajari oleh anak kita dengan respon kedua ini? Ia mungkin merasa dirinya kurang berharga, karena orangtua berkata dengan ucapan yang membuat diri kita rendah dan tidak berharga.

 

Seandainya kita meresponnya dengan memberitahu bahwa menutup pintu dengan lembut lebih aman bagi dirinya, kita memberi contoh menutup pintu yang baik, dan akhirnya meminta anak untuk menutupnya dengan lembut. Apa yang dipelajari oleh anak dengan contoh respon kita yang ketiga ini? Respon ini dapat mendorong anak untuk merasakan bahwa menutup pintu dengan lembut jauh lebih nyaman dan tidak menganggu orang lain.

 

Salah satu karakterisitik konsekuensi logis yang baik adalah menjelaskan pentingnya arti ketertiban dan disiplin, bukan membuat anak jera dan merasa rendah diri

 

Salah satu karakterisitik konsekuensi logis yang baik adalah menjelaskan pentingnya arti ketertiban dan disiplin, bukan membuat anak jera dan merasa rendah diri. Seorang anak yang mengikuti suatu aturan atau disiplin karena merasa jera terhadap hukuman yang pernah menimpa dirinya dan perasaan rendah diri akibat ucapan orangtua yang melecehkan dirinya akan berakibat berikut ini:

  1. Anak akan berperilaku tertib dan baik jika ada orang yang menyuruhnya. Sebaliknya jika tidak ada orang yang mengawasinya ia kembali melakukan perbuatan yang kurang baik.
  2. Anak yang berperilaku baik karena jera dan takut maka sebenarnya kualitas perbuatannya sangatlah rendah. Yang terpenting baginya adalah terhindar dari pukulan dan ancaman.
  3. Anak melakukan perbuatan baik, bukan karena ia merasakan kenikmatan dari perilakunya, tetapi hanya untuk menghindari ketidaknyamanan direndahkan dan kesakitan saat dipukul.
  4. Jika ia telah mempunyai otoritas saat dewasa, ia akan cenderung untuk melakukan perilaku yang kurang tertib karena merasa dirinya telah bebas dari pengawasan orang lain.

 

Sebaliknya anak yang sering mendapatkan konsekuensi logis karena ia merasakan nikmatnya perilaku tertib, maka ada beberapa manfaat yang akan dirasakan oleh orangtua dan anak, diantaranya:

  1. Anak dapat merasakan kenikmatan saat ia berperilaku baik, dan sebaliknya ia merasakan ketidaknyamanan jika ia melakukan hal-hal yang kurang baik.
  2. Anak melakukan perbuatan baik muncul dari dorongan internal pada dirinya, bukan karena ia merasa takut dihukum atau tidak nyaman untuk direndahkan.
  3. Anak cenderung melakukan perbuatan yang baik dengan kualitas yang tinggi, karena ia melakukannya bukan hanya sekedar gugurnya kewajiban tetapi karena ia senang menaati aturan dan menciptakan ketertiban.

 

Tantangan selanjutnya adalah ketika kita melihat anak kita melupakan salah satu shalat lima waktunya karena ketiduran, apa respon kita yang dapat mendorong anak menyukai disiplin shalat?

 

Sumber tulisan: Buku “Orangtuaku Hobi Menghukum”

Sumber gambar: pixabay.com

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.